Jalan-jalan With Shafa...

1638 Kata
Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Putri, Adel pun beralih pada Shafa. "Apa masih ada yang mau kamu beli, Shaf?" Tanya Adel pada Shafa, saat ini mereka berdua masih berada di Mall, Shafa meminta Adel untuk menemaninya membeli beberapa buku dan juga sekalian jalan-jalan, menghabiskan waktu antara saudara ipar ini. Shafa melirik paperbag nya sambil melihat apakah masih ada yang kurang, "Em .. kayanya sudah cukup, Mba" Adel pun menganggukan kepalanya mengerti "Yasudah, kalau gitu kita makan siang dulu, yuk!" Ajaknya pada Shafa, karena saat ini memang sudah waktunya makan siang dan di angguki kepala penuh antusias oleh Shafa. Mereka pun mencari restoran di dalam mall ini saja, setelah menemukannya mereka pun memasuki restoran pilihan mereka berdua, dua wanita berbeda usia ini pun memilih duduk di dekat jendela yang langsung menyuguhkan pemandangan luar mall ini. Seorang Waiters perempuan dengan menggunakan baju khas nya menghampiri mereka berdua. "Mau pesan apa, Bu?" Tanya waiters perempuan itu "Mau makan apa, Shaf?" Tanya Adel kepada Shafa "Aku mau ayam bakar madu aja Mba" "Minum nya?" "Ice lemon tea aja" "Kita pesan Ayam bakar madu dua, Ice lemon tea satu sama jus jeruk nya satu" Kata Adel Waiters itu pun mencatat pesanan Adel dan Shafa. "Ayam bakar madu dua, minum nya Ice lemon tea dan jus jeruk ya, Mba?" Ucap sang waiters mengulang pesanan Adel dan Shafa. Adel pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ramah "Baik, di tunggu ya Mba" ujar sang waiters wanita itu sambil tersenyum lalu pergi meninggalkan keduanya. Drrtt drrtt drrtt   Getaran ponsel Shafa mengalihkan atensi kedua wanita ini, Shafa pun mengambil ponselnya lalu menggeser icon hijau pada benda pipih itu dan panggilan pun terhubung. "Assalamualaikum, Ma" ternyata Suci Mama dari Shafa atau Mama mertuanya Adel yang menelpon "Waalaikumsalam Shaf, kamu masih di apartemen Mas mu?" Tanya Suci khawatir "Aku lagi di Mall sama Mba Adel, kebetulan ada beberapa buku yang harus aku beli, jadi aku minta anter Mba Adel aja. Kenapa Ma?" "Oh lagi sama Adel, boleh handphone nya kamu kasih ke Mba mu dulu Shaf?" "Boleh dong Ma, sebentar ya" Shafa pun menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menatap Adel. "Mba, Mama mau bicara sama Mba" ucapnya seraya menyodorkan ponsel miliknya pada Adel, wanita ayu itu pun mengambil alih ponsel Shafa. "Assalamualaikum, Ma. Mama sama Papa sehat-sehat kan?" Tanya Adel "Waalaikumsalam Adel, Alhamdulillah Mama sama Papa sehat-sehat saja disini. Mama kangen banget sama kamu, kamu sama Bian baik-baik saja kan?" "Alhamdulillah, Ma aku sama Mas Bian baik-baik saja kok, Adel juga kangen banget sama Mama" ucapnya seperti pada Ibu kandung sendiri. "Hari ini kamu ke rumah ya, Sayang. Mama udah rindu banget sama kamu, sekalian kita makan malam bersama di rumah, biar nanti Abian, Mama yang kasih tahu, oke Sayang!" Ujarnya begitu bahagia. Adel tersenyum mendengar penuturan Sang Mama mertua. "Iya, Ma. Adel ke rumah Mama hari ini, sekalian anterin Shafa juga kan" ucapnya seraya menatap Shafa "Yasudah, Mama tunggu ya Sayang, kalian hati-hati ya di jalan. Mama tutup telponnya, Assalamuaikum" "Waalaikumsalam" setelah berucap salam, panggilan pun terputus. Adel mengembalikan handphone Shafa kembali. "Mba Adel, ke rumah hari ini?" Tanya Shafa dengan raut wajah bahagianya Adel pun menganggukan kepalanya dengan senyum indah melengkung di bibir tipisnya. "Akhirnya, makan malam di rumah ramai lagi, nggak cuman bertigaan doang!" Keluhnya dengan bibir yang mencebik.   Tak lama makanan yang mereka pesan pun sudah datang seorang waiters pun menyiapkan nya di atas meja mereka, dua wanita itu pun mulai menyantap makanannya dengan lahap, karena setelah berjalan-jalalan meskipun hanya berkeliling toko buku saja membuat energi mereka terkuras banyak. Setelah menghabiskan makanannya, Adel dan Shafa pun memutuskan untuk pulang saja, karena sebentar lagi waktu akan berganti menjadi sore hari. Mereka berjalan menuju parkiran, dan memasuki mobil sedan merah milik Adel, selama di perjalanan mereka berdua banyak berbicara, membicarakan sekolah nya Shafa tidak ada hal lain yang mereka bicarakan, Shafa pun tidak menyinggung-nyinggung masalah rumah tangga Mba dan Mas nya itu. Setelah hampir tiga puluh menit di perjalanan, mereka pun sampai dirumah mewah kediaman keluarga Wijaya, Adel turun setelah memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah mewah itu dan di ikuti oleh Shafa di belakangnya, dengan menenteng paperbag yang berisikan belanjaannya. "Assalamualaikum, Ma" salam Shafa begitu memasuki rumah mewah ini. "Waalaikumsalam, kalian sudah sampai?" Tanya wanita paruh baya yang mengahmpiri Adel dan Shafa. "Sudah, Ma. Ini kita sudah ada disini" jawab Shafa dengan candaannya seraya mencium punggung tangan Suci "Dasar, anak ini!" Kata Suci gemas dengan tingkah putri bungsunya ini Setelahnya Adel pun menghampiri Suci lalu mencium punggung tangan Mama mertuanya itu "Ma!" Panggil Adel seraya tersenyum lebar. "Sayang!" Seru Suci begitu berhadapan dengan Adel, wanita paruh baya itu pun mendekap tubuh mungil Adel melepaskan rindunya pada menantu kesayangannya itu. "Mama, Adel kangen!" "Mama juga, kangen banget sama putri Mama ini" jawabnya masih dengan mendekap Adel. Shafa yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum hangat. "Bersyukur sekali, masih ada Mama yang bisa memperlakukan Mba Adel dengan penuh kasih sayang" Batin Shafa begitu senang melihat interaksi mertua dan menantu di depannya ini. Merekapun melepaskan dekapannya, "Yasudah, istirahat dulu ya sayang, kalian pasti capek kan" titah Suci pada keduanya. "Siap, Bu Bos!" Seru Shafa seraya memberi hormat kepada Sang Mama. "Iya, Ma. Kalau gitu Adel ke atas dulu ya, Ma" pamitnya, lalu melangkahkan kakinya menuju lantai atas dimana kamar Bian berada. Saat tiba di atas, dengan perlahan Adel membuka kamar suaminya itu dengan menarik nafasnya perlahan lalu berjalan masuk pelan seraya menghirup aroma maskulin khas Abian. Adel tersenyum hambar.  "Andai, kamu bisa mencintai dan menerima aku, Mas. Mungkin rasa rindu ini bisa terobati" gumamnya pada diri sendiri begitu mengingat tentang suaminya. Adel pun menutup kembali pintu kamarnya, setelah itu wanita cantik itu pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket. Selesai dengan ritual di kamar mandinya dan sudah berpakaian rapih, Adel kembali menuju lantai bawah karena pasti Suci sedang sibuk di dapur memasak untuk nanti mereka makan malam. "Ma, banyak sekali bahan masakannya, Mama mau masak ini semua?" Tanya Adel begitu sudah berada di dapur dan melihat betapa banyaknya bahan-bahan masakan disini seperti akan mengadakan acara pengajian saja. Suci tersenyum begitu melihat kedatangan Adel dengan wajah bingungnya "Loh, kok kamu sudah turun, bukan nya istirahat saja di kamar" ujar Suci tanpa menjawab pertanyaan Adel yang kebingungan. "Aku udah bersih-bersih langsung seger. Ma, kenapa banyak banget masaknya ini? Mau ada acara apa?" Tuntut Adel "Acara makan malam kita dong, Sayang." "Hah! Sebanyak ini, Ma?" Kaget Adel mendengar ucapan Suci. Suci hanya tersenyum lebar melihat respon Adel. "Iya, kan kalian berdua baru lagi makan malam sama kita" Adel hanya bisa menggelengkan kepalanya, melihat sebegitu bahagianya dan antusiasnya Suci hanya untuk acara makan malam keluarga yang berisikan lima anggota keluarga saja. Wanita berhijab hitam itu pun membantu Suci memasak dan menyiapkan makanan, setelah berkutit selama kurang lebih satu jam setengah, makanan pun sudah siap dan tersaji dengan rapih di atas meja makan. "Papa, pulang jam berapa, Ma?" Tanya Adel pada Suci. Suci melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.  "Sebentar lagi sampai" tak lama dari itu pun terdengar salam membuat kedua wanita itu berjalan menghampiri suara itu berasal. "Assalamualaikum" Salam kedua pria berbeda usia dan di sambut hangat oleh dua wanita cantik. "Waalaikumsalam" jawab keduanya kompak. "Mas Bian" ujar Adel lalu menghampiri sang Suami dan menyalimi punggung tangannya setelahnya dia pun beralih pada Roy. "Sayang, apa kabar kamu?" Ucap Roy seraya memeluk dan mengusap lembut kepala yang tertutup hijab itu. Adel tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, karena jika dipeluk oleh Roy Papa mertuanya itu, dia merasa seperti dipeluk oleh mendiang sang Papa Simon. "Aku baik kok, Pa!" Roy pun melepas pelukannya, "Syukurlah, Papa senang dengarnya, tapi kenapa dengan mata kamu ini?" Ucap Roy begitu menatap mata Adel yang sudah berembun dan siap mengeluarkan cairan beningnya kapan saja. Adel tersenyum menatap Roy dengan menggelengkan kepalanya "Nggak apa-apa kok, Pa." Bohongnya "Kamu rindu, Papa mu?" Tanyanya tepat sasaran. Dan mata Adel pun meneteskan cairan bening membasahi pipinya, wanita cantik itu sudah tidak bisa menahan nya lagi. "Kan ada, Papa dan juga Bian" ujar Roy seraya memeluk Adel lalu mengelus kepalanya. "Bian adalah pengganti alm Papa kamu, dia yang akan menjaga, menyanyagi serta melindungi kamu, seperti hal nya Simon yang selalu melimpahkan begitu banyak kasih sayangnya untuk kamu dulu, dan juga masih ada, Papa disini. Oke!" Ujar Roy kepada Adel, Abian yang mendengar penuturan sang Papa hanya bisa tertegun, karena dia tidak seperti apa yang Roy katakan barusan. Adel pun mengangguk di balik bahu Roy "Yasudah, kalau begitu Papa keatas dulu ya, bersih-bersih nanti kita makan malam bersama" ucap Roy lalu berjalan dan di ikuti oleh Suci "Mama, ke atas dulu ya siapin baju Papa, kamu juga bersih-bersih Bian. Nanti kita makan malam" Suci pun melenggang pergi menyusul sang suami. Adel tersenyum kepada Abian "Aku siapin air hangat untuk kamu mandi ya, Mas" Tidak ada jawaban dari Abian, lelaki itu berjalan begitu saja melewati Adel. Wanita itu seharusnya sudah terbiasa dengan sikap Abian yang selalu mengabaikannya, tetapi kenapa rasa sakit di abaikan seperti ini masih saja tetap terasa. Adel pun mengikuti langkah Abian menuju lantai atas, wanita itu segera menuju kamar mandi di kamar Bian, lalu menyiapkan air hangat untuk suaminya. Setelah selesai dia pun kembali menghampiri Abian, yang tengah membuka kancing kemejanya. "Mas, air nya sudah siap ya" ucap Adel tanpa menatap Abian yang tengah membuka kemeja nya dan tergantikan dengan kaus polos berwarna putih. Tanpa mengatakan apapun kepada Adel, Bian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Adel hanya bisa menghelakan nafasnya pasrah, selalu diperlakukan seperti tidak ada oleh sang suami, tetapi wanita itu tetap menjalankan perannya sebagai seorang istri, dia menyiapkan baju untuk suaminya kenakan nanti, mengambil setelan kaos polos berwarna hitam dan celana bahan senada lalu menyimpannya dengan rapih di atas tempat tidur. "Bismillah, semoga kamu bisa mencintai dan menerima aku esok hari, Aamiin" ucap Adel seraya mengelus baju Abian yang sudah dia siapkan untuk nanti pria itu kenakan, setelahnya Adel pun melangkahkan kakinya menuju lantai bawah kembali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN