Saat ini, keluarga Wijaya tengah makan malam bersama dengan menu yang banyak di atas meja makan ini, membuat Roy, Abian dan Shafa yang melihat nya merasa kenyang duluan.
"Ma, kamu masak sebanyak ini untuk kita berlima makan?" Tanya Roy dengan wajah bingungnya.
"Mama, kita ini cumam berlima dan porsi makan kita gak pada banyak loh!" Ujar Shafa
"Sudah, di makan saja. Mama masak sedikit di complain masak banyak juga di complain, kalian ini benar-benar ya!"
"Bukan gitu, Ma. Cuman ini kebanyakan loh, Ma, menunya" kata Abian
"Yasudah, nggak apa-apa nanti bisa dibagi juga kan, sekarang makan aja udah, ayok!"
Suci pun menyendokkan satu centong nasi pada piring suaminya, Roy. Begitu pun dengan Adel yang menyendokan nasi untuk Abian dan menyimpan beberapa lauk serta sayuran juga.
"Terimakasih, Sayang" kata Bian kepada Adel, wanita itu hanya tersenyum membalas perkataan suaminya.
"Aktingnya bagus!" Gumam Shafa seraya memasukan makanan ke dalam mulutnya, dengan mata yang mendelik pada Abian.
"Kenapa, Shaf?" Tanya Suci yang mendengar gumaman Shafa, karena posisi mereka yang duduk bersampingan.
Shafa pun menolehkan wajahnya menatap sang Mama. Begitu pun dengan Roy, Abian dan Adel "Hah! kenapa Ma?" Tanya balik Shafa
"Kamu itu loh yang kenapa? Tadi bilang apa? Akting, akting siapa?"
"Hah! Akting, siapa yang akting, Ma?"
Suci menghelakan nafasnya "Kamu ini, ya sudah lanjutkan makannya" ujar Suci, dan Shafa pun kembali melanjutkan makannya dengan kepala yang dia anggukkan.
Mereka pun menyantap makan malam nya kembali, dengan diselingi obrolan-obrolan kecil.
"Kalian nginep ya?" Pinta sang Mama kepada Abian dan Adel seraya menatap penuh harap pada keduanya "Hm?"
Adel melirik Abian yang menganggukan kepalanya seraya tersenyum. "Iya, Ma, kita nginep" jawab Abian. Yang membuat bibir Suci melengkung ke atas.
"Kalian belum ada rencana mau honeymoon gitu?" Tanya mendadak Roy yang membuat Abian tersedak makanannya.
"Uhuuukk.. uhuuukk"
Adel pun dengan sigap memberikan segelas air putih kepada Bian. "Diminum dulu, Mas!" Titahnya seraya memberikan gelas air putih itu kepada sang suami.
"Pelan-pelan dong, Mas Bian. Kaya anak kecil aja makan sampe kesedak gitu!" Sindir Shafa.
"Makasih, Sayang" ucap Bian kepada Adel.
Wanita berhijab itu pun tersenyum manis kepada sang suami. "Sama-sama, Mas. Pelan-pelan makannya" ujar Adel yang di balas senyuman oleh Bian
"Hm, kamu ini, Bian. Papa, tanya gitu saja sudah kesedak, gimana kalau, Papa, minta cucu harus jadi minggu depan!" Celetuknya. Yang sontak membuat kedua pasangan suami istri itu membulatkan matanya dengan mulut sedikit menganga. "HAH!" Seru keduanya.
"Kalian ini, kenapa sih, Mama sama Papa, kan pengen cepet nimang cucu loh" lirih sang Mama, membuat hati Adel teriris begitu pula dengan Bian.
"Kalian ini, kenapa?" Kata Roy
Perasaan wanita berhijab itu menjadi tak karuan, padahal permintaan kedua mertuanya itu adalah hal yang wajar, yang diminta kepada anak mereka yang telah menikah, tapi pernikahan dirinya itu tak lain hanyalah sebuah pernikahan di atas kertas saja bagi suaminya, Abian.
Di sisi lain ternyata, Abian pun memikirkan hal yang sama, permintaan kedua orang tuanya itu sangatlah wajar diminta kepada dirinya yang berstatus sudah menikah, bukan lagi seorang single. Sungguh, Abian, tidak tega melihat raut wajah sang Mama yang penuh harap terhadap dirinya dan Adel, agar segera memberikan mereka seorang cucu.
"Ehem" Abian berdehem lalu melanjutkan kembali kata-katanya "Se-secepatnya, Bi-Bian dan Adel, akan kasih cucu yang lucu-lucu untuk, Mama dan Papa. Semuanya kan butuh proses juga, Ma, Pa. Iyakan, Sayang?" Ujar Bian seraya menggenggam jemari Adel dan menatapnya dengan seulas senyuman, membuat Adel menganggukkan kepalanya.
"I-iya, Mas! Benar kata, Mas Bian, Ma, Pa. Semuanya butuh proses, Insya Allah, secepatnya Aku dan Mas Bian akan kasih Mama dan Papa cucu" tutur Adel
Shafa yang melihat itu hanya bisa menyumpah serapahi sang kakak Abian, ntah kenapa dia merasa kesal saja dengan sikap kakaknya ini, yang pintar sekali berakting.
"Hm, makannya kalian itu honeymoon loh, biar lebih banyak waktu berduanya juga, gak sibuk sama urusan kerjaan kalian masing-masing!" Sahut Suci
"Seminggu atau sebulan lah, kalian honeymoon sana!!" Lanjutnya.
"Nanti, Bian, jadwal kan untuk berangkat honeymoon sama, Adel. Ma" Jawabnya santai.
Makan malam pun berlanjut dengan hening, hanya ada suara yang tercipta dari sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Makan malam pun selesai, Suci, Adel dan Shafa merapihkan bekas makanan mereka dan membawanya ke dapur.
"Ma, Mba, aku ke atas dulu ya, nanti balik lagi" pamitnya dan di angguki oleh kedua wanita itu.
Setelah kepergian Shafa, Adel melanjutkan acara cuci piringnya, sedangkan Suci sedang merapikan dan menata piring-piring yang sudah bersih ke dalam rak piring.
"Sudah selesai, kamu istirahat saja sana, sayang" Kata Suci
"Eh, sudah beres?" Tanya Shafa begitu sudah berada di dapur dan melihat semuanya sudah bersih dan rapih.
"Sudah dong, Cantik!" Sahut Suci.
"Hehe, ya udah aku ke atas lagi aja!" Shafa pun kembali berjalan menuju kamarnya.
"Sekarang, Mama juga istiraha ya" ucap Adel seraya mengapit tangan Suci untuk keluar dari dapur.
"Kamu juga, istirahat jangan kecapean" ujar Suci pula kepada Adel.
Adel tersenyum "Iya, Mama. Ya sudah, Mama istirahat ya!" Ucap Adel.
"Iya, Sayang. Yasudah Mama ke kamar ya, kamu juga istirahat!"
"Iyaa, Mama!" Jawabnya dengan seulas senyum.
Suci pun berjalan menuju kamarnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Adel pun melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya, karena dia pun lelah setelah seharian ini berkeliling berasama Shafa di mall.
Begitu pintu terbuka ternyata suaminya sudah berada di dalam kamar, sedang berbaring di atas kasur empuknya seraya membaca buku.
Adel menelan salivanya susah payah, lalu berjalan mendekati tempat tidur, wanita itu mengambil bantal di atas tempat tidur dan membawanya kembali menuju sofa, tapi suara bariton disana membuatnya mengurungkan niatnya.
"Mau kemana?"
Adel pun membalikan badannya, lalu menatap suaminya dengan raut wajah bingungnya "A-aku tidur di sofa, kan?" Tanyanya sedikit gugup.
"Sofa?" Beo Abian seraya melirik ke arah sofa yang sudah tidak ada disana. Awalnya dia geram kepada pelaku yang mengeluarkan sofa dari dalam kamarnya, tapi yasudahlah karena dirinya dan Adel pun adalah sepasang suami dan istri yang sah.
Adel mengikuti arah pandang suaminya, begitu melihat ternyata tidak ada sofa disana, kemana pindahnya sofa yang biasa dia gunakan untuk tidur jika berada di kamar Abian.
Adel mengkerutkan keningnya. "Loh! kemana so-sofanya, kok nggak ada?" Tanya nya panik, karena jika sofa itu tidak ada maka dirinya harus tertidur di bawah lantai kah.
"Mas, kemana sofanya? Kok nggak ada?" Tanyanya dan Abian pun hanya menggedikkan bahunya acuh.
"Aku, tidur dimana dong, Mas?" Lirihnya kebingungan.
Abian menepuk sisi tempat tidurnya yang masih kosong, Adel, wanita itu sedikit bingung tidak mengerti maksud dari suaminya itu.
Abian menghelakan nafasnya, begitu melihat raut kebingungan dari wajah sang istri. "Tidur disini! Disamping saya!" Ucapnya seraya menepuk ke samping dirinya yang masih kosong.
"Ti-tidur, sama kamu? Satu kasur sama kamu?" Tanya nya menyakinkan.
Dan lagi-lagi Abian menghembuskan nafasnya. "Iya, Adelia! Terus kamu mau tidur dimana? Di bawah situ, di lantai? Kalau kamu masuk angin nanti, saya yang akan di wawancarai oleh Mama dan Papa!"
"Ya sudah tidur!" Lanjutnya lagi
Adel pun menaiki kasur dengan perlahan, dia memasukan kakinya pada selimut tebal berwarna putih itu, lalu manariknya sampai d**a. Wanita cantik itu tidak melepas hijabnya, karena dia masih merasa canggung dan asing kepada laki-laki di sampingnya, yang notaben nya adalah suaminya sendiri.
"Tidur! tenang, saya nggak akan apa-apain kamu!" Ucap Abian dengan mata yang sudah tertutup dan lampu kamar yang sudah dimatikan, tergantikan dengan lampu tidur.
Adel pun memaksakan matanya agar segera menjemput alam mimpinya, tapi ntahlah ada apa dengan matanya ini, kenapa susah sekali untuk terlelap. Sesekali matanya terbuka kembali.
Dan tanpa dia sadari matanya mulai terpenjam dan sudah masuk ke alam mimpi.
02.30 WIB, dini hari.
Abian terbangun dari tidurnya, dia merasa harus ke kamar mandi, dia ingin buang air kecil. Setelah selesai dengan ritualnya di kamar mandi, Abian kembali ke dalam kamarnya dia pun teringat akan wanita yang tertidur di sampingnya.
Abian menatap dalam wajah Adel, meskipun samar-samar terlihatnya, tapi wajah damai Adel masih bisa terlihat oleh mata Abian.
"Kamu itu cantik, dalam keadaan tidur pun wajah kamu membuat hati sejuk dan damai" gumamnya pada diri sendiri seraya menatap wajah teduh dan damai dari wanita di sampingnya ini.
Tanpa dia sadari, tangannya terjulur pada wajah Adel, pria itu mengelus lembut pipi Adel dengan ibu jarinya.
"Cantik, lembut" Ucapnya dengan menatap wajah istrinya
Dengan cepat Bian menarik kembali tangannya, menjauhi wajah sang istri lalu dia pun menggelengkan kepalanya "Astaga, apa-apaan gua!" Dia pun kembali menidurkan tubuhnya di samping sang istri.
**
Di kamar nya Shafa, dia tengah senyum-senyum sendiri.
"Semoga rencana aku berhasil" gumamnya
"Setidaknya, mereka bisa tidur dalam satu tempat tidur berdua, selebihnya tergantung iman mereka berdua" kekehnya
Pasalnya sofa yang tiba-tiba menghilang di kamar Bian itu semua ulah dari Shafa, semua adalah keisengan dari gadis itu.
Flashback
"Ma, Mba, aku ke atas dulu ya, nanti balik lagi" pamitnya dan di angguki oleh kedua wanita itu.
Shafa pun berjalan menuju lantai dua, dia berjalan menuju kamar Masnya. Setelah sampai di depan pintu kamar sang kakak, matanya menelisik ke kanan dan kiri melihat situasi sekitar, setelah dirasa aman gadis itu pun membuka pintu kamar kakaknya secara perlahan, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu kamarnya kembali secara perlahan.
Shafa pun menjalankan aksinya, mendorong sofa yang berada di kamar Bian keluar kamar, dengan susah payah Shafa mendorong sofa itu. Setelah sampai di depan pintu Shafa membuka kembali pintu kamar dan menelisik keadaan di luar,
"Aman!" Gumamnya
Lalu gadis itup un mendorong sofa itu keluar kamar, menutup kembali pintu kamar sang Kakak dan mendorong kembali sofa itu sampai ke kamarnya.
Shafa membuka pintu kamarnya dan dengan mendorong sofa itu dengan seluruh kekuatannya, "Hah, misi selesai, huh" ucapnya seraya mengelus keningnya menggunakan punggung tangannya yang mengeluarkan sedikit keringat
Gadis cantik itu pun tersenyum dengan penuh harapan semoga misinya berhasil.
Selesai dengan misinya Shafa pun kembali menghampiri Mama dan Mbak nya di dapur.
Flashback of
"Tapi gue berharap iman mereka berdua goyah saat di satukan dalam satu tempat tidur" kekehnya kembali dengan senyum gelinya.