Prisha tiba di makam kedua orang tuanya setelah menerima sebuah telepon yang mengatakan bahwa makam tersebut telah dibongkar oleh seseorang. Dengan hati gelisah, ia bergegas datang ke tempat itu. Namun setibanya di sana, tak ada tanda-tanda pembongkaran seperti yang diberitakan. Semuanya utuh seperti sediakala. Prisha menautkan alisnya, lalu menggeleng tak percaya. Telepon itu ternyata hanyalah kebohongan. Suasana makam yang sepi dan sunyi justru membuat bulu kuduknya meremang, menghadirkan rasa mencekam. Tanpa peringatan, seseorang muncul dari belakang Prisha. Dalam hitungan detik, kepalanya ditutupi kain hitam yang sudah disemprot obat bius. Nafasnya tercekat, pandangannya gelap gulita. Ia berontak, namun tenaganya kalah. Tubuhnya diseret menjauh, meninggalkan makam sunyi yang kembali

