Prisha melirik jam di pergelangan tangannya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, ia bergegas membereskan kuas dan palet, lalu berpamitan singkat. “Aku pulang dulu,” ucapnya pada Fardan dan Jena. “Sudah sore.” “Oke. Hati-hati di jalan,” sahut Fardan. “Iya, Kak,” tambah Jena sambil melambaikan tangan. Sepanjang perjalanan pulang, Prisha meminta sopir mempercepat laju mobil. Ia tidak ingin Asraf tiba lebih dulu di rumah. Entah kenapa, ada perasaan gelisah yang menggelayut di dadanya. Tak buth waktu lama, akhirnya mereka tiba, begitu mobil berhenti di halaman rumah, Prisha langsung turun. Baru beberapa langkah masuk, suara ceria menyambutnya. “Nyonya sudah pulang?” seru Yana dari arah dapur. Prisha mengangguk sambil melepas tas. “Iya, Bi Yana. Asraf sudah pulang?” “Belum,” jawab Y

