Makan Siang...

1754 Kata
Saat ini Adel sudah duduk berhadapan dengan Shafa di pinggir kasur, dengan tangan Shafa yang memegangi tangan Adel. "Mba, jadi selama ini Mba dan Mas Bian tidur secara terpisah?" Tanya Shafa sendu. Ketika dia memasuki kamar ini tadi saat akan bersih-bersih dan ganti baju, gadis itu sudah merasa ada yang aneh, karena di dalam kamar ini hanya terdapat barang-barang Adel saja dia pun sama sekali tidak melihat adanya barang Abian di kamar ini. "Mba" panggilnya sendu Adel menarik nafasnya dalam-dalam dengan mata yang tertutup lalu menghembuskannya perlahan dan di detik selanjutnya kepala yang berbalut kerudung bergo hitam itu mengangguk "Mba mohon sama kamu, tolong rahasiakan ini semua dari Mama dan terutama Papa, Mba gak mau buat mereka terbebani dengan masalah rumah tangga Mba dan Mas Bian. Mba mohon sama kamu, Shaf, cukup hanya kamu yang mengetahui bagaimana rumah tangga, Mba dan Mas Bian." Ujar nya seraya menatap Shafa dengan tatapan memohon. Shafa membuang nafasnya kasar dengan mata yang sudah berembun lalu mengusap keningnya kasar "Aku nggak habis pikir sama, Mba, hati Mba itu terbuat dari apa sih! Sampai bisa menahan semuanya sendiri seperti ini kalau saja aku gak tau semua ini, Mba pasti akan merahasiakan semuanya dari aku juga kan lalu siapa yang akan berada di samping Mba sebagai penguat untuk Mba?" Cerca Shafa yang sedikit kesal dengan Kakak iparnya karena dia selalu menyembunyikan masalahnya sendiri dan juga rasa iba yang menyeruak menjadi satu. Adel tersenyum menatap Shafa "Mba masih punya Allah yang akan selalu berada di sisi Mba dan menjadi penguat bagi Mba, Mba yakin takdir Allah tidak akan pernah salah" "Ketika waktunya tiba nanti, Mas Bian bisa menerima dan mencintai Mba, Mba selalu berdoa dengan penuh harapan, bahwa hati Mba masih tetap untuk Mas Bian." Ujar Adel Shafa menganggukkan kepalanya seraya membuang nafasnya kasar "Aku merasa kasian sama Mas Bian karena dia sudah menyia-nyiakan wanita seperti Mba Adel, tapi aku yakin saat waktu itu tiba nanti, Mas Bian akan menyesali semua perbuatannya saat ini kepada Mba. Aku berdoa semoga Mas Bian sakit hati dan terpuruk! Aku benci, Mas Bian!" Geramnnya, karena bagi Shafa, Adel sudah seperti kakak kandungnya dia tidak menganggap Adel itu kakak ipar, dan gadis cantik itu lebih dekat dengan Adel di banding Bian. "Sudah ya, sekarang kamu tidur ini udah malam juga kan, besok harus bangun pagi-pagi kamu harus sekolah" ucap Adel menyudahi pembicaraan yang membuat hatinya sakit kembali. "Besok aku libur kok Mba, ada rapat guru-guru jadi sekolah di liburkan" jawabnya "Oh kamu libur, tapi tetep harus bangun pagi kan, sekarang tidur sudah malam ayok" ujar Adel seraya menarik Shafa agar segera terbaring di atas kasur dan memejamkan matanya, Adel pun mematikan lampunya dan tergantikan dengan lampu tidur. *** Siang ini Abian akan makan siang bersama Giselle, padahal dirinya sudah dibawakan bekal oleh sang Istri tetapi karena Giselle terus meminta untuk makan siang bersama jadilah dia harus meninggalkan bekal yang dibuatkan Adel dan memilih untuk makan siang bersama sang kekasih di Maheswari Cafe. Abian belum mengetahui jika Cafe yang sedang dia kunjungi bersama Giselle adalah Cafe milik sang istri, Adel. Mereka berdua sudah duduk manis saling berhadapan. "Mau pesan apa Ay?" Tanya Giselle kepada Abian "Samakan saja kaya kamu, Ay." Jawab Abian yang di anggukki oleh Giselle, wanita itu pun memanggil waiters dan memesankan makanan serta minuman untuk dirinya dan juga Abian. Waiters wanita itu pun mencatat pesanan nya. "Baik, ditunggu ya Mba, Mas" ucap sang waiters lalu menganggukkan kepalanya dan pergi meninggalkan Abian serta Giselle "Ay, seneng deh kita bisa makan siang bareng kaya gini lagi, semenjak kamu nikah kita jadi jarang banget bareng-bareng kaya gini" ucap sendu Giselle kepada Abian dengan raut wajah sedihnya Abian pun menggenggam kedua tangan Giselle yang berada di atas meja lalu tersenyum hangat kepadanya. "Kok kamu bilang gitu si Ay, kita masih bisa bareng-bareng kok, kamu akan tetap jadi prioritas aku." "Benar begitu?" Tanyanya bahagia pada sang kekasih Abian pun mengangguk yakin "Pasti, dan akan selalu seperti itu" ucapnya seraya tersenyum lalu mengelus punggung tangan Giselle menggunakan ibu jarinya. "I Love You, Ay" ucap Giselle dengan senyum bahagiannya "Love You To, sayang!" Balas Abian dengan senyum lebarnya pula   Waiters tadi pun sudah kembali dengan nampan berisikan pesanan mereka dan menyimpan nya di atas meja "Selamat menikmati" ucap sang waiters lalu berjalan kembali meninggalkan Abian dan Giselle. Mereka pun menyantap makanannya, layaknya pasangam yang tengah di mabuk asmara sesekali Giselle menyuapi Abian, saat tengah menikmati makanannya seseorang menyapa mereka. "Pak Abian?" Tanya seorang pria Abian pun mengalihkan perhatiannya, melihat seseorang yang telah memanggilnya "Pak Arka" jawab Abian seraya berdiri dan tersenyum ke arah Arka, begitu pun dengan Arka yang tersenyum kembali kapada Abian "Selamat Siang Pak Arka" ucap Abian seraya menjulurkan tangannya kepada Arka Arka pun membalas uluran tangan Abian "Selamat Siang Pak Abian, saya tidak menyangka bisa bertemu lagi, dengan Anda disini" ucap Arka, lalu pandangannya tertuju kepada seorang wanita yang tengah terduduk di atas kursi. "Istri Pak Abian?" Tanya Arka kepada Bian, sedangkan yang ditanya hanya gelagapan sendiri, bingung harus menjawab apa. "Dia ..." belum sempat Abian melanjutkan ucapannya sudah terpotong oleh suara seorang wanita "Iya, saya Istri Abian Wijaya" ucap Giselle seraya beranjak dari tempat duduknya lalu menjulurkan tangannya kepada Arka dengan senyuman khasnya. "Jadi anda Nyonya Wijaya, senang sekali bisa bertemu pasangan pengantin baru disini, selamat atas pernikahannya maaf saya tidak bisa datang?" Kata Arka menyesal dengan membalas uluran tangan Giselle "Tidak apa-apa kami mengerti Pak" jawab Giselle sambil tersenyum Abian merasa ada yang mengganjal di hatinya, ketika Giselle menyebutkan bahwa dirinya adalah Istri dari Abian, apalagi ketika Arka menyematkan Nyonya Wijaya kepada Giselle kenapa rasanya seperti ada yang mengganjal, kenapa hatinya tidak bisa menerima, harusnya dia bahagia bahwa ada yang menganggap mereka sebagai pasangan suami istri tapi kali ini seperti ada yang aneh dengan semua itu. "Ah iya, Pak Abian saya akan mengembalikan berkas anda yang tertinggal kemarin saat kita meeting disini" "Oh iya, maaf sekali saya jadi merepotkan Pak Arka" sesal Abian Arka tersenyum "Tidak apa-apa Pak, tidak masalah. Sebentar saya akan telpon supir saya agar membawakan berkasnya, sebentar Pak!" Ujar Arka lalu membalikan badannya dan mengambil ponsel di dalam sakunya dan menelpon supirnya, setelah selesai dengan telponnya, Arka pun kembali membalikkan badannya. "Maaf saya jadi mengganggu waktu makan siang nya" sesal Arka "Ah tidak menganggu Pak Arka, silahkan duduk dulu" ucap Giselle lalu mempersilahkan Arka untuk duduk Arka menganggukan kepalanya lalu duduk dikursi lainnya "Terimakasih" "Pak Arka sendiri?" Tanya Abian "Ya saya sendiri" jawabnya "Akan makan siang disini atau memang ada janji?" "Ah tidak, saya ingin bertemu teman saya kebetulan dia adalah pemilik Cafe ini" "Aah, jadi pemilik dari cafe ini adalah teman, Pak Arka?" Arka tersenyum ramah seraya menganggukkan kepalanya "Iya, dia sahabat kecil saya" "Sahabat dari kecil? Seru sekali ya masih bisa berhubungan, mungkin jika di kantor sedang ada event dan membutuhkan jasa chatering, saya bisa menghubungi teman, Pak Arka ini?" "Tentu bisa, dia membuka jasa chatering juga, dan saya jamin masakannya enak-enak semua" kata Arka memuji cafe ini mungkin lebih tepat nya memuji pemilik cafe ini. "Baiklah kalau begitu, nanti saya bisa minta kontaknya sama Pak Arka" "Oh ya, nanti saya akan berikan kartu nama pemilik cafe ini" Supir Arka pun datang dengan sebuah map di tangannya lalu membungkukkan badannya setelah berada di samping Arka "Ini Pak map nya" kata Mang Ujang supir Arka seraya menyerahkan mapnya kepada Arka "Ya, terimakasih Mang Ujang" Mang ujang pun menganggukan kepalanya "Sama-sama Pak, kalau begitu saya pamit" Mang Ujang pun kembali menuju mobil. "Ini Pak berkas nya" ucap Arka lalu menyerahkan map nya kepada Abian Abian pun mengambil map nya "Terimakasih banyak Pak Arka" "Sama-sama Pak Abian, kalau begitu saya pamit maaf telah menganggu waktu makan siangnya Pak Abian dan Ibu Abian" Arka pun bangkit dari duduknya dan di ikuti oleh Abian juga Giselle   Arka pun menundukkan kepalanya,  pamit kepada Abian dan Giselle "Terimakasih sekali lagi Pak" ucap Abian lalu menjulurkan tangannya dan di balas oleh Arka dengan senyumannya, setelah itu dia pun pergi meninggalkan Abian dan Giselle disana. Pria itu pun berjalan menuju lantai dua cafe ini. "Rekan kerja kamu, Ay?" Tanya Giselle kepada Bian. Mereka pun mendudukan diri mereka kembali diatas kursi, "Iya, dia rekan bisnis aku" "Kamu, kenapa bilang seperti itu kepada, Pak Arka tadi?" Giselle sedikit mengkerutkan keningnya. "Bilang apa?" Tanya nya lagi seraya menyuapkan makanannya. "Kalau kamu itu istri aku!" "Memangnya kenapa?" Tanyanya kembali santai Abian mengusap tengkuknya "Ya, aku takut akan terjadi salah paham nanti" "Tenang loh, Ay. Nggak akan terjadi apa-apa, siapa tau ucapan aku tadi jadi doa loh buat kita berdua, siapa tau kan!" Ujarnya "Doa?" Beo Abian Giselle pun menganggukkan kepala "Iya, orang bilang setiap perkataan kita itu doa tau, jadi kamu jangan ngomong aneh-aneh sama hubungan kita, cukup dengan berkata yang baik-baik, kaya aku tadi kan kalau jadi Doa, kamu juga senang kan?" Kata Giselle seraya tersenyum manja kepada Abian. Pria itu hanya bisa menghelakan nafasnya kasar, dengan menganggukkan kepalanya, ntahlah kenapa perasaannya seperti ini, kenapa dirinya, ah tidak lebih tepat hatinya merasa tidak suka saat wanita lain memperkenalkan dirinya sebagai istri nya, apalagi saat membawa embel-embel Ny. Wijaya, ada perasaan tidak terima. Bukankah harusnya dia senang, dengan Giselle yang notabennya adalah kekasihnya menjadi istri sah nya dan bukan Adel. Berbicara tentang Adel, kenapa Abian menjadi teringat akan bekal yang di bawakan oleh istrinya itu ya, tapi rasa makanan yang dia makan sekarang mirip sekali dengan masakan istrinya, rasanya itu mengingatkan dia akan masakan sang istri. Dengan cepat Abian pun menggelengkan kepalanya, mengusir semua pemikiran tentang Adel, kenapa Bian menjadi memikirkannya. Sampai suara Giselle mengintrupsi lamunannya. "Ay!" Panggilnya seraya menggenggam jemari Bian, Bian pun tersentak lalu menatap, Giselle dengan alis yang terangkat. "Kamu kenapa ngelamun, hm?" Abian mengkerutkan keningnya "Ah, siapa yang ngelamun, nggak kok" elaknya. "Kamu lagi ada masalah?" Abian pun menggelengkan kepalanya. "Bener?" Pria itu menarik nafasnya lalu membuangnya. "Bener sayang, aku nggak kenapa-kenapa, kok. Yaudah lanjutin lagi makannya" Ujar Abian "Tapi inget, kalau ada masalah apapun, ceritain sama aku, jangan kamu pendam sendiri loh?" Peringat Giselle "Iya bawel, bawel banget sih kamu, hm" jawab Bian seraya menggenggam jemari Giselle "Ah ya, hari minggu nanti kamu ke rumah ya" pinta Giselle "Ke rumah?" Tanya Bian kembali Giselle pun mengangguk, seraya menyuapkan makanannya "Ya, kerumah" "Ada apa?" "Udah ke rumah aku aja pokonya hari minggu besok ya, awas jangan sampai lupa, kalo kamu lupa, aku marah sama kamu!" Abian pun tersenyum "Iya, Sayang. Nanti aku ke rumah kamu ya" Giselle pun tersenyum lebar "Terimakasih, sayang!" "Sama-sama, yaudah lanjutin makannya" Mereka berdua pun kembali menyantap hidangan di atas meja, dengan sesekali diselingi obrolan serta candaan romantis mereka, layaknya pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN