Pintu dikuak lebar dengan kasar, Justin menarik tangan Evelyn masuk ke dalam. Melepasnya, kemudian Justin membanting dirinya sendiri ke sofa, membiarkan Evelyn berdiri di tengah ruangan dengan salah tingkah. “Justin,” Evelyn berbisik pelan, nyaris tidak terdengar. Yang disebut hanya diam membisu sambil menatap ke arah ponselnya. Memainkan icon menu tanpa minat. Evelyn pikir Justin akan marah padanya, dia pikir pria itu akan membentaknya. Tetapi melihat gelagat Justin yang setenang air danau seperti ini membuatnya jauh lebih khawatir. “Ada hubungan apa kau dengannya?” Suaranya sedingin es Kutub Utara, diucapkan dengan begitu tajam penuh tekanan, seakan sang pengucap tengah menahan sesuatu yang bergejolak di d**a. “Ti-tidak ada,” jawab Evelyn sambil meremas kedua tangannya hingga tampak

