Sementara itu Alessa yang tadi pergi sudah sampai di rumah Maya. Wajah cantik Alessa yang sembab menandakan kalau Alessa baru saja menangis.
Yahh Alessa menangis sepanjang perjalanan menuju rumah Maya. Alessa memikirkan apa yang salah? Mengapa rumah tangganya jadi seperti ini? Suaminya yang berulangkali selingkuh dan ibu mertua yang mengancam akan menghancurkan semua kerja kerasnya jika dia meninggalkan suaminya yang playboy.
Maya membantu Alessa yang sudah lemas untuk duduk. Sambil duduk disamping Alessa, Maya bertanya dengan lembut sambil membelai rambut indah sahabatnya, apakah Alessa ingin makan atau minum? Karena Alessa belum makan malam.
Sambil menahan tangisnya, Alessa menjawab kalau Alessa tidak selera makan. Melihat Alessa yang seperti itu membuat Maya ikut bersedih karena Alessa yang biasanya adalah Alessa yang kuat, mandiri, ramah dan baik hati. Jarang sekali Alessa memperlihatkan sisi lemahnya seperti itu
Maya pun menyuruh Alessa untuk tidur disini malam ini. Lalu Maya bertanya "Apakah kamu baik-baik saja? Ceritakanlah bagaimana perasaaamu. Keluarkan semua yang ada dihatimu. Menangis lah sepuasmu. Aku akan selalu menemanimu disini Ale." Ujar Maya sambil memeluk Alessa.
Mendapat pelukan sahabatnya itu membuat tangis Alessa pecah. Alessa pun mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini dipendamnya. "May, aku tak tau dimana Ricky yang dulu. Ricky yang sekarang adalah Ricky yang angkuh, tidak setia dan sangat egois. Orang yang ingin kuhabiskan sisa hidupku bersamanya telah hilang entah kemana tapi aku tetap bersabar. Melihat wanita lain menghinaku, sedang pamer kalau dia sudah tidur dengan Ricky. Aku merasa seperti wanita paling tidak beruntung didunia May, hatiku sangat sakit tapi aku masih berusaha. Berusaha untuk tidak terlalu menghiraukannya demi melindungi keluargaku. Tapi aku tidak bisa terima jika wanita itu adalah Amanda, May. Bukankah kamu sudah melihat bagaimana Amanda selalu berusaha merebut semua yang kumiliki? Bagaimana Amanda menghinaku karena bisa tidur dengan suamiku? Dia ingin membuktikan kau dia sudah menang dariku dengan cara merebut suamiku lalu Kak Ricky juga tidak mau mengakhiri hubungan mereka."
Maya pun merespon perkataan Alessa "Ale, dia sama sekali tidak sebanding denganmu."
Ale pun melanjutkan perkataannya "Karena Kak Ricky, dia jadi berani berpikir kalau aku telah kalah darinya. Karena Kak Ricky memberinya kesempatan itu." Ujar Alessa kembali mengingat bagaimana dulu Amanda menghiatinya.
Amanda yang dulu hanya model tidak terkenal, diangkat Alessa menjadi model perusahaan yang dirintisnya dari nol hingga besar namun setelah Amanda mulai terkenal, Amanda menghianati Alessa dengan memfitnah perusahaan Alessa melakukan kecurangan dan sabotase terhadap perusahaan lain membuat perusahaan yang dirintis Alessa dengan susah payah hancur begitu saja.
Orang-orang mempercayai perkataan Amanda yang notabenenya adalah model perusahaan Alessa dan orang yang dekat dengan Alessa.
Meskipun orang-orang akhirnya tau kalau itu semua tidak benar, perusahaan Alessa sudah bangkrut. Alessa merintis ulang perusahaannya yang sekarang (Ricale Organize) dengan bantuan investasi dari Group Indrawan.
"Suamiku berselingkuh dengan orang yang sudah menghianatiku. Aku membencinya. Aku sangat membencinya." Ujar Alessa pilu sambil menangis terisak.
Melihat Alessa yang menangis terisak membuat Maya mengeratkan pelukannya dan berusaha menenangkan Alessa.
Alessa pun perlahan mulai tenang dengan pelukan dan belaian lembut sahabat nya. "Aku membencinya, May. Apa kekuranganku hingga dia terus menerus berselingkuh?"
Maya pun menjawab pertanyaan Alessa sambil terus membelai rambut Alessa. "Tidak ada Ale. Kamu wanita paling sempurna yang pernah kukenal. Saat melihat orang sedang kesusahan, kamu membantunya. Saat melihat orang sedang bersedih, kamu berusaha menghiburnya. Saat melihat orang sedang bahagia, kamu ikut bahagia bersamanya. Kamu adalah wanita paling sempurna yang pernah kutemui Ale jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri karena Kak Ricky yang terus berselingkuh. Itu adalah sifat keluarga Indrawan. Seperti ayah Kak Ricky, Tuan Rama Indrawan yang suka berselingkuh." Ujar Maya lembut yang perlahan-lahan membuat Alessa tenang.
