8. Dia

1188 Kata
Aira Senin yang cerah! Seperti biasa hari ini jadwalku kuliah dari pagi hingga sore. Disaat aku turun untuk sarapan semua sudah lengkap di ruang makan. Ayadhi, Iburi, Mas Abi dan Melky. "Pagiii semuaaa!" Sapaku sambil berlari-lari kecil menuruni tangga. "Pagiii." "Ibuuu, masak apa?" "Nasi goreng aja ini, Ibu capek kemarin." Iburi memang terlihat lesu. Setiap ada wedding pasti berakhir menjadi Senin yang lelah. Syukurlah, Ayadhi menghandle setengah dari pekerjaan Iburi. Untuk kontrol dapur sepenuhnya tanggung jawab Iburi, sedangkan Ayadhi mengontrol lapangan. "Seger banget, dek?" Mas Abi angkat suara "Iya, building mood wiken ini sukses ya, Ra?" Melky dengan seringai kekepoannya. "Biasa aja ah, mabok buku mungkin, haha.." jawabku asal. Spontan Mas Abi menjawab. "Beneran baca buku???" "Lha trus ngapain lagi? Udah gitu tau ga sih itu ruang baca.. ahhhh.. Aira mau punya ruangan kayak gitu, Yah!" Ayadhi hanya tersenyum menanggapi. Tatapan Mas Abi dan Melky saat ini sulit diartikan. Antara kepo, curiga, atau yang lain? "Ck.. ck.. ck.. kutu buku jadi satu ya gitu! Progress lambat." Sindir Mas Abi yang diiyakan Melky dengan anggukan. Sesaat sarapan berlalu dengan keheningan. Setelah itu akupun langsung pamit kepada semuanya dan berlalu ke mobil Melky. I am the driver as usual. Itu anak kesempatan banget tidur kalau berangkat bareng. Masih menatap dengan curiga, Melky pun bertanya "Lo beneran cuma baca buku di rumah, Mas Air?" "Ya nggak lah, ngobrol sebentar juga sama Bundanya. Trus baca buku, makan malam bareng, pulang deh. Lo tau ga rumah Mas Air konsepnya keren deh, Mel!" "Mas Air juga baca buku???" "Iya donk, hobi kami kan sama, Mel! Betah lah baca buku seharian juga." "Hebaaat, Mas Air! Kalo gue ga bakal bisa." "Ehm. Ya lo kalo baca, belom ada semenit juga tidur, Mel!" Akupun terkekeh. "Sial! Bukan itu maksud gue. Mas Air bisa konsen berduaan baca buku sama lo menurut gue itu hebat!" "Emang lo ga bisa konsen kalo sama gue? Jangan bilang diem-diem lo naksir gue ya, Mel?! "Dih, jangan sampe! Ga siap mental kalo kencan tujuannya cuma ke perpus, toko buku, dan isinya cuma buku-baca-buku-baca." Tawaku sudah tak tertahan. Melky hanya menatap sinis kearahku. "Tapi serius deh, Ra. Lo pura-pura ga ngerti apa oon beneran sih?" "Soal apa, Mel?" "Mas Air!" "Iya, Mas Air kenapa?" "Mas Air suka kan sama lo?!" Reflek yang buruk. Aku injak gas lebih dalam dan kemudian Melky terlempar keatas karena polisi tidur pas di depan mata. Buru-buru kuinjak rem yang untungnya perlahan. "Raaaaaa!!!!" "Maap, Mel! Maap! Lagian lo ngagetin gue sih!" "Ini masih di jalan, Ra! Sakit nih kepala gue!" "Iya, maap. Maap." Sambil kuelus kepala Melky dan tetap fokus ke depan. "Arrgghhh, emang dasar oon!" "Ya lo juga sih, Mel! Ngomong begitu di jalan!" "Kok jadi gue yang salah. Gue cuma ngomong sesuai fakta!" "Fakta darimana? Emang Mas Air ngomong ke lo? Ga, kan?!" "Cuma ngingetin aja nih ya, kali aja lo lupa kalo gue itu masih cowok! Gue ngerti lah bedanya orang sopan karna suka ato dianggap suka karna sopan!" "Gue ga ngerti lo ngomong apa! Udah sekarang biarin gue fokus nyetir, mending lo tidur. Kalo mo ngomong ntar kalo udah parkir mobil!" Melky pun mendengus kesal, masih dengan tangan yang mengelus-elus kepalanya. Tidak memakan waktu dari lima menit suasana menjadi hening. 'Kan, bener.. Udah ngorok tuh si Melky!' Tidak lama setelah itu kami sampai di kampus. Melky masih lelap tertidur. Ya, dia sebenarnya baru ada kelas jam sembilan. Tapi aku memintanya berangkat lebih pagi karena aku tidak mau terjebak dengan hecticnya Jakarta di Senin pagi. "Mel, bangun! Udah sampe! Ntar gue pulang jam limaan. Lo pulang dulu aja." Pesanku ke Melky "Gue nanti kayaknya juga sore, Ra. Kabar-kabar aja nanti ya!" "Oke!" Ku lepas sabuk pengaman dan siap beranjak keluar mobil sebelum Melky menarik lenganku untuk duduk ke posisi semula. "Lo beneran ga tau kalo Mas Air suka sama lo?" --- Setelah beranjak dari parkiran meninggalkan Melky dengan pertanyaan absurdnya, aku langsung menuju ke kelas. Aku lihat Anin sudah duduk sembari memainkan hapenya. "Anindya cantiiikkk." "Airaaa.." "Udah dari tadi?" "Iya, si Bayu sekalian antar Papa ke bandara. Eh, tugas speaking udah siap, Ra?!" Tanyanya dengan wajah serius. "Beloman, masih cari-cari referensi. Masih ada waktu seminggu kan? Lo ambil topik apa?" "Health kayaknya, lo?" Jawaban si Anin banget, yang pengen masuk kedokteran tapi ga lolos. Masih obsesi. "Food and drinks aja yang gampang, mo bahas kopi aja." "Lo tuh kalo cari topik yang gampang tapi hasil maksimal gitu, Ra! Heran gue!" Akupun tersenyum menanggapi entah pujian atau sindiran. "Ya kan topiknya ringan, Nin! Kalo ga maksimal ya kebangetan." "Maksud gue tuh packaging presentasinya bagus, Ra!" "Mo berat ato ringan referensinya kudu kuat jadi nanti packagingnya oke." "Bantuin ya, Ra!" Aku mengangguk sembari tersenyum. Setelah itu Bu Dwi datang untuk memulai kelas syntax diiringi beberapa mahasiswa semester atas yang mengambil ulang mata kuliah ini. Kelas mendadak hening kala Bu Dwi membuka kelas dan memulai perkuliahannya. Welcome, Monday! Mungkin ini weekday favoritku, melelahkan dan mengasyikkan. Building moodku pekan ini sukses. Thanks, Mas Air! . . . Air "Pak Air nanti siang rapat studi banding." Baru saja satu langkah masuk kantor sudah disambut dengan jadwal hari ini. Senin yang seharusnya lumayan santai mendadak harus penuh dengan schedule rapat yang entah berapa jam. Jadi teringat Aira dengan pertanyaannya 'Aira kadang suka ngerasa kok hidup gini-gini aja ya.' 'Mas Air suka gitu ga sih?' Jawaban sesungguhnya adalah 'selalu'. Aku selalu merasa tidak ada yang istimewa di hidupku. Memang benar, di usiaku sekarang hampir semua impian tercapai. Lulus sekolah dengan nilai nyaris sempurna bahkan sering sempurna, pekerjaan sesuai minat dan menghasilkan uang yang mencukupi bukan hanya kebutuhan tapi juga gaya hidup, hidup tenang tanpa gangguan. Ah, ya! Tentunya impianku akan menikah muda belum tercapai! Dan hari ini aku merasakannya 'hidup yang gini-gini aja'. Kemarin lusa. Ingatanku kembali kesana. Dimana hidup tenang tanpa rasa penasaran, tanpa gejolak, semua sirna. Hari itu seluruh jiwaku tak nyaman, bergetar, jantungku tak henti-hentinya berdegup kencang. Bahkan untuk memberiku waktu istirahat sejenakpun tidak. Hari itu keunikan ada padaku. Hari itu keanehan ada padaku. Gugup. Terkadang marah tanpa sebab. Merajuk. Tertawa. Senyum tak ada henti. Mungkin ini saatnya. Keluar dari zona amanku. Mulai memporakporandakan kebiasaanku, hatiku, jantungku, bahkan perasaanku. Sudah kuputuskan Aku sungguh ingin membuat hidupku berubah. Welcome, my new zone! Be nice! --- Setelah menyelesaikan rapat studi banding yang akan diadakan di Bali, akupun bergegas pulang. Menyapa beberapa teman sejawat, kemudian berjalan ke arah parkiran. Aku hanya ingin istirahat untuk hari ini. Sepertinya esok hari tak akan banyak waktu bersantai. Benar kata Abi, aku harus berjuang. Dan disaat berjuang, aku tak yakin hatiku akan selalu baik-baik saja. I need a deep sleep I need a rest Just for today Karena hari-hari esok akan butuh lebih banyak tenaga. Untuk hatiku, untuk jiwaku. "Pak Air, wah untung belom pulang. Ada yang nyari bapak." Panggilan Pak Seno mengagetkanku. "Siapa, Pak?" "Ga tau, katanya konselor, Pak." "Oh ya sudah, terimakasih ya, Pak Seno! Saya langsung kembali saja. Di kantor kan?" "Iya, Pak." Kuputar arahku kembali ke kantor. Konselor? Siapa? Seseorang dari pameran kemarin? Teman Abi? Atau siapa? Dan apa perlunya? Setelah sampai ke kantor, akupun langsung masuk ke ruang tamu. Dan disitulah langkah terhenti. Terlebih saat dia memanggilku lagi, dengan nama itu. "Haiii, Swara!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN