10. Hati ini telah mati

2222 Kata
Deru mobil terdengar begitu nyaring seolah waktu itu hanya tersisa sepersekian detik, seorang wanita turun dari mobil dengan tergesa-gesa dengan pakaiannya yang di penuhi bercak darah segar, petugas rumah sakit berlarian keluar menuju si wanita yang di ketahui adalah Rena, ya seluruh pekerja khusus darurat dan Gilang yang sudah diberitahu sebelumnya sudah menyiapkan semuanya. Kereta dorong itu dengan kokoh kuat menopang tubuh mungil anak itu yang lemas tak berdaya, seluruh tubuhnya lebam karena bekas luka, kepalanya mengeluarkan darah segar dengan wajah pucat pasi, seolah jiwa dan raganya bersatu tapi tak bertemu, Rena menatap anak itu dengan kesedihan mendalam, di satu sisi dia sedang menguatkan dirinya sendiri agar tak egois dan berusaha menolong anak malang itu. Rena POV "Huhh ... huh ..." nafasku tersengal saat menatap anak itu yang di dorong masuk menuju ruang ICU, aku menatap awan penuh tanda kebingungan, tanganku bergerak mengusap kepala dan menarik rambut depanku ke belakang hingga melihatkan jidatku sepenuhnya. Pikiranku sedang buntu kali ini, apa yang aku lakukan, dan apa yang terjadi seolah semuanya adalah mimpi, aku berusaha menguatkan diri sendiri agar tidak goyah dan egois. "Ren, segeralah mengikuti arahan, sebelum terlambat!" ucap Gilang bermaksud menyuruhku segera masuk dan berjuang bersamanya menolong anak itu, saat itu juga entah kenapa rasa mengeluh tiba-tiba menghilang, sedikit rasa percaya pada Gibran hilang tanpa jejak seketika, anggap saja aku egois dan berhati dingin, tapi kali ini aku memutuskan jika setelah ini jikalau aku memilih bersama Gibran mungkin hati ini tak akan pernah terbuka sebab aku hanya menganggap jika pernikahan ini tak lepas dari hanya sebagai cara untuk melepaskan status yang menyedihkan ini bersama Gibran, tak lebih dan tak kurang, dan akan bertahan selamanya tanpa cinta padanya. Suasana begitu tegang, lampu menyala dengan warna merah pertanda sedang berlangsung operasi darurat, dengan pakaian hijau seperti jubah panjang dengan penutup kepala yang melekat di tubuhku menggambarkan kondisi di ruang ICU kali ini. Aku berdiri di samping Gilang yang masih fokus pada pekerjaannya, aku menatap anak itu yang terus menutup matanya, perasaan yang begitu hancur dan terluka melihatnya seperti ini. Gunting spesialis bergerak lincah dan perlahan membuka setiap urat kulit anak itu perlahan-lahan, darah begitu deras mengalir keluar saat kami berhasil menemukan titik pusat darah yang terus mengalir. "Sedot!" ucap Gilang memberi isyarat agar aku bergegas menyedot darah itu, tanpa ba-bi-bu aku segera melalukan perintah Gilang cepat. Tuuttttt ... tuuuuuutt .... Suara monitor terdengar nyaring di dalam ruangan yang hampa namun begitu bising akan kecemasan diri, antara hidup dan mati sedang dipertaruhkan sambil mengemis kesempatan pada sang Pencipta dengan harapan yang tersisa. "Turun," ucapku cemas saat melihat layar monitor detak jantung itu, pertanda jika tekanan darah anak itu menurun, Gilang yang paham maksudku segera memberi aba-aba. "Naikkan oksigennya, perbanyak cairan inti!" ucap Gilang yang cemas tapi masih begitu santai, saat itulah sikap profesionalnya terlihat sebagai ahli bedah anak. Aku tak kuat lagi melihat kondisi anak itu yang semakin memburuk. "Gunting!" lanjutnya sambil membuka telapak tangannya meminta gunting, matanya tak beralih dari alat pembesar itu, kondisi kembali menegangkan. Belum selesai aku bernafas lega, pusat darah itu kembali mengalir deras hingga mengenai seluruh tubuhku dan Gilang, kini kami berdua di penuhi oleh percikan darah segar. "Tambahkan tekanannya!" lanjutnya berusaha semaksimal mungkin. "Kondisinya memburuk! segera ganti cairan dosis baru dan gandakan!" Gilang masih terus berusaha keras, dan aku tak tahu harus apa lagi, saat semua terasa mustahil dan begitu sulit, tanganku bergerak menggenggam erat tangan anak itu seolah aku memberikan sebuah kedamaian padanya saat itu juga. "Bertahanlah Nak, kamu begitu kuat!" ucapku pelan sambil mengusap tangannya yang terbungkus kain perban. Aku menundukkan kepala seolah aku pasrahkan semuanya pada takdir, kepalaku diam menunduk ke bawah dengan tangan anak itu yang berada di pipi kiri ju, aku menggenggam erat tangan anak itu sambil mendengarkan suara monitor detak jantung miliknya, saat aku meneteskan air mata dengan begitu tulus Gilang bernafas lega dan membuat aku terkejut kemudian mendongakkan kepala menatapnya. "Kita berhasil Ren, sudah berhasil ku temukan." jawab Gilang membuat aku tersenyum puas dan begitu bahagia melihat anak itu tertolong. "Tuhan masih menyayangimu dan mendengarkan harapanmu, tak seperti diriku Nak, gunakan sebaik mungkin kesempatan hidup mu ini." ucapku dengan penuh rasa lega dan kebahagiaan kali ini aku benar-benar merasa jika aku bermanfaat bagi orang lain. Lampu berubah menjadi hijau menandakan jika operasi telah usai. Perasaan lega, seragam khusus di ruang operasi itu telah aku ganti dengan jubah putihku. Kini aku berjalan menuruni anak tangga menuju lobi dekat resepsionis utama, aku berjalan sambil menyapa sekeliling ramah. Gilang terlihat berdiri di depan resepsionis sambil sesekali memeriksa catatan medisnya, aku berjalan mendekat dan menyapa staf disana. "Saya mau periksa data rawat pasien kamar A8H." ucapku meminta data rawat pasien itu sambil memeriksa sesekali daftar riwayat pasien yang baru saja datang. Resepsionis itu dengan cekatan segera memberiku data keluhan pasien itu sambil tersenyum ramah. "Dia baru di pindah dari kamar ICU dua hari lalu," ucap resepsionis memberitahu diriku. "Apa dosisnya sudah diganti oleh asisten saya?" balasku kembali berbalik tanya. "Sudah asisten Dokter sudah mengganti itu tepat waktu dan meminta saya mengisi ulang data resep obat yang kosong!" balasnya begitu profesional dan aku mengangguk sambil tersenyum mengiyakan ucapannya. Baru saja aku membaca data itu, Gilang sudah berkomentar lagi sambil tersenyum menggoda padaku. "Apa senyum-senyum sendiri?" ucapku sinis saat melihatnya tersenyum seperti itu sungguh aneh aku melihatnya. "Tadi ada yang dicari sama calon ibu mertua," sahutnya cepat membalas pertanyaan ku sambil melirik kearah ku dengan tatapan yang tak bisa diartikan, tapi juga membuat aku masih tak paham dari maksud ucapannya dan bertanya begitu polos. "Siapa?" tanyaku polos dan mengharap mendapat jawaban yang tepat dan benar, tapi pikiranku dan kepolosan ku terbuang percuma. "Ya situlah! iya kali gue!" jawab Gilang cepat membuatku semakin bingung tak paham. "Kok aku?" aku masih berbalik tanya begitu polos dan bodoh. "Ya emang situ kan yang dicari, orang ibu-ibu itu cari nama Dokter Rena Rosallie spesialis anak, ya yang pasti situlah, kalau gue kan nggak mungkin banget ubah nama jadi nama situ!" jawab Gilang membuat aku semakin penasaran dan bingung, di dalam benakku masih terus bertanya tanya siapa ibu-ibu yang dimaksud Gilang hingga mencari ku dan disebut-sebut calon mertua. Aku berjalan memasuki ruangan pribadiku dengan terburu-buru karena penasaran siapa orang yang dimaksud oleh Gilang tadi, aku melangkah cepat menaiki lift dan menuju ruangan pribadiku. "Siapa ya? kenapa si cunguk Gilang sebut mertua, aneh banget!" lirihku sambil berjalan keluar dari lift kusus dokter sambil tergesa-gesa karena penasaran. Tepat aku berdiri di depan pintu kaca ruangan, aku bisa melihat punggung wanita paruh baya seusia ibuku sendiri, aku berjalan masuk dengan sopan dan tak lupa menyapakan diri dengan ramah. "Permisi, ada yang bisa saya bantu Bu?" ucapku memulai bicara ramah sambil duduk berhadapan dengan beliau, aku memanggilnya dengan sebutan ibu sebab dia sudah berumur dan aku harus selayaknya sopan padanya. Wanita paruh baya itu menoleh cepat dan menatapku penuh selidik, membuat aku sedikit merasa aneh dan spontan aku mengamati penampilan diri sendiri, untuk memastikan saja apa aku terlihat aneh dengan pakaian ku kali ini. Sungguh aku di buat aneh dan sedikit kurang nyaman diperlakukan seperti ini. "Kamu Rena?" tanya Ibu itu dengan ramah, ekspresi wajahnya berubah drastis seketika yang semula datar dan penuh selidik kini dia sedang tersenyum begitu ramah hingga melihatkan kerutan di ekor matanya, menandakan dia pasti sudah berumur, tapi itu sama sekali tidak mengurangi point kecantikan yang dia punya, saat masih muda pasti beliau begitu cantik dan anggun, batinku memuji beliau begitu tulus. "Iya dengan saya sendiri Bu? ada perlu apa? jika boleh saya tahu?" jawabku masih menjaga nada bicara dan sopa santun. "Kamu memang pantas untuk menjadi menantu saya," ucapnya membuat aku terkejut dan kurang paham maksud ucapannya, spontan aku berdehem karena tak paham, "Hemmm?" ucapku spontan memastikan ucapannya memastikan jika aku tidak salah paham. "Kamu wanita yang dipilih Gibran putra saya dan saya sudah menemui ibumu dan beliau setuju untuk pernikahan ini!" ucapnya begitu membuat kau melolong kaget, apa ini apa aku bermimpi lagi, kenapa begitu mendadak dan mengejutkan seperti ini, apa lagi ibuku sudah menyetujuinya apa yang harus aku lakukan ya Tuhan! batinku memberontak tak paham dan masih kurang yakin dengan keadaan. "Anak saya baru kali ini meminang wanita Nak, jadi saya memastikan pilihannya dan tidak bermaksud meragukannya. Saya tahu kamu pasti terkejut sebab bukan dia sendiri yang menyampaikan niat tapi malah saya, hehehe ... kemarin dia baru saja mengirim hadiah untuk mu dari sana, katanya kamu pasti menyukai ini, terimalah dan jika sudah selesai bertugas pulanglah dan bicarakan baik-baik dengan ibumu, saya pamit dulu dan saya harap kamu mau menerima pinang dari anak saya, jadilah wanita penyempurna iman dia ya Nak, Bunda berharap seperti itu." jawabnya panjang lebar menjelaskan maksud dan niat kedatangannya, membuat aku kembali membisu dengan tanganku yang menggenggam ragu kotak hadiah ini, Apa baru saja dia menyebut dirinya sebagai 'Bunda' di hadapanku? wah pertanda apa lagi ini. *** Tak terasa hari semakin larut kini aku sudah pulang ke rumah dan duduk di depan meja televisi bersama ibuku sambil mengenakan baju rumahan yang begitu sederhana tanpa make up sama sekali, sejak tadi kami hanya berdiam diri tanpa ada yang memulai pembicaraan. Baru saja aku mencicipi camilan ibuku mulai berbicara seolah begitu serius. Aku yang mendengarnya membuka mulut dan bicara segera aku urungkan niat ku untuk menyuap sepotong camilan itu; "Apa boleh ibu meminta sesuatu kali ini Ren?" tanya ibuku lembut sambil tersenyum tulus menatap wajahku, aku yang merasa arah pembicaraan ini menjadi serius lalu menyikapi dengan baik dan tulus. Apapun akan aku berikan pada ibuku dialah salah satu alasanku untuk tersenyum sejauh ini. "Apa Bu? ada apa? Ibu pengen sesuatu?" balasku lembut sambil mendekatkan diri dan bersandar di bahunya yang kokoh. "Ibu minta kamu nikah Nak." ucapnya mendadak membuat aku kaget dan segera melepas sandaran itu dan menatap matanya dalam-dalam. Sebelum aku menjawab permintaannya Ibuku kembali berkata, "Tadi ada yang datang membawa niat untuk meminang mu. Ibunya yang datang sebab putranya sedang bertugas." Aku mendengarnya dibuat paham dan mengerti arah pembicaraan dan siapa yang di bicarakan. AKu menatap ibuku lalu memalingkan wajahku pertanda aku tidak berminat untuk membahas ini, tapi beliau tetap bersih keras menjelaskannya padaku pelan-pelan. "Ibu kali ini yakin Nak, setelah ayahmu pergi ibu di berikan tanggung jawab sehingga masih belum di izinkan untuk menemuinya, jadi Ibu mohon untuk kabulkan permintaan Ibu agar ibu bisa segera melepas rindu dengan ayahmu selama ini." lanjutnya begitu sejuk, diam sejenak dan tersenyum. Senyumnya menjadi pertanda ketulusannya pada ayah sekaligus suaminya selama ini, dalam benak ku aku bertanya-tanya apakah aku bisa memiliki cinta seperti mereka berdua? apa takdirku seindah itu walau kehilangan sekalipun?. Perlahan mendengar ucapan beliau aku aku menoleh pelan dan merangkul tubuhnya begitu hangat, aku dapat merasakan beban penderitaan yang dia rasakan hingga sejauh ini untu merawat dan membesarkan ku hingga mampu berjalan dan berlari kesana kemari begitu girang. Tanpa beliau aku hanyalah bagai kapas yang terus terombang-ambing angin tanpa keseimbangan sama sekali. Aku memeluknya hangat dan berkata, "Apa dia ibu Ima? dan anaknya bernama Gibran?" tanyaku memastikan dan berusaha membicarakan ini baik-baik tanpa harus lari dari kenyataan. "Iya namanya Nak Gibran, kamu mau kan menikahi dia Nak?" tanyanya terus mengulang-ulang pertanyaan yang sama, aku yang ditanya akhirnya mengutarakan pendapat mengenai ini semua. "Usia Rena tak mudah Bu, Kondisi terus menguji Rena, bukannya Rena lari dari masalah tapi bukankah alangkah baiknya Rena menghindar saja? dari pada Rena merasakan luka yang sama lagi dan lagi?" jawabku pelan berusaha sebaik-baiknya untuk mengutarakan perasaan yang tidak bisa di jelaskan begitu saja, sungguh menjengkelkan. "Kau tau apa itu luka? jika kamu diberi luka maka itu tandanya dirimu sedang dalam proses pembelajaran Nak, tidak ada yang salah perihal luka, dan tidak akan ada rasa sakit saat kita berani dan benar dalam menyikapinya. Kamu akan benar-benar terluka saat dihari menjelang tua tidak ada pasangan yang mendampingi mu. Tak semua yang kamu beri kepercayaan bisa di percaya, dan bukan berarti kita harus berhenti percaya. Jangan tutup hati ini hanya karena satu kerikil yang menimpa dirimu Nak, perihal menjadi dewasa sangatlah panjang." Jelas ibuku begitu mengerti akan arti apa itu kehidupan, pengalaman beliau jauh lebih kokoh di banding diriku, sungguh aku akan menjadi lebih tenang jika di sepanjang hidupku beliau selalu ada, semoga itu benar-benar menjadi kenyataan. "Kali ini Ibu yakin kamu akan menemukan kebahagiaan itu dengan Nak Gibran, turuti ibu kali ini saja, sekali saja dan akan menjadi yang terakhir ibu minta," lanjutnya sambil mengelus punggung tangan ku pelan seolah aku tak ada alasan lagi untuk menolak. "Aku lakukan ini demi Ibu, tidak lebih hanya untuk ibu bahagia, walau Rena tidak merasakan apapun tapi Rena akan berusaha yang terbaik." jawabku melemah dan pasrah, untuk yang kesekian kali lagi dan lagi aku harus mempercayai orang lain lagi, jika kali ini aku kembali terluka mungkin aku hanya akan tertawa saja tanpa ada rasa penyesalan sama sekali, seolah aku hidup dan terlahir tanpa hati dan cinta, aku akan jalani apa adanya sesuai takdir Tuhan yang dia tentukan. Ibuku memelukku erat, saat itu aku kembali merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh dirinya, aku rela berbuat apapun demi dia, sekalipun menikah dan menjalani hidup tanpa ada rasa cinta dan percaya. Inilah aku, mendekat lah jika kau ingin tahu tentang akau dan jangan pernah bertanya pada luka seperti apa diriku sebab aku akan menertawainya begitu kencang seperti orang gila, aku seperti zombie tanpa hati dan perasaan, tapi aku bisa menjadi malaikat untuk ibu dan ayahku. REYNA ROSALLIE
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN