Harapan..

2047 Kata
"Val, siapin semua berkas-berkas untuk meeting kita hari ini, gue tunggu di depan kantor" Titah Bian kepad Rival, sekertaris nya pada sambungan telepon. Saat ini dirinya tengah mengendarai mobil nya, membelah jalanan Ibu kota menuju kantornya, telinga sebelah kiri nya sudah dia sumpal dengan earphone, yang sedang menyambungkan panggilan kepada Rival. "Berkas nya udah gue siapin semua" "Oke, lima belas menit lagi gue sampe kantor, lo tunggu di depan!" Ujar nya, lalu mematikan sambungan telpon secara sepihak. Tak lama dia mematikan panggilan nya dengan Rival, ponsel nya kembali menyala dengan di iringi nada dering dan getaran. Bian menekan tombol pada eraphone nya dan panggilan pun tersambung. "Sayaang!" Ucap manja dibalik telpon. "Halo, sayang, ada apa? Tumben telpon?" "Lunch berdua yuk!" "Maaf, Ay. Hari ini aku ada meeting jadi gak bisa makan siang bareng" sesal nya seraya menatap jalanan di depan sana. "Sepenting itu?" "Maaf Ay, lain kali ya kita makan siang berdua nya?" Terdengar suara helaan nafas panjang dari seberang panggilan. "Hm, ya sudah kamu hati-hati, Bye!" "Bye" panggilan pun berakhir, Bian kembali memfokuskan pandangan nya ke jalan. Tak lama mobil silver itu pun tiba di depan gedung kantor Abian, pria itu mencari keberadaan Rival yang seharusnya sudah berada di depan menunggu nya. Bian mengambil ponsel nya, lalu menghubungi Rival. "Lo dimana?" Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seorang pria dengan setelan kemeja putih lengkap dengan jas nya dan tak lupa tangan yang menenteng map berisikan berkas-berkas meeting nya hari ini. "Di samping kamu, Mas" Jawab Rival begitu masuk ke dalam mobil dan mendudukan dirinya di kursi penumpang Bian menatap nya dengan tajam, lalu mematikan sambungan telepon nya. "Segitu kangen nya lo sama gue!" Ujar Rival seraya memasukan ponsel nya pada kantong jas nya. Bian tidak menggubris ucapan Rival, pria itu menstater mobil nya lalu melajukan nya, meninggalkan gerbang kantor nya. "Hello, yuhuuu, ada orang disini!" Cerocos Rival karena Bian tidak menggubris nya. "Berisik Rival! Kaya cewek lu!" Kesal Bian. "Gue gak ada mah lu nyariin, Bi!" Ujar nya dengan percaya diri, Bian pun melirik nya sekilas lalu kembali memfokuskan dirinya pada jalanan di depan. Sekitar dua puluh menit di perjalanan, karena lalu lintas yang cukup padat menjadi kan perjalanan sedikit terhambat, sekarang mobil silver itu pun sudah tiba di depan gedung Gajendra Corp. Palang pintu di depan ruang security pun terbuka, mobil silver Bian pun melaju menuju basement dan memarkirkan mobil dengan rapih di sana. Setelah nya Rival menghubungi Dino "Selamat siang, Pak Rival" "Siang, Pak Dino, saya dan juga Pak Abian sudah sampai di Gajendra Corp" "Oh, baik Pak, sebentar saya turun menuju basement" "Baik, Pak Dino" Tuutt.. Panggilan pun berakhir, Abian juga Rival keluar dari mobil untuk menunggu kedatangan Dino yang akan menjemput mereka. Tak lama datanglah seorang pria dengan setelan kemeja putih, jas hitam, celana hitam dan dasi yang melingkar di leher nya menghampiri kedua pria ini, pria itu pun membungkukkan badan nya begitu sampai di depan Bian dan Rival seraya tersenyum. "Selamat siang, Pak Abian, Pak Rival, mari kita langsung menuju ruang meeting, Pak Arka pun sudah menunggu disana" ajak Dino kepada Bian dan Rival lantas kedua nya pun mengikuti langkah Dino menuju ruang meeting Gajendra Corp. "Selamat siang, Pak Abian" sapa Arka begitu mereka memasuki ruang meeting seraya menjulurkan tangan nya. Abian menyambut uluran tangan Arka dan tersenyum ramah "Selama siang, Pak Arka" "Silahkan duduk, Pak Abian dan juga Pak Rival" ucap Arka mempersilahkan. Abian dan Rival pun mengangguk samar lalu mendudukkan diri mereka di kursi yang sudah tersedia di ruangan ini. "Pengerjaan hotel nya sudah hampir rampung, tinggal pengerjaan finishing saja" kata Arka memulai pembicaraan. Bian menganggukkan kepalanya "Butuh waktu berapa minggu lagi untuk selesai semua nya?" "Mungkin sekitar tiga atau empat hari sudah selesai." "Setelah itu kita akan adakan opening untuk pembukaan hotel terbaru kita, Pak. Kita akan adakan langsung di aula hotel" Ujar Dino. Pembicaraan dalam meeting ini pun terus berjalan, mereka membahas semua nya secara matang, jangan sampai ada kesalahan ketika acara nanti dan juga pada pembangunan hotel mereka. "Baik, kapan Pak Bian ada waktu untuk kita mengecek langsung kesana?" Tanya Rival. "Hari ini, saya free, bagaimana dengan Pak Arka?" Tanya kembali Bian. "Kalau begitu sekarang saja kita kesana untuk pengecekkan, dan melihat langsung bagaimana kondisi disana" kata Arka dan di angguki kepala oleh Bian mereka berempat pun berjalan menuju basement dimana mobil mereka terparkir. Arka bersama dengan asisten nya memasuki mobil sedan hitam, sedangka Bian bersama Rival memasuki mobil silver milik Bian kali ini Rival lah yang menyetir mobil nya. Kedua mobil berbeda warna itu pun melaju meninggalkan gedung Gajendra Corp menuju tempat pembangunan hotel. Mereka pun sampai di parkiran gedung menjulang tinggi nan mewah ini, lantas Arka dan Bian turun terlebih dahulu dari dalam mobil mereka dan di lanjutkan oleh asisten mereka masing-masing. Begitu ke empat nya sampai, mereka langsung di sambut oleh seorang pria paruh baya "Selamat siang, Pak Arka dan Pak Abian" sapa nya kepada kedua Bos muda itu. "Selamat siang, Pak Andi" jawab kedua nya berbarengan. "Bagaimana fininshing nya? Sudah berapa persen?" Tanya Bian. "Sudah 95%, Pak. Para pekerja sedang melakukan dekor di beberapa ruangan, dan besok mungkin kita sudha bisa menata semua barang-barang sesuai dengan ruangannya, dan di setiap kamar sudah bisa kita simpan barang-barang nya" jawab Andi, yang tenyata mandor dalam pembangunan hotel ini. "Semua sudah sesuai dengan konsep?" Kali ini Arka yang bertanya. Andi pun menganggukkan kepala nya "Semua sesuai dengan konsep yang kami terima, Pak" Abian dan Arka pun mengangguk, "Mari, Pak, jika ingin melihat keadaan di dalam" ajak Andi dan mereka pun melangkah menuju dalam gedung hotel ini. Melihat semua pekerjaan yang tengah di lakukan oleh para pekerja, lalu melihat beberapa ruangan nya, melihat bagian kantor dan bagian resto hotel ini, setelah itu mereka melanjutkan langkah nya menuju bagian atas gedung ini yang tak lain adalah Rooftop hotel ini, disana ternyata sudah tersedia kolam renang, arena bermain anak-anak, tempat besantai untuk para tamu. Semua sesuai dengan konsep yang sudah kedua perusahaan itu sepakati. Mereka pun kembali ke lantai bawah, lalu berpamitan kepada Andi. "Kita makan siang dulu, Pak Bian, Bagaimana?" Ajak Arka "Maaf sekali Pak, saya harus segera kembali ke kantor ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan sekarang" ucap Bian dengan tak enak. "Ah seperti itu, saya akan ke Maheswari Cafe, untuk bertemu pemilik nya menanyakan perihal catering untuk acara opening nanti, tadi nya saya ingin mengenalkan teman saya kepada, Pak Bian, mungkin next time," Bian pun tersenyum tak enak "Next time, saya pun ingin bertemu dengan pemilik Maheswari Cafe, ucapkan salam saya kepadanya. Kalau begitu saya permisi duluan, Pak Arka, Pak Dino" pamit nya dan di angguki kepala oleh Arka juga Dino. Setelah mobil silver Bian keluar dari parkiran gedung ini, Arka dan Dino pun menyusul mereka dengan arah tujuan yang berbeda. "Kita ke Maheswari Cafe dulu" kata nya kepada Dino. "Baik, Pak" Dino pun melajukan mobil nya menuju Maheswari Caffe, tak butuh waktu lama mereka pun sampai di parkiran cafe ini, Dino memarkirkan mobil nya dengan rapih, setelah itu Arka turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam cafe tak lama Dino pun menyusul nya dengan duduk di kursi yang berbeda. Arka sudah duduk dengan cool nya di salah satu kursi di dalam cafe ini, pria itu pun mengambil ponsel pada saku jas nya, lalu mendial nomor seseorang disana, tak butuh waktu lama hingga panggilan pun di angkat. "Assalamualaikum, kamu sudah di cafe, Mas?" "Waalaikumsalam, iya aku baru sampai di cafe, kamu di cafe kan?" "Aku di cafe, sebentar aku turun"' "Oke, aku tunggu ya" Panggilan pun terputus, lantas Arka menyimpan ponsel nya di atas meja, tak lama terdengar suara seseorang yang sedang Arka tunggu kedatangannya. "Mas" panggil nya, Arka pun mendonggak menatap Adel dengan seulas senyum manis nya. "Sendiri?" "Aku sama Dino" jawab Arka seraya menatap ke arah meja Dino "Habis lihat pembangunan hotel sama klien aku, langsung kesini aja" "Oh begitu, kamu sudah pesan makanan atau minuman, kalau belum biar aku minta untuk di bawakan makanannya, kamu belum makan siang kan?" Arka pun menggelengkan kepala nya, Adel pun memanggil salah satu karyawan nya meminta dia untuk membawakan beberapa makanan serta tiga gelas minuman. "Pembangunan hotel nya sudah selesai, Mas?" "Sudah 95%, tinggal finishing nya saja" "Alhamdulillah, berati sebentar lagi opening dong?" Arka pun mengangguk "Iya, makannya aku kesini buat ketemu kamu" Adel mengkerutkan kening nya "Ketemu aku? Apa hubungan nya sama aku?" "Jadi klien aku, minta kamu buat handle bagian chatering nya, gimana kamu bisa?" "Kapan opening nya?" "Mungkin minggu depan, untuk tanggal nya nanti aku kabarin lagi ke kamu" Ujar Arka. "Siap!" Serunya dengan senyum manis nya. "Dasar" ujar Arka seraya mengelus lembut kepala yang tertutup hijab abu itu. Seorang waiters perempuan pun datang menghampiri meja Arka dan Adel, lalu menyajikan makanan serta minuman yang dia bawa di atas meja. "Untuk yang ini, kamu bawa ke meja sana ya" ucap Adel kepada waiters perempuan itu dan di anggukki kepala oleh nya. "Klien kamu bisa tau cafe aku, dari kamu Mas?" "Jadi waktu itu aku sempat ketemu dia disini, dia lagi makan siang sama istri nya, nah sekalian aku mau kembaliin berkas yang memang tertinggal waktu kita sedang meeting disini, dia bilang kalau makanan nya enak, ya aku recomen-in aja untuk acara opening nanti kita pakai chatering dari cafe ini" "Oh gitu, makasih loh, Mas" ucap Adel. "Sama-sama, ya sudah makan" Mereka berdua pun menyantap makanan nya, dengan di selingi pembicaraan antara keduanya. "Oh iya, kapan aku di kenalin sama suami kamu?" "Hm" Adel mendongakkan kepala nya menatap Arka. "Kapan kamu kenalin aku sama suami kamu, hm?" Tanya Arka kembali. Adel menenguk minuman nya "Nanti, aku pasti kenalin sama kamu, Mas" "Nanti, nanti terus, sesibuk apa sih suami kamu, hm?" Adel tersenyum canggung, dengan bola mata yang menatap sembarang arah "Super sibuk!" Arka pun menghelakan nafas nya, "Ah iya, aku mau nanya sama kamu, Mas?" "Tanya apa?" Adel menyimpan sendok dan garpu nya di atas piring lalu menumpukan tangan nya di atas meja "Kamu tuh, udah punya pacara belum sih?" Tanya Adel tiba-tiba. "Pacar?" Beo nya. Ade mengangguk dengan wajah polos nya "Iya, pacar, em atau calon istri gitu?" "Kenapa memang, hm?" "Y-ya ng-nggak apa-apa, aku cuman nanya aja loh" "Pertanyaan kamu, udah makan aja lanjutin yang bener!" "Ish kamu ini ya, tinggal jawab aja sih, Mas, punya apa nggak?" Arka menatap Adel, dengan kepala yang menggeleng "Aku nggak mau jawab, wlee" kata Arka dan di akhiri dengan juluran lidah. Adel memicingkan sebelah matanya "Kamu mau maen rahasia-rahasiaan sama aku!" "Bawel banget sih, udah makan!" "Ish, nyebelin!" Kesal Adel tak ayal dia pun kembali menyantap makanannya. Arka melirik Adel sesaat lalu kembali menatap kosong ke depan sana, bagaimana Arka bisa menjawab pertanyaan Adel tadi, sedangkan wanita yang dia harapkan menjadi pendamping hidup nya itu adalah wanita yang berada di hadapan nya sekarang ini, Arka selalu berharap bahwa dia bisa memiliki keluarga kecil bahagia dan harmonis bersama dnegan sosok perempuan yang berada di hadapan nya sekarang ini, tapi harapan yang dulu selalu dia khayal kan selalu dia impikan akan terus menjadi sebuah khayalan dan mimpi saja semua itu tidak akan berubah menjadi satu kenyataan seperti apa yang dia harapkan. Harapan hanya tinggal lah harapan, dan khayalan itu akan selama nya menjadi khayalan baginya, karena pada kenyataan nya wanita nya ini telah berbahagia dengan suami nya sekarang ini. Arka hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Adel dan suaminya, sampai ketika Arka bisa membuka hati nya untuk wanita lain, dan bisa mencitai juga menyayangi nya kelak seperti saat ini Arka mencintai dan menyayangi Adel. Untuk saat ini Arka hanya ingin menikmati sebagian waktu yang dulu telah dia sia-sia kan, berada berjauhan dengan wanita di hadapan nya ini. Karena hingga detik ini perasaan nya masih hanya untuk Adel, dia belum bisa berpaling dan menggantikan posisi Adel di hati nya. "Mas, hei! Kok ngelamun" ujar Adel dengan melambaikan tangan nya di depan wajah Arka. Arka mengerjapkan mata nya "Mas hei, kenapa? Ngelamunin pacar nya kan pasti nih?" "Dih, jangan so tau kamu!" "Nah terus, ngelamunin siapa kalau bukan pacar nya?" "Kepo!" "Ih, rese!! Udah makan lanjutin, gak usah ngelamun terus, habis makan baru ngelamun lagi, siapa tau bisa jadi kenyataan" Arka mengangkat kedua alisnya dengan tersenyum jahil "Memang bisa gitu ya?" "Ya, serahkan saja semua nya sama Allah, jika Allah sudah berkehendak makan semua nya akan terjadi" Arka pun tersenyum mendengar jawaban Adel, membuat hati nya semakin jatuh jauh dalam pesona Adel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN