10. Cewek Parkiran

1219 Kata
Aira Sudah hampir 3 pekan ini hari-hariku disibukkan dengan tugas, yang entah mengapa, bertambah banyak. Tidak ada tujuan lain selain kampus, perpustakaan, toko buku, dan kamar. Benar-benar menyibukkan. Hari ini akhirnya semua tanggungan tugasku selesai. Sabtu ini, Ayadhi dan Iburi mengajak kami untuk sekedar berlibur. Aku mengajak Anin, Bayu, dan Melky turut serta. Kami berencana menginap di puncak. Kebetulan kakek dari Ayadhi punya villa disana. Villa itu tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menampung kami. Biasanya para pria lebih sering menghabiskan waktu di depan tv untuk sekedar main PS atau nonton film. Sedangkan kami para wanita lebih nyaman berada di kamar untuk bergosip dan juga di dapur. Villa kakek total ada 5 kamar besar dan 1 kamar untuk Mang Udin, yang merawat villa ini. Tapi setiap kami berkunjung paling hanya 2 kamar yang terisi. Maka dari itu Ayadhi mengusulkan dan memperbolehkan kami untuk mengajak teman-teman. "Adekkk.. Airaaa!" "Ya, Bu.. Aira lagi beberes di kamar." Iburi sudah ada di depan pintu kamar. "Dek, nanti bantu Ibu ya siapin bekal buat besok. Soalnya kan pagi banget." "Iya nanti Aira bantu, Bu.. Abis Aira siap-siap ya!" "Itu banyak banget sih, satu ransel ga cukup?" "Satu ransel baju, satu ransel buku, Bu.. Hehe.." "Ck ck ck.. Kan mau liburan, dek.. Bawa buku jangan banyak-banyak." "Ga banyak, cuma dua. Nah, udah kelar. Yuk, Aira bantuin." Aku segera turun bersama Iburi untuk mempersiapkan semuanya. "Food prep sayur-sayur aja ya, dek. Ibu udah ada rendang buat besok!" "Mending besok tuna sandwich aja, Bu. Aira besok pagi bikin deh, palingan kita sarapan di mobil kan?! Rendangnya buat makan siang, kan ga cocok rendang buat sarapan." "Iya gitu juga gapapa." --- Aku bangun sekitar jam empat pagi untuk menyiapkan sarapan. Selain aku yang mengajak teman-temanku, Mas Abi juga mengajak Mas Air dan Kak Keanu untuk bergabung. Ya! Kak Keanu sengaja pulang ke Indo untuk ikut bergabung. Waktu menunjukkan pukul tujuh. Semua sudah bersiap di halaman rumah. Mas Abi dan Melky mengeluarkan barang-barang yang akan dibawa. "Oke, Abi sama Keanu bawa barang-barang aja, Yah. Kan bagasi mobil ini lebih besar." Mas Abi mulai mengatur semuanya. "Ya udah kalo gitu. Anin sama Bayu mau bawa mobil sendiri apa gimana?" Tanya Ayah "Anin sama Bayu sendiri aja, Om. Barang-barang udah dipacking di mobil soalnya." Bayu menanggapi. Ayahpun mengangguk mengerti. "Kamu gimana, Mel?" Tanya Mas Abi ke Melky dengan mengedipkan matanya. 'Apaan sih nih orang!' "Melky sama Anin Bayu aja. Tapi gue depan ya, Nin! Gue ogah kalo lo depan ntar ribut mulu sama Bayu." "Aira ikut Anin!" Sahutku. Mata mas Abi dan Melky menatapku jengah. Entah apa maksud mereka. Belum juga mereka sempat mengumpat... "Aira ikut Mas Air aja, ya! Ga lucu kan Mas Air sama Ayadhi Iburi. Nanti ganggu. Ya kan, Yah!" Protes Mas Air sambil tersenyum. Semua wajah menunjukkan reaksi yang sama tanpa aku tahu makna dari semua itu. Dengan kompak mereka pun menjawab "Setuju!!!" Kemudian tertawa Heiiii! Apa aku saja yang tidak mengerti apa maksudnya. Dan dia yang bernama Air, berdiri di sebelahku dengan senyum yang benar-benar lepas. Seakan bangga semua mendukungnya!. . . . Air "Setuju!" Akupun tersenyum bahagia. Mereka seakan tahu betul tujuanku. Dan dia yang bernama Aira, berdiri di sebelahku memicingkan matanya seolah bertanya 'Ada apa ini?' Aku melihat Aira sedang membagikan tuna sandwich bikinannya. Kemudian dia berjalan ke arahku dengan membawa satu kotak yang aku yakin itu adalah bagian kami. "Udah semua?" Tanyaku sambil tersenyum. Aira masih saja menatapku heran "Udah! Ayok berangkat keburu macet!" --- Di perjalanan Aira tak banyak bicara. Dia hanya fokus ke benda pipih persegi panjang yang dipegangnya. "Kok diem aja sih?" "..." "Ra.. Ga denger mas Air ngomong?" "..." Kesal? Tentu saja aku kesal. Segera ku rebut handphone di tangannya. "Ihhh, Mas Air apa-apaan sih! Kembaliin hape Aira!" "Nggak!" "Siniii!!!" "Mas Air lagi nyetir jangan ganggu!" "Ya makanya sini balikin hape Aira!!!" Akupun menepikan mobil. Entah kenapa kesal rasanya. Aira terkesan menjauh beberapa hari ini. "Kenapa minggir?" "Kamu masih mau cuekin mas?" "Siapa juga yang nyuekin?!" Jawabnya tanpa sedikitpun melihat ke arahku. "Ya udah, kita disini dulu aja." "Rombongan lain udah jauh loh mas. Ayok jalan!" "..." "Kok diem sih?! Mas Air!!!" Akupun meletakkan kepalaku diatas setir sembari memandangnya. "Enak ga dicuekin?" "..." "Kamu kenapa ga bales w******p mas beberapa hari ini?" "..." "Telpon mas juga ga diangkat." "..." "Masih mau diem, Ra? Mau gini terus? Kasih tau 1 alasan aja kenapa mas pantas dicuekin?!" "Aira lagi males!" "Oh, oke! Nih hape kamu. Mas Air ga akan ganggu lagi." "Nggak gitu, mas!" "Udah tidur aja, Mas Air mending liat kamu tidur! Aira akhirnya meletakkan hapenya ke dalam saku. Tapi dia tak kunjung bicara. Hingga di satu sikon yang mungkin sudah dia pertimbangkan matang untuk membuka suaranya. "Aira udah tau siapa cewek itu." "Cewek mana?" "Cewek parkiran. Yang cantik, tinggi, ramping bak model itu." Ah Clarissa! Aku hanya diam. Aku malas menanggapi segala sesuatu yang berurusan dengan Clarissa. "Kak Clarissa mantan Mas Air, kan?" "..." "Pekan kemarin dia masuk ke kelas Aira. Bahas student exchange. Namanya cantik 'Clarissa Danita'." Aku masih membisu, menunggu Aira menyelesaikan bicaranya yang sebenarnya sama sekali malas kudengarkan. "Aira iseng nanya ke Mas Abi. Mas Abi bilang itu mantan Mas Air." "Terus?" Akhirnya aku menanggapinya "Ya ga ada terus." "Hubungannya sama kamu cuekin Mas apa?" "..." "Kamu cuma mau berbagi info kepada sumbernya? Apa ini jadi alasan kamu cuekin mas?!" "..." "Jangan diem lagi lah, Ra! Mas Air juga jadi males kalo gini!" "Ya udah aku telpon Anin aja minta mereka tunggu kita. Aira bareng Anin aja." "Terserah kamu aja, Ra!" "Mas Air ngeselin sih!" Aira meluapkan segala kekesalannya dengan memukul-mukul lenganku. "Mau kamu gimana sekarang? Mas Air cuma pengen tau kenapa kamu nyuekin mas. Malah yang dibahas ngalor ngidul gini. Apa hubungannya sama cewek parkiran?" "Nggak tau. Aira juga sebel sama diri sendiri." "Raaa.." "Aira ga pernah liat Mas Air deket sama cewek. Sekalinya Aira liat, cewek itu bener-bener cantik. Poin plus lagi, dia mantan Mas Air. Aira kesel aja ga denger cerita ini pas Aira tanya ke mas Air." "..."  Masih dalam diamku. Akupun tersenyum memandang Aira. "Aira aneh, ya?!" Akupun mengangguk. "Rasanya kesel aja, Mas. Apa susahnya waktu Aira tanya jawab 'mantan pacar'." "Trus kalo mas Air jawab gitu kamu ga bakal nyuekin mas Air?" "Belom tentu." "Nah! Trus buat apa mas Air cerita. Inget-inget masa lalu aja mas Air males, Ra!" "Ya tapi dia ke kampus mulukkk!!!" Ya Tuhan! Disaat dia kesal seperti ini kenapa aku justru bahagia. Aku tertawa sambil menatapnya. "Kok malah ketawa sih??? Aira tuh kesel!!!." "Kenapa kesel? Apa alasannya?" Aku bertanya bukannya penasaran alasan sebenarnya. Aku hanya ingin memandangi wajah kikuknya. "Ga tau ah. Bodo amat. Ayok jalan aja!!! Udah bener-bener ketinggal jauh." Lagi lagi aku masih memandanginya Cantik! "Ra..." "Apa?!" "Masih inget ga soal mas Air yang buka hati?" "Ingetlah! Dan kayaknya Aira tau siapa orangnya!!!" "Siapa coba?!" "Ya siapa lagi! Si cewek parkiran!" Hmfh.. Kuhembuskan nafas beratku. "Ga usah bahas dia lagi yaaa?! Mas Air ga suka dengernya." "..." "Mas Air nungguin kamu, Ra.." "..." "Kalo kamu udah pengen pacaran kasih tau Mas Air, ya?! Jangan lari ke orang lain dulu. Jawab dulu pertanyaan mas Air. Biar mas Air ga kelamaan nunggu!. "..." "Kamu emang paling tega bikin mas Air nunggu lama. Udah berapa tahun ini? Masa' masih ga mau punya pacar! Mas Air udah dua puluh tujuh loh!" "..." "Raaa.." "Mas Air suka sama Aira???" "Baru nyadar???"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN