Tok.. tok.. tok..
Arka mengetuk pintu ruangan dimana Adel selalu ada di dalam, tak lama terdengar suara seorang wanita dari dalam
"Masuk" perintahnya, dan dengan senyum lebarnya Arka membuka pintu di hadapannya lalu masuk ke dalam ruangan bernuansa putih itu.
"Assalamualaikum Ad.. eh maaf saya kira Adel" ucapan nya terpotong ketika melihat sosok wanita yang tengah berada di dalam.
"Waalaikumsalam. Pak Arka!" Kaget nya seraya beranjak dari duduknya melihat Arka disini, Arka pun menganggukan kepalanya dan tersenyum canggung
"Cari Adel ya Pak?" Tanya nya yang dibalas anggukan kecil oleh Arka "Adel nya lagi keluar dan kayanya dia nggak ke Cafe hari ini, Pak" jelas Putri pada Arka.
"Oh dia lagi keluar, em sama siapa ya?" Tanya nya sedikit ragu ketika berkata 'Siapa' mungkin kan Adel keluar bersama dengan suaminya pertanyaan bodoh menurut Arka
"Dia keluar sama Shafa, adik iparnya"
"Oh, sama adik iparnya." Gumam Arka
"Em, ada pesan untuk, Adel, Pak. Biar nanti saya sampaikan?" Kata Putri
"Ah, tidak ada, biar nanti saya kembali lagi saja, kalau begitu saya pamit maaf sudah mengganggu waktunya, Mbak Putri" ucap Arka
Putri pun mengangguk kecil "Oh baik kalau begitu, Pak" jawab Putri
"Saya pamit, permisi" Pamit Arka pada Putri dan wanita itu pun menganggukkan kepalanya
Arka pun keluar dan menutup kembali pintu ruangan Adel, lalu Putri pun mendudukan dirinya kembali di atas kursi putar disana dengan pikiran tertuju kepada Arka
"Apa mungkin Pak Arka punya rasa yang melebihi dari rasa seorang sahabat atau seorang kakak kepada Adiknya" pikirnya ketika melihat seberapa antusias nya Arka ingin bertemu Adel, dengan cepat Putri menggelengkan kepalanya mengusir segala pikiran-pikiran anehnya.
Gadis itu pun menghembuskan nafasnya lalu kembali pada aktifitas nya tadi, saat akan melanjutkan pekerjaanya tiba-tiba cacing di perutnya berdemo lantas dia pun melirik jam yang melingkar di tangannya "Ah pantas, sudah jadwalnya kalian dapat asupan." Gumamnya seraya mengelus perutnya yang sudah kelaparan.
Putri pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur cafe ini, saat keluar ruangan gadis itu mengedarkan pandangannya dahulu dari lantai dua ini dengan senyum yang mengembang, melihat betapa ramainya cafe dari hari ke hari.
Sedang asik-asiknya, Putri melihat pemandangan indah ini tak sengaja matanya melihat seseorang yang sepertinya dia kenali, Putri pun sedikit memicingkan matanya melihat sosok manusia yang tengah terduduk di salah satu kursi cafe ini, dan yang membuat dia begitu penasaran adalah, dia yang tengah bersama seseorang yang sama sekali tidak dia kenali siapa orang yang sedang bersama orang itu.
Di tambah ketika keduanya berinteraksi seperti ada yang berbeda, keduanya terlihat sangat dekat dan akrab sekali, apalagi ketika tangan keduanya saling bertautan dan tangan si pria mengelus punggung tangan wanitanya itu.
"Semoga bukan dia ya Allah, semoga bukan dia" doa nya seraya menguatkan hatinya dengan mata yang tertutup.
Putri pun berjalan menuju lantai bawah dan sedikit mendekati meja yang berisikan dua orang berbeda jenis kelamin itu. Putri, wanita itu terpaku ketika tenyata penglihatannya tidak salah mata nya membulat sempurna, kesal, marah, kecewa, dan benci yang saat ini dia rasakan menyeruak dalam hatinya.
Dia ingin sekali melabrak orang itu tetapi melihat kondisi cafe yang ramai pengunjung membuatnya harus mengurungkan niatnya, dia tidak mau membuat kehebohan di cafe milik sahabatnya ini.
Wanita itu pun membalikkan badannya dengan perasaan yang teramat kesal, Putri melangkahkan kakinya menuju lantai dua dia melupakan perutnya yang sedang kelaparan sungguh semua rasa laparnya telah hilang begitu saja. Dengan langkah cepat nya Putri menaiki anak tangga lalu setelah sampai dilantai atas tepat di depan ruangannya dan Adel dia membuka pintunya dan menutupnya sedikit kencang.
Nafasnya memburu begitu cepat menandakan dirinya tengah merasa kesal, marah, kecewa, sedih "Bagaimana ini? Gila! Gila sih ini, kenapa harus gue yang lihat sih ah."
"Nggak! Gak bisa kaya gini, gak bisa!" Ucapnya seraya mondar mandir di dalam ruangan ini dengan tangan yang memijit keningnya yang terasa pusing.
"Tapi gue harus kaya gimana? Gue gak bisa kasih tau Adel, tapi gue juga gak bisa diem aja kaya gini!" Gerutunya sendiri. Ya, tadi Putri melihat Abian tengah berduaan bersama Giselle dengan tangan Abian yang mengelus punggung tangan Giselle.
"Adiknya Bian cuman Shafa, dan saat ini pun Shafa tengah bersama Adel. Jadi siapa wanita itu?" Ocehnya kembali lalu mendudukan dirinya di atas sofa yang berada di ruangan ini
Putri merasa bimbang sendiri dengan apa yang harus dia lakukan, jika dia beritahukan ini kepada Adel maka sudah di pastikan apa yang akan terjadi dengan sahabatnya itu. Hancur dan kecewa sudah di pastikan.
Tapi jika tidak diberitahu maka semuanya akan lebih buruk ke depannya, "Aarrgh" geramnya kesal seraya menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kepala yang berlapis hijab berwarna peach itu menengadah ke atas dengan mata yang tertutup.
Drrtt.. drrtt.. drrtt..
Suara getaran ponsel di atas meja membuat nya menegakkan kembali badannya, dengan membuang nafas kasarnya Putri pun menengak kan tubuhnya, lalu tangannya terulur mengambil ponselnya di atas meja
Adel is calling..
Putri merasa gugup, dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya itu. Tapi dia harus bisa terlihat biasa saja, Putri pun menetralkan perasaannya lalu mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
"Assalamualaikum, Sistur!" Serunya
"Waalaikumsalam, lama banget si lo angkat nya, lagi sibuk banget?" Jawab Adel disebrang telpon
"Gu-gue mau kebawah, mau makan cacing-cacing di perut gue udah pada demo ini, udah mau buka pintu lo nelpon!" Alibinya, dengan nada yang dibuat kesal
"Lu tinggal telepon aja anak dapur, biar dianterin ke atas gak usah ke bawah segala"
"Sekalian cuci mata gue! Siapa tau ada customer cafe yang ganteng gitu kan terus begitu liat gue dia jadi jatuh cinta pada pandangan pertama sama gue, eh tau nya itu jodoh gue, siapa tau kan!"
"Astagfirullah, halu lo makin hari makin menjadi aja ya Put!"
"Aamiin-in kek ya, perkataan itu bisa jadi doa tau! Gue kan juga mau, ketemu sama jodoh gue sekarang, jodoh yang gak neko-neko tapi!"
"Hm.. Aamiin"
"Yang ikhlas! Eh iya tadi ada Pak Arka kesini dia nyariin lo"
"Kok dia gak ngabarin dulu kalau mau ke cafe?"
"Mana gue tau cantik! Ya gue bilang aja jadinya lo lagi sama Shafa"
"Dia bilang gak mau apa? Atau bilang apa gitu?"
"Nggak bilang apa-apa sih, gue juga udah nanya ada pesan buat lo apa nggak, dia jawab nggak ada trus nanti dia mau balik lagi ke cafe buat ketemu sama lo langsung, trus dia langsung pamit aja gitu. Tapi by the way lu ada apa nelpon gue, tumben?"
"Oh gitu, oke nanti gue coba telpon aja Dia langsung. Gue cuman mau nanyain cafe gimana hari ini?"
"Alhamdulillah, ramai banget cafe hari ini!" Serunya begitu bahagia "Sampai seneng banget gue lihat nya dari lantai atas ini" Lanjutnya sedikit melow karena teringat kembali akan apa yang wanita itu lihat tadi.
"Alhamdulillah kalau ramai, seneng gue dengernya. Em tapi sorry ya gue gak bisa ke cafe hari ini, mudah-mudahan semuanya baik-baik aja ya, dan semua customer merasa puas. Aamiin!"
"Aamiin. Yaudah lo gak usah mikirin cafe ada gue tenang aja, lanjutin lagi aja jalan-jalannya. Udah ah gue mau makan dulu udah laper banget, Assalamualaikum, Ibu Adelia!"
"Makasih ya sistur, Waalaikumsalam!"
Dan sambungan telepon pun terputus, Putri menyimpan kembali handphone nya ke atas meja, wanita itu pun menghembuskan nafasnya kasar. Dia merasa bersalah pada sahabatnya karena tidak memberitahukan apa yang dia lihat tadi.
"Sorry ya, Del. Gue gak ada maksud buat punya rahasia dari lo, gue cuman lagi nunggu waktu yang tepat aja buat kasih tau semua ini sama lo" gumamnya merasa menyesal.
"Gue, masih harus cari tau lagi, semoga yang gue lihat gak seperti apa yang gue pikirkan, mungkin itu sepupu nya Abian gue kan gak tau" gumamnya masih sedikit gusar.
"Tapi kalau cewek itu tenyata ... aarrghhh!!" Racaunya kembali sedikit merasa frustasi.
"Astagfirullah, Astagfirullah" Putri memperbanyak istigfar karena pikiran buruknya "Jangan Su'udzon dulu, Put, jangan-jangan gak baik"