Suara ketukan langkah kaki berbalut boot beradu lantai terdengar menggema di sepanjang lorong. Bianca menjeda langkahnya sebentar untuk membuka pintu. Ia masuk ke dalam dan langsung menghempaskan dirinya ke sofa. Matanya melirik pada pria di balik meja kerja. “Justin, sebaiknya kau menyisir rambutmu. Sejam lagi kau ada meeting kan?” Ucapan penuh perhatian itu tidak digubris. Justin bahkan tidak peduli akan kehadiran Bianca di sana. Selama tiga hari ini, ia coba fokus pada pekerjaannya, tapi sosok Evelyn masih betah menghantui. Membuatnya berantakan. Justin yang selalu dikenal rapi saat ini tampak urakan. Jas kerjanya entah ada dimana, kemejanya kusut dengan dasi dilonggarkan. Rambut yang semula selalu tersisir rapi itu kini sudah acak-acakan, karena bukan sekali dua kali Justin menjamba

