Waktu Yang Tak Tepat..

2035 Kata
Seperti yang sudah Suci bilang kemarin saat di telepon, bahwa hari ini dirinya bersama sang Suami, Roy, akan menginap di apartemen anak nya. Adel pun pulang lebih awal dari cafe karena dirinya harus memasak untuk makan malam nanti bersama sang suami dan mertuanya. Adel sudah berada di parkiran Apartemen, memarkirkan mobilnya dengan rapih, lalu dia pun keluar dari mobil dan berjalan memasuki gedung menjulang tinggi ini. Sesampainya di apartemen, wanita berhijab itu langsung menyimpan tasnya lalu mencuci tangannya dan memakai apron di tubuhnya, agar tidak terkena cipratan minyak dan bumbu-bumbu. Adel langsung berkutat dengan acara memasaknya di dapur, karena Suci bilang akan sampai ke apart sekitar adzan maghrib, karena Roy ada urusan terlebih dahulu. Hampir satu jam Adel berkutat di dapur, setelah semua masakannya matang, Adel membawa nya menuju meja makan dan menata nya dengan rapih disana. "Alhamdulillah, selesai!" Ujar nya seraya menatap semua masakan yang sudah tersaji di atas meja makan. "Sudah setengah enam, aku bersih-bersih dulu aja" gumamnya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar suaminya, tak mau berlama-lama Adel pun langsung menuju kamar mandi, lalu menyiram tubuhnya di bawah guyuran air shower. Segar, itulah yang dia rasakan, hampir setengah jam Adel melakukan ritual mandinya, setelah itu dia pun melilit tubuhnya menggunakan handuk yang hanya menutupi d**a sampai atas lututnya saja, Adel keluar dari kamar mandi sembari membungkus rambutnya yang basah dengan handuk putih lainnya, dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang sibuk membungkus rambutnya, Adel berjalan keluar dari kamar mandi. "Seger banget kan kalau udah mandi gini tuh" katanya. Adel pun mendongakkan kepalanya dan mengambil baju di dalam lemari, memilihnya untuk dia gunakan sekarang. Saat sudah mendapatkan satu stel pakaian rumahannya Adel menarik dan membawanya, Adel menatap cermin di pintu lemari yang menampilkan seseorang yang tengah terduduk di pinggiran kasur yang sedang menatap ke arahnya. Jantung Adel berpacu begitu cepat, dengan mata yang membulat sempurna, dia pun membalikkan badannya dan menatap langsung seseorang yang tengah terduduk di kasur sana. Mereka saling menatap satu sama lain, tidak jauh berbeda dengan Adel, pria itu pun sama canggungnya dengan Adel, jantung dia yang berpacu lebih cepat sungguh tidak normal menurutnya, hingga pria itu susah menelan salivanya sendiri, menatap wanita di depannya ini yang berbalutkan handuk dan hanya menutupi d**a hingga atas lutut. Kaki jenjang putih mulus Adel, hingga bahu putih dan leher jenjang nya terlihat begitu nyata dan ini untuk kali pertamanya Abian melihat lekuk tubuh istrinya, karena selama ini dia hanya melihat Adel yang selalu berpakaian tertutup di hadapannya. Adel mengerjapkan matanya berkali-kali, kaki nya terasa lemas untuk melangkah ntah mengapa dirinya jadi kaku begini, sungguh situasi macam apa ini, meskipun di hadapkan dengan suaminya, tapi Adel merasa malu karena suaminya tidak pernah menganggap dirinya adalah istri sesungguhnya, sungguh rasanya Adel ingin sekali menghilang saat ini. Abian pun berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju istrinya yang masih terpaku di tempatnya. Kini mereka sudah saling berhadapan, Abian menarik Adel lalu menjatuhkannya di atas tempat tidur hingga membuat Adel terperanjat sendiri. "Ka-kamu, mau ng-ngapain, Ma-mas?" Gugupnya saat tubuhnya tertidur di atas kasur. Abian tidak menjawab, pria itu hanya menatap Adel dengan tatapan ingin menerkam istrinya saat ini juga, Abian adalah laki-laki normal dan sisi laki-lakinya akan terbangun jika melihat pemandangan seperti ini di hadapannya, pria itu tidak bisa menahannya lagi, melihat istrinya hanya berbalutkan handuk putih yang melilit tubuhnya. Abian menjatuhkan dirinya di atas tubuh Adel, Adel tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuh mungil nya tertindih oleh tubuh kekar Bian. "Aku suami kamu, jadi gak salah kan jika aku meminta hak ku pada istri ku sendiri!" Jawabnya dengan kosa kata yang berubah menjadi aku kamu, Adel memejamkan matanya sesaat lalu menelan salivanya susah payah, "Ma-mas, a-aku bel-belum siap!" Ujarnya dengan gugup Bian menaikkan sebelah alisnya, "Siap gak siap kamu harus siap, karena aku adalah suami kamu!" Tuturnya membuat Adel bungkam. "Jika kamu menolaknya, makan kamu akan berdosa!" Lanjutnya lagi dengan senyum smirk nya. Abian mendekatkan wajahnya pada wajah Adel, hingga berjarak hanya lima senti meter saja dan .. ting nong.. ting nong.. ting nong.. Bunyi bel apartemen membuat mereka berdua menolehkan wajah nya ke arah pintu kamar. "s**t!" Geram Bian "Alhamdulillah!" Gumam Adel dengan menghembuskan nafasnya lega. ting nong.. ting nong.. Abian pun beranjak dari tubuh Adel lalu berjalan untuk membukakan pintu, siapa yang bertamu di saat yang tidak tepat seperti ini. Sedang kan Adel dia langsung menyaut baju nya yang terjatuh di depan lemari dan berlari membawa menuju kamar mandi. ting nong.. ting nong.. ting nong.. Bel terus saja berbunyi hingga Bian kesal sendiri. "Nggak sabar banget, bertamu gak tepat waktu lagi!" Gumamnya masih merasa jengkel. "Lama banget kamu bukain pintunya, lagi ngapain kamu sama Adel hm?!" Goda Suci, karena melihat keadaan sang putra dengan keadaan kusut. "Waalaikumsalam, Mama!" Sindir Bian Suci pun memicingkan matanya dengan senyum yang tertahan. "Assalamualaikum. Kamu lagi proses bikin cucu buat Mama sama Papa kan?" Tanya nya seraya berjalan masuk ke dalam apartemen dan di ikuti oleh Roy dari belakang. "Jadi, Papa sama Mama bertamu di waktu yang tidak tepat dong!" Timpal Roy "Ck, apaan sih, Pa, Ma. Bian, baru sampai rumah, makannya Bian kusut gini pakaiannya" elaknya. Roy dan Suci pun saling menatap dengan kedua alis mereka yang terangkat. "Rambut kamu kenapa berantakan gitu?" Tanya Suci. Lantas Bian pun memegang rambutnya "Sudah di bilang, Bian baru sampai rumah, Mama!" Alibinya lagi "Ya sudah deh iya, terus mana Adel nya?" Tanya nya lagi dengan nada meledek nya. "Lagi pakai baju" "Waw!!" Ucap Roy dan Suci, Bian pun langsung menatap kedua orang tuanya. "Ma-maksud nya, Adel baru selesai mandi, dia la-lagi pakai baju." Katanya dengan perasaan gugup dan langsung mendapatkan senyuman geli dari kedua orang tua nya. "Udah deh, Ma, Pa!" Kesalnya. Adel pun keluar dari kamar dan sudah berpakaian lengkap dengan hijab nya. "Mama, Papa" sapa nya dan langsung mencium tangan Suci dan juga Roy. "Shafa nggak ikut, Ma?" Tanya nya karena tak melihat adik iparnya itu. "Shafa lagi nginep dirumah temennya" "Oh, gitu. Oh iya, Adel ambilin minum dulu" kata Adel seraya berdiri dari duduk nya lalu berjalan menuju dapur. Adel pun kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat untuk kedua mertua nya. "Fotonya cantik, kamu pinter banget cari spot untuk pajang foto pernikahan kalian" ujar Suci pada Adel Lantas ketiga orang disana pun mengikuti arah pandang Suci yang tengah menatap sebuah foto berukuran besar sudah terpajang di tembok ruangan ini. Abian mengkerutkan keningnya menatap tembok sana yang sudah terpajang foto pernikahan dirinya dan Adel yang berukuran besar, lantas matanya menatap sekeliling yang ternyata sudah terpanjang banyak foto acara pernikahan dirinya waktu itu. Suci pun berdiri dan menatap semua foto-foto yang sudah Adel tempel dan tata di tembok. "Kamu cantik sekali, Sayang. Kalau anak pertama kalian perempuan pasti secantik, Mama nya" ujar Suci seraya menatap Bian dan Adel "Ma, Pa, kita makan malam dulu yuk!" Ajak Adel kepada kedua mertuanya. "Ah, iya perut Papa sudah keroncongan ini" jawab Roy. Adel pun tersenyum "Ya sudah kita makan malam dulu, Pa. Nanti selesai makan malam lanjut liat foto-foto nya, Ma" ucap Adel seraya mengapit lengan Suci. Suci pun tersenyum dengan kepala yang di anggukkan, "Ayok!" Ajaknya kepada Suci dan Roy. "Em, Mas, kita makan malam dulu" ajak Adel kepada Bian, ntah kenapa dia jadi merasa takut kepada suami nya sekarang, karena untuk pertama kali nya dia melihat Bian seperti itu. Bian pun beranjak dan mengikuti ketiganya menuju meja makan. "Wah, perut Papa makin keroncongan ini, lihat masakan kamu!" Ujar Roy memuji Adel. "Emang kamu itu paling the best, Sayang. Bian, kamu itu beruntung punya istri seperti Adel. Jangan kamu sia-siakan dia!" Nasihat sang Mama. Adel menatap Bian sekilas, ternyata Bian pun tengah menatap Adel. "Ehem, ayok Pa, Ma, makan" ucap Adel, wanita itu pun menyendokkan nasi pada piring Bian lalu menaruh lauk serta sayurnya. Mereka pun menyatap makan malam ini dengan tenang, hingga menghabiskan makanan mereka masing-masing. Selesai makan malam, Adel merapihkan sisa-sisa makan mereka dan di bantu oleh Suci, meskipun Adel melarangnya tetapi Suci tetap membantu menantu nya itu, sedangkan Abian dan Roy mereka sudah terduduk di kursi balkon yang menyuguhkan pemandangan indah Ibu Kota di malam hari dengan begitu banyak kerlap kerlip lampu. "Kamu, sudah tidak berhubungan dengan wanita itu lagi kan, Bian?" Tanya tiba-tiba Roy. Bian pun menolehkan wajahnya menatap sang Papa. "Jangan sampai kamu maasih berhubungan dengan wanita itu, kamu harus menjaga perasaan istri kamu. Jika sampai Papa tahu kamu masih berhubungan dengan wanita itu, kamu akan menyesal, Bian!" Peringat Roy. Bian hanya bisa menghelakan nafasnya, mungkin untuk saat ini dirinya merasa nyaman dengan apa yang sedang dia lakukan, masih berhubungan dengan kekasihnya Giselle dan membuat istrinya, Adel menderita, tapi apa yang sudah dia lakukan tadi kepada Adel, kenapa dia tidak bisa menahan nya. "Kalian, masih di luar. Masuk sudah malam, dingin di luar" ucap Suci. Roy beranjak dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam sesuai ucapan sang istri, sedangkan Bian dia masih termenung di kursi balkon, merenungi perbuatan dia tadi terhadap Adel, dan semua perbuatannya terhadap istri nya itu. Lama Bian berada di balkon, Roy dan Suci pun sudah berada di kamar tamu, kamar yang kemarin Adel tempati. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 22.15, Adel sudah berada di kamarnya, menidurkan dirinya dengan berbalut selimut dan hijab instan yang tak dia lepas, Adel melirik tepat di sampingnya dimana Bian biasa tertidur, tetapi pria itu masih belum ada, kemana dia. Tak lama pintu kamar pun terbuka, ternyata Bian, mungkin dia sudah merasa tenang. Lelaki itu pun membaringkan tubuhnya di samping Adel yang membelakanginya. "Maaf!" Ucap Bian "Maaf atas kejadian tadi, saya gak bermaksud untuk berbuat seperti itu" ujarnya dan kembali menggunakan kosa kata saya kepada Adel. Adel tidak bergeming, dia masih tetap di posisinya membelakangi Bian. Bingung dia harus merespon seperti apa, di satu sisi dia adalah istri sah Bian, tapi di sisi lain, Bian belum bisa menerima dirinya sebagai seorang istri. "Dan, foto itu kenapa kamu memasang tanpa se izin saya?" Tanya Bian "Mama yang suruh!" Jawabnya singkat "Kapan kamu pasang semua foto itu?" "Kemarin!" "Kenapa saya gak lihat kemarin?" Tanya nya kembali merasa heran, saat kemarin dia sampai di apartemen, Bian tidak melihat ada semua foto itu terpajang. "Memang sejak kapan kamu bisa melihat semua tentang aku, Mas. Sejak kapan kamu peduli dengan aku, aku sudah biasa, Mas. Jadi aku gak aneh jika kemarin kamu gak lihat foto-foto pernikahan kita terpajang disana!" Ujar Adel yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Bian pun bungkam, karena semua yang di katakan oleh Adel adalah benar. Adel pun beranjak dari tidurnya, lalu berjalan keluar sampai suara bariton suaminya menghentikan langkah nya. "Mau kemana? Kamu lupa ada Mama sama Papa?" "Tenang, Mas. Akting ku lebih bagus dari pada kamu!" Adel pun kembali melanjutkan langkahnya, ntah kenapa dia bisa berkata seperti itu, mungkin dia merasa kesal dengan sikap Bian tadi kepadanya. Tapi seharusnya memang seperti itu kan sepasang suami istri, tetapi tidak bagi hubungan mereka berdua. Adel merasa ada yang salah dari kejadian tadi. Wanita dengan piyama berwarna maroon itu berjalan menuju balkon, tidak lupa dia menutup pintu, agar ketika Roy atau Suci keluar kamar tidak melihat keberadaannya disini. Adel pun mendudukkan dirinya di kursi balkon dan menatap lurus ke depan sana. Terlalu rumit baginya, rumah tangga nya ini sangatlah rumit, dia bertahan dan terus bersabar karena semua ini adalah permintaan dari alm sang Papa, Adel percaya bahwa apa yang sudah Papa nya berikan adalah yang terbaik untuk dirinya. Tapi harus sampai kapan Adel berada dalam situasi seperti ini, sampai kapan dia harus terus bersikap seolah bahagia padahal nyatanya sama sekali tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangganya ini. "Pa, Ma, aku kangen!" Lirihnya dengan satu tetes air mata yang keluar membasahi pipinya. "Rasanya, Adel ingin menyusul kalian disana, Adel benar-benar rindu Mama sama Papa! Adel rindu, Ma!" Lirihnya kembali dengan air mata yang terus meluruh membasahi kedua pipinya. Kepalanya tertunduk, dengan isak tangis yang tertahan di d**a, agar tidak menimbulkan suara. Tangis yang terasa menyesakkan, merindukan sosok yang sudah tidak ada di dunia ini, rindu yang tak bisa terobati dan hanya doalah penyambung rindu agar sampai kepada mereka yang telah tiada. Di balik pintu sana ada seseorang yang tengah mendengarkan tangis pilu dari Adel, membuatnya merasakan apa yang tengah Adel rasakan, tanpa dia sadari matanya pun mengeluarkan cairan bening yang menetes membasahi pipinya, dadanya pun merasa sesak, mungkin sama seperti apa yang Adel rasakan. Atau mungkin lebih sesak Adel dari pada dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN