RINJANI Terkadang aku menyalahkan Tuhan karena sudah menghadirkan dan mempertemukan Putra dalam kehidupanku. Lalu kemudian menyadari dan berbalik jadi menyalahkan diri sendiri. Jika saja dulu aku nurut sama kehendak mama untuk sekolah di SMK. Andai saja dulu tidak terbawa peraaan saat lelaki itu memberikan perhatian demi perhatian. Air mata merebak begitu saja kala Bang Anton lagi-lagi memberikan kabar. Dia memintaku untuk menyerah dan keluar dari persembunyian. Lalu memaafkan. Sayangnya ego membelengguku. Sekeras dan sekencang apa pun suara dalam kepala berteriak, hatiku memilih bertahan. Aku tidak boleh kembali lagi pada pusaran yang sama. Dimana Putra selalu menyajikan kudapan pahit layaknya sayur pare yang selalu aku benci. “Walau pahit tapi nikmat loh, Rin,” ujar bang Anto

