6. Berdua

1582 Kata
Aira Semburat cahaya mulai masuk ke sela korden kamarku. It's Saturday! Rasanya berat untuk bangkit dari alas empuk ini. Menyadari sepenuhnya bahwa hari-hariku habis dengan sekolah dan belajar, inilah waktu untuk bersenang-senang dengan caraku sendiri. Makan, tidur, baca novel, dan aktifitas malas lainnya. Kupaksakan untuk bangun dan menuju ke kamar mandi untuk sekedar membasuh wajah dan gosok gigi. Setelah itu aku turun ke dapur, ah, Iburi sudah menyiapkan semuanya. Aku ingat hari ini Iburi akan sibuk seharian karena besok ada wedding yang harus di handle olehnya. Kutilik ke arah kebun, Ayadhi masih berkutat dengan bunga-bunganya. "Ayadhiiiiiii.." kueratkan pelukan melepas rindu. Sepekan ini Ayadhi sibuk membantu Iburi, pergi pagi pulang malam. Terkadang kami masih bisa ngobrol saat sarapan bersama, tapi itupun tidak lama. "Anak cantik baru bangun. Udah makan?" "Belum, temenin yuk, Yah! Mas Abi mana?" "Ayah udah sarapan. Mas Abi tadi pagi ditelpon kantor katanya ada meeting mendadak untuk persiapan conference dua pekan mendatang." "Aira sendirian donk di rumah." Baiklah, fix, akan kuhabiskan waktu full di kamar. Meskipun pasti ada Bi Sumi dan Mang Jeky, tapi tetap saja mereka sibuk dengan aktifitasnya. Tak lama setelah itu kulihat ada mobil terparkir di bawah pohon beringin halaman rumah. Aku mengenal mobil itu dan segera menghampiri. "Mas Aiiiirrr." "Hai, Ra. Udah bangun?" "Kayak aku bangunnya siang mulu pertanyaannya gitu." "Ya kan emang kalo sabtu gini udah bangun apa belum kamu di kamar seharian. Hibernasi. Punya dunia sendiri." "Hmmm." Mas Air seketika menarik lenganku untuk berjalan ke arah Ayadhi. "Udah gitu aja ngambek. Abi masih di kamar?" "Loh kirain Mas Air tau, Mas Abi ngantor pagi-pagi. Aira juga ga ketemu. Mas Air ga w******p dulu?" Tanyaku heran. Mereka ini biasanya saling tau kegiatan satu sama lain. "Eh, Ir! Jadi?" Tanya Ayadhi ke Mas Air. Uhm ternyata mereka yang janjian. "Air kayaknya nemenin aja ya, Yah. Tangan Air kayaknya salah posisi tidur, sampai sekarang belum mendingan." "Oh ya udah kalo gitu kamu temeni Aira aja ya, kemarin Abi udah bilang sih soal tanganmu. Ayah pikir kamu dateng karna udah mendingan." "Nemenin Aira kemana, Yah?" "Ya, nemeni Aira di rumah. Ayadhi tenis sampe sore lanjut jemput Iburi, si Abi ga tau pulang jam berapa, Melky juga katanya mo tiduran aja di kos. Aira sendirian, kalo ada kamu Ayadhi tenang ninggalnya." "Aira kan ada Mang Jeky sama Bi Sumi, Yah. Mas Air sibuk kali, Yah, kalo nemeni Aira sampe malem." Berharap raut kaget, heran, tidak nyaman, hilang dari wajah Mas Air. Sumpah, aku ga nyaman! 'Kalopun Mas Air ga mau paling tidak kondisikan ekspresi donk, Mas. Kan jadi keki akunya.' Keluhku dalam hati. "Iya gapapa, Yah! Air temenin Aira." Jawabnya masih dengan wajah yang sama. "Ya udah kalo gitu, Ayadhi mau siap-siap dulu ya. Aira bikinin Mas Air minum, ajak sarapan sekalian." Ayadhi pun masuk dan menuju ke kamar. Aku dan Mas Air berjalan ke dalam rumah masih dengan suasana canggung. 'Ya Tuhan, aku mau ngapain seharian sama Mas Air coba. Yang ada aku ga 'me time' ini mah.' Keluhku dalam hati. Seumur-umur baru ini ditinggal berdua sama Mas Air. Biasanya kalopun ga ada Mas Abi paling ga, ada Melky, jadi aku ga awkward banget. Sedangkan Mang Jeky kalo sudah cuci mobil, seharian urus kebun Ayadhi. Bi Sumi kalo Iburi udah berangkat langsung masuk laundry room, nyuci, nyetrika. Ga akan masuk-masuk rumah lagi. "Makan yuk, Mas! Aira laper." "Mas Air masih kenyang, Ra! Tadi udah sarapan dulu." Dia jawab masih dengan wajah lempengnya itu. Ihhh sabar, Ra. Sabar. "Ya udah kalo gitu Aira ambil makan dulu. Mau minum apa?" "Nanti aja ambil sendiri minumnya. Mas Air nonton tv aja dulu, kamu makan." Setelah mengambil nasi dan beberapa lauk akupun memposisikan diri di sebelah mas Air. Hari ini Iburi masak masakan kesukaanku, udang goreng tepung, sayur asem, tempe, dan sambal. Liatnya aja udah ngiler. Tak lama Ayadhi sudah siap untuk berangkat tenis bersama clubnya dan pamit kepada kami. Masih dalam diam aku melanjutkan makanku dan sesekali memperhatikan Mas Air yang fokus menonton tv dengan wajah yang sama. Setelah habis makanku, habis juga kesabaranku untuk tidak bertanya tentang ekspresi Mas Air. Aku beranjak ke arah dapur, mencuci piring bekas sarapanku dan minum. Tak lupa aku membawa segelas air putih untuk Mas Air. Setelah kuletakkan air itu di depannya, Mas Air pun tetap diam bahkan untuk melirik ke arah gelas yang kubawa saja tidak. "Mas Air kalo sibuk, pulang aja. Aira gapapa kok sendiri." "Hm, eh, nggak. Mas Air ga ada acara hari ini." "Oh, tapi keliatan banget Mas Air ga nyaman gitu. Aira masuk kamar aja ya, daripada cuma disuguhi wajah lempeng begitu." Akupun beranjak dari sofa hendak menuju kamar. Dengan perasaan sedikit kesal karena Mas Air tak juga menunjukkan sikap biasanya. Akupun memutari sofa dan berjalan ke arah tangga. Sebelum sukses menapakkan kaki ke tangga pertama, tubuhku tertahan oleh pegangan erat tangan Mas Air. "Maaf, Ra!" "Kenapa minta maaf? Udah, gapapa Mas Air lebih baik pulang. Aira pengen hari Sabtu Aira itu tenang, ga ada perasaan kesel, jengkel. Aira ngumpulin mood sepekan itu pas wiken loh. Jadi kalo Mas Air mau tetep begitu mending pulang aja ya, Mas. Plisss. Aira juga ga minta ditemenin kok. Mang Jeky sama Bi Sumi udah cukup." Runtutku mengutarakan semuanya. Pagi ini benar-benar tidak sesuai ekspektasiku. "Bukan gitu, Ra. Dengerin Mas Air dulu ya?! Mas Air cuma bingung, walopun Mas Air sering kesini, nginep sini, biasanya kan rame, Ra. Ini kita cuma berdua. Mas Air canggung aja." "Kemarin maksi juga berdua. Pulang dari kampus juga berdua! Mas Air biasa aja!" "Ya beda, Ra." "Apanya yang beda? Sama-sama berdua sama Aira!" "Ra, emang ga canggung berdua aja sekarang sama mas?" "Nggak." Sumpah! Aku jawab pertanyaan ini dengan sangat ragu-ragu. "Ya udah, berarti cuma mas aja yang ngerasa canggung. Bukannya mas ga mau nemenin kamu, mau banget malah. Cuma ngerasa aneh aja, Ra. Di rumah sama kamu tanpa ada siapa-siapa! Kamu ngerti kan, Ra?!". Oke, sedikit banyak aku paham apa maksud Mas Air. "Kalo canggung pulang aja! Kalo masih mau disini temenin Aira tolong dikondisikan kayak biasanya!" "Iya, iya" jawab Mas Air sesekali mengusap puncak kepalaku. 'Ya Tuhan! Suara apa ini? Jangan sampai degup jantungku terdengar.' "Aira mandi dulu. Mas Air tunggu aja disini apa di kamar Mas Abi." "Udah ga marah, kan?" "Nggak marah, cuma kesel aja!" "Udah ya, keselnya.. Plisss!" Bujuk Mas Air sambil menggapit kedua tanganku. "Hmmm" "Mas Air di kamar Mas Abi ya, kalo udah selesai mandinya kita jalan aja gimana? Oke?!" "Hmmm" . . . Air Entah sudah berapa kali aku mondar-mandir di kamar Abi. 'Ini harus kemana habis ini? Ga mungkin kan di rumah seharian? Lagian tuh anak santai banget berduaan sama laki-laki. Laki-laki? Aira cuma anggap kamu kakak, Ir. Ga lebih. Udah fix itu mah. Huh!' rutukku dalam hati Sepertinya mengikuti mau Aira lebih baik daripada menciptakan suasana yang ga natural sama sekali. Kurebahkan badanku di kasur sambil menunggu Aira menyelesaikan segala aktifitasnya. Tak lama kemudian mataku terasa berat, ah iya, semalaman aku fokus kepada skripsi-skripsi mahasiswaku. Sepertinya aku kurang tidur. Aku tidur sebentar gapapa lah ya, daripada bingung juga mau ngapain. Mataku pun terpejam. Samar-samar kudengar suara pintu terketuk. "Mas... Mas Air?" Kubuka perlahan mataku. Ah! Aira sudah selesai. Kurenggangkan badanku kemudian membuka pintu. "Eh, udah mandinya?" "Udah." Kuamati baju Aira terasa pas di tubuh kecilnya. Pola doodle hitam dan putih pun menambah imutnya baby doll itu. Hah? Mau pergi pake baju begini? "Kok belum ganti baju?" "Emang mau kemana?" Tanya Aira malas "Jalan, kan?" "Nggak ah, udah siang gini males, panas." Siang??? Kubalikkan badanku mengecek hape yang kutaruh di atas nakas. 01.36. Mataku membulat. 'Aku tidur sebentar kan, barusan? Iya, aku baru tidur 10 menit lah paling. Apa jam hape error? Coba cek jam tangan.. Glek.. 01.35 "Ra, mas tidur lama ya?" "Makan yuk, Aira laper. Abis itu mending mas Air pulang istirahat." "Raaa.." "Apa?" Jawab Aira sambil berjalan ke arah tangga. Aku mengekorinya dari belakang masih dengan setengah nyawa. Sesampainya di ruang makan, Aira langsung memposisikan dirinya. Mengambil nasi di piring kemudian diletakkan di depanku. "Lauknya ambil sendiri ya, mas. Nanti kalo nasinya kurang tambah aja." Akupun mengangguk lalu duduk di depannya. Makan siang kami lewati dalam sepi, hanya dentingan garpu dan sendok. Mau tak mau aku harus memulai topik pembicaraan kan ya? Ini masih setengah hari, gawat kalau sampai malam seperti ini. Segera kuambil hp di saku dan memencet nama Abi di kontakku. Tuttt.. Tuttt.. "Apa, Air mengaliiir?" "Lo meeting ga kabar-kabar!" "Maaf, Ir. Tadi juga keburu-buru jadi lupa semua. Lo dimana?" "Menurut lo?" "Jadi tenis sama Ayah?" "Nggak, tangan masih gini, yang ada cedera nanti." "Ehmm.." Sejenak hening... "Bi.. Gue ajak Aira ke rumah gue ya?" Uhuk.. uhuk.. Aira tersedak! "Minum, Ra.. Minum dulu.." ujarku "Lo di rumah? Sama Aira? Sama siapa lagi?!" "Bi Sumi, Mang Jeky!. "Selain itu Aiiiirrrrr!!!" "Ga ada, berdua doank. Ayadhi minta gue nemenin Aira." "Ngapain ke rumah?" "Baca buku, Biiii.. Lagian di rumah gue lebih rame. Aira ga mati gaya." "Hah??? Lo ga lagi melancarkan aksi berjuang kan, Ir? Baca buku di rumah gue juga bisa!" "Part of. Ga bakal macem-macem gue. Ntar gue anter sebelum jam 8 ya? Gue mau ijin ke Ayadhi dulu. Kalo semua oke baru gue bawa. How?" "....." "Gue canggung, Bi.. Aneh kan?" Bujukku selirih mungkin agar tak terdengar. "Pfffttt.. Hahahahaha.." "Biiii.. Kok ketawa sih lo?" "Ya wajar lah kalo lo canggung. Ya udah telpon Ayah dulu aja, gue ngikut gimana Ayah." "Oke, thanks!" Kumasukkan lagi hape ke saku celana. Kemudian berbalik menghadap Aira yang sedari tadi minta penjelasan. Lebih baik minta persetujuannya dulu sebelum aku mengacaukan moodnya pekan ini. "Ra... Ke rumah Mas Air aja ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN