Seperti biasa, sepulang dari cafe Adel akan langsung di sibukan dengan rutinitas memasaknya, untuk makan malam dirinya bersama sang suami. Sesampainya di apartemen Adel akan bersih-bersih terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan.
Selesai dengan bersih-bersihnya, Adel akan langsung menuju dapur, menyiapkan sayuran, lauk pauk, serta bumbu-bumbu pelengkap lainnya, dengan sigap Adel memotong, menggoreng serta menumis sayuran. Tidak ada kata lelah untuknya melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Setelah seharian bekerja mengurus cafe, tapi dia tidak akan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri, dia akan berusaha untuk selalu menjadi seorang istri yang baik untuk sang suami, meskipun sang suami Abian, tidak pernah menganggap dan melihat semua perhatian yang Adel berikan padanya, tapi Adel tetap menjalankan dan menjadi seorang istri yang baik untuk Abian.
Adel sudah selesai memasak ayam goreng serundeng, juga tak lupa cah kangkung buatannya sudah matang dan sudah tersaji cantik di atas piring, dan ada juga pelengkap menu lainnya seperti tempe, tahu serta sambal goreng semua sudah tersaji di atas piring.
Adel memindahkan semua masakan nya ke atas meja makan dan menatanya di sana, piring, sendok, garpu dan juga gelas yang sudah terisi oleh air putih, sudah tertata rapih di atas meja makan. Sampai suara adzan maghrib pun berkumandang, Adel berucap "Hamdalah" lalu melangkah berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya, sehabis memasak rasanya tubuh nya menjadi lengket kembali tak lupa dia pun mengambil air wudhu, untuk menunaikan kewajibannya.
Selesai dengan shalatnya, Adel membuka mukena yang dia kenakan, lalu duduk didepan meja riasnya, untuk sedikit memoles wajahnya agar ketika sang suami pulang dia tidak terlihat kucel, meskipun Abian tidak pernah melirik nya, selesai dengan kegiatan nya di kamar Adel berjalan kembali keluar kamar menuju ruang keluarga sembari menunggu sang suami pulang dan akan makan malam bersama.
"Harus nya, sebentar lagi Mas Bian sampai" gumamnya pada diri sendiri sembari menatap jam yang menepel di dinding ruangan ini.
Adel menyalakan televisi disana, untuk menghilangkan sedikit rasa bosannya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 19.00, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Bian seharusnya dia sudah tiba di apartemen sekitar jam 18.00 atau 18.30
"Kok, Mas Bian belum sampai juga ya.. Hm mungkin terjebak macet" ucapnya kembali dengan sedikit rasa khawatir melandanya.
Tak lama terdengar suara adzan Isya berkumandang, Adel pun beranjak dari sofa dan mematikan televisi lalu berjalan menuju kamarnya untuk melaksanakan kewajiban nya kembali, selesai dengan kegiatan nya Adel pun kembali menuju ruang keluarga untuk menunggu sang suami.
"Udah mau jam setengah delapan tapi, Mas Bian belum sampai juga" Adel mulai khawatir, kemana suaminya ini akhirnya dia pun meraih ponselnya yang berada di atas meja dan mencoba menghubungi sang suami untuk menanyakan dimana keberadaannya sekarang. Sungguh dia merasa sangat khawatir sekarang ini.
Adel menghubungi Bian, tapi sayang panggilannya tidak di jawab oleh Bian, sampai panggilan ke-8 Adel tak kunjung mendapatkan jawaban dari Bian. Adel pun mencoba mengirimkan nya pesan siapa tau ketika Bian membaca pesan nya dia akan membalas nya.
Me
Assalamualaikum
Mas Bian, kamu masih dimana?
Kamu nggak kenapa-kenapa kan, Mas?
Mas Bian, Kamu lembur hari ini?
Mas Bian?
Adel mengirimkan nya beberapa pesan, semoga saja Bian membacanya dan membalas pesan yang dikirimkan oleh Adel, meskipun Adel tahu bahwa semua pesan-pesannya tidak akan pria itu balas, Adel tetap setia menunggu kedatangan suaminya, dia pun tidak ingin makan duluan meskipun tak bisa dipungkiri bahwa dia sudah merasakan lapar, tapi dia tidak ingin makan terlebih dahulu, dia akan makan bersama suaminya Abian.
Jam sudah menunjukan pukul sembilan lewat sepuluh menit, Adel pun sudah tertidur di sofa ruang keluarga dengan televisi yang menyala. Karena terlalu lama menunggu sang suami yang tak kunjung datang hingga kantuk pun datang menyerang matanya, hingga membuat dirinya tertidur di sofa ruang keluarga.
Suara bel Apartemen membangunkan tidur Adel, dia mengerjapkan matanya menyesuaikan penglihatannya, dia pun melirik jam dinding terlebih dahulu "Astagfirullah, udah jam sembilan lewat.." bel pun kembali berbunyi "..siapa yang malem-malem gini dateng ke Apartemen" dengan sedikit ragu Adel pun membuka pintu.
"Mba Adeeeeel!" teriak suara seorang gadis saat pintu sudah terbuka
"Ya ampun, Shafa! Kamu ngapain malem-malem gini, ayok masuk" Adel sedikit panik karena adik iparnya ini berada di apartemen nya di jam yang selarut ini.
Mereka berdua pun masuk kedalam, Adel kembali menutup pintu dan terkunci secara otomatis, mereka pun duduk di sofa ruang keluarga "Kamu abis darimana Shafa? ini udah malem loh" tanya Adel sedikit khawatir, takut terjadi apa-apa pada adik iparnya ini
"Aku abis kumpul sama temen-temen aku Mba, kita abis makan-makan tadi, trus karena kemaleman dan cafe nya lebih deket ke Apartemen jadi aku kesini aja, biar lebih deket gak apa-apa kan aku nginep disini?"
"Ah begitu.. Ya nggak apa-apa dong, malah Mba seneng jadi Mba ada temen ngobrol kan" jawab Adel sambil tersenyum, dan di balas senyuman kembali oleh Shafa
"Oh iya, mana Mas Bian kok nggak keliatan Mba?" tanya Shafa sembari mencari keberadaan Kakaknya itu
"Em.. ka-kayanya Mas Bian ada lembur, jadi mungkin pulangnya agak larut" alibi nya, karena dia sendiri pun tidak tahu dimana suaminya itu berada
"Oh, begitu" jawab Shafa dengan sedikit rasa bersalah, tapi dia bingung apakah harus menceritakan nya kepada Kakak iparnya ini, atau dia menyimpannya sendiri saja. Karena dengan mendengar jawaban dari Adel tadi sudah dipastikan bahwa Abian tidak memberitahukan dimana dia berada sekarang kepada Adel.
"Hei.. kok ngelamun Shaf, mikirin apa sih?" tanya Adel begitu melihat Shafa yang melamun.
"Aah.. si-siapa yang ngelamun, nggak kok Mba, oia aku laper lagi Mba" rengeknya dengan wajah yang dibuat memelas
"Nah, kebetulan Mba habis masak banyak, yuk kita makan" ajak Adel dan Shafa pun langsung beranjak dari duduknya mengikuti Adel menuju meja makan.
Shafa merasa sedih melihat semua makanan yang sudah tersaji dengan rapih dan begitu cantiknya di atas meja makan 'Mba Adel, udah capek-capek masak, tapi yang dimasakin malah nggak tahu diri' gerutu nya dalam hati
"Shaf, ayo duduk sini" ucapan Adel membuyarkan lamunannya
"O-oh, iya Mba" jawab Shafa dengan tersenyum kaku.
Adel menyendokkan nasi ke dalam piring Shafa, tak lupa ayam serta cah kangkung "Mau tempe atau tahu?" Tanyanya pada Shafa
"Emm, tahu aja Mba" Adel pun mengambilkan tahu untuk Shafa, setelah nya dia pun menyendokkan nasi serta sayur dan ayamnya di atas piringnya
"Berdoa dulu loh, Shaf" ingatkan Adel yang melihat Shafa akan melahap makanannya tanpa berdoa
"Hehe lupa Mba, liat masakan Mba bikin aku kalap" mereka pun berdoa terlebih dahulu dan di lanjutkan dengan menyantap makanannya
"Emph, enak banget, Mba!" Ucap Shafa dengn mulut yang penuh dengan makanan.
Adel teresenyum seraya menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan adik iparnya ini. "Di telen dulu loh, Shaf, nanti keselek kamu!" Kata Adel
"Habis, aku kangen banget sama masakan Mba Adel tau!" Ujar Shafa saat sudah menelan makanannya, Adel pun tersenyum mendengarnya .
"Kalau kamu kangen tinggal dateng kesini, nanti Mba masakin banyak makanan buat kamu"
Shafa menganggukkan kepalanya, dengan mulut yang terus mengunyah makanannya. Adel terkekeh sendiri melihat kelakuan adik iparnya ini.
Mereka pun sudah menghabiskan makanannya, "Nambah lagi Shaf?" Tawar Adel
Shafa pun menggelengkan kepalanya "Aku kenyang Mba, udah tiga kali aku nambah!" Adel tersenyum melihat tingkah sang adik ipar,
"Awas kamu kekenyangan loh!" Ucap Adel
"Tenang, Mba, perut aku sudah terbiasa hehe" jawabnya dengan cengengesan lalu meneguk air putih nya.
Adel pun beranjak merapihkan bekas makannya dan juga Shafa.
"Biar aku bantu, Mba" Kata Shafa seraya beranjak dari duduknya dan mengambil piring kotor di atas meja makan lalu membawanya ke wastafel untuk dia cuci semuanya.
"Sudah biar, Mba aja, kamu istirahat gih sana, sekalian bersihin badan kamu dulu" titah Adel tapi tak dihiraukan Shafa.
"Beres cuci piring aku bersih-bersih, Mba" jawabnya, dan Adel hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Yasudah"
Setelah selesai mencuci piringnya, Shafa pun menghampiri Adel yang tengah merapihkan meja makan.
Shafa melihat Adel dengan rasa bersalah nya. Ntahlah dia bingung apakah harus menceritakan ini kepada Adel atau menyimpannya sendiri, tapi dia merasa menjadi seorang yang jahat jika tidak memberitahukan hal ini kepada Adel, sungguh hatinya menjadi dilema saat ini.
"Mba" panggil nya pada Adel yang sedang me-lap meja makan.
"Kenapa?"
"Aku mau pinjem baju tidur hehe"
Adel tersenyum "Ambil aja di lemari, Mba, pilih yang mana aja terserah kamu"
"Oke deh, Mba aku yang cantik"
Shafa berjalan menuju kamar Abian, saat akan membuka pintunya, "Shaf, kamarnya yang sebelah situ, bukan yang itu" kata Adel meberitahu seraya menunjuk pintu kamarnya, membuat Shafa mengernyitkan keningnya.
"Hah!" respon Shafa yang belum paham, karena setahu dia kamar utama di Apartemen itu yang ada di hadapan nya saat ini
"Kamar, Mba yang itu, Shaf" ulangnya lagi seraya menunjuk pintu kamarnya.
Shafa pun mengangguk bingung sesaat kemudian dia pun menyadari semuanya 'Jadi mereka tidur di kamar yang terpisah' batinnya.
'Bener-bener, Mas Bian!" Geramnya.
"Ah, i-iya Mba" jawabnya sedikit gugup