Aira
Kulangkahkan kaki menuju dapur tanpa meladeni Mas Air yang berjalan di belakangku. Aku duduk di ruang makan, menyiapkan piring dan nasi untuknya. Kami makan dalam diam. Rasanya kikuk sekali. Aku tadi sudah berharap dia mengajakku pergi untuk jalan-jalan. Aku yakin Mas Air akan ikut dengan pilihanku, maka sedetik terpikir untuk ke toko buku. Aku happy, Mas Air happy! Tidak ada lagi kecanggungan. Cukup membaca dengan tenang.
Setelah menyelesaikan makannya, aku melihat Mas Air menelpon seseorang. Ah! Mas Abi! Tidak berniat untuk menguping tapi pembicaraan mereka cukup terdengar.
"Bi.. Gue ajak Aira ke rumah gue ya?"
Mas Air bertanya dalam posisi aku masih mengunyah makananku.
Uhuk.. Uhuk!
"Minum, Ra.. Minum dulu.."
Akupun menerima air yang disodorkannya dan memilih untuk tidak peduli dengan percakapan mereka. Setelah menyudahi telponnya, aku memandang Mas Air seakan bertanya 'maksudnya apa, mas?'.
Jika memang aku harus mengunjungi rumahnya bersama dengan Mas Abi, mungkin tidak akan menjadi masalah bagiku. Tapi ini? Berdua? Taruhlah orang tua Mas Air tidak akan berpikir macam-macam. Tapi aku??? Hellowwwww!!! Aku cewek juga kalikkkk. Meskipun belum pernah terpikir untuk menjalin hubungan bersama siapapun tapi dibawa ke rumah dengan seseorang yang tidak memiliki hubungan darah denganku, pasti lah aku bertanya-tanya. Anggaplah aku kolot. Jaman sekarang mau pacaran atau tidak pacaran, bawa teman lawan jenis ke rumah itu sudah menjadi hal biasa.
"Ra... Ke rumah Mas Air aja ya?"
"..."
"Disana kan ada Ayah Bunda juga, rame. Kebetulan Mas Air udah lama ga pulang ke rumah. Sekalian, ya?!" Tanyanya penuh meyakinkan.
"..."
"Raaa.. Mau ga? Kalo mau mas telpon Ayadhi dulu minta ijin, tapi kalo ga ma.."
"Mau.. Mau, sebentar Aira ganti baju dulu."
Akupun langsung berlari ke kamar, setelah kututup pintu segera aku merutuki bibirku. 'Ya ampun, Ra. Katanya tadi bertanya-tanya, sempet mikir diri sendiri kolot, demi mempertahankan prinsipmu itu, kok sekarang bilang mau aja berkali-kali'
Tak memakan waktu lama untukku berganti pakaian. Cukup memakai blouse rample satin, celana jeans dan sneaker. Untuk riasan, aku bukan anak yang suka make up. Skincare ku ya cuma facial wash.
"Udah siap?"
"Huh.. Udah." Secara tak sadar kuhembuskan nafas beratku.
"Kalau keberatan, di rumah aja gapapa, mas janji ga lempeng lagi mukanya."
"Nggak kok, ayok!. Kugamit lengan mas Air. Hal ini sudah biasa ya, dari dulu aku seperti ini, dan ini reflek. Kurasakan tubuh mas Air menegang tak ayal itu membuatku salah tingkah. Perlahan kulepas tanganku dari lengannya. Menyadari itu mas Air pun menoleh ke arahku.
"Kenapa dilepas?"
"Mas Air ga kayak biasanya. Kayak kaget gitu."
"Iya emang kaget. Padahal kan ga gitu ya, Ra, biasanya? Udah lah yuk ke mobil."
Sekarang aku rasa tubuhku menegang, saat kemudian Mas Air menggandeng tanganku dan menggiringku ke mobil.
----
Butuh waktu sekitar 1 jam kami tiba di rumah Mas Air. Beda sekali dengan rumahku, rumah mas Air terlihat berkonsep modern. Memasuki garasi yang kulihat hanya teras kecil dengan sedikit pernak pernik tanaman gantung. Kami masuk dari pintu samping. Saat pintu terbuka terlihat tatanan modern living room dengan sliding door ke arah taman yang berumputkan sintesis dengan beberapa bean bag untuk bersantai membuat pencahayaan ruangan ini sempurna.
"Duduk dulu, Ra. Bentar ya, mas Air cari Ayah Bunda dulu."
Akupun mengangguk dan kemudian berjalan ke taman. Kulihat disamping taman tertata rapi laundry room, ada seseorang mungkin seumuran Bi Sumi sedang menunggu cucian sembari menjemur pakaian. Segera kujatuhkan diri ke bean bag sembari menatap cerahnya langit.
"Ehhh, tumben-tumben ini si Air bawa gadis ayu banget." Terkesiap dengan suara itu, reflek aku berdiri menyambutnya. Ini pasti bunda Mas Air.
"Aira, Tante." Kutundukkan badanku sambil tersenyum.
"Panggil aja Bunda. Semua yang deket sama Air manggilnya Bunda semua. Termasuk masmu." sahutnya sambil mengusap lenganku lembut.
"Pasti banyak yang sering kesini ya, Bunda. Rumahnya asik banget." Bunda menempatkan diri disampingku.
"Iya, disini kan sepi, makanya Air sering bawa temen-temennya kesini nginep biar rame. Tapi yang dibawa kesini cowok semua, ga ada yang cantik. Padahal Bunda kan pengen nimbrung ngobrol juga."
"Itu tuh biar Bunda tetep jadi yang cantik sendiri." Kedatangan Mas Air membuat kami akhirnya menoleh kearah suara.
"Ya sekarang udah ada saingan, Aira lebih cantik."
Akupun menanggapinya hanya dengan senyum. Suasana apa ini? Dan untuk apa pula aku kesini? Lah tadi yang bilang mau siapa, Ra?!
"Ayah kemana, Bund? Air cari kok ga ada?"
"Kemarin kan ada temen Ayah nawari rumah di daerah Serpong, ya udah sekarang lagi liat rumahnya."
"Oh!" Ngejawab Bundanya irit banget sih, Mas!
"Ya udah Bunda tinggal bentar, ya. Aira mau minum apa biar nanti Bunda siapin?"
"Apa aja, Bunda."
"Katanya nyari temen ngobrol, udah dibawain tapi sekarang ditinggal." Mas Air mengomentari kepergian Bundanya.
"Kan bakal sering ketemu sama Aira, ngobrol besok juga bisa. Besok kesini lagi ya, Ra. Kebetulan Bunda lagi ada sedikit urusan hari ini."
"Iya Bunda, Aira usahakan kesini besok." Jawabku tanpa berpikir lanjut. Yang penting Bunda seneng aja dulu. Resiko dipikir nanti. Ya ampun, Ra!
Setelah kepergian Bunda, aku dan Mas Air masih menikmati cerahnya langit. Sejenak memejamkan mata menikmati dalam diam. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Benar kata Mas Air, kalau kami tetap memilih di rumahku kegiatan yang bisa dilakukan hanya di ruang keluarga. Saat disini, meski berakhir sama, sepi, paling tidak ada ruangan terbuka yang menghilangkan kecanggungan.
"Besok Mas Air jemput, ya. Bunda suka ngomel ga selesai-selesai kalo ga ditepati." Ucap Mas Air masih dengan mata tertutup.
Glek.
What???
Serius besok harus kesini lagi???
.
.
.
Air
"Mas, Aira beneran harus kesini lagi besok?"
Melihat Aira kebingungan entah kenapa membuatku ingin sekali mengerjainya. Memang benar Bunda sering ngomel kalau janjinya ga ditepati. Tapi janji Aira belum sampai tahap itulah.
Aira masih saja menunggu jawabanku sambil berjalan di belakangku. Kami sedang menuju ruang baca. Memenuhi alasanku kepada Ayadhi dan Abi, meski sebenarnya bukan itu poinnya.
Sesampainya di ruang baca, Aira seperti lupa tentang pertanyaannya tadi. Matanya berbinar melihat beberapa rak yang tersusun mengelilingi tembok di ruangan ini.
"Maaaasssss.. Ini nyenengin bangetttt. Ahhh!
Akupun mengambil satu buku yang ingin k****a kemudian duduk di sofa satu-satunya. Ruang baca ini hanya berisi satu sofa panjang, beberapa bean bag seperti di taman, cool case, box cemilan dan satu meja. Saat mendesainnya yang terpikirkan olehku, ini adalah ruang untuk bersantai. Untukku membaca adalah kesenangan tersendiri.
Aku masih memperhatikan Aira yang sedang mencoba memilah buku yang ingin dia baca.
"Mas, ini bagus ga?" tanyanya seraya menunjukkan buku Move Your Bus dari Ron Clark.
"Kayaknya kamu ga butuh motivasi deh, Ra."
"Hih, siapa bilang? Aira kadang suka ngerasa kok hidup gini-gini aja ya." Celotehnya sambil memposisikan dirinya diatas sofa. Kaki kirinya yang masih menjuntai ke lantai dan kaki kanannya tertekuk di sofa sambil menatapku.
"Mas Air suka gitu ga sih?"
"Kadang." singkatku.
"Hidup Mas Air mah ga gitu-gitu aja. Usia dua puluh tujuh udah semapan ini. Itu mah prestasi ya. Aira masih harus berjuang. Tujuh tahun lagi Aira bisa kayak Mas Air ga ya?"
"Mau jadi dosen? Butuh passion loh ngajar itu, Ra!"
"I mean, bisa ga aku senyaman Mas Air sekarang. Kerja sesuai passion. Aku belum kepikiran loh soal kerjaan. Karna mungkin liat Iburi di rumah kali ya, jadi pengennya sekolah dan belajar tujuannya buat didik anak. Ga mikir karier dan yang lainnya."
"Ya bagus kalo gitu, Bunda juga gitu, abis mas lahir langsung resign, fokus urus mas. Tapi juga ga terlihat ada penyesalan, malah kayaknya Bunda enjoy aja."
Pembicaraan kami terhenti karena kami sudah sama-sama asik dengan apa yang kami pegang. Sudah hampir seharian kami hanya membaca buku. Dari posisi duduk di sofa pindah ke lantai, tiduran, ke bean bag, dan kami belum juga bosan. Tak sadar waktu sudah petang. Bunda memanggil kami turun untuk makan malam.
Makan malam yang biasanya hanya berisi pesan dan nasihat Ayah dan Bunda untukku berubah menjadi obrolan ringan yang menghibur.
Setelah mengantar Aira pulang, aku memutuskan untuk kembali ke rumah Ayah Bunda. Besok hari Minggu masih ada waktu bersantai.
"Aira udah diantar? Ga kurang apa-apa kan, Ir?"cegat Bunda saat aku baru hendak masuk ke rumah.
"Kurang apanya, Bunda?"
"Anak gadis orang kalau dibawa kesini utuh, baliknya juga utuh" 'Bunda ngomongin apa sih?'
"Emang Air ngapain Aira, Bundaaaa?!"
"Tetep aja Bunda deg-degan. Anak bujang udah bawa gadis ke rumah."
"Itu Aira loh, Bunda. Adeknya Abi."
"Ya terus kenapa kalo adeknya Abi? Kalo baik, pinter, cantik, emang kamu ga suka?"
"Hmmm.. Bunda ga usah khawatir ya, percaya sama Air! Air ga akan aneh-aneh."
"Ya kalau ga mau Bunda khawatir diresmikan, Ir?"
Hah???.
"Apanya, Bunda?"
Dari taman tampak Ayah masuk menutup sliding door kemudian berjalan ke arah kami.
Berucap..
"Ya dilamar trus dinikahi, jadiin mantu Ayah sama Bunda!"