Keputusan

1140 Kata
Pengumuman!!!!!!! Jangan lupa mampir du Youtube ErenKa Studio yah guys karena cerita versi visual akan segera tayang. Klik tombol subscribe dan lonceng juga yah. Bagi yang belum Tap Love buruan pencet ♥ dan komentnya.. ======================== Setelah penandatangan kesepakatan antara Abel dan Daffa keduanya kini kembali pada habitat masing-masing. Abel dan BG kembali ke kelasnya, sedangkan Daffa tengah mengadakan rapat darurat dengan Anggota inti OSIS. BG bahkan tidak bertanya ada keperluan apa Abel dan Daffa, dia hanya yakin ini semua berhubungan dengan pengumuman yang menentukan dia masuk dalam jajaran anggota OSIS baru. "Kenapa enggak mau masuk OSIS..??" tanya BG. Abel menoleh, dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kalau aku jadi OSIS nanti aku sibuk, kamu juga sibuk gak akan bisa ada waktu ketemu."celetuk Abel. BG tersenyum sambil mengusap kepala Abel. "Sampek kesana yahh kepikirnya, aku gak batasin aktivitas kamu lho yahh." jawab BG, Abel menggeleng pelan. "Justru itu dengan aku tanpa aktivitas aku bisa temenin kamu latihan kan, lagian aku bisa terus nulis sambil luangin waktu buat kamu."balas Abel "Iyaa thanks yah, udah sempet mikir ke situ."sahut BG lalu meraih tangan Abel dan menggandengnya menuju kelas. Setibanya dikelas, BG melihat kelasnya nyaris kosong hanya ada sekitar separuh orang. Dahinya mengernyit bertanya dalam hati, pada kemana semua ini warganya. Bukankah ini masih ada jam pelajaran, meskipun jamkos. "Kelakuaannn, ini truk."ceplos Kevin "Apaan truk."tanya Wira "Yahh kan gandengan mulu." "Buahhhhahhh, kambing lu Vin masak disamaain kayak Truk sih." sahut Riki "Sini minta bogem lu Vin." "Canda elaaa boskuhh." "Dari mana lu, semuanya pada ngayap ngeliat loe keluar tadi."celetuk Riki "Nganter Abel ke OSIS ketemu Daffa."jawab BG "Masih tentang yang tadi."tanya Wira BG menganggukan kepalanya tak bersuara. Para sahabatnya sudah paham jika Abel memilih meminta antar Bagas karena dia bertemu dengan lawan jenis, tentunya tak ingin ada bahan gosip lagi. Sedangkan Abel begitu kembali ke tempat duduknya dia sudah tak menemukan Cindy karena dia sedang ada panggilan anggota OSIS terpilih. Karena terdapat Metta disekitarnya dia bermaksud memberi kode kepada Dekka untuk tidak membahas kepergiannya. "Sudah..?" tanya Dekka, Abel mengangguk. "Trus gimana katanya." "Masih dibicarakan dengan pihaknya." "Ya udah tunggu aja." Metta menyaksikan obrolan kedua sahabatnya itu, sebenarnya mungkin yang ia ketahui adalah tentang pengunduran diri Abel dari daftar anggota OSIS terpilih atas hak kuasa dewan guru. Kemungkinan besar dewan guru mengincar Abel menjadi Ketua OSIS periode depan. "Trus kata kak Daffanya gimana.??" Abel menggeleng berniat mengkode Dekka supaya stop bertanya. "Ambil Bell jarang-jarang guru berikan hak kuasa buat masuk anggota OSIS."sahut Metta. Abel menoleh, perkiraannya benar ternyata Metta mengira dia bertemu Daffa karena hal ia mendapat privilege. Dia menggeleng lalu tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya, ada makna dalam senyumannya. Semoga usahanya untuk memperjuangkan Metta tidak sia-sia. "Aku akan terlalu sibuk kalau masuk OSIS sedangkan BG juga akan sibuk Basket, jadi kita gak akan ada waktu bertemu."jawab Abel "Elo mikir kesana Bell."balas Metta, sedangkan Dekka dalam hatinya sudah nyalang. Bagaimana tidak Abel bahkan sekarang tengah merebut hak kuasanya untuk diberikan kepada Metta, namun nyatanya Metta masih berfikir negatif. "Gue pikir elo emang benar-benar sibuk les menulis."lanjut Metta. "Loe govlok Mett, atau emang begok banget sih. Abel emang lagi nulis tapi kalau dia sibuk OSIS gak hanya nulisnya keteteran bahkan urusannya juga sama kebersamaannya dengan BG. Nah elo aja masih proses penyisihan kemarin ada waktu nggak sama kita-kita. jangan samain elo sama Abel. Dia justru udah mikir kedepannya kek gimana, cobak elo gatau dehh hari esok seperti apa iya kan..!!!"jawab Dekka sedikit ketus. Metta berfikir keras, kadang ia terlalu mudah berspekulasi tanpa memikir kedepan. "Gue jadi sebel sama elo Mett, bisa-bisanya elo mikir Abel cari kesempatan dalam kesempitan. Itu bukan Abel sama sekali. Dia berjuang untuk mempertahankan hubungannya biar tetep adem ayem. dan elo juga tau si BG maju audisi kapten Basket kalau elo ingat sih. Abel gak maruk, jadi dia tetep disisi BG saat dia sedang mengikuti pemilihan ketua Basket."Lanjut Dekka, Abel hanya menggeleng-nggelengkan kepalanya. "Kenapa jadi ribut sihh, udah yah Mett intinya aku cuma gak mau terlalu sibuk, aku juga gak mau ninggalin pelajaran dengan adanya kegiatan sekolah."sahut Abel, Metta menatap kedua sahabatnya itu. "Kalau elo mah enak gak ikut pelajaran seneng-seneng ajah lah Abel gak mungkin banget." sahut Dekka, Abel menggengam erat tangannya menyalurkan aura positif untuk meredakan amarah Dekka. "Ya bukan gitu Dekk, gue aja pengen masuk OSIS kudu penjaringan sama test2, Abel kan enggak udah lolos gitu ajah."bela Metta. "Yahh makanya otak loe dipinterin dikit biar dapet hak istimewa juga dari guru, sekarang apa yang mau guru-guru kasih Privilege ke elo kalau elo otaknya setengah."ceplos Dekka. "Iyee emang otak gue kecil, susah banget mikir pelajaran."celetuk Metta. Dibelakang para cowok-cowok mendengarkan ocehan para ciwi-ciwi itu, Bagas mengulum senyum, Kevin dan Wira tak peduli karena asik nge game, Riki diam tak bergeming masih setia memandang ke arah ketiga gadis itu. "Aku jelaskan, aku menolaknya dengan cara halus Mett. Dari awal aku emang gak daftarin diri kan jadi kalau dewan guru kasih privilege ke aku, itu salah besar. Kenapa..,?? ya karena kalau aku gak minat terus dipaksain apa aku akan tetap bekerja dengan baik di OSIS nanti enggak kan..?? Contohnya gini dewan guru menyuruhku berenang sedangkan aku gak bisa renang, apa mungkin aku tetap terjun dan menyerahkan nyawaku pada malaikat izroil. Kan enggak jadi tolong itu bukan rejeki yang harus disyukuri dan dinikmati namun itu adalah hal yang harus dikoreksi. Aku punya kelemahan Mett, aku gak bisa terlalu forsir tenaga dan pikiran aku. Sekalinya aku drop bisa berhari-hari aku hidup diatas kasur." jelas Abel sedikit meninggi emosinya. Dekka tak kuasa melihat Abel yang sedikit berkaca-kaca matanya, namun dia tak ingin berkomentar takut kelepasan bicara. Padahal tak perlu Metta sensi dengan Abel, dia sosok sahabat Abel harusnya tetap mendukung walaupun Metta tidak sedang beruntung. "Tumbenan loe gak komen Vin tentang obrolan ciwi-ciwi."celetuk Riki. "Ogahh, Metta mah bebal orangnya males, nih sibuk gue."jawab Kevin tanpa memandang lepas dari gawainya. "Alahh kebiasaan elo main samber kalau mereka lagi bincang-bincang."sahut BG. "Yaa beda urusan bos, mereka lagi debat gak bincang-bincang lagi, nohh uratnya Dekka aja udah kelihatan dari Monas, buakakakkkk."seloroh Kevin bahkan ketawanya terdengar ke telinga Dekka. Dekka menoleh lalu melemparkan bolpennya tepat mengenai jidat Kevin. Kevin mengaduh nyeri di jidatnya, ketiga sahabatnya justru menertawainya. "Sakit Dekk, elahh." "Biarin, suruh sapa bilang gue pake urat, gue ngoceh pake mulut nihh." jawab Dekka. "Yailahhh, loe kalau daritadi enggak dicegah Abel pasti udah baku hantam sama Metta yang sensional." "Apaan loe Vin, ngebacot lagi gue hajar yahh." "Ampun dehh ni cewek-cewek kenapa lagi pada ganas-ganas sih, jadi takut gue." ceplos Kevin. "Awas kucing oren galak, kayak emak-emak PMS."celetuk Wira. "kucing oren gak galak, cuma sensian aja hahahha." sahut Kevin. Abel menghela nafas, semakin panjang urusan kalau udah diplesetin sama sahabat BG. Dia diam meletakan kepalanya diatas meja, bersandar kedua tangannya. Terkadang terlalu menyikapi ocehan para sahabatnya dan genk BG tak akan ada habisnya. Entah apa yang akan terjadi hari ini, esok dan lusa. Cukup diam dan menanti saja beritanya. * * Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN