Bab 31. Melukis

1211 Kata

Prisha tiba di depan sebuah bangunan tua yang telah diubah menjadi studio seni. Aroma cat minyak langsung menyambutnya begitu ia melangkah masuk. Ruangan itu luas, dindingnya dipenuhi lukisan setengah jadi, kanvas kosong, dan coretan warna yang tampak hidup. Prisha takut tidak memberitahu Asraf tentang ini, namun ia juga belum siap jika Asraf tahu bahwa ia memulai Impian dan cita-citanya, takut jika Asraf tidak mengizinkan, ini kesempatan yang langkah. Prisha juga melihat Fardan berubah dan berusaha untuk menebus rasa bersalahnya. “Prisha.” Suara Fardan membuatnya menoleh. Pria itu berjalan menghampiri dengan senyum tipis, lebih tenang dibanding pertemuan mereka sebelumnya. “Kamu tepat waktu,” ucap Fardan. Prisha mengangguk kecil. “Iya.” “Terima kasih,” balas Fardan. “Oh iya, aku ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN