Evelyn menatap Justin dengan alis hampir bertaut, mencoba mengingat-ingat janji mana yang dimaksudkan oleh lelaki ini. “Kau… kau tidak sedang membicarakan… janji pernikahan kita, kan?” tanya Evelyn pada akhirnya. Justin hanya menanggapi dengan tatapan dingin yang menusuk, tiba-tiba membuat Evelyn gugup. “Aku menyukaimu, Evelyn. Aku ingin kau untuk selalu berada di sisiku. Apapun yang terjadi, bahkan dengan kemungkinan terburuk pun aku ingin kau untuk selalu berada disini. Kau tidak ingat?” Justin mengucapkan itu semua dengan raut monoton, berharap cemas Evelyn memahaminya. Dan Evelyn memang memahaminya. Otaknya seperti tersetrum listrik saat ingatan malam itu, saat Justin dalam keadaan tidak berdaya mengucapkan kata-kata yang nyaris sama. Evelyn tentu mengingat satu hal yang kurang

