Pintu kamar terbuka perlahan, nyaris tanpa suara. Asraf melangkah masuk dengan hati-hati, bahkan menarik napas pun ia lakukan pelan, seolah takut mengusik tidur Prisha. Jasnya sudah ia lepaskan, langkahnya ringan, jelas ia tidak berniat membangunkannya. Sejak tadi ia memang tak benar-benar tidur. Tubuhnya terbaring, tapi pikirannya terus terjaga menunggu. Menunggu langkah kaki yang tak kunjung terdengar. Menunggu kabar bahwa Asraf baik-baik saja. Kecemasan itu menempel seperti bayangan, mengingatkannya bahwa pria yang ia cintai masih memiliki terlalu banyak musuh di luar sana. “Asraf,” lirih Prisha bangun dari pembaringannya dan duduk bersandar dikepala ranjang. Asraf terhenti seketika. Ia menoleh, terkejut. “Aku membangunkanmu?” Prisha menggeleng pelan, lalu duduk sambil menarik selim

