Salah Tingkah..

1347 Kata
"Pagi-pagi bangetM a, pulangnya" ujar Adel "Hm, maaf ya sayang, Papa ada urusan mendadak, jadi kita harus pamit sekarang" sesal Suci, karena dia harus segera berpamitan dengan menantu kesayangannya ini, niat hati akan menghabiskan waktu dengan Adel seharian, justru malah harus berpamitan sepagi ini. Setelah selesai sarapan tadi, Roy mengatakan bahwa dirinya dan Suci sang istri, tidak bisa lama-lama di sini, mendadak dia ada urusan dengan klien nya. Suci kecewa dengan menghelakan nafas panjang nya, ketika mendengar sang suami mengajaknya untuk berpamitan, padahal hari ini dia ingin quality time bersama Adel. "Lain kali, Mama akan menginap lagi disini" ucap Suci lalu melirik sekilas pada Roy "Tapi nggak sama, Papa!" Kesalnya. "Ya sudah, Papa sama Mama pamit pulang ya." Kata Roy kepada putra dan menantunya. "Hati-hati ya, Ma, Pa!" Ucap Adel seraya mencium punggung tangan Suci dan juga Roy. "Hati-hati, Ma, Pa!" Kali ini Abian yang berucap seraya mencium tangan kedua orang tua nya. "Kalian baik-baik ya!" Ujar Suci, dan mereka berdua pun berjalan menuju basemant, dimana mobil nya terparkir. Adel menutup pintu setelah kedua mertuanya tak terlihat lagi, lalu berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar dia mendapati Abian yang tengah terduduk di atas tempat tidurnya, dengan punggung yang menyender di sandaran kasur. "Kamu, nggak ke kantor, Mas?" Tanya Adel, karena tidak biasa nya Abian masih santai di jam jam sekarang ini. "Saya ada meeting nanti siang, jadi sekalian saja nanti berangkatnya" jawabnya dan tentu membuat Adel tersenyum singkat karena untuk pertama kalinya, Abian menanggapi pertanyaan nya dengan jawaban pada umumnya, bukan lagi dengan kata 'Nggak usah banyak tanya' atau 'Kepo'. Adel menganggukkan kepalanya samar. "Oh begitu" Jawabnya lalu Adel pun melanjutkan kembali langkahnya. Wanita cantik itu akan bersiap-siap, seperti nya hari ini dia akan ke cafe, saat sedang siap-siap ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Drrttt.. drrtt.. drrtt.. Adel mengambil benda pipih yang bergetar dengan di iringi oleh nada dering, melihat siapa yang memanggilnya lalu menggeser icon telepon berwarna hijau disana. "Assalamualaikum, Mas" Jawab nya lalu berjalan keluar kamar dengan ponsel yang menempel di telinga nya. Berbarengan dengan itu kepala Abian mendongak ketika mendengar Adel mengucapkan salam yang di akhiri dengan kata 'Mas'. Pria dengan kaos putih polos itu pun berjalan mendekati pintu lalu menguping pembicaraan istrinya, dia menempelkan kuping pada pintu berharap bisa mendengar pembicaraan Adel dengan seseorang di telpon. "Waalaikumsalam, kamu ke cafe hari ini?" "Aku ke cafe, Mas. Ada apa?" "Oh, nanti aku mampir ke cafe, setelah kerjaan aku selesai" "Oh gitu, Ada apa sih, Mas?" "Memang mesti ada apa dulu ya buat ketemu sama kamu, hm?" "Y-ya ng-nggak, hm ya sudah kalau gitu sampai ketemu di cafe, aku juga mau siap-siap ini" "Oke, kamu hati-hati, Assalamualaikum" "Sip, Waalaikumsalam" Adel mematikan sambungan teleponnya, wanita itu pun berbalik hendak membuka pintu dan .. Bugh.. "Aws!" Ringis seseorang di balik pintu, dengan cepat Adel masuk ke dalam dan membulatkan matanya. "Astagfirullah, maaf Mas, aku gak tau kalau ada Mas di belakang pintu" ucap Adel panik seraya memegang kening Bian yang juga tengah pria itu elus. Raut wajah Adel meringis "Sakit banget ya, Mas. Maaf, aku gak sengaja" ucap nya merasa bersalah. "Lagian, kamu ngapain di belakang pintu sih, Mas?" Tanya Adel heran dengan sikap suami nya ini. Dengan cepat raut wajah Bian kembali datar dan dingin agar Adel tidak mencurigai dirinya yang tengah menguping pembicaraan sang istri "Kepo!" Adel mengkerutkan kening nya merasa heran, "Baru tadi sembuh, sekarang sudah sakit lagi!" Gerutu nya pelan. Bian membalikkan badan nya kembali berjalan menuju tempat tidur dengan tangan yang masih mengelus keningnya yang masih berdenyut, seperti nya Adel membuka pintu cukup keras tadi sehingga membuat benturan cukup keras juga di kening Bian. Adel yang melihat Bian memegangi kening nya pun menghampiri sang suami "Coba aku lihat Mas, kening kamu." Ucap Adel lalu mendekatkan wajahnya melihat kening Abian yang memerah akibat benturan tadi. "Mas, jidat kamu merah, pasti nanti biru, aku oles minyak ya, sebentar!" Ucap Adel lalu dia pun segera mengambil minya zaitun yang tersedia di dalam tas nya. Jantung Abian tidak sehat saat berhadapan dengan Adel dalam jarak yang sedekat itu, "Sejak kapan jantung gue jadi kaya gini, bahkan pada Giselle pun jantung gue biasa saja kalau berhadapan kaya tadi" batin nya merasa heran dengan dirinya ini. Adel kembali setelah menemukan minyak yang dia cari, dengan cekatan wanita itu menuangkan sedikit minyak zaitun pada ujung jari telunjuk nya, lelu mengolesi dengan lembut pada kening Bian yang terkena benturan pintu tadi. "Sudah, semoga gak membiru ya, Mas" ucap nya. "Maaf ya, Mas, kaya nya tadi kenceng banget kening kamu kebentur pintu nya"'sesal Adel kembali. Bian masih tetap memasang wajah datar dan dingin nya, padahal jantung nya sudah tidak sehat di dalam sana. "Saya gak apa-apa, sudah kamu siap-siapa saja sana, kata nya mau ke cafe!" Ucap Bian, tak ayal hati nya penasaran dengan seseorang yang berbicara dengan istri nya tadi di telepon, siapa dia, kenapa bisa Adel memanggil nya dengan sebutan 'Mas' juga seperti pada dirinya, tapi Abian begitu malu, dan tetap menjaga harga dirinya, untuk bertanya langsung kepada istrinya, meskipun saat ini dia sungguh sungguh penasaran dengan pria itu. Jika Bian bertanya kepada Adel yang ada istrinya itu akan besar kepala dan merasa di perhatikan atau mungkin bisa berpikir bahwa Bian cemburu. "Ya sudah, aku siap-siap dulu, Mas." Adel pun membalikkan badannya dan berjalan menuju kamar mandi, dia akan mandi dan bersiap-siap tidak lupa kali ini dia sudah membawa pakaian nya lengkap dengan hijab nya ke kamar mandi, dia tidak akan lupa dan ceroboh seperti kemarin-kemarin. Setelah Adel masuk ke dalam kamar mandi, Abian memegangi dadanya yang seperti nya jantung pria itu masih tetap berdetak dengan tidak normal nya. "Huh!" helaan nafas panjang pun Bian lakukan berkali-kali agar jantung nya kembali berdetak dengan normal. "Apa gue harus periksa, kenapa jantung gue gak normal gini detakan nya, huh!" Gumam nya rasa sakit di kening nya kalah dengan detakan jantung nya yang tak normal. "Gue siap-siap juga kalau gitu" Ucap nya lalu berjalan menuju kamar mandi saat akan membuka pintu dia teringat bahwa di dalam sana ada Adel yang tengah mandi, seketika pikiran nya kembali pada kejadian malam kemarin saat Adel keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk saja yang melilit tubuhnya dari atas d**a hingga paha. Sisi lelaki Bian makin menjadi ketika mendengar suara guyuran air shower dari dalam kamar mandi, otak nya langsung berpikir jika di dalam sana Adel tengah .. "Aaarggh, bener-bener harus konsul gue ini, bukan cuman jantung yang gak sehat tapi otak gue juga ikutan sakit ini!" Gerutu nya dengan frustasi. "Gak beres ini, jantung sama otak gue gak beres!" Lanjut nya lagi. "Bisa-bisa nya mikir hal kaya gitu, Bian!" Ceklek.. "Loh, Mas, kenapa?" Tanya Adel dengan kening yang berkerut, ketika membuka pintu di hadapkan dengan Bian yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, Adel bingung dan heran dengan sikap Bian. "Em, i-itu, a-apa, anu, sa-saya mau ambil handuk!" Kata nya dengan perasaan gugup, karena dirinya seperti ketahuan sedang mencuri sesuatu. "Handuk" Beo Adel dengan kedua alis yang menyatu. Abian pun mengangguk pasti "Untuk apa, Mas?" Heran Adel. "Ya, saya mau mandi, saya butuh handuk untuk keringkan badan saya nanti!" "Hah! Kamu kenapa sih, Mas?" Bingung Adel "Sa-saya nggak apa-apa, minggir!" Ucap nya lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil handuk lalu Bian keluar lagi. Adel semakin bingung, wanita yang tengah berdiri menyamping di ambang pintu kamar mandi itu pun memasang raut wajah penuh tanya nya "Mas!" Panggilnya begitu melihat Bian keluar dari kamar mandi. Bian pun menoleh dan menatap Adel dengan kedua alis yang terangkat "Mau kemana?" Tanya Adel. "Saya sudah bilang, kalau saya mau mandi!" "Tapi kan, kamar mandi nya ini" ucap Adel seraya menunjuk ke arah kamar mandi dan kembali menatap suami nya "Mas, mau mandi di kamar tamu?" Bian semakin kikuk, kenapa bisa dirinya menjadi salah tingkah seperti ini, mata Bian bergerak dengan tidak jelas nya lalu pria itu pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu nya dengan cepat. Adel semakin bingung sendiri dengan suami nya, "Mas Bian kenapa?" Tanya nya kepada diri sendiri. "Aneh banget, nggak kaya biasa nya" ujar Adel. Wanita itu pun mengangkat kedua bahu nya dan kembali melanjutkan aktivitas nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN