Please Tap love nya readers, and jangan lupa mampir di ErenKa Studio klik tombol subscribe bagi yang belum subscribe.
=====
Hari pertama sekolah setelah liburan semester ganjil, disambut senyum oleh Abel.
Berangkatnya dia diantar oleh ayahnya seperti biasa.
Saat melewati pintu gerbang sekolah baru 2 langkah ada yang menghadangnya.
"Heii ratu caper sini loe." teriak seorang cewek pada Abel.
"Yaa ampun masih pagi juga ini mahh, buang-buang keringat aja." batin Abel
"Iyaa kak ada apa, kenapa urusan kita belum kelar sihh." ucap Abel pada seniornya itu.
Dah yahh pada kenyataannya yang tengah dihadapi Abel sekarang adalah Karina dan sekutunya.
"Yaah itu kata loe, kalau kata gue mahh enggak."balas Karina
"Gara2 elo Rendi sekarang jadi suka perhatiin i********: elo." Lanjutnya.
"Lhaa terus apa masalahnya sihh kak, setau aku kak Rendi enggak follow ig aku. trus apa hak aku ngelarang orang stalking dan mana aku tau siapa aja yang stalking2 ig aku, Jadi minggir aku mau masuk kelas."Jelas Abel sedikit berteriak.
"Iyaa sih Rin kan bukan salah Abel juga, hak Rendi mau buka medsos siapa." ucap salah satu teman Karina.
"Elo tuh temen sapa sik, harusnya loe diem aja." sahut Karina pada temannya.
Sementara itu dilain tempat BG yang tengah memarkirkan motornya dihampiri Riki yang hendak memberitahukan kejadian yang menimpa Abel sekarang.
Bahkan dipintu gerbang mereka tengah menjadi sorotan murid2 yang baru datang ke sekolah.
BG pun bergegas menuju ke gerbang sekolah bersama para sahabatnya.
"Buat elo ratu caper gue saranin buat elo jangan pernah follback Ig nya Rendi, sampek ketahuan lihat aja." Lanjut Karina berbicara ketus pada Abel.
"Asal dengan 1 syarat kak, hentikan perilaku buruk kakak padaku seperti ini, karena aku gak ada perasaan lain pada kak Rendi hanya sebatas senior dan junior saja.
Dan aku mohon dengan sangat hentikan ocehanmu tentangku kepada siswa lainnya aku bahkan sudah lakukan apa yang kakak mau."jawab Abel.
"Ada apa ini Arabella.." teriak sesorang paruh baya menghampiri kerumunan yang diperbuat olehnya saat ini.
Abel menoleh ke sumber suara, begitu terkejut mendengar suara yang begitu ia kenali. Abel meneguk ludah sambil berfikir apa yang harus ia katakan padanya.
"A-aayahh..gak ada kok ayah, ehm ini salah paham aja Abel gak sengaja nabrak kakak ini, ini sudah minta maaf kok." jelas Abel terbata.
Sedangkan Karina dan beberapa orang yang disana dilanda kepanikan saat tahu yang berada di depannya saat ini adalah orang tua Abel yang notabene seorang Tentara.
"Mampus loe Rin."
"Gue bilang juga apa."
"Gila anak tentara yang loe bully."
Banyak sekali bisik-bisik dari murid2 lainnya.
"Oww yasudah ini barang kamu ketinggalan di mobil."
"Iyaa ayah makasih yahh."ucap Abel sambil mencium tangan Ayahnya, dan ayahnya segera meninggalkannya.
"Sudah pada bubar kalian semua, kurang kerjaan nontonin orang tukang bikin onar." Potong BG lalu menggandeng Abel menuju kelasnya, Karina mendengkus kesal merasa dia tidak bisa membuat Abel dipermalukan.
"Dan loe kak, gue bilangin jangan ganggu Abel lagi, karena dia emang gak ada hubungan sama kak Rendi sedikitpun karena Abel adalah pacar gue." Ucap BG tegas pada Karina.
Sorot matanya yang tajam membuat orang yang melihatnya pun gemetaran.
"Masih untung loe dibelain Abel tadi, pas ada ortunya lho berani bacot nggak kira-kira."lanjut BG kemudian dia berlalu melewati kerumunan.
*
Tepat didepan pintu gerbang Rendi tengah menyaksikan teman sejak kecilnya yang membuat keributan itu, sekarang justru tengah diadili oleh adik kelasnya.
Rendi tampak gusar, bingung sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Karina sampai2 dia hilang akal.
"Karina loe tuh suka mempermalukan diri loe sendiri, lawan loe itu gak ada tandingannya."monolog Rendi
Tepat setelah kerumunan murid mulai membubarkan diri Bel masuk berbunyi.
Tanda Upacara bendera akan segera dimulai, dan para murid segera membuat barisan pada masing-masing kelas.
Abel dan Teman-teman sekelasnya sudah nampak membuat barisan, terdengar bisik-bisik dari para murid yang sempat menyaksikan kerusuhan yang dibuat Karina di gerbang tadi.
"Sebenarnya apa sih masalahnya Abel sama Kak Karina."
"Ihh Karina gatau diri, pas lagi ngebully ehh bapaknya Abel datang dong."
"Iyaa sama si Abel malah dibelain."
"Emang Abel beda kelas guys."
"Lhaa si Abel sama BG kok disangkutin sama Rendi."
"Kasian si Abel di bully pada kesalahan yang enggak dia buat."
Bisik-bisikan itu masih terus berlanjut, membuat Abel yang mendengarnya merasa jengah.
"Udah jangan didengerin." sahut Dekka
"Biarin aja Bell, toh kamu udah berbuat benar kok." lanjut Metta
"Bingung aku, ini salah itu salah, diem juga semakin salah."jawab Abel
"Kamu udah benar Bell hanya mereka aja yang anggep kamu salah, Abel gak pernah berbuat salah dimata kita." Balas Dekka.
"Guyss upacara dulu yahh." Potong Riki menengahi pada Abel dan temannya itu.
°°°••>>
Upacara bendera selesai dan kini semua murid sudah berada di dalam kelas. Mapel pertama di kelas Abel adalah Bhs Indonesia.
"Selamat pagi anak-anak, selamat belajar kembali setelah liburan. Oke hari ini ibu akan kasih kalian tugas, membuat Cerpen kegiatan selama liburan semester.
Dikumpulkan ke ketua kelas, minimal 1 lembar 2 sides folio. Bisa dimengerti.?" Papar Bu Maya guru B.Indonesia di dalam kelas.
"Mengerti bu." jawab semua murid
"Baik silahkan dikerjakan, saya tinggal jangan bikin gaduh yah."
"Siaaap bu." jawab mereka kompak
"Bagas ibu titip anak buahnya yah, jangan sampai mengganggu kelas lain." ucap bu Maya pada BG.
Dia hanya menganggukan kepalanya tanpa bersuara.
Seisi kelas Abel tertib hanya ada satu dua siswa yang bersenandung demi memecah keheningan.
Tiba-tiba salah satu Hp dari mereka berbunyi dengan nada sambung Kowe tak sayang-sayang yang membuat suasana kelas penuh dengan sahutan ikut bernyanyi.
Ternyata Hp yang berbunyi berasal dari Yandi.
"Nyorii gaess, lagian biar pada gak tegang nulis intermezzo dikitt." ucapnya saat nada sambungnya berhenti.
Dretttdrttt
Kini giliran Hp siapa lagi yang bergetar.
Abel menoleh merasa suaranya tak jauh, dan ternyata Metta yang kini terlihat memegang sakunya.
"Angkat Met sapa tau penting."Ucap Cindy yang duduk disebelahnya merasa Metta sedang mengacuhkan Hpnya.
Sedangkan Metta tetap tak menggubris Handphonenya, dia tetap sibuk menulis.
"Darisapa Met kenapa gak diangkat toh jamkos ini." lanjut Cindy.
Abel dan Dekka yang mendengar kedua sahabatnya itu saling berpandang.
Mungkin benar Metta sedang dalam masalah namun tak mau berbagi.
Cukup berfantasi memikirkan apa yang sedang terjadi pada Metta Abel menoleh ke belakang posisi duduk BG.
BG merespon Abel dan bertanya padanya.
"Kenapa.."ucap BG lirih
Abel mengerjap lucu, membuat sang BG tersenyum melihatnya.
Lalu Abel menuliskan pesan kertas dan memberikannya.
"Kayaknya iyaa Metta ada masalah, Hpnya bunyi terus tapi tak direspon" Tulis Abel.
"Biar aja kalau dia gamau cerita" balas BG.
Abel menoleh padanya mengangguk pelan.
Kini giliran dia menuliskan pesan pada Dekka.
"Aku kemarin udah cerita sama BG tentang Metta, yang menurutku dia cemburu melihat aku dan BG. dan aku bilang kalau mungkin Metta suka sama dia."
Dekka terkejut membaca pesan Abel.
"Loe gilak Bell, kenapa loe bilang gitu sama dia."
"Aku gak mau ada ketidak nyamanan pada situasi saat itu mau gak mau aku harus jujur sama dia." jawab Abel lirih.
Dekka menghela nafas sebentar.
"Iyaa tapi kita belum tau apa yang terjadi sebenarnya pada Metta, seharusnya kamu gak bebani perasaan BG." bisik Dekka
"Enggak kok justru dengan aku jujur dia bisa memposisikan dirinya saat ini, dia mau membantu aku jika memang kenyataannya Metta ada perasaan padanya."
"Baiklah setidaknya loe sudah komunikasikan sama BG, berharap emang Metta ada masalah pribadi bukan pada kecemburuan dengan loe."
Abel tersenyum merasa sahabatnya itu paham dengan keputusannya.
*
*
Jika kata hatimu berkata benar lakukan, Jangan pernah coba meragukan perasaanmu.
Bagaskara