Penyesalan..

2113 Kata
"Del, gue balik duluan gak apa-apa ni?" Tanya Putri tak enak dia harus pulang lebih awal hari ini karena ada urusan mendadak. Ibunya meminta antar Putri ke rumah sang Adik yang tak lain adalah Tante nya Putri, yang berada diluar kota. "Udah ke berapa puluh kali nya lo bilang kaya gitu terus, Put!" Gemas Adel, karena sedari tadi Putri terus saja melontarkan kata yang sama. "Gue, gak enak kan sama lo, mana gue harus lama juga nanti di sana nya, hm. Serius lo gak apa-apa gue tinggal beberapa hari sendiri buat urus cafe?" Sesal nya. Adel menghelakan nafas nya "Lebay lo, udah sana gih, Ibu pasti udah nungguin kasian nanti kelamaan nungguin lo nya, udah gak usah mikirin cafe, udah gih sana!" Ujar Adel. "Hm, ya udah gue berangkat sekarang ya, kalau butuh bantuan apa-apa telpon aja gue!" "Iya bawel, salam buat Ibu ya!" "Kabarin kalau ada apa-apa?!" "Bawel, udah sana!" Ucap Adel seraya mendorong pelan tubuh Putri agar keluar dari ruangan nya "Hati-hati" ucap Adel saat Putri sudah melangkah menuruni anak tangga. Adel pun kembali masuk ke dalam ruangannya lalu mendudukkan dirinya di atas kursi putar nya, dan membuka berkas-berkas di atas meja, selesai dengan berkas nya Adel menyaut buku Novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ayat-ayat Cinta, padahal dia sudah menonton film nya, tetapi ntah mengapa dia tetap membaca Novel nya berulang kali, seperti candu bagi Adel. Melepas penat dengan membaca adalah salah satu hobi nya. Adel terlalu larut dalam dunia nya, hingga melupakan bahwa sekarang sudah menjelang maghrib, dia tersadar kala alarm di ponselnya berbunyi dengan mengumandang kan suara Adzan. "Astagfirullah!! saking larut nya sampai lupa waktu" ucap nya dengan melihat jam yang melingkar di lengan nya. "Pulang sekarang pun tanggung sebentar lagi maghrib" Gumamnya, bingung dia harus segera pulang, dia belum menyiapkan makan malam untuk suami nya. "Tunggu maghrib aja kalau gitu" lanjut nya kembali. Adel pun merapihkan barang-barang nya yang dia keluarkan dari dalam tas nya tadi, dan memasukkan nya kembali. Adzan maghrib sudah selesai di kumandangkan, Adel pun berjalan ke kamar mandi di ruangan nya untuk mencuci muka nya yang sudah terlihat kusam agar sedikit segar. Setelah nya dia pun mengambil tas nya dan berjalan keluar cafe menuju mobilnya terparkir, sebelum nya wanita dengan hijab abu-abu itu menuju dapur terlebih dahulu, melihat keadaan disana, ketika sudah dirasa aman, Adel pun kembali melanjutkan langkah nya menuju parkiran mobil. Adel sudah terduduk di kursi kemudi, lalu memakai safety belt  nya. Lantas dia pun melajukan mobil sedan merah nya menuju Apartemen nya, "Semoga, Mas Bian belum sampai apartemen" oceh nya sendiri, Adel melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, tiba-tiba saja mobil nya terhenti di tengah jalan. "Loh, loh kok!" Kaget nya, Adel mencoba men-stater mobilnya kembali tetapi tidak berhasil, mobilnya masih tidak bisa menyala. "Kenapa gak bisa nyala mobilnya!" Panik nya, karena jalan ini sedikit sepi hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang, karena ini adalah jalan tikus agar terhindar dari macet dan bisa segera sampai ke rumah. "Ya Allah, kaya nya mogok deh" Ucap nya pasrah. "Aku coba telpon Mas Bian dulu, siapa tahu dia masih di jalan pulang" Adel pun mendial nomor suaminya, panggilan pertama tidak berhasil dia pun melakukan pangilan kedua nya dan panggilan pun di angkat. "Assalamualaikum, Mas kamu dimana?" Tanya Adel cepat dengan suara panik nya karena dia merasa takut dengan keadaan sepi disekitar sini. "Waalaikumsalam, kenapa?" "Kamu dimana, Mas? Bisa tolongin aku gak?" "Kamu kenapa?" Tanya Bian sedikit panik di balik panggilan ini tapi pria itu masih menggunakan nada dingin nan tajam nya, dia tidak menunjukkan kalau diri nya panik. "Mobil aku mogok Mas, aku gak tau ini dimana, tadi aku lewat jalan tikus biar bisa cepat sampai rumah, tapi di sini sepi banget, Mas. Aku takut!" Ujar nya sedikit sendu pada Bian "Ya sudah share location, kamu!" "Iya, Mas!" Dan panggilan pun berakhir, Adel membuka aplikasi room chat nya bersama sang suami, dia pun mengirim kan lokasi terkini nya kepada Bian. Sudah terkirin dan sudah berubah status menjadi Read. "Mas, cepetan sampe aku takut!" Lirih nya. Adel menunggu Bian di dalam mobil, dia tidak berani untuk keluar dari mobil, keadaan disini yang tidak memungkinkan bagi wanita itu untuk keluar. Sudah hampir tiga puluh menit lama nya, tapi belum juga ada tanda-tanda kedatangan Bian, Adel sudah pengap sekali di dalam mobil, ingin keluar pun dia takut karena semakin malam. Adel mencoba menghubungi Bian, panggilan tersambung, tetapi kenapa tidak pria itu angkat, "Nggak mungkin, Mas Bian lupa, tadi dia udah liat lokasi gue" Gumam nya. Adel melirik jam di pergelangan tangan nya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 19.35 "Sudah jam setengah delapan, kenapa gak punya nomor orang bengkel sih!" Kesal Adel. Adel memutuskan keluar dari dalam mobilnya, "Bismillah!" Yakin kan nya tidak akan terjadi apapun kepada dirinya. Wanita berhijab itu pun keluar dari mobilnya, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling jalanan ini, berharap ada seseorang yang membantu nya. Angin berhembus begitu kencang nya, membuat Adel merasakan dingin yang menusuk ke dalam tulang nya. "Mas Bian, kemana sih!" Gumam nya kembali, wanita itu pun melirik jam nya kembali 19.59 "Gue jalan aja deh ke depan, biar mobil gue simpen sini" Kata nya lalu mengambil tas nya di dalam mobil, dia pun berjalan menyusuri jalanan sepi ini dengan bibir yang tidak diam, dia merapal kan doa-doa serta beristigfar, untuk menghilangkan rasa takut nya. Tes Adel mendongak kan kepala nya, lalu menengadahkan lengan nya ke atas. Tes Tes .. "Seperti nya akan turun hujan" ucap nya lalu kembali melanjutkan langkah nya dengan terburu-buru hingga.. Byuur.. Hingga hujan turun dengan begitu deras nya membasahi bumi dan isi nya, Adel sedikit berlari untuk mencari tempat berteduh, tetapi sayang tidak ada sama sekali tempat untuk dirinya berteduh. Dia pun pasrah dan kembali berjalan normal dibawah guyuran air hujan yang sangat deras, dia kembali melirik jam nya pukul 20.25. Berjalan dibawah guyuran air hujan yang begitu deras, seluruh badan nya pun sudah basah kuyup, membuat Adel sedikit menggigil karena merasakan dingin yang menerpa tubuh nya. Adel terus berjalan menapaki jalanan menuju apartemennya, hujan yang tadi nya turun dengan deras kini sedikit mengecil, hampir satu jam Adel berjalan hingga akhir nya dia sampai di depan gedung apartemen milik suami nya, wanita itu berjalan masuk ke dalam gedung dengan kondisi baju yang sudah sedikit mengering karena diterpa angin, jadi tidak terlalu basah kuyup. Sesampainya didepan pintu dengan segera Adel memencetkan pin agar pintu terbuka. Bip Adel membuka pintu apartemen dan melangkah kan kakinya masuk ke dalam, begitu sampai di dalam dirinya sedikit terkejut dengan pemandangan di sini, seketika matanya memanas, hatinya benar-benar sakit. "Mas" lirihnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca Abian yang merasa tidur nya terganggu pun membuka matanya dan mendapati istri nya sudah sampai di apartemen. Bian pun terperanjat lalu melihat Adel dengan tatapan yang sulit sekali untuk di artikan. Adel menatap Bian dengan sorot penuh dengan kecewa, dengan segera Adel membalikan badan nya dan kembali keluar dari gedung Apartemen. "ADEL!! Tunggu! saya bisa jelaskan!" Teriak nya sehingga membangunkan seseorang yang juga sedang tertidur dengan lelap nya di atas paha Bian. "Kenapa, Ay?" Tanya nya dengan suara serak nya. Dengam segera Bian memindahkan kepala Giselle pada bantalan sofa, pria itu pun beranjak dari duduk nya dan akan menyusul sang istri yang sudah keluar. "Kamu tunggu sebentar!" Panik nya dia pun berdiri dari duduk nya dan akan segera menyusul Adel sebelum tangan nya di cekal oleh wanita yang sudah terduduk di sofa. "Mau kemana kamu, Ay? Aku butuh kamu saat ini, badan aku lemas Ay!" Rengek nya dengan sedikit menahan Bian "Aku harus kejar Adel dulu, kamu istirahat saja dulu" tutur nya Giselle mengkerutkan kening nya "Untuk apa kamu kejar dia, Ay, biarkan saja dia pergi, bukan kah itu bagus untuk hubungan kita agar kita bisa segera bersama dan kamu bisa terbebas dari pernikahan ini!" Ujar nya kepada Bian dengan penuh kepercayaan, Bian melepaskan cekalan lengan nya dari tangan Giselle, "Kamu tunggu disini!" Setelah berkata seperti itu Bian pun sedikit berlari meninggalkan apartemen nya dan dia akan menyusul Adel istri nya. "s**t!! Apa-apan sih Bian, bukan nya bagus kalau si wanita penganggu itu pergi dan menjauh dari hidup nya, bukan nya ini yang Bian inginkan!!" Geram nya. Bian berlari menyusuri lorong apartemen untuk mencari Adel, dimana wanita itu berada, Bian pun memasuki lift dan mencari Adel di lobby, mungkin kah wanita itu berada di lobby, lift berdenting menandakan dirinya sudah sampai di lantai yang dia tuju. Dengan segera Bian berlari keluar mencari keberadaan istri nya, dirinya celingak celinguk mencari keberadaan istri nya "s**t!!" Umpat nya karena tidak menemukan keberadaan istri nya. Bian pun berjalan menuju pos security dan menanyakan pada security yang sedang berjaga apakah dirinya melihat Adel keluar. "Permisi, Pak" Ucap Bian dengan nafas yang sedikit memburu. "Iya, Pak, ada yang bisa saya bantu?" Jawab satu security, "Apa bapak, melihat istri saya tadi keluar dari apartemen?" Panik nya. "Oh, Ibu Adel ya, tadi saya lihat beliau jalan ke arah sana, Pak" Jawab security itu seraya menunjukkan arah jalan yang diambil oleh Adel. Bian pun mengikuti arah jalan yang ditunjuk oleh security itu. "Terimakasih, Pak!" Dengan segera Bian kembali menuju tempat mobil nya terparkir beruntung sekali kunci mobil nya dia simpan di saku celana bahan hitam nya, pria dengan menggunakan kemeja putih dengan kancing atas nya sudah terbuka dan lengan yang dia lilit sampai siku itu pun berlari menuju mobil nya terparkir. Sesampai nya di depan mobil dengan segera Bian memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat keluar dari gedung apartemen. Bian malajukan mobil nya dengan kecepatan sedang sembari matanya menelisik kana kiri nya, siapa tau Adel berada disana, sesekali dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, rasa khawatir semakin manghantui pria yang sedang menyetir itu pukul 20.30, sudah hampir malam. "Kamu dimana, Adel" lirih nya dengan pandangan yang menelisik jalanan sekitar berharap dia melihat keberadaan sang istri. Namun nihil Adel tidak ada di sekitaran jalan sini, kemana pergi nya wanita itu, dimana dia, tanpa Bian sadari dirinya telah begitu khawatir dengan keadaan sang istri, Bian sempat melihat kondisi Adel dengan keadaan wanita itu yang seperti nya habis terguyur air hujan tadi, membuat Bian menyesali perbuatan dan keputusan nya tadi. Flashback on " Ya sudah share location, kamu" Ucap Bian sebelum panggilan terputus. Tak lama ponselnya pun berbunyi, menandakan ada pesan masuk dengan segera Bian membuka pesan tersebut dan melihat lokasi terkini istri nya. Abian mengetahui dimana tempat ini, dengan cepat Bian melajukan mobilnya menuju lokasi yang tertera di pesan yang Adel kirimkan tadi. Di tengah jalan dirinya melihat seorang wanita yang sangat familiar sekali baginya, Bian menghentikan laju mobilnya dan menghampiri wanita yang tengah berbicara dengan seorang pria disana. "Giselle, kamu kenapa?" Tanya nya bingung. "Ay!" Panggil nya lalu memeluk Bian. "Hei, kamu kenapa?" Tanya nya lembut. "Maaf, Pak, tadi saya tidak sengaja menyenggol Istri nya, saya minta maaf sekali lagi Pak" ucap pria di hadapan nya dengan raut wajah bersalah nya, ditaksir pria ini mungkin seumuran Bian "Lain kali kalau bawa mobil tuh hati-hati, Pak!" Ujar Bian "Ada yang sakit?" Tanya Bian lembut, Giselle menggelengkan kepala nya pelan "Aku antar kamu pulang ya" Ucap nya penuh dengan kelembutan "Sekali lagi saya minta maaf, Pak, Bu" sesal Pria tersebut "Ya sudah tidak apa-apa, lain kali hati-hati Pak" "Ayo, sayang" Ucap Bian lalu membopong Adel menuju mobil nya. "Ay, ke apartemen kamu aja, aku gak mau pulang, aku takut" pinta lemas Giselle "Hah?" "Kalau aku sudah merasa enakan, aku pulang ke rumah, tapi please aku mau ke apartemen kamu, aku mau kamu temenin aku dulu" Pinta nya sendu Bian pun tidak bisa menolak nya "Iya, sayang, kita ke apartemen aku" jawab nya dengan mengelus punggung tangan Giselle, wanita itu pun tersenyum lemah. Bian memarkirkan mobilnya di tempat biasa dirinya memarkirkan mobil, lalu membawa Giselle keluar dari mobil dan mengandeng nya masuk ke dalam apartemen. Sesampainya di dalam Bian mendudukan Giselle di sofa ruang tamu nya, dengan sigap Bian membawakan air hangat untuk Giselle. "Diminum dulu ya" ucap nya dan dituruti oleh Giselle. "Sekarang kamu istirhata, ya" Ucap Bian "Temenin aku" pinta nya "Ya sudah, sini." Ucap Bian seraya menepuk pahanya dan Giselle pun menidurkan tubuh nya di pangkuan Bian dengan paha Bian menjadi bantalan nya. Flashback of "Aaarrrgh. Kamu dimana sih, Del!" Geram nya menyesali apa yang sudah dia lakukan hari ini. "Jangan buat aku panik gini dong!" Lirihnya kembali, Bian melirik jam nya pukul 21.00 "Sudah malam, Del. Kamu dimana sih!!" Gumam nya kembali dengan nada frustasi. Tidak mungkin Adel pergi ke rumah orang tua nya Bian, itu bukanlah tipe Adel yang akan lari ke rumah mertua nya saat dia sedang ada masalah dengan suami nya atau siapa pun itu, Adel akan memilih menyimpan nya atau membereskan nya sendiri. Bian menyesali semua perbuatan nya kali ini, dirinya panik dimana keberadaan istri nya sekarang ini, sudah larut begini, kemana wanita nya itu pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN