18. Saling Memahami

2149 Kata
Aira . Keluarga Mas Air sudah rapi duduk di ruang keluarga. Agak aneh. Terasa asing akan banyaknya 'orang lain' yang bisa memasuki ruangan sakral Ayadhi ini. Kalian tahu kan?! Kalo tamu mentok di teras. Aku duduk di sebelah Iburi dan Anin. Aku tidak mungkin melupakan Anin yang selama ini selalu ada untukku. Melky tentu saja ikut duduk berjejer di samping Ayadhi dan Mas Abi. Situasinya terasa hening. Hanya terdengar Ayah Mas Air yang menyampaikan banyak sekali kalimat yang kurang bisa aku mengerti keseluruhannya. Aku hanya ingat kata-kata ini. 'Kedatangan kami kemari, mau mewakili Air yang mungkin terlihat sudah ga sabar ingin mempersunting Aira.. Walaupun sebenarnya kamilah yang kurang bersabar disini.. Mengenal Aira sungguh membuat hati kami ikut berbunga-bunga.. Jadi disini yang jatuh cinta bukan hanya Air saja.. Tapi kami semua jatuh cinta pada Aira.' Pernyataan Ayah Mas Air disambut oleh gelak tawa yang lainnya. Sungguh jikalau aku bisa menggambarkan perasaanku hari ini, cukuplah satu kata. Bahagia! "Jadi gimana Aira.. Kira-kira waktu yang dipengen kapan? Soalnya Air bilang katanya jangan sampai setahun." "Kalo dari pihak kami sebenarnya juga sama.. Lebih cepat lebih baik.. Tapi kan yang menjalani mereka berdua ya.. Jadi Ayadhi kembalikan ke Air sama Aira." "Air kemarin sudah coba ngobrol sama Aira. Kami sepakat disekitar bulan Juli.. Jadi sekitar lima bulan dari sekarang." "Itu juga pas liburan semester, jadi pas.. Ga ganggu Aira dan Mas Air." "Kalo dosen sama mahasiswa itu rembuknya beda ya.. Hahaha.." Setelah membahas segala t***k bengeknya, seperti biasa acara seperti ini pasti ditutup dengan makan bersama. Bersyukur aku punya Iburi yang jagooo banget masak. Acara-acara seperti ini dianggap kecil dan bisa di handle secara keseluruhan oleh Iburi. Dengan bantuanku pastinya. Acara telah selesai, keluarga Mas Air juga sudah pulang ke rumahnya. Aku memasuki kamarku untuk beristirahat. Ah, begini rasanya dilamar oleh seseorang yang kamu cintai. Aku tidak pernah berpikir bahwa kisah kami akan seperti ini. Kenyamanan yang aku dapat dari Mas Air dulu, sekarang berkembang menjadi rasa yang tak terberi. Aku cinta Mas Air. Hanya itu yang aku ingat untuk saat ini. . _Air Daniswara_ Sleep tight, fiancee.. . Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum membacanya. Sapaan indah ini mungkin akan berlangsung sampai lima bulan ke depan. . _Me_ Heu.. I love u . ***** "Ra.. Abis liat-liat gedung nge-date yuk!" Cetus Mas Air yang sekarang sedang mengemudi di sebelahku. "Udah sih.. Baca buku di rumah Bunda aja!" "Nge-date, sayang.." "Iyaaa.. Menurut Aira baca buku ala kita itu juga nge-date, Mas.." "Ga mau!" Mas Air mencebik. "Euleh.. euleh.. Sejak kapan jadi tukang merajuk gini?" Kucubit pipi Mas Air gemas. "Sejak sama kamu! Ya.. Nge-date, ya.." "Uhm.. Grocery shopping trus cooking bareng aja gimana? Aira lagi males jalan. Kita ke apartemen aja.. Oke?" "Deal!" Hari ini rencana kami adalah survey gedung untuk resepsi. Meskipun sebenarnya kami sudah menyerahkan tugas ini kepada WO pilihan Iburi, tapi tak ada salahnya kami tetap mengunjungi dan mengecek fasilitas gedung. Setelah seharian kami menyempatkan untuk berbelanja. Sesuai acara hari ini yang telah aku dan Mas Air susun. "Ra.. Ini brokoli diapain?" "Cuci dulu.. Abis itu potongin per batang ya.. Ini wortel, sawi juga sekalian ya, Mas.." "Tofu juga? Seafoodnya gimana ini?" "Mas Air bisa kupas udang? Kalo bisa kupasin aja.. Cuminya diilangin tintanya dulu, trus potong bulet-bulet." Tidak memakan waktu lama setelah bahan-bahan siap, hanya butuh dua puluh menit untuk menyelesaikan masakan ini. "Icip deh, Mas.. Udah pas belum?" Aku menyuapkan sesendok kuah kepada Mas Air. "Tambahin garam dikiiit aja.." Aku menambahkan garam sesuai yang di takar Mas Air kemudian menyuapinya lagi. Setelah dirasa pas, kami duduk berseberangan untuk menyantap makan sore kami. Setelah kenyang kami menuntun diri ke sofa untuk sekedar bercengkrama. Mas Air yang terlihat lelah langsung merebahkan kepalanya di pangkuanku. "Hmmm.. Mulai deh manjanya.." "Manjanya juga cuma sama kamu.." "Ya trus mau sama siapa lagi? Hm?" "Dih, galak sekarang.." Mas Air menjapit hidungku gemas, kemudian tangannya beralih memelukku. "Maasss.. Jangan gini donk posisinya.." "Hm.. Udah pewe!" "Ih, Mas.." Aku mendorong pelukan Mas Air yang malah terasa semakin erat. "Udah sih, anteng! Mas Air mau gini sebentar aja" Tak ingin lagi membuang tenagaku, akupun diam kemudian meraih remote tv untuk mencari acara yang menarik. Mungkin sudah sekitar tiga puluh menit Mas Air bertahan di posisi yang sama, sampai akhirnya bunyi dering ponsel mengusiknya. "Ambilin donk, Ra.." Aku segera mengambil ponsel yang ada