Setelah keadaanya membaik, Asaki memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia belum tahu siapa yang telah membawanya ke rumah sakit tadi, mungkin saja orang yang telah tanpa sengaja lewat depan rumahnya, atau siapa, entahlah. Asaki tidak ingin memikirkannya lagi. Asaki melempar tas nya ke sembarang tempat, lalu menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu rumah orang tuanya. Tadinya perasaanya kalut, tapi perlahan-lahan membaik saat ia mulai menerima kehamilannya. Di elusnya perutnya yang masih terlihat rata, bibirnya menyunggingkan senyum yang beberapa hari ini seolah memudar. "Aku yakin ini bukan sebuah kebetulan, melainkan anugrah, setidaknya aku senang ada yang akan menemani hari-hariku nanti, jadi aku tidak kesepian saat Asoka tak lagi bersamaku." Ujar Asaki senang. Tapi wajahnya berubah kembali
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