Pagi tiba, Maya melihat Alessa yang masih tertidur. Pelan-pelan Maya menjatuhkan tubuhnya diatas Alessa.
Alessa pun terbangun sambil tertawa menahan berat badan sahabatnya menyuruh Maya segera bangun karena Maya itu berat.
Maya yang tertawa cekikikan berada diatas Alessa bertanya pada Alessa apakah dia berat. Alessa pun langsung menjawab tentu saja berat.
Maya pun akhirnya bangun dan duduk didepan Alessa. Setelah Maya bangun Alessa berkata "Sudah lebih ringan sekarang."
"Lihatkan? Ada beban yang terlalu berat. Untuk apa kamu terus memikulnya?" Nasihat Maya pada Alessa yang berarti adalah kalau Ricky merupakan beban berat dihidup Alessa, untuk apa Alessa terus mempertahankan rumah tangganya. Alessa juga berhak bahagia bukannya terus menyalahkan dirinya karena Ricky yang terus berselingkuh dengan wanita lain.
"Hei sahabatku, Ale." Ujar Maya bak jenderal di Medan perang. "Ale yang kukenal tidak mungkin terus tenggelam dalam penderitaan seperti ini. Dia akan bangkit kembali dan melawan karena dia adalah wanita yang kuat." Tambah Maya.
"Jadi sekarang sudah bisa bangun?" Tanya Maya lembut yang langsung dijawab Alessa dengan anggukan manja.
"Bantu aku." Ujar Alessa manja menjulurkan kedua tangannya seperti anak yang manja pada ibunya.
Maya pun menyambut uluran kedua tangan Alessa dengan senyuman hangat nya. "Ayo bangun. Kita masih ada beberapa rapat hari ini." Ujar Maya yang membuat Alessa bangun dan segera mandi. Maya pun menyiapkan sarapan selagi Alessa mandi.
Sesampainya dikamar mandi, Alessa melihat wajahnya yang masih sembab dikaca lalu mengingat perkataan Maya kalau Ricky merupakan beban berat dihidup Alessa, untuk apa Alessa terus mempertahankan rumah tangganya. Alessa juga kembali mengingat kejadian tadi malam di restoran "Kalau kau pergi dengannya, kita akan berakhir." Teriak Alessa pada Ricky.
Amanda dengan tak tahunya langsung merangkul lengan Ricky sambil tersenyum lalu berkata "Suamiku sangat pandai memilih. Makanya dia memilih untuk bersamaku. Bukannya memilih untuk merayakan hari ulangtahun pernikahan denganmu."
Tanpa Alessa sadari tangan Alessa menggenggam erat handuk yang saat ini dipegangnya. Lalu Alessa semakin marah saat mengingat kembali ucapan ibu mertua nya ""Aku akan memberhentikan Ricale Organize."
"Lalu aku akan memecat semua karyawanmu."
"Anda tidak bisa berbuat seperti itu Ricale (Ricky & Alessa) Organize adalah perusahaan yang Ale bangun sendiri dan karyawan disana sudah seperti keluarga Ale sendiri." Ujar Alessa marah.
"Aku tahu kalau kau yang membesarkannya sendiri dan sangat mencintai para karyawanmu. Namun aku juga sangat mencintai putraku." Ujar Tyas sambil tersenyum sinis.
Sementara itu dirumah Dewi, Dewi sedang mengobati luka Galih dan mengganti perban nya sedangkan Galih sibuk bermain dengan ponselnya.
Saat hampir selesai mengobati Galih, Dewi sedikit menekan lukanya yang membuat Galih berteriak kesakitan lalu bertanya "Tante ingin mencoba mengobati lukaku atau mencoba membunuhku?"
Sambil tersenyum Dewi menjawab "Tante marah. Hanya dengan menekan lukamu baru kamu bisa sadar. Memperhatikan orang lain boleh saja tapi kamu harus memperhatikan dirimu juga."
Galih pun menjawab sang Tante sambil memakai kembali kemejanya "Tante kan juga tau kalau itu semua terjadi begitu cepat."
"Tante benar-benar bersimpati terhadap Alessa. Setiap pulang kerumah orang tuanya dua bulan sekali selalu mencari Tante karena tidak ingin membuat orang tuanya khawatir lalu menangis-nangis karena suaminya. Namun kali ini terlihat sangat berat." Ujar Dewi sambil merapikan kotak obat yang tadi dipakai untuk mengobati luka Galih.
"Galih mengkhawatirkan Alessa, Tan. Alessa juga terlihat banyak berubah. Dia terlihat seperti kurang bahagia dibandingkan dulu saat terakhir Galih bertemu dengannya." Ujar Galih khawatir. Dewi pun merespon ucapan Galih "Semoga Alessa bisa melewatinya juga kali ini."