"Adel!" Panggil seseorang yang sudah berdiri dari duduknya
Adel menoleh menajamkan penglihatan nya untuk sesaat, menatap seseorang yang memanggil nya, seketika raut wajahnya berubah dengan mata yang berbinar menatap orang yang memanggil nya.
"M-mas!" Jawab nya sedikit gugup, adel pun menghampiri pria yang sudah berdiri di depan sana, dengan seulas senyum yang mengembang di kedua sudut bibir sang pria.
"Mas Arka, apa kabar?" Tanya nya begitu bahagia, dan senyumnya yang terus mengembang
"Alhamdulillah, aku baik, kamu gimana kabarnya Dek?" Jawab dan tanya Arka pada Adel
"Alhamdulillah, aku baik Mas, aaa aku kangen banget sama Mas" ucap Adel yang tidak bisa mengungkap kan betapa bahagia nya dia saat ini, bisa bertemu dengan sahabatnya itu.
Arka adalah sahabat Adel, dulu mereka selalu bersama, Arka selalu menjaga Adel dia tidak akan pernah membiarkan ada seseorang yang bisa menyakiti hati Adel, sudah seperti seorang kakak menjaga adiknya, begitu lah Arka terhadap Adel.
Apa pun yang Adel ingin kan, Arka akan memberikan nya untuk Adel, sampai mereka harus berpisah karena Arka harus melanjutkan study nya di London dan mengurus perusahaan Papanya di sana, saat itu lah mereka harus berpisah, dan mereka lost contac di karenakan Arka yang terlalu sibuk dengan urusan perusahaan.
"Masih boleh peluk nggak?" Tanya Arka seraya merentang kan tangannya, Adel pun mengangguk sedetik itu pun Arka langsung memeluk tubuh mungil Adel. Adel pun membalas pelukan Arka, mereka pun melerai pelukannya dan saling melempar senyum mereka satu sama lain.
"Duduk Mas" ucap Adel, mereka pun terduduk dengan saling berhadapan "Kapan Mas, kembali ke Indonesia, kok jahat nggak ngabarin aku? Selama ini juga Mas nggak pernah ada kabarnya, Mas sudah lupa ya sama aku!" Rajuk Adel
Arka tersenyum mendengar rajukan Adel, sudah lama sekali dia tidak mendengar dan melihat Adel merajuk seperti ini padanya "Maaf ya, Mas bukan nya lupa sama kamu, mana bisa Mas lupa sama kamu. Mas takut nggak bisa nahan Rindu jika sudah berhubungan sama kamu, bisa-bisa Mas kabur dan samperin kamu ke Indonesia nanti Papa bisa kena serangan jantung dadakan" jawab nya dengan candaan di akhirnya
Adel memicingkan matanya "Hm, alasan aja kamu Mas"
"Mas, kapan sampai di Indonesia?"
"Hari Rabu kemarin" Adel pun mengangguk kan kepalanya
"Mas, lagi ada janji kah? Ini ada map punya Mas?" Tanya Adel dengan mata yang menatap sebuah map di atas meja, Arka pun menatap map itu dan mengambil nya lalu mengecek isi nya "Tadi aku ketemu klien disini, kayanya ini punya klien aku, sepertinya dia lupa.." ucap Arka lalu beralih menatap Dino di sampingnya "..Hubungin Pak Rival dan beritahu dia ada map nya yang tertinggal"
Dino pun mengangguk "Baik, Pak" dia pun lantas beranjak dari tempat duduknya lalu pamit keluar untuk menelpon Rival dengan map yang berada di tangannya.
"Gimana kabar Om Dimas dan Tante Meli?" Tanya Adel
"Alhamdulillah mereka baik.. gimana kabar Om Simon dan Tante Risa?" Jawab dan tanya Arka
Senyum Adel memudar dengan kedua sudut bibirnya yang melengkung ke bawah, dan menarik nafasnya dalam-dalam.
"Papa sama Mama, sudah bahagia dan tenang disisi-Nya" lirih Adel, sedetik itu pun raut wajah Arka berubah menjadi shock dengan mata yang membulat sempurna merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Adel.
"Maaf" hanya satu kata itu yang keluar dari bibir merah Arka.
Adel sedikit mengkerut kan keningnya "Untuk apa?"
"Karena saat Tante Risa dan Om Simon pergi aku tidak ada di samping kamu, saat kamu berduka aku tidak bisa menjadi seseorang yang berada di samping mu dan menguatkan kamu, dek! Maaf, aku tidak bisa menjadi seseorang yang bisa menguat kan pijakan kamu saat kamu merasa sedih" sesal Arka dengan mata yang sedikit berkaca-kaca
Adel tersenyum menatap Arka "Nggak apa-apa Mas, semua sudah takdir dari Allah"
"Hm.. Jadi sekarang, kamu yang urus cafe?" Tanyanya
Adel menghela nafasnya lalu mengangguk kan kepalanya "Iya Mas, kalau buka aku siapa lagi"
Arka benar-benar merasa bersalah melihat wajah Adel, seharusnya dia ada disaat masa-masa terpuruk Adel, karena kehilangan orang yang benar-benar sangat bearti dan terpenting untuk Adel, tapi dia pun tidak bisa apa-apa selain menjaga gadis di depannya ini sekarang
"Kamu, urus cafe ini sendiri?"
"Nggak kok, aku di bantu temen aku Mas, Putri"
"Kalau kamu butuh bantuan apa pun segera hubungin Mas ya"
Adel tersenyum seraya menempel kan tangannya di depan keningnya, seperti hormat "Siap Komandan 86!" Kekehnya, membuat mereka berdua tertawa kecil
"Oh iya, aku kenalin Mas sama Putri, sebentar" Adel pun memanggil salah satu karyawan nya dan meminta nya untuk memanggilkan Putri, karena saat tadi Adel di panggil oleh Arka, Putri memakai kesempatan itu untuk melarikan diri agar terbebas dari ajakan Adel untuk makan bakso di pinggir jalan, dan beralih dia sekarang ini di ruangannya yang ber-AC
Tak lama Putri pun datang, dan menghampiri meja Adel dan Arka "Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Putri formal, karena ketika di hadapan tamu Putri akan bersikap dan berbicara formal terhadap Adel, untuk menghargai Adel di depan tamu nya.
"Duduk sini Put!" Perintah Adel, Putri pun mendudukan dirinya di samping kursi Adel
"Kenalin dia Arka, sahabat aku" tutur Adel seraya tersenyum menatap Arka, Arka pun menjulurkan tangannya "Arka" ucapnya ramah pada Putri, Putri menatap wajah Arka sembari membalas uluran tangan Arka, seperti tidak asing dengan wajah pria di depan nya ini "Putri.. em sepertinya say.. aa dia yang waktu kemarin nanyain lo Del!" kata Putri tiba-tiba lalu menatap pada Adel
Arka tersenyum mendengar perkataan Adel, "Oh jadi kamu yang cariin aku kemarin" tutur Adel. Arka pun tersenyum dan mengangguk kan kepalanya
"Kalo kamu butuh bantuan, hubungin aku! Kapan pun kamu butuh bantuan aku akan bantu, telepon aku jika kamu merasa kesulitan" ucap Arka
"Iya Mas, iya bawel nya nggak ilang-ilang ya.. emm Mas, sampai kapan di Indo?" Tanya Adel
"Aku akan tinggal kembali di Indonesia, masih banyak urusan yang harus aku urus disini, juga untuk menjaga seseorang" tuturnya
"Ahh.. serius Mas, kamu tinggal lagi di Indonesia?"
Arka mengangguk "Aku nggak mau ulangin kesalahan aku dan harus ninggalin kamu lagi" tutur Arka, membuat hati Adel menghangat mendengarnya
Putri yang tidak ingin menganggu acara kangen-kangenan sahabat nya ini pun memilih untuk kembali ke ruangannya "Gue ke atas lagi ya Del, masih ada kerjaan" alasannya
"Kita makan dulu, lo belum makan siang kan?"
"Gampang nanti gue minta tolong Sisi bawain makanan ke atas, yau dah gue ke atas ya.." pamit Putri pada Adel lalu beralih pada Arka "..Saya permisi Mas Arka" dan di angguki kepala oleh Arka, Putri pun berjalan menuju ruangannya dilantai dua.
"Mas, belum makan siang kan? Kita makan siang dulu disini, Oke" Arkapun tersenyum dan mengangguk kan kepalanya, meng-iyakan permintaan gadis di depannya ini
Adel pun memanggil waiters nya dan memintanya untuk menyajikan makanan untuk nya, Arka dan juga Dino yang setelah menelpon Rival tadi duduk di meja lainnya, karena tidak ingin menganggu atasan nya yang tengah berbicara dengan Adel.
"Kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Arka, karena setelah sekian lama tak bertemu mungkin saja Adel pindah rumah
"Aku di Apartemen Mas" jawab Adel, Arka sedikit merasa bingung "Apartemen?" ulangnya
Adelpun menganggukan kepalanya "Kenapa?" Tanya Arka lagi
Adel menarik nafasnya, sebenarnya dia bingung harus cerita atau tidak kepada Arka "Aku sudah menikah Mas, dan aku tinggal di Apartemen karena suamiku tinggal disana" jawabnya
Degh
Membuat Arka seketika terpaku di tempatnya, tekejut, shock dan menyesal sepertinya dia telat!!.