Dua hari setelah menginap di kediaman orang tua Abian, kini mereka kembali pulang ke apartemen.
Selesai sarapan, Abian langsung beranjak dari duduknya tanpa berkata apapun kepada Adel, istrinya.
"Mas" panggil Adel membuat, Bian menghentikan langkahnya dan berbalik memandang sang istri.
"Tunggu sebentar!" Serunya, lalu sedikit berlari menuju dapur dan kembali dengan sebuah tas tempat makan, lalu menyodorkan nya kepada Abian, suaminya. "Bekal buat kamu, kamu sering lembur sekarang"
Abian menatap seolah tanpa minat, padahal itu adalah makanan favoritnya, masakan sang istri. Ya masakan, Adel adalah masakan favoritnya sekarang.
"Saya, bukan anak TK yang harus bawa-bawa bekal!" Tukasnya
"Tapi Mas, bukan anak TK aja yang bawa bekal sekarang, karyawan-karyawan sekarang banyak yang bawa bekal juga kok ke kantornya" ucapnya dengan menyelipkan tas kotak makan itu di jemari Abian "Dibawa ya, biasanya juga dibawa kan, jangan lupa di makan juga ya" ucapnya lembut, lalu menarik tangan kanan suaminya dan mencium punggung tangannya.
Abian tertegun dengan perlakuan dan sikap yang Adel berikan dan lakukan padanya, sungguh Adel benar-benar wanita kuat dan hebat, bagaimana pun Abian memperlakukannya, dia tetap berperilaku baik kepada suaminya dan menghormati suaminya itu.
"Hati-hati ya, Mas" ucapnya dengan seulas senyum cantiknya.
Tanpa berkata apapun, Abian berbalik meninggalkan Adel. "Hmm.. ntah sampai kapan kamu akan bersikap dingin terus sama aku, Mas!" Lirihnya begitu tak lagi melihat punggung suaminya.
Adel merapihkan sisa makan dirinya dan juga suaminya, setelah itu dia membersihkan seluruh apartemen dan menata semuanya, hari ini dia tidak ke cafe, semenjak kepindahan nya kesini dia tidak pernah merapihkan dan membereskan apartemen suaminya ini.
Saat sedang asik dengan rapih-rapih nya, suara bel apartemen berbunyi membuat Adel harus menghentikan aktifitasnya dan mencari mukena untuk dia kenakan, karena saat ini dia tengah menggunakan kaos putih pendek dengan celana pendek pula, berhubung hanya ada dirinya saja dan suaminya sedang bekerja.
Setelah menggunakan mukenanya, Adel pun bergegas membukakan pintu apartemen dan ..
"Selamat siang, dengan Ibu Adel?" Tanya kurir itu.
"Iya, ada apa ya?" Tanyanya kembali dengan raut bingung nya, pasalnya dia tidak memesan apapun, tapi lihat itu sepertinya paketnya besar sekali.
"Ini ada paket untuk Ibu Adelia Maheswari" ucapnya
"Dari siapa ya, Mas?" Tanyanya kembali dengan sedikit kerutan di keningnya.
"Dari Ibu Suci Wijaya"
"Mama!" gumamnya "Ya sudah, di bawa masuk saja, simpan di dekat sofa saja, Mas" Ucapnya kepada sang kurir, dan abang kurir pun menyimpan paket berukuran besar itu di tempat yang Adel tunjuk tadi.
"Ibu, bisa tanda tangan disini dan disini" Adel pun mengikuti intruksi sang kurir untuk menandatangani form yang kurir itu berikan.
Kurir itu pun tersenyum "Terimkasih, Bu!"
"Terimakasih kembali" Ucap Adel, dan wanita dengan menggunakan mukena berwarna hijau mint itu pun masuk kembali dan melihat isi paket yang dikirimkan mertuanya itu.
Drrtt.. drrtt..
Getaran ponsel Adel membuatnya harus menunda untuk membuka paket itu dan beralih pada benda pipih yang sedari tadi bergetar.
Mama Is Calling..
Dengan segera, Adel menggeser ikon hijau disana dan sambungan pun terhubung.
"Assalamualaikum, Sayang?" Sapa Suci dari sebrang telpon
"Waalaikumsalam, Ma"
"Paketnya, sudah sampai sayang?"
"Sudah Ma, baru sampai belum Adel buka"
"Coba kamu buka dulu ya" saran sang Mama dan Adel pun menurutinya
"Sebentar, Adel buka, Ma" ponselnya pun wanita itu alihkan menjadi mode loudspeaker dan menyimpannya di meja dekat paket itu berdiri, Adel membuka bungkusnya dan setelah itu terpampanglah foto dirinya dan suaminya yang mengenakan gaun pengantin putih dan begitu pun Abian yang menggunakan setelan jas dengan warna senada.
"Ma, ini .."
"Foto waktu pernikahan kamu dan Abian, dan di dalam kardus itu ada foto-foro berukuran kecil yang sudah terbingkai juga, foto-foro bersama dan selebihnya adalah foto kalian berdua saja" ucap Suci sepertinya dengan raut bahagianya.
"Untuk yang ukuran besar itu, Mama sudah minta tolong orang untuk memasangnya nanti orang itu ke rumah, dan untuk yang kecil-kecil nya kamu bisa pasang dan atur sendiri ya, Sayang"
Adel tersenyum di tempatnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, "Terimakasih, Ma. Sudah perhatian seperti ini, aku saja sampai lupa kalau disini belum terpasang foto pernikahan aku dan Mas Bian" ucap Adel seraya menatap sekeliling tembok apartemen suaminya ini.
"Sama-sama, sayang. Oh iya besok Mama dan Papa akan menginap di apartemen kalian, jangan lupa pasang semua fotonya ya"
"Iya, Ma, aku pasang sekarang kebetulan aku lagi gak ke cafe juga, aku lagi beres-beres apartemen"
"Jangan kecapean kamu ya, kalau perlu minta saja sama Abian untuk bayar orang buat rapih-rapih apartemen"
"Nanti, kalau aku butuh aku bilang sama Mas Bian, untuk sewa orang buat rapih-rapih, Ma"
"Hm..kamu ini, ya sudah, Mama tutup telponnya ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, Ma"
Panggilan pun terputus, Adel langsung menatap foto pernikahannya dengan suaminya itu dengan senyum hambarnya.
"Andai saja, Mas" lirihnya dalam
Setelahnya terdengar kembali suara bel apartemen berbunyi, dengan segera Adel beranjak dari duduk nya dan membuka pintu Apartemen.
"Selamat siang, dengan Mba Adelia?" Tanya seorang pria paruh baya.
Adel pun mengangguk dengan sedikit tersenyum ramah. "Iya, saya Adel, dengan Bapak siapa ya?" Tanya nya sopan, karena dia sedang berbicara dengan orang yang lebih tua dari nya.
"Saya Pak Mamat, tadi Bu Suci minta tolong sama saya untuk pasang foto" jawabnya.
"Oh, Pak Mamat, silahkan masuk Pak" kata Adel mempersilahkan Pak Mamat untuk masuk dengan pintu apartemen yang dia biarkan tetap terbuka.
"Fotonya yang ini, Mba?"
"Iya, Pak. Pasang di sebelah sini saja, Pak!" Kata Adel seraya menunjuk pada tembok ruang tamu, ketika masuk apartemen maka pertama kali yang mereka lihat adalah sebuah foto berukuran besar yang berada di belakang kursi di ruangan ini.
Setelah selesai dengan pemasangan fotonya, Pak Mamat pun pamit kepada Adel.
"Sudah selesai ya, Mba" katanya kepada Adel.
"Tunggu sebentar, Pak!" Ucap Adel, wanita itu pun berjalan masuk ke kamarnya dan kembali menghampiri Pak Mamat.
"Ini untuk Bapak," ucap Adel seraya menyelipkan sebuah amplop putih pada tangan pria paruh baya itu.
"Tidak usah, Mba, semuanya sudah di selesaikan oleh Ibu Suci" tolak halus Pak Mamat.
Adel tersenyum "Nggak boleh nolak rezeki, Pak. Anggap saja ini bonus buat Bapak, di terima ya Pak"
"Terimakasih banyak, Mba. Kalau begitu saya pamit"
"Terimakasih juga, Pak"
Adel menutup pintu apartemen setelah Pak Mamat keluar, Adel menatap foto besar yang sudah terpasang dengan cantik di tembok.
"Cantik" gumam Adel dengan menatap foto besar itu.
Adel pun kembali pada aktivitasnya, membersihkan apartemen dan memasang foto-foto kecil ketika acara pernikahannya dengan Bian.
**
Setelah rapih-rapih tadi, Adel memebersihkan dirinya lalu dia pun mengistirahatkan tubuhnya sejenak, tanpa dia sadari ternyata dia sudah terlelap di alam mimpinya.
Adel terbangun di jam 16.10, dengan segera Adel beranjak dari kasurnya lalu mencuci mukanya, kebetulan sekali dia sedang kedatangan tamu bulanannya, dengan segera Adel berjalan menuju dapur, dia harus segera memasak karena sebentar lagi suaminya pulang.
Adel mulai bergelut dengan acara memasaknya, menggoreng ikan dan sayur lainnya, selesai dengan memasaknya Adel pun merapihkannyta di atas meja makan menata nya dengan cantik.
Tanpa dia sadari ternyata ada seseorang yang sudah memperhatikannya sedari tadi, dengan sorot mata yang tak biasanya.
"Alhamdulillah, sudah selesai. Sembari nunggu Mas Bian pulang, aku mandi dulu aja" ucapnya seraya menatap makanan di atas meja makan.
Saat Adel akan berjalan matanya menatap manik tajam di depan sana. Adel menyatukan kedua alisnya bingung, ini nyata atau tidak, wanita cantik itu pun melihat jam yang melingkar di lengannya, "Tumben" gumamnya
Adel pun menghampiri suaminya disana yang masih menatap dirinya, Adel merasa bingung kenapa Bian menatapnya begitu intens tidak seperti biasanya.
"Mas, tumben jam segini sudah di rumah?" Tanyanya seraya mengambil kotak makan yang di pegang suaminya.
"Nggak ada lembur hari ini kah?" Lanjutnya lagi bertanya, sedangkan yang ditanya hanya diam seperti terhipnotis.
Adel mengkerutkan keningnya merasa bingung dengan suaminya ini. "Mas?" Panggilnya
"Mas, sakit?" Tanyanya dan Bian masih diam membisu
"Mas, kenapa?" Bian mengerjapkan matanya.
Adel menatap dirinya, dari ujung kaki sampai ujung kepala dan ..
"Astagfirullah!" Serunya dengan mata yang membulat sempurna, dengan segera Adel pun berlari menuju kamarnya tak lupa kotak bekal makanan nya dia berikan pada Abian, meninggalkan Abian yang masih menatap Adel sampai wanita itu benar-benar hilang di balik pintu.
Untuk pertama kalinya Abian melihat sang istri tanpa terbalut hijab. Rambut coklat Adel yang tercepol asal keatas, kaos polos putih dan celana pendeknya, membuat Abian melihat dua sisi istrinya secara berbeda.
"Cantik! Jangan sampai ada pria lain yang melihat kamu berpakaian seperti itu" gumamnya.
Sedangkan di dalam kamarnya Adel tengah merutuki dirinya yang sangat ceroboh, bisa-bisa nya dia lupa.
"Astagfirullah, kenapa bisa lupa gini sih! Ceroboh, Adel ceroboh!!" Rutuk nya pada diri sendiri.
Setelah hampir satu jam Adel berada di dalam kamarnya, dia pun memberanikan diri keluar dan menghampiri Abian yang mungkin sudah berada di ruang makan.
Adel berjalan menuju meja makan, dan benar suaminya sudah duduk manis disana, dengan perasaan canggungnya dan jantung yang berdegub dengan tak karuan, Adel menghampiri Bian.
"Duduk!" Titah Bian
Adel pun duduk di kursi lainnya. Wanita itu menyendokkan nasi serta lauk dan sayurannya di piring Bian. Setelahnya dia pun menyendokkan nasi ke piringnya.
Mereka makan dengan hening hanya menciptakan perpaduan suara antara sendok, garpu yang beradu dengan piring.
"Kenapa ganti?" Tanya Bian yang membuat Adel tersedak makanannya.
"Uhuk.. uhuk" Bian pun menyodorkan gelas minumnya pada Adel, dengan segera Adel meminumnya untuk menghilangkan rasa perih di tenggorokkannya.
"Kaya anak kecil, makan kesedek" ujar Bian
Bian meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, lalu tangannya bersidekap dan menatap Adel.
"Kenapa di depan saya, kamu tidak pernah melepaskan hijab kamu?" Tanya Bian pelan.
"A-aku, nggak biasa memperlihatkan aurat ku di depan pria lain selain alm Papa!" Sahutnya.
"Tapi saya ini kan suami kamu?"
Adel menyatukan kedua alisnya menatap Bian "Suami?" Beonya
Abian mengangguk "Suami dalam kategori apa, Mas?" Tanyanya
"Ya, suami, memang ada suami harus masuk dalam ketegori!" Bian memegang keningnya dengan kepala yang tertunduk
"Ehem, sudah lupakan saja!" Sahutnya "Besok, Mama sama Papa mau nginep disini, Mas" ucap Adel memberitahu suaminya.
"Hah! Mama sama Papa mau nginep!" Kagetnya, lantas Adel pun menganggukkan kepalanya
"Iya"
"Ya sudah, malam ini kamu pindah ke kamar saya, semua barang-barang kamu pindah kan ke kamar saya" ucap Abian lalu dia pun beranjak dari duduknya.
Adel masih terdiam duduk di atas kursi, Bian yang merasa tidak ada pergerakan apapun dari Adel, pria itu menghentikan langkahnya lalu menatap istrinya.
"Ayok! Sekarang kita pindah kan barang-barang kamu ke kamar saya!" Ucapnya dengan sedikit nada panik.
Adel pun beranjak dari duduknya dan mengikuti Abian dari belakang. "Panik banget!" Ujar Adel
"Biasa saja padahal Mas, malah sepertinya lebih baik kalo Mama sama Papa tau, jadi kamu bisa lepasin aku kan!" Ucap Adel, ntah dari mana munculnya kata-kata itu.
Bian menghentikan langkahnya lalu berabalik menatap Adel. "Kamu bilang apa?"
Adel pun menatap sembarang arah "Aku, bilang apa emang?" Tanya nya kembali
"Adelia Maheswari!"
"Apa, Mas Abian Wijaya?" Sahutnya, Adel pun berjalan melewati Bian dan masuk ke dalam kamarnya, merapihkan barang-barangnya yang akan di pindahkan ke kamar Bian.
Semua barang-barang dan pakaian Adel sudah berpindah ke kamar Bian, wanita itu tidak merapihkan semua pakaiannya ke dalam lemari, hanya beberapa saja yang dia simpan di lemari sisanya masih di dalam koper, ketika Suci dan Roy pulang dia mungkin akan di suruh pindah lagi oleh Bian.
"Kenapa gak kamu simpan semua pakaian nya di dalam lemari?" Tanya Bian.
Adel tersenyum "Nggak apa-apa Mas, besok saja sekarang aku ngantuk mau tidur" jawab Adel, dia pun mengambil bantal dan membawanya ke sofa kamar Bian
"Mau kemana?"
"Sofa, kenapa Mas?"
"Ngapaim ke sofa?"
"Aku ngantuk, mau tidur"
"Ngapain tidur di sofa?"
"Hah! Em aku salah, maaf mas, ya sudah aku tidur di kamar aku saja" jawab Adel
"Adelia! Kamu tidur disini!" Ucap Bian seraya melirik ke arah kasurnya.
Adel terdiam di tempatnya, masih mercerna ucapan Abian takut-takut dia salah dengar dan menyimpulkan.
"Sini" titah Bian, Adel menatap ke sembarang arah tak urung dia pun berjalan menghampiri suaminya.
"Semua barang kamu ada di kamar ini, jadi malam ini kamu tidur di kamar ini!" Ujar Bian membuat Adel bingung sendiri, karena sikap dari suaminya ini,
"Tidur!" Titah Bian dan pria tampan itu pun mematikan lampu, Adel pun membaringkan tubuhnya di kasur sang suami.
Ini adalah kali keduanya Adel tidur satu kasur dengan suaminya, setelah hampir satu bulan menikah ini adalah kedua kalinya mereka tidur bersama dalam satu kasur.