Prisha jalan-jalan ke mall setelah mengambil kopornya dari apartemen Fardan, ia juga masih dijaga oleh Reno yang berjalan dibelakangnya. Prisha melihat sekeliling dan tatapan matanya tertuju pada sebuah toko yang menjual setelan jas pria, Prisha langsung masuk ke toko tersebut.
Prisha melihat beberapa setelan jas yang dipajang di manekin, Prisha tersenyum dan membayangkan jika Asraf mengenakannya.
Selama ini, Prisha tak pernah memberikan apa pun untuk Asraf, mungkin sebagai ucapan terima kasihnya, Prisha akan membeli setelan jas untuk Asraf.
“Ini bagus kan, Ren?” tanya Prisha pada Reno.
“Bagus, Nyonya.”
“Cocok untuk bosmu?”
Reno menoleh melihat Prisha.
“Kenapa kamu melihatku? Aku sedang bertanya.”
“Nyonya mau membeli setelan jas untuk Bos?”
“Ya. Untuk siapa lagi aku kemari.”
Reno tersenyum dan berkata, “Bos pasti sangat senang karena Nyonya membeli untuk beliau.”
Tak lama kemudian, ketika sedang melihat-lihat warna yang sedikit lebih gelap, Prisha bertemu seseorang yang seharusnya tidak ia temui, yaitu Bibi dan sepupunya, Nani.
Prisha menautkan alis melihat Nani yang juga babak belur bahkan tangannya di gips.
Nani yang melihat Prisha langsung mendekati Prisha.
“Akhirnya aku bisa bertemu kamu di sini,” kata Nani.
“Hei, apa yang kau lakukan?” tanya Reno.
Nani membulatkan mata ketika melihat Reno berdiri melindungi Prisha, Nani langsung ketakutan karena orang yang membuatnya seperti salah satunya adalah Reno dan beberapa anak buahnya.
“Kamu sudah membuat Nani seperti ini, dimana hatimu?” tanya Erlin—sang bibi.
“Aku? Membuat Nani seperti ini? Jangan fitnah.”
“Apa kamu dendam pada keluarga kami? Karena kami mengusirmu? Kamu seharusnya sadar dan tahu diri, mengapa kami mengusirmu.”
“Tapi rumah yang kalian tempati adalah rumahku.”
“Rumahmu? Rumah itu ditinggalkan ibumu untuk kami.”
“Tapi dengan syarat kalian harus mengasuhku.”
“Apa yang harus di asuh dari kamu? Kamu sudah dewasa. Kamu tidak pernah akur dengan Nani, kamu selalu berusaha menyaingi Nani, karena itu kami mengusirmu.” Erlin melanjutkan.
“Hanya demi Nani? Kalian mengusirku dari rumahku sendiri.”
“Setelah kamu kami usir, kami mengira kamu sudah mau diam dan tidak mengganggu hidup kami lagi, ternyata kamu membuat Nani seperti ini. Apa maksudmu? Apa kamu memang mau membunuhnya?” tanya Erlin membuat pengunjung di sana saling berbisik, Erlin dan Nani memiliki ide, mereka akan menjadi korban di sini.
Tiba-tiba saja Nani menangis, membuat semua pengunjung semakin intens bercerita tentang mereka.
“Kami adalah keluargamu satu-satunya, tapi kamu malah melakukan ini padaku, kamu tega sama sepupumu sendiri, kamu sudah membuat wajahku seperti ini, lalu kamu mematahkan tanganku.” Nani merintih menangis didepan banyak orang.
Prisha membulatkan mata dan melihat disekitar, semua orang menatapnya penuh benci.
“Nani, kamu jangan fitnah aku ya, aku bisa melaporkan kamu.”
“Laporkan saja, semua ini karena kamu.”
“Apa sih maksudnya? Aku saja baru bertemu kamu, hari ini.”
“Kamu kan yang menyewa bos mafia untuk menyandera kami? Kamu jahat sekali.”
“Apa? Bos mafia? Sejak kapan aku menyewa bos mafia?”
“Orang yang bersamamu dan tinggal bersamamu, dia adalah bos mafia. Kamu tidak tahu? Karena kamu, dia membuat aku dan Fardan seperti ini, dia mematahkan tangan kami. Tanyakan padanya!” tunjuk Nani pada Reno yang saat ini masih berusaha melindunginya.
Prisha menoleh melihat Reno. “Apa benar yang dia katakan?”
“Nyonya, ayo kita pergi dari sini.”
“Kamu jujur. Apa yang dikatakannya itu benar?”
“Tanyakan pada Bos.”
“Bayar aku sekarang, aku tidak terima kamu perlakukan seperti ini.”
“Kamu sendiri sudah menginjakku, bahkan membuat wajahku lebam begini, aku anggap apa yang Asraf lakukan, itu sama persis dengan yang kamu lakukan padaku.”
“Aku mau kamu bayar biaya pengobatanku, aku harus operasi plastic untuk mengembalikan wajahku yang dulu. Kamu harus bertanggung jawab. Atau, kami jual rumahmu, dan kami akan gunakan uangnya untuk operasiku.”
“Kita mau tinggal dimana, Nani?” bisik Erlin.
“Diam aja, Bu, nanti aku yang akan mengurusnya.”
“Siapa yang melakukan ini padamu? Kamu bisa minta uangnya langsung sama dia. Aku tidak pernah menyentuhmu, dan aku akan tetap pada pendirianku. Jika aku bilang tidak, artinya tidak.” Prisha menjawab lalu melangkah pergi meninggalkan butik.
Semuanya berseru meneriakinya, membuatnya cukup malu. Sampai ia lupa setelan jas yang sudah ia bayar saking malunya.
Prisha langsung naik ke mobil ketika Reno membuka pintu mobil. Prisha mendesah napas halus.
Reno duduk di kursi depan dekat supir, Reno menunduk sesaat.
“Reno, apa benar yang dikatakan Nani?”
“Apanya, Nyonya?”
“Apa benar Asraf menyanderanya dan mematahkan tangannya?”
“Apa Nyonya lupa ketika di apartemen Fardan? Bos melihat Nyonya terluka, jadi beliau menyuruh kami untuk tangan dan kaki yang menyentuh Nyonya kami patahkan?”
“Jadi, benar tangan mereka patah?”
“Bos sudah mengampuni mereka, mereka harusnya bersyukur, untungnya hanya tangan yang bos patahkan, bagaimana jika dengan kaki?”
“Tapi, apakah benar Asraf adalah bos mafia?”
“Kalau itu tanyakan saja pada Bos langsung.”
“Kamu tidak mau menjawabnya?”
“Itu bukan ranah saya, Nyonya. Silahkan tanyakan pada Bos sendiri.”
Prisha tak percaya jika Asraf adalah bos mafia. Namun, melihat perawakannya memang seperti seorang yang berkuasa dan tidak takut apa pun, bahkan banyak juga tamu yang tidak dikenal datang ke rumah, namun Prisha tak pernah tanyakan siapa mereka.
***
Malam menunjukkan pukul 2, Asraf baru pulang, ia langsung masuk kamar dan melihat Prisha sudah tertidur, Asraf tersenyum lalu duduk di tepi ranjang dan mengecup puncak kepala Prisha.
Asraf lalu masuk ke kamar ganti yang terhubung dengan kamar mandi, lalu mengganti pakaiannya setelah membersihkan badannya, ia mengenakan jubah tidur dan langsung berbaring di sebelah Prisha.
Asraf memejamkan mata, ia tidak akan mengganggu Prisha malam ini, karena ia tahu bawa Prisha bisa lelah karena meladeni hasratnya.
“Asraf,” lirih Prisha.
Asraf menoleh dan menatap Prisha. “Kamu belum tidur? Atau, aku membangunkanmu?”
Prisha menggeleng dan berkata, “Kamu kapan tiba?”
“Baru saja. Aku pasti membangunkanmu, ‘kan?”
“Tidak.”
“Ya sudah. Tidur lah, hari ini aku tidak akan menerkammu.”
“Asraf,” ucap Prisha.
“Hm?”
“Kamu siapa sebenarnya?” tanya Prisha.
Asraf menautkan alisnya lalu mengangkat kepalanya dengan menumpuhnya dengan satu tangannya. Asraf memandangi Prisha yang saat ini menatapnya.
“Aku … Asraf Zayed Pramulia.”
“Ya. Aku tahu, kamu adalah Asraf Zayed dari keluarga Pramulia. Tapi, apa pekerjaanmu?”
“Pekerjaanku? Aku adalah ahli waris keluarga Pramulia.” Asraf menyentuh d**a Prisha yang terbuka, lalu mengelusnya dan memainkannya dengan jari-jarinya.
“Selain itu?”
“Kenapa kamu bertanya? Tumben sekali, kamu menanyakan pekerjaanku.”
“Apakah benar kamu adalah bos mafia?”
Asraf membulatkan mata dan memandangi Prisha. Asraf tak pernah cerita kepada Prisha apa pekerjaannya, karena tak mau membuat Prisha takut kepadanya.
“Jadi, apa sebenarnya yang membuat orangtuaku berhutang padamu?” tanya Prisha dan menoleh menatap Asraf.