Bab 4. Menyandera

1132 Kata
Asraf sudah selesai mandi, ia masih mengenakan jubah mandi dengan rambutnya yang basah, menambah ketampanan yang tiada bandingannya itu, ia menghampiri Prisha dan membuka ikatan ditangan Prisha. Asraf duduk di kursi kebesarannya dan menatap wajah gadis yang selalu tidur disampingnya itu. Prisha sudah kehilangan semuanya dalam hidup, satu-satunya yang ia miliki adalah uang 2 milliar yang sudah di tinggalkan ibu dan ayahnya untuknya, agar ia bisa melanjutkan hidup, namun karena kesalahan orangtuanya di masa lalu membuat Prisha akhirnya jatuh ke tangan Asraf, bos mafia yang terkenal begitu menakutkan dan penguasa kota ini. Prisha bergerak gelisah, lalu membuka pejaman matanya, Prisha menoleh dan melihat Asraf tengah duduk mengawasinya. Prisha mendesah napas halus lalu melihat ikatan di tangannya sudah terbuka. Prisha bangkit dari pembaringannya dan memposisikan dirinya duduk. Asraf menghampiri Prisha dan duduk di tepi ranjang, lalu mengecup puncak kepala gadis itu, Asraf membelai pipi Prisha. “Kamu mau kabur?” tanya Asraf. “Hanya itu pikiranmu tentangku?” “Ya. Karena setiap waktu hanya itu yang kamu lakukan, bahkan demi kabur dariku, kamu menembakku.” “Oh iya, mana luka tembakan itu?” tanya Prisha meraih tangan Asraf dan hendak melihat luka itu. “Tak usah melihatnya, itu hanya akan menyakitiku.” Prisha tertawa kecil dan menggelengkan kepala. Asraf membulatkan mata ketika melihat Prisha tertawa didepannya untuk pertama kalinya. “Kamu tertawa?” “Ah sudahlah, aku mau mandi,” kata Prisha hendak turun dari ranjang, namun Asraf malah membaringkannya kembali. “Apa maumu?” Ketika Asraf hendak mengecup bibirnya, Prisha langsung menutup bibirnya dengan kedua tangannya dan berkata, “Aku belum gosok gigi.” “Kalau begitu ayo mandi sama-sama,” kata Asraf menggendong Prisha ala bridal style. “Tapi, kamu sudah mandi,” kata Prisha. “Sepertinya belum bersih.” Asraf menyunggingkan senyum. Asraf dan Prisha berada di bath-up tanpa sehelai benangpun, hanya ada busa yang menutupi bagian bawah mereka. Asraf langsung mencumbu Prisha dan menjilat sekitar leher Prisha, membuat Prisha mendesah halus karena sentuhan itu, Prisha tak menyangka sentuhan Asraf yang lembut membuatnya seolah ingin terbang. Gesekan demi gesekan tubuh mereka membuat Prisha dan Asraf saling memadu kasih di dalam bath-up, sementara itu kedua tangan Prisha ia kalungkan pada leher Asraf, dan mencakar punggung Asraf. “Aku mencintaimu, Prisha,” bisik Asraf. “Kenapa kamu mencintaiku?” tanya Prisha. “Karena hanya kamu yang aku cintai.” “Ouh, ah,” desah Prisha ketika Asraf memainkan jarinya didalam sana, Asraf benar-benar tahu cara membuat Prisha bahagia. “Tidak mungkin pria setampan kamu, tidak ada yang suka. Kamu pasti memilih wanita lain.” “Hanya kamu,” jawab Asraf. “Tapi caramu mencintaiku salah.” “Prisha, kalau kamu tidak percaya hanya kamu, bela dadaku, aku siap memberikan jantungku padamu.” Asraf dengan suara serak membuat Prisha tak bisa berkata apa pun lagi. “Ouh ahh,” desah Prisha. “Kamu suka?” tanya Asraf. “Aku suka. Apa ada orang yang tidak menyukai hal ini?” “Kamu. Seperti dulu.” “Tidak lagi. Aku menyukainya sekarang,” jawab Prisha. Asraf menyunggingkan senyum, karena Prisha begitu menikmati sentuhannya, bahkan ketika mulut Asraf menikmati putting gundukan Prisha, Prisha juga terus menerus melenguh, membuat seisi kamar mandi ini penuh dengan desahan dan lenguhannya. Asraf menaikkan Prisha untuk duduk dipinggir bath-up, lalu Asraf membuka lebar kedua kaki Prisha, memperlihatkan milik Prisha yang indah dipandang. Asraf langsung bermain dengan milik Prisha. Prisha semakin tak karuan saja, ia merasa dunia sudah ia genggam, ia sudah menjadi wanita yang paling Asraf sayang, pria itu tampan dan mempesona, banyak wanita yang berusaha mendekatinya namun Asraf tak pernah memberikan jalan. Setelah selesai bercinta, Asraf langsung menggendong Prisha ke ranjang, membaringkan Prisha yang sepertinya sudah lelah meladeni nafsunya. Asraf tersenyum dan mengecup puncak kepala Prisha. “Asraf, kamu bekerja seharian, tapi kenapa kamu masih memiliki stamina?” tanya Prisha masih dengan mata tertutup. Asraf tertawa kecil dan menggelengkan kepala, ia mengelus pipi Prisha. *** Setelah melihat Prisha beristirahat, Asraf keluar dari kamarnya dan menuruni tangga, ia melihat Reno sedang berdiri menunggunya. “Ada kabar apa, Reno?” tanya Asraf, “Bos, Tuan Kajar menyuruh kita mengurus seseorang.” Reno memberikan dokumen kepada Asraf dan melihat orang yang harus mereka urus. “Kamu sudah cari tahu, siapa ini?” “Iya, Bos. Orang ini dari keluarga Rohim, namanya Waldi. Dia bekerja di Perusahaan Tuan Kajar dan memiliki banyak hutang Perusahaan. Beberapa hari yang lalu Waldi menjual tender dari perusahaaan Tuan Kajar. Lalu tender itu menang dan membuat kerugian Tuan Kajar meningkat.” “Lalu ada lagi?” “Ada 7 dokumen yang harus Anda baca, Bos. Salah satunya Nyonya Rana dari keluarga Fajril juga mengirimkan dokumen seseorang yang harus kita urus. Kali ini targetnya selingkuhan Tuan Yohan Fajril.” “Oke. Nanti aku baca, untuk beberapa hari kedepan, tolak klien dulu. Aku mau menghabiskan waktu dengan Prisha.” “Baik, Bos,” jawab Reno. “Oh iya. Bagaimana dua orang itu?” “Masih di ruang bawah tanah.” “Kalian tidak kasih makan, ‘kan?” “Tidak, Bos. Bahkan wanita itu meminta dikasihani dan menyuruh memberikan setetes air saja, tapi tidak diberikan.” “Oke. Sore ini sebelum Prisha bangun, lepaskan mereka.” “Baik, Bos.” “Oh iya. Paman Jafar dan Yana, mana?” “Kami di sini, Bos.” Jafar dan Yana datang membungkukkan badan mereka, mereka berdua adalah pengurus rumah, maid di rumah ini juga berada dibawah mereka, semua pekerjaan rumah juga atas perintah mereka. “Buatkan sesuatu untuk Prisha yang bisa menambah nutrisi, semalam Prisha kelelahan.” “Baik, Bos.” Jafar menyikut Yana yang merupakan istrinya. “Apa?” “Buatkan Nyonya Prisha sesuatu yang menambah nutrisi.” “Baik,” angguk Yana lalu melangkah pergi meninggalkan para pria. “Oh iya, Reno, kamu urus mereka, suruh mereka keluar dari sini.” Reno mengangguk lalu melangkah menuju ruang bawah tanah atas perintah bosnya. Reno sudah ikut Asraf sejak usianya masih remaja, Reno sudah menjadi bagian dari keluarga Asraf, jadi apa pun itu pasti akan melaluinya. “Paman Jafar, ada apa?” tanya Asraf. “Saya di sini menunggu perintahmu, Bos.” “Jika hanya ada kita berdua, panggil saja saya Asraf, tidak usah panggil dengan sebutan ‘Bos’, membuatku tidak enak saja. Panggil saja seperti biasa dan berbicara santai saja.” “Baiklah. Kamu mau sarapan apa? Biar saya siapkan.” “Apa sarapan belum ada?” “Sudah ada. Tapi siapatahu saja ada yang kamu inginkan.” “Tidak ada, Paman. Siapkan saja seperti biasanya.” “Nyonya Prisha?” “Prisha sepertinya menyukai apa pun, jadi apa pun yang disiapkan akan dia makan.” “Baik,” angguk Jafar. “Oh iya, Asraf, pekan ini adalah ulang tahun nenekmu. Apa mau saya buatkan sesuatu untuk nenekmu?” “Tidak usah, Paman. Sepertinya saya juga belum tentu berkunjung.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN