Sekumpulan remaja putri tengah berkumpul disebuah cafe, dengan berbagai macam makanan dan minuman tersaji di atas meja mereka.
"Lo tau kan, si joni yang cupu itu?" Tanya Cici pada teman-temannya
"Oh iya tau gue, kenapa sama dia?" Sahut Cindy
"Dia naksir sama Lili tau haha"
Seketika, semua temannya tertawa terkecuali Lili "Ih apaan si lo, gak usah gosip ya!" Kesalnya
"Serius gue haha" godanya lagi
"Bodo ya, Ci!"
"Ciee.. yang punya fans haha" timpal Shafa
"Diem deh, rese lo semua emang!" Kesalnya dengan bibir yang memberengut
"Canda kali, Li. Dah ah bibir lo gak usah di manyun-manyunin gitu, kek bebek lo" ujar Cindy
Mereka semua pun tertawa, setelah berhasil menggoda temannya, saat tengah tertawa Shafa melihat seseorang sepertinya dia tidak asing dengan sosok pria itu, Shafa semakin menajamkan penglihatannya agar terlihat jelas.
Begitu dirinya melihat dengan jelas siapa pria itu, Shafa merasa terkejut sendiri dia dibuat syok dengan apa yang telah dia lihat ini Shafa pun membulatkan matanya dengan sempurna 'Bener-bener keterlaluan banget sih!!' gumamnya dalam hati dengan perasaan yang amat kesal dan juga kecewa, sudah dua kali dia memergoki kakaknya ini bermesraan dengan wanita itu.
Ya, Shafa melihat Bian tengah makan malam bersama seorang wanita, siapa lagi jika bukan Giselle sungguh rasanya Shafa ingin sekali menjambak rambut wanita itu dan juga dia ingin sekali menenggelamkan sang Kakak di samudra Antartika.
Shafa semakin geram ketika melihat mereka malah tertawa lepas, tanpa beban sama sekali. Padahal seharusnya mereka malu dengan apa yang tengah mereka lakukan saat ini.
"Hei, Shaf. Lo kenapa?" Tanya Cindy sembari menepuk bahu Shafa yang kebetulan mereka duduk bersampingan
"Iya, lo liatin apa sih, kek syok gitu?" Timpal Lili
"Ha-hah, ah gu-gue, gue balik duluan ya lagian udah malem juga ni, gue udah ngantuk" alibi nya agar teman-temannya tidak curiga dan melemparkan banyak pertanyaan lagi kepadanya
"Eh iya, udah mau jam sembilan ni, kita balik yuk!" Ajak Cici setelah dirinya melihat jam yang melingkar di lengannya
"Elah, lagian besok libur ini si" protes Lili
"Yaudah, kalian lanjutin aja, gue duluan ya, bye bye!" Ucap Shafa lalu cipika cipiki kepada teman-temannya.
"Hati-hati lo, Shaf!" Seru teman-temannya, gadis itu pun mengajungkan ibu jarinya kepada teman-temannya.
Gadis itu pun memutuskan untuk pulang ke apartemen Bian dan Adel sebelumnya dia sudah memberi kabar kepada sang Mama bahwa dia akan pulang ke apartemen Bian dan Adel, dia beralasan rindu kepada Adel.
Shafa pun berjalan meninggalkan cafe ini, sebelumnya dia sudah memesan taksi online untuk membawa dirinya menuju tempat tujuan. Taksi pesanan nya pun datang gadis itu pun segera memasuki taksi, sebelum Abian melihatnya.
"Ekhem, ngelamun lagi" ujar Adel membuat lamunan Shafa buyar
"Eh, Mba!" Kaget nya sedikit terperanjat "Bikin aku kaget aja"
"Kan, kamu ngelamun lagi kan, ada masalah apa sih, coba cerita sama Mba, siapa tau Mba bisa bantu kan?" Tanya nya pada Shafa, setelah makan tadi dan Shafa sudah bersih-bersih juga mengganti pakaiannya, mereka memilih duduk di sofa ruang keluarga sembari menonton televisi, sebelum tidur dan Adel sembari menunggu sang suami pulang.
"Disini bukan aku yang lagi ada masalah, justru Mba yang akan dapat masalah, aku jadi semakin merasa bersalah jika harus menutupi kejelekan Mas Bian, tapi aku takut kalau aku jujur tentang semua nya akan bikin Mba Adel sakit hati, dan aku takut nantinya rumah tangga Mba Adel dan Mas Bian akan berantakan" ucapnya pada diri sendiri, dia bingung harus bagaimana
"Aku nggak kenapa-kenapa kok, Mba, serius deh" ucapnya meyakinkan dengan senyuman lebarnya
"Hm, serius nggak ada masalah apa-apa?" Tanya Adel kembali meyakinkan dengan mata yang memicing
Shafa tersenyum lalu menganggukan kepalanya penuh keyakinan "Serius Mba ku yang cantik.." Shafa sedikit memikirkannya lagi tentang apa yang ingin dia tanyakan kepada Adel "..Mba, a-aku boleh na-nanya nggak?" Tanyanya hati-hati
Adel pura-pura berpikir dengan jari telunjuk yang dia ketuk-ketukan pada dagunya "Em, boleh nggak ya!" Sahutnya seraya menatap Shafa dengan senyuman jahil nya.
Shafa memanyunkan bibirnya lantas Adel pun tersenyum lebar "Boleh dong, masa nanya aja nggak boleh sih, mau tanya apa?"
"Emm, tapi Mba jangan marah ya?" Kata Shafa dan mendapatkan anggukkan kepala dari Shafa. "M-Mba, sa-sama Mas Bi-Bian, baik-baik aja kan?"
Adel sedikit mengkerutkan keningnya atas pertanyaan yang di lontarkan oleh adik iparnya ini "Mba!" Panggil Shafa.
"Y-ya M-Mba sama Mas Bian baik-baik aja, kamu kenapa nanya gitu, hm?" Jawab dan tanyanya kembali dengan sedikit rasa penasaran dan ragu untuk menjawab pertanyaan dari sang adik ipar, pasalnya di dalam keluarganya yang mengetahui Abian masih berhubungan dengan Giselle adalah Shafa. Adel merasa sedikit curiga jika Shafa sudah melihat kejadian yang membuat dirinya akhirnya memutuskan untuk pulang kesini.
"Mba, kalau ada masalah atau Mas Bian bikin hati Mba sakit, bikin Mba nangis nyakitin Mba, Mba bilang ya sama aku, jangan Mba pendem semuanya sendirian, aku nggak mau lihat Mba sedih apalagi yang buat Mba sedih adalah Mas Bian, aku nggak mau itu terjadi" ujarnya
Adel menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan "Hmm.. Mba sedikit curiga sama kamu, kenapa kamu tiba-tiba bilang begini, apa kamu melihat sesuatu tadi?" Tebaknya, karena Shafa akan selalu menjaga perasaan Adel di banding pada kakaknya sendiri Abian
"Mba" lirihnya, karena dia pun bingung harus bagaimana sekarang, menjelaskan semuanya kepada Adel atau tetap diam sampai waktunya nanti tiba semuanya akan terbongkar dengan sendirinya, karena sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga.
"Kalau boleh, kamu mau ceritakan apa yang kamu lihat sama Mba?" Pintanya dengan seulas senyum dan mencoba menguatkan hatinya
"Shafa!" Panggilnya lembut, dengan menggenggam tangan Shafa.
Shafa menghembuskan nafasnya gusar, dia sedikit berpikir kembali apakah dia harus menceritakan semuanya kepada Adel. Jika dia menutupinya pun tidak akan bisa merubah semuanya, sekarang atau nanti pun, Adel mengetahuinya, sama-sama akan menyakiti hati Adel kan. Dengan keyakinannya dia pun menceritakan semuanya kepada Adel, semua yang dia lihat dan sampai berakhirnya dia sekarang disini, di apartemen nya dan juga Bian.
Mata Adel sudah memanas sedari tadi, ketika mendengarkan cerita yang Shafa katakan, dia mencoba menahan agar bulir-bulir bening di matanya tidak keluar di hadapan adik iparnya ini.
"Mba, kalau mau nangis, nangis aja Mba nggak usah di tahan, aku tahu kok gimana rasanya. Lepasin semuanya Mba, jangan pernah Mba pendam sendiri itu gak baik buat Mba" ujarnya
Adel hanya bisa diam terpaku ketika Shafa sudah menyelesaikan ceritanya, ntah bagaimana dia harus menyikapi semua ini, semuanya begitu menyakitkan baginya, apakah dia harus terus bertahan dengan pernikahannya ini atau mundur saja.
"Mba, apa aku harus bilang tentang semua ini sama Papa dan Mama?" Tanya Shafa memberi saran kepada Adel, dengan tegas Adel menggelengkan kepalanya dengan seulas senyumnya.
"Cukup kita saja yang tahu, jangan sampai, Papa dan Mama tahu, apalagi Papa, nanti beliau bisa marah besar sama, Mas mu" peringat Adel pada Shafa dan gadis itu pun menghembuskan nafas nya kasar, kenapa bisa hati perempuan di hadapannya ini bisa begitu lembut seperti ini, dia bahkan masih memikirkan sang suami yang tidak pernah memikirkan perasaannya.
Dan terdengarlah suara pintu terbuka
Ceklek
Derap langkah kaki pun terdengar memasuki apartemen, atensi kedua wanita itu pun teralihkan kepada seseorang yang baru saja datang.
"Mas Bian!" Ucap Adel seraya berdiri dari duduknya
"Waalaikumsalam!" Sindir Shafa, karena sang kakak masuk tanpa mengucapkan salam
"Assalamualaikum, loh kok ada kamu Shaf, ngapain?" Tanyanya to the point
"Nginep! Nggak boleh?" Sahutnya ketus
"Jutek banget, gak kangen sama Masnya emang?"
"Hoaam, Mba, aku ngantuk, aku tidur dimana Mba?" Tanyanya pada Adel tanpa menjawab pertanyaan Bian, dengan mata yang mendelik kepada Abian.
Abian pun menatap Adel, pria itu terlihat sangat gugup tapi Adel biasa saja, karena Shafa sudah mengetahui semuanya. Semua tentang rumah tangga dirinya dan Abian.
"Kamu tidur di kamar tadi saja sama Mba. Mba mau siapin makan, Mas Bian dulu" Shafa pun menganggukan kepalanya paham, lalu berjalan menuju kamar yang Adel.
Tersisalah Adel dan Abian di ruangan ini, Bian berjalan mendekati Adel "Mas dari mana saja, kok tumben baru pulang jam segini?" Tanya Adel berpura-pura tidak tahu
"Kenapa Shafa bisa ada disini?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Adel.
"Tadi habis kumpul sama temen nya, terus cafenya deket apartemen, jadi dia pulang kesini" jawab Adel.
"Yasudah, Mas pasti lapar belum makan kan, aku sudah masak buat Mas, makan dulu ya." Lanjutnya mengajak Abian
"Saya sudah makan tadi di kantor, kenapa kamu biarin Shafa nginep disini. Dan kamu biarin dia tidur di kamar yang biasa kamu tempatin, kamu sengaja biar Shafa tau tentang keadaan rumah tangga kita, Hah!!" Marahnya
"Astagfirullah, Mas. Aku nggak pernah ada pikiran kesana, Mas!"
"Ck, gak usah alibi kamu!" Abian pun berjalan menuju kamarnya meninggalkan Adel, sang istri yang matanya sudah berembun siap menteskan cairan bening.
"Ya Allah, berikan selalu kesabaran kepada hamba, dan bukakanlah hati suami hamba agar dia tidak salah jalan, hanya Engkau yang bisa membolak-balikan hati manusia" Pintanya kepada Sang Pencipta, dengan meremas baju di dadanya.