Air
Bagaimana rasanya jika dia yang sudah menghilang muncul lagi dihadapanku?
Bagaimana harus menyikapi segala sesuatu yang sebenarnya sudah mulai berjalan seperti biasa?
Butuh waktu sekitar 3 tahun bergelut dengan asa yang hampa
Lalu 2 tahun lagi mencoba membuka hati
Dan sekarang disaat aku menata kembali, dia hadir
Dihadapanku sekarang
Memanggil namaku dengan tatapan yang sama
"Hai, Swara!" Senyum itu, aku masih mengingatnya. Kakiku kaku enggan melangkah dan rasanya aku ingin sekali berbalik keluar dan segera pulang. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa.
"Saya Air Daniswara. Ada keperluan penting sepertinya sampai mendatangi kampus secara langsung. Apa kerjasama?"
Aku benar-benar mencoba biasa. Tersenyum seprofesional mungkin. Di ruangan yang masih penuh dengan dosen lain.
"Oh, ya, saya Clarissa Danita. Mungkin kita pernah sempat mengurus event yang sama beberapa pekan lalu." Dia mengulurkan tangannya, memberiku kartu nama.
"...."
"Saya sempat melihat anda di educational fair kemarin."
"Ahhh, lalu?"
"Ah iya, berkaitan dengan program student exchange dari kantor kami, ingin mengajukan kerjasama dengan fakultas. Berikut proposalnya."
"Ehm, baik. Mungkin untuk pembahasan lebih lanjut bisa bebarengan dengan dosen yang lain. Karena saya perlu membicarakannya terlebih dahulu dengan semuanya."
"Ah iya, tidak apa-apa,"
"Berarti cukup ya, saya harus segera pulang."
"Ah, baik, Pak! Semoga kita bisa bekerja sama."
Aku hanya menanggapi uluran tangannya dengan senyuman. Jujur, aku belum siap untuk bertemu dengannya lagi.
Kulangkahkan kakiku cepat menuju tempat parkir. Aku mendengar derap langkah mengikutiku.
"Airrrr, tunggu!"
"Air! Air!"
Kuyakinkan kakiku untuk terus melaju. Pandanganku tetap ke depan. Aku tidak mau menoleh sedikitpun. Sampai akhirnya aku sampai di depan mobilku, suara itu masih terdengar.
"Air Daniswaraaaa!!!"
Akupun berhenti.
Membalikkan badanku.
Kemudian menatapnya.
"Ada apa?"
"Aku mau bicara, Ir. Hm?"
"Tadi sudah kan?!" Jawabku masih dengan menahan segala emosiku.
"Aku mau bicara soal kita."
Kita??? Apa katanya? Kita???
"Apalagi yang mau dibicarakan?"
"Semua, aku mau menjelaskan semua."
"Aku rasa sudah terlambat." Aku tersenyum. Ya! Aku tidak ingin ini semua menghancurkan apa yang sudah aku tata. Emosiku, ingin sekali aku keluarkan saat ini. Tapi sulit.
"Please, Swara!" Ah nama itu lagi. Yang dia panggil saat dia merajuk, saat dia senang.
"Mungkin nanti, jangan sekarang. Aku pulang dulu."
"Oke, tak apa. Yang penting kamu mau dengar. Jika ada waktu tolong kabari aku."
"Hmmm." Jawabku singkat
Segera kulajukan mobilku keluar dari kampus. Rasa laparku hilang seketika. Aku hanya ingin pulang sekarang.
Segera setelah aku masuk ke apartemen, merebahkan badanku. Disaat itulah pikiran mengiringku ke masa lalu.
---
Clarissa Danita.
Seseorang yang pernah mengisi hatiku.
Aku, Abi dan dia. Kami bersahabat saat SMA. Semua kegiatan kami lakukan bersama. Dia yang ceria, Abi yang cuek, dan aku yang selalu saja mengalah. Sungguh lengkap.
Awal masuk kuliah menjadi hal yang mungkin bahagia untukku. Clarissa mengatakan bahwa dia ingin aku menjadi kekasihnya. Dayung bersambut, akupun mengiyakan.
Kisah bahagia ini tak berlangsung lama. Kesibukan kuliah menjadikan kami semakin jauh. Abipun menyadarinya. Sampai di suatu titik aku tahu bahwa ada orang lain di sampingnya. Bukan aku. Ya, bukan aku lagi.
Kalian bertanya soal status? Aku masih kekasihnya.
Saat itu aku tengah sibuk dengan semua kegiatanku. Clarissa sakit. Aku berencana menjenguknya usai kuliah. Abi menungguku di mobil.
Kuliah yang seharusnya usai jam 4 sore ternyata bisa selesai saat makan siang karena dosenku tidak hadir. Aku bergegas ke apartemen Clarissa bersama Abi.
Tiba di basement, kami bergegas untuk keluar. Tapi sebelum itu terjadi, kami melihatnya bergelayut mesra dengan seseorang. Menciumnya, memeluknya. Aku seketika tak bisa berkata apa-apa.
"Siapa tuh, Ir? Lo kenal sama tu cowok?"
Akupun menggeleng menanggapi pertanyaan Abi.
"Ir, turun deh kita temuin!"
"Ga usah, Bi. Gue nanya ke Cla aja nanti langsung." Jawabku masih dengan memaku.
Tanpa ragu, malam itu aku menelponnya. Aku ingin bertemu, dia melarangku dengan alasan yang sama. Sakit.
Rasa penasaranku tak terbendung lagi. Aku nekad mengunjungi apartemennya. Aku tekan password apartemen. 'Masih sama'.
Perlahan kakiku melangkah dengan suara samar-samar aku mendengar lenguhan, desahan, dan rintihan di dalam kamar. Degup jantungku jelas tidak bisa tenang saat ini. Aku berusaha menghempas pikiran-pikiran buruk yang ada di otakku.
Kudorong gagang pintu kamar lalu membukanya. Sungguh rasanya ingin aku kabur melihat ini semua. Tapi kakiku kaku. Mataku memerah
Tanganku terkepal. Mereka tidak menyadari kehadiranku, masih dengan asiknya menikmati permainan mereka. Sampai di satu titik mata kami bertemu.
"Cla, aku butuh penjelasan sekarang juga." Tuntutku. Mereka sibuk menutupi tubuh yang penuh dengan peluh.
"Swaraaa.." Ah aku benci nama itu keluar dari bibirnya saat ini.
"Jelaskan saat ini juga, Cla! Aku ga mau urusan ini jadi panjang." Ucap lelaki itu santai kemudian melenggang ke kamar mandi.
Aku masih menatapnya nanar mencari jawaban.
Clarissa yg sudah mengenakan pakaiannya bergegas mendekatiku. Memegang lembut pipiku dan berkata.
"Air.. Kita putus, ya!"
Aku membisu. Tidak ada penjelasan sama sekali?
"Oke! Masih ada waktu untuk menjelaskan!" Masih saja aku tahan emosiku.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan kalau kamu sudah menyetujuinya." Cla tersenyum.
Aku pergi darinya saat itu juga.
Setelah putus, Cla menghilang. Dia bahkan tidak pernah terlihat di kampus. Aku menyibukkan diriku dengan semua kegiatan kampus. Aku ingin melupakannya. Melupakan luka yang ia torehkan.
.
.
.
Aira
"Mas Abiii, udah tidur belum?" Pintu terbuka
"Belom, kenapa? Sini masuk!"
"Mas.. Uhm.."
"Apa?"
"Tadi Aira liat Mas Air sama cewek di kampus."
"Hah? Cewek? Siapa? Temen dosen?"
"Bukan dosen situ kok kayaknya."
"Oh, tapi Air ga cerita sih dia lagi deket sm cewek. Lagian adek kenapa nanya-nanya? Hayoooo."
"Nggak kok, pengen tau aja."
"Tanya Air langsung lah kalo pengen tau. Kan yang sekampus kalian. Mas Abi kan ga tau apa-apa, Dek!"
"Iya kalik ya, nanya langsung lebih baik kan ya? Ya udah deh."
Aku merebahkan diri di kasur Mas Abi dan mulai mengetik.
-Aira-
Mas Air, lagi apa?
1 menit
2 menit
.
.
5 menit
.
.
20 menit
"Kok ga dibales-bales sih ah! Kesel!"
"Udah sana balik ke kamar. Mas Abi mau tidur."
"Mas Abi tanyain ya ke Mas Air. Ceweknya tinggi, cantik, ramping deh pokoknya. Ga kayak Aira!"
"Yang begini modelnya kan emang cuma kamu, Dek!" Mas Abi tertawa kencang. Aku hanya bisa mendengus dan balik ke kamar.
Ting
-Air-
Lagi abis mandi.
Kenapa?
Tumben chat jam segini?
.
Akhirnya dibalas juga. Aku tersenyum.
.
-Aira
Penasaran
.
-Air-
Penasaran apa?
Penasaran mas ngapain aja?
Wahhh, lagi mikirin mas ya?
.
-Aira-
Ih apaan sih.
Penasaran sama cewek cantik di parkiran tadi
Siapa?
Akupun masih menunggu jawaban Mas Air. Kali ini memakan waktu agak lama. Hampir setengah jam berlalu tapi pesanku tak kunjung dibalas.
Aku memutuskan untuk membaca satu buku sambil menunggu jawaban.
Lembar demi lembar kubuka dan kubaca
Tak ada balasan
Sama sekali
Huft!
Kuletakkan buku dan mulai bersiap tidur.
Terdengan ringtone handphone ku berbunyi.
'Mas Air telpon?'
.
"Halo, Mas!"
"Belom tidur?"
"Belom, kan nunggu jawaban. Aira kalo penasaran ga bisa tidur." Terdengar suara kekehan Mas Air.
"Ga tidur brarti malem ini."
"Mas Air ga mau jawab?"
"Nggak!"
"Ihhh, apa susahnya sih jawab?"
"Males, Ra!"
"Jadi tambah curiga deh. Pacar ya?!" Nadaku sudah tak biasa.
"Pelan-pelan ngomongnya, Aira! Kuping mas sakit!"
"Ya jawab makanya!!!"
"Tau gitu mas ga telpon kalo cuma dibentak-bentak doank gini."
Hening.......
"Kenapa kok pengen tau banget?"
"..."
"Raaa.. Jangan diem donk. Ga lucu ah gitu doank ngambek."
"Mas Air juga ga lucu, gitu doank ga mau jawab."
"Tiap orang punya hak kan, Ra untuk jawab ato ga?"
"Oh, oke kalo gitu. Lupa juga kalo Aira ga punya hak buat nanya soal-soal begini ke Mas Air! Ya udah ya mas.. Aira mau tidur dulu. Capek seharian kuliah sampe sore."
"Bukan, Ra!"
"..."
"Bukan pacar mas Air!.
"..."
"Uhm. Meskipun kamu ngerasa ga punya hak nanya-nanya begini, tapi mas Air ngerasa pengen aja ngejelasin. Biar kita ga salah paham. Penjelasan singkat itu bisa berarti banget buat seseorang, walopun menyakitkan."
"..."
"Ya udah kalo masih mau diem. Mas Air tutup aja ya."
"Makasih."
"Buat?"
"Buat Aira bisa tidur nyenyak malem ini."
"Haha.. Karena udah ga penasaran?"
"Masih penasaran kok. Pengen denger cerita lengkapnya."
"Ga sekarang, ya?!"
"Iya, Aira mau tidur nyenyak dulu. Biar besok seger. Kali aja dapet penjelasan lengkap, ga cuma singkat."
Mas Air tertawa. Lagi!.
"Iya.. Biar tambah seger mimpiin Mas Air!"
"Hahaha.. Siap!"
"Sleep tight, Aira!"
"You too!"