Kala takdir kembali mempertemukan ku dengan cinta, apa aku akan datang dan kembali berharap padanya, akankah aku akan kembali menaruh rasa? tapi ketika aku memilih meraihnya maka aku juga harus siap terluka, tapi aku tak siap. Rasa gagal, kecewa, dikhianati tak lagi ingin aku rasakan kembali, cukup sampai disini dan tak ingin lagi.
Ya mungkin hatiku membatu atau apa, tapi memang inilah yang aku rasakan dan sedang aku perjuangkan kebenaran agar aku tak kembali terluka karena hal yang sama walau rasa yang berbeda. Apa aku egois? ketika aku benar-benar mengharap sebuah rasa dan kepastian tapi aku malah menolak dan berusaha menjauhinya.
Rena POV
"Aku menaruh rasa kepadamu Ren, dan kini akan aku sungguh kan dengan niat dan hati yang tulus." ucap Gibran sambil menatap mataku hangat dan dalam. Apa yang harus aku lakukan aku kembali dihadapkan dengan hal yang sama, aku takut terluka walau aku sudah terbiasa, aku takut kecewa walau aku pernah mengalaminya, aku takut terjebak walau aku pernah jatuh sejatuh jatuhnya. Aku menatap panas mata itu, mata yang memberi pengakuan mendalam perihal rasa dan kepastian mendalam.
"Aku tak yakin dengan ini, aku sendiri berada diposisi yang tak bisa di jelaskan, kadang aku juga bingung dengan apa yang aku lakukan sekarang" jawabku tak tau harus apa, antara iya atau tidak aku tak tau harus menjawab apa.
"Aku mengerti posisimu Ren, akan aku tunggu jawaban itu setelah aku kembali bertugas selama dua bulan di luar negara, doakan aku disana agar pulang dengan selamat dan bisa menemui mu kembali bersama orangtuaku," balas Gibran berpamitan dan membuat aku kebingungan.
"Kemana? apa tugas yang begitu harus kau sanggupi hingga sebegitu nya tanggung jawab mu atas pekerjaan itu," jawabku yang menduga itu adalah tugas pekerjaannya hingga dia mau meninggalkan aku setelah semua ini. Gibran menatapku dan tersenyum lembut sembari menjawab, "Aku seorang pilot yang setiap kali lintasan ku kau pandangi jauh penuh harap siang dan malam." balasnya membuat aku begitu terkejut.
"Berapa usiamu?" tanyaku langsung karena aku merasa ada kejanggalan yang harus diluruskan, entah kenapa pikiran dan perasaanku merasa demikian.
"Tidak jauh berbeda darimu, aku juga masih lajang, anak yang memanggilku ayah itu adalah putra dari adikku, mungkin salah paham ini akan selesai disini." jawabnya membuat aku terdiam seribu bahasa, ternyata selama ini aku salah kaprah mengenai latar belakang Gibran yang telah menjadi temanku kurang lebih dua sampai tiga minggu, sungguh kebenaran apa lagi ini.
"Aku mengira kamu seorang duda tua! ternyata kita sebaya dan bahkan kamu masih lajang? sungguh dunia terasa rumit dan membingungkan untuk aku ketahui." Aku menatap sekeliling tak percaya, apa lagi dengan pilot yang sedang berdiri di hadapanku bermaksud mengutarakan rasa, jadi selama ini aku bersikap hormat pada orang yang salah sebab aku mengira dia jauh lebih tua.
"Aku akan datang setelah dua bulan berlalu, lihatlah aku di atas sana, saat itu tanda cinta dan ketulusanku akan terwujud di setiap malam mu." Lanjutnya membuat aku diam tak berkutik, apa ini takdir yang harus aku temui dan apakah ini nyata dengan kepastian yang pasti.
"Bagaimana jika aku ragu?" tanyaku kembali padanya sambil menatap begitu dalam matanya.
"Temui aku lewat hati dan perasaanmu, landaskan akan keyakinan mu atas ku, jangan pernah biarkan satu keraguan mengubah rasa dan cintaku padamu Ren, karena kau lah wanita pertama yang aku cintai sepanjang usiaku setelah ibuku, dan akan menjadi wanita terakhir yang melengkapi sebagian iman dan hidupku" balasnya begitu tulus dan yakin tanpa ada satu keraguan pun dimatanya, aku semakin bingung.
Tangannya bergerak terulur mendekat pada pergelangan tanganku dan memberiku sesuatu, sebuah logam berlambang pesawat yang kokoh terbang tinggi diatasi awan, seolah dialah raja di atas awan yang luas itu, LOVE PLANE kata itu tersemat di balik logam cantik itu, dan aku menatap Gibran kembali sambil menitikkan air mata, entah kenapa kali ini aku benar-benar mampu melihat kesungguhannya.
Dari jauh aku melihat seorang wanita yang datang menghampiriku dan Gibran yang berada di bawah pohon kemarin, sambil membawa jas putih seragam bergelar milik Gibran, topi kebesaran seorang pilot dan satu koper besar di tangannya, saat itu aku bertanya-tanya siapa wanita itu, dan Gibran menjawab seolah tahu pertanyaan yang aku batin saat itu, " Dia Tessa adikku!" jawabnya yang membuat aku paham.
"Aku harus segera pergi, aku akan menemui mu setelah aku kembali, jaga diri baik-baik dan yakinlah aku akan menyematkan namamu di setiap awan dan bintang malam yang aku tempuh di atas sana, dan akan kembali membawa bintang di tanganku yang akan aku persembahkan pada wanita calon ibu dari anak-anak ku." jawab Gibran begitu trenyuh, dan berjalan menjauh pergi menuju wanita yang notabe-nya adalah sang adik, mataku terus mengikuti arah Gibran yang semakin menjauh pergi.
Saat itu juga aku melihat diriku yang sedang berdiri di posisi Tessa dengan pakaian rapi, seragam pilot yang tersampir di lenganku dan menyeret koper milik Gibran, satu tanganku di gandeng Gibran dan memeluk pinggangku, saat itu aku melihat sebuah kisah cinta yang bersemi indah di sana antara aku dan Gibran, dimana aku menjadi istri dari pilot dan mengantar dia untuk bertugas.
Sayup-sayup angin menerpa wajah dan tubuhku, sebuah rasa dan harapan mulai terasa begitu kuat dan kokoh menaruh keyakinan penuh untuk hidup bersama menyisakan kenangan yang tak akan pernah pudar di terpa usia yang semakin tua, belaian awan di atas sana begitu terasa hangat memberikan sebuah ketenangan demi kenyataan akan keyakinan cinta, saat itu aku merasakan seperti apa itu cinta yang begitu indah, tapi di balik itu semua hatiku yang remuk hancur berkeping-keping mulai menusuk diriku satu persatu seperti duri yang terus berkembang sepanjang waktu yang berlalu.
Air mata yang seakan lelah untuk kembali menetes, tapi kenapa rasa sakit itu tak pernah lenyap dan membusuk, di satu sisi aku ingin memulai kisah baru dan ingin kembali menaruh rasa pada pria yang berbeda tapi disisi lain diriku seolah tertarik menjauh karena kepingan kaca yang telah melukai diriku dan keyakinanku untuk kembali berharap.
Aku terbangun dari mimpi yang sama sekitar satu setengah bulan lalu, dimana Gibran mengungkap rasa dan niatnya padaku di bawah pohon rindang di taman tempat terakhir kali aku bertemu dengan dirinya, selama itu aku terus memimpikan dirinya saat itu lagi dan lagi.
Terduduk di atas ranjang dengan nafas yang sama dengan rasa sakit yang tetap ada tanpa tahu dimana pintu keluar atas keburukan ini semua, mata ini seakan membusuk karena tangisan yang selalu ada ketika mengingat masa itu. Sebenarnya aku juga ingin mengubah dan melupakan penderitaan ini, tapi mengapa seolah aku berada di tengah-tengah kebisingan yang tanpa ada ketenangan dan tidak ada jalan keluar. Aku takut jika aku hanya akan memberikan luka padanya hanya karena ingin terlepas dari jeratan takdir yang tak kunjung renggang.
Satu setengah bulan telah berlalu dan berjalan dengan hari dan waktu yang terus berlalu, namun aku tetap terjebak dengan rasa konyol yang begitu bodoh dan mematikan, ibuku telah mengetahui niat dan keputusan Gibran waktu itu, dan memberiku jalan agar menerima Gibran, tapi saat itu pikiranku bergerak berpikir jika Gibran hanya ingin melepas nasib yang sama pada dirinya seperti aku, dan tak ada cinta diantara kami berdua.
Alarm berbunyi, aku terbangun dari mimpi itu tepat di jam 07.00 ternyata sudah pagi dan berganti hari, kali ini rutinitasku bertambah dengan menjadi asisten di ruang operasi darurat anak, ya aku menerima tawaran Gilang waktu itu. Awalnya aku menolak karena aku tidak ingin begitu sibuk tapi kini aku ingin melupakan persoalan yang begitu rumit ini dengan kesibukan yang bertambah, aku tak peduli akan kesibukan ini tapi yang aku rasakan jauh lebih nyaman saat aku lebih fokus pada pekerjaan dan melupakan masalah konyol yang tak kunjung selesai.
"Selamat pagi hari baru, dan selamat tinggal malam." ucapku setiap pagi untuk menyemangati diri sendiri, dan turun dari ranjang dan bergegas mandi untuk siap-siap pergi ke rumah sakit.
Sendal khusus di dalam rumah dengan bulu yang begitu halus terasa nyaman di telapak kaki saat aku berjalan menuju kamar mandi, jendela itu tak akan aku buka sebelum aku seleai mandi, entah kenapa tapi itu memang kebiasaan aneh yang selalu aku lakukan setelah bangun tidur. Rasa kantuk masih menyelimuti diriku, sayup-sayup bulu mata sedikit menghalangi pandanganku jari-jemariku bergerak mengusap ekor mata pelan sambil menguap kelelahan.
Bagaimana tidak setiap hari aku harus pulang malam dan kembali di pagi hari, ku renggangkan otot-otot tubuhku di depan cermin sambil menatap pantulan diriku, di sana aku melihat senyum palsu yang terus mengembang di hadapan banyak orang dan harus hilang saat aku sendiri dan kembali di selimuti luka lagi dan lagi.
"Bertahanlah sampai takdir Tuhan memberimu jalan karena belas kasih yang begitu menyedihkan di hari-hari konyol ini Ren!" Ucapku pada diri sendiri dan berjalan masuk kamar mandi cepat agar tidak terlambat masuk jam kerja.
Suara rintikan air yang bercucuran mengguyur tubuhku terasa begitu dingin, aku tak pernah mandi dengan air hangat walau cuaca sedingin apapun. Aku merasaa begitu segar saat rasa dingin itu menyentuh dan membasahi kulit tubuhku.
Setangah jam berlalu, aku keluar dengan pakaian mandi dan gulungan handuk yang membungkus rambut panjangku, ku berjalan menuju almari pakaian setelah selesai mengeringkan rambut, aku berganti pakaian dengan pakaian kerja dan segera turun untuk menyapa ibuku setiap pagi, beliau pasti sedang di dapur dan menyiapkan s**u untukku, padahal aku sudah berulang kali menyuruhnya untuk tidak menyiapkan s**u hangat lagi di pagi hari, tetapi dia selalu menolak dan malah berbalik menasehatiku, apalah dayaku jika beliau terus bersih keras umtuk hal ini, jika di bilang manja ya mau bagaimana lagi, memang begini adanya.
"Ibu...." ucapku menyapa ibu saat sampai di dapur dan meletakkan jas dan tas kerjaku di kursi meja makan lalu berjalan menghampirinya dan memberi pelukan hangat setiap pagi hari. Aku tahu beliau pasti akan sangat bahagia hanya dengan pelukan dan kasih sayang putri yang tak berguna sepertiku, jika dia tahu dan mendengar aku menyebut diri sendiri tak berguna dia akan memarahiku habis-habisan dan kan mencubit lenganku spontan.
"Wah... udah bangun ternyata, berangkat pagi lagi Ren!" balasnya sambil menoleh dan tersenyum sambil mengaduk sayur buatannya. Aku mendekat dan memeluknya dari belakang, aku suka aroma beliau yang setiap tahun sampai sekarang yang terus bersamaku dan memberi semangat seolah membuat aku lupa jika aku tak lagi memiliki seorang ayah lagi, rasa kehilangan itu telah di lenyapkan ibuku dan tidak lagi membuat aku terpuruk seperti belasan tahun lalu dan berganti dengan kebahagiaan yang tak terhitung dan akan pernah bisa aku membalasnya, beliaulah yang memberiku bahu dan pendirian kuat dari kejaman masyarakat dan kejamnya dunia bertahun-tahun hingga saat ini.
Di dalam mobil perjalanan menuju rumah sakit dan melekukan aktivitas seperti biasanya yang dimana kesibukan merawat pasien menjadi tujuan utama di sepanjang hari dengan kesembuhan dan keberhasilan usaha penyelamatan menjadi kebahagaian yang tak bisa dijelaskan dan membuat kala itu dokter bisa bernafas kembali setelelah mati dalam hitungan jam. Lampu lalu lintas kembali berwarna hijau dan warna merah untuk para pejalan kaki, kendaraan begitu melaju kencang seakan diburu sisa waktu yang terbatas tanda peduli sekeliling.
Kecepatan jarak tempuh mobilku masih normal sambil menatap awan pagi yang begitu indah dari balik kaca depan, yang kembali mengingatkanku akan Gibran kala itu setelah satu setengah bulan masih bertugas, saat itu tepat aku menatap harap awan awan yang tinggi itu aku melihat sebuah pesawat yang melaju kencang melintasi awan yang diterpa angin di atas sana.
Saat itu hati dan pikiranku terasa begitu hangat dan tersenyum lembut, belum seberapa lama aku tersenyum membangkan kenanganku dengan Gibran, hati dan jiwaku kembali sadar akan kejamnya kehidupan pada diri ini. Aku menggelengkan kepala cepat bermaksud menghapus ingatan dan halusinasi buruk itu, mengapa aku tak ingin menyadari akan perasaan Gibran dan mencaritahu seberapa ketulusannya? Sebab manusia itu semakin mengetahui maka akan semakin sakit akan imbas yang akan diterima esok hari setelah menyadarinya
Lebih baik aku tak tahu dan tak ingin tahu, tujuan hidupku tak lain adalah hanya untuk membahagiakan ibuku dan mengabdi pada rumah sakit, hanya karena dua hal itu aku bisa bahagia walau tanpa cinta seperti yang diinginkan orang lain.
Dalam hitungan detik tanpa aba-aba seorang anak berlari ketakutan dan menabrak mobilku, untungnya jalanan tak begitu ramai dan hanya ada satu dua mobil yang melintas, secepat mungkin aku menginjak rem mobil sekuat tenaga agar mobil itu berhenti dan tidak menabrak anak laki-laki itu, nafasku tersengal seketika, jantung ku bertambah ritme tiga kali lipat, dalam pikiranku sudah membayangkan hal yang tidak-tidak.
Secepat mungkin aku melepas sabuk pengaman dan bergegas turun dari mobil, sungguh aku tak tau harus apa tanpa sengaja aku menabrak anak itu yang lari ketakutan tanpa melihat sekitar, aku berjalan mendekat dan memastikan kondisinya segera mungkin. Lengan anak itu terluka dan tak bisa digerakkan untungnya dia masih bisa menangis dan merasakan kondisi, aku mendekat dan mendekab tubuh mungilnya dengan penuh rasa cemas dan khawatir, darah di keningnya terus menetes hingga jubah ku kotor dipenuhi darah, aku menatap sekeliling dan tidak melihat siapapun, lantas kenapa anak itu lari ketakutan. Sudah tak peduli lagi aku menggendongnya masuk kedalam mobil dan melaju menuju rumah sakit untuk memastikan kondisinya.
Di dalam mobil aku tak henti menggenggam tangannya yang kecil sambil mengatakan perkataan yang menunjukkan aku cemas bukan main, "Bertahanlah nak, aku akan berusaha menyelamatkan dirimu, bertahanlah! kamu adalah anak yang kuat!" ucapku begitu cemas tak tahu harus apa lagi.
Anak itu tersenyum dan menutup mata perlahan membuat aku seperti mati ketakutan, kecepatan mobil semakin aku lajuka begitu kencang dan menelepon Gilang untuk menyiapkan ruang operasi segera mungkin, sungguh aku begitu tak tega melihatnya. Anak yang malang.
"Maafkan aku Nak, aku tak melihat kau yang berlari menuju mobilku" lirihku sambil menitikkan air mata mengusap tangannya pelan, dalam pikirku aku berkata jika ini adalah pertanda jika aku tak mungkin bersatu dengan GIbran, nasib burukku mungkin akan mempersulit kondisi.
Rena POV end