Musik mengalun pelan, mengisi ruangan luas itu dengan irama yang terdengar tenang, namun justru terasa menyesakkan. Orang-orang telah berkumpul, mengenakan setelan rapi dengan dasi tergantung sempurna di leher mereka. Wajah-wajah itu tertutup topeng mata, menyembunyikan identitas sekaligus niat yang tak terbaca. Gelas-gelas berisi minuman keras beradu pelan, tawa terdengar ringan, seolah ini hanyalah pesta biasa. Mereka menikmati malam itu tanpa beban, tanpa peduli pada apa yang tersembunyi di balik kemewahan semu tersebut. Prisha menautkan alisnya, dadanya terasa sesak saat matanya menyapu pemandangan di hadapannya. Ada sesuatu yang sangat salah dengan situasi ini. Ia dan yang lainnya berdiri tak jauh dari keramaian pesta, mereka terpisah, terasing, dan terasa seperti pajangan yang sen

