Reno mengangguk pelan setelah mendengar bisikan Asraf, Reno tersenyum tipis, tapi bukan senyum gembira, melainkan senyum seseorang yang merasa rencana sudah tersusun rapi. “Baik, Bos. Kalau begitu kita mainkan sesuai aturan mereka sendiri,” ucap Reno sambil merapikan jaketnya. “Tanpa sentuhan, tanpa ancaman. Tapi tetap membuat mereka kehilangan segalanya.” Asraf bersandar di kursinya, sorot matanya dingin. “Pastikan semua terlihat wajar. Aku tidak mau nama Prisha terseret lagi. Cukup mereka yang merasakan akibatnya.” Reno mengambil ponselnya dan mulai mengirim beberapa pesan. “Nani punya usaha kecil atas nama pribadi, tapi modalnya campuran. Sedangkan Fardan… dia terlalu percaya diri, banyak investasi atas nama orang lain. Kita bisa masuk dari sana.” Asraf tersenyum samar. “Satu per sa

