Prisha menguap begitu panjang, ia menuruni tangga dan melihat Asraf sudah menunggunya di meja makan, Prisha membulatkan mata dan memperbaiki penampilannya, ia mengira Asraf sudah berangkat kerja, ternyata masih di rumah.
Asraf berbalik dan melihat Prisha. “Sudah bangun?”
Prisha mengangguk pelan, ia malu sekali karena pagi ini mereka bercinta cukup lama.
Asraf bangkit dari duduknya dan menghampiri Prisha, lalu menggendong Prisha ala bridal style dan mendudukkannya di kursi. Prisha memukul pelan Asraf agar tidak terlalu memanjakannya, namun ini lah cara Asraf mencintainya.
Asraf tersenyum simpul, lalu duduk kembali di kursi kebesarannya.
Jafar dan Yana melayani mereka, tak lama kemudian Yana datang dan menghampiri Prisha.
“Nyonya, ini ada sup penambah nutrisi.” Yana menaruhnya diatas meja.
“Ini apa, Bibi Yana?”
“Ini sup.”
“Iya. Aku tahu ini sup. Tapi untuk apa?”
“Untuk menambah nutrisi, kata Bos Asraf Anda lelah semalam. Jadi, saya buat ini.”
Prisha menoleh dan menatap Asraf yang sejak tadi tengah menikmati makanannya. Prisha mendesah napas halus, ia malu sekali jika dikatakan lelah semalaman, ya lelah bercinta, bahkan pagi ini ia harus meladeni nafsu Asraf lagi.
“Minumlah,” kata Asraf.
Prisha mengangguk lalu menyesap sup buatan Yana. Prisha menghabiskannya, lalu memberikan mangkuknya pada Yana kembali. Prisha memicingkan mata menatap Asraf.
Mereka lalu sarapan bersama. Prisha menoleh lagi melihat Asraf, ternyata jika dilihat lebih lama, Asraf tampan juga, bahkan ketampanannya tak tertandingi oleh apa pun, bahkan Fardan pun tidak bisa menandingi.
Prisha tak pernah melihat Asraf se-lama itu.
“Hari ini aku harus pergi mengurus sesuatu, kamu bisa kan di rumah sendiri?” tanya Asraf.
“Bisa kok. Aku bukan anak kecil.”
“Reno akan bersamamu. Reno akan menjagamu.”
Prisha mengangguk, ia tahu mengapa Asraf menyuruh Reno bersamanya, agar jika terjadi sesuatu Reno bisa cepat mengabari Asraf.
Kali ini, Prisha tidak menolak, ia mengikuti apa pun yang Asraf katakan.
Mereka sudah selesai sarapan, Prisha masih mengenakan piyama tidur dan kini membaca majalah fashion didepannya. Prisha mendongak ketika melihat Asraf mendekatinya.
“Aku pergi dulu,” kata Asraf lalu mengecup puncak kepala Prisha yang kini sedang duduk.
“Hm. Tapi, kamu pulang jam berapa?” tanya Prisha mendongak menatapnya.
“Tumben kamu tanyakan jam berapa aku pulang.”
“Ya kan hanya bertanya.”
“Mungkin larut malam. Kamu tidur duluan saja.”
“Oke.”
Asraf lalu melangkah pergi meninggalkan Prisha, sementara itu Prisha bangkit dari duduknya dan memilih menuju dinding kaca, Prisha melihat Asraf naik ke mobilnya dan meninggalkan tempat.
Sepeninggalan Asraf, Prisha langsung berbalik. “Aku juga mau pergi.”
“Mau kemana, Nyonya?”
“Aku mau jalan-jalan.” Prisha lalu melangkah menaiki tangga dan menuju kamarnya untuk berganti pakaian.
***
“Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian seperti ini?” tanya Halim melihat Nani dan Fardan terlihat berantakan, bahkan pakaian mereka, pakaian yang terakhir mereka kenakan sebelum hilang.
Nani menangis sesenggukan didepan kedua orangtuanya. “Bu, ini semua karena mafia itu.”
Fardan menyikut Nani agar tidak mengatakan apa pun tentang mafia itu.
“Mafia? Siapa mafia itu?”
“Kenapa kamu melarangku memberitahu?” tanya Nania pada Fardan.
“Jika ayahmu tahu dan berurusan dengan bos mafia itu, bisa bahaya. Kamu mau keluargamu kena masalah?” Fardan berusaha memberi pengertian pada Nania.
“Aku harus memberitahu ayahku, dia memperlakukan kita tidak adil.”
“Ada apa kalian bisik-bisik? Katakan. Siapa yang melakukan ini pada kalian?”
“Dia mafia kenalan Prisha, Ayah. Dia yang membuat kami babak belur begini dan kami tidak diberi makan.”
“Apa? Selama tiga hari kalian tidak diberi makan?”
“Iya. Semua ini pasti yang diinginkan Prisha, Ayah. Pasti dia yang menyuruh mafia itu untuk melakukan ini padaku dan pada Fardan. Balaskan perbuatannya, Ayah.”
“Kalian kenal mafia itu? FARDAN! Kenapa kamu diam saja?” tanya Halim pada Fardan yang sebenarnya tidak mau menambah masalah.
“Dia … bos mafia, Om. Namanya pasti Om kenal, Asraf Zayed dari keluarga Pramulia.”
“Apa? Dari keluarga Pramulia?”
“Iya.” Fardan menganggukkan kepala. “Om tak usah melakukan apa pun, bos mafia itu terkenal kejam, apa pun bisa dia lakukan demi apa yang dia inginkan. Om bisa kena bahaya kalau berurusan dengan mereka. Om tahu sendiri kan, keluarga Pramulia adalah keluarga kaya di kota ini.”
“Tapi dia sudah membuat kamu seperti ini.”
“Om, keluarga Pramulia adalah penguasa kota ini.”
“Pokoknya Ayah harus membalaskan perbuatan Asraf itu. Lihat wajah dan tanganku, semuanya babak belur.”
“Tapi keluar hidup-hidup sudah lebih baik, Nani,” ujar Fardan.
“Saya akan menemui pria bernama Asraf itu.” Halim melanjutkan.
“Sayang, yang dikatakan Fardan memang benar, lebih baik jangan berurusan dengan keluarga Pramulia, bisa bahaya,” sambung Erlin—sang istri.
“Diam. Kamu tidak usah ikut campur!” bentak Halim.
***
Prisha tengah berdiri di depan pintu apartemen Fardan, ia terus mondar-mandir di depan pintu itu.
“Nyonya, lebih baik kita pergi dari sini, Bos bisa marah kalau tahu kita di sini.”
“Ya kamu jangan bilang, Reno.”
“Tapi—”
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, Prisha membulatkan mata melihat keadaan Fardan yang begitu berantakan, wajahnya babak beluar, tangannya di gips. Namun, Prisha tak perduli lagi.
“Prisha? Kamu di sini? Kamu menemuiku, ‘kan?” tanya Fardan hendak memeluk Prisha, namun Reno mencegahnya dengan cara memanjangkan tangannya dihadapan Prisha.
“Aku kemari mau mengambil barang-barangku.”
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau pindah dari sini.”
“Kamu mau pindah kemana? Bukankah kamu mengatakan hanya aku rumahmu?”
“Ya itu dulu, sebelum kamu mengkhinatiku.”
“Prisha, aku sebenarnya sayang sama kamu, cinta sama kamu, bahkan tidak ingin kehilangan kamu, hanya saja aku khilaf sesaat ketika mendengar kamu memiliki uang yang cukup besar. Kamu kan tahu aku punya banyak hutang diluar sana, aku butuh uang untuk membayar hutang-hutangku.”
“Sudahlah. Aku kemari bukan mau mendengarkan penjelasanmu. Aku mau mengambil barang-barangku.” Prisha sudah malas mendengar apa yang Fardan jelaskan, ia memberi kode kepada Reno agar masuk mengambil kopornya.
Fardan yang baru membuka pintu langsung mempersilahkan Prisha masuk, namun Prisha enggan masuk dan hanya menyuruh Reno.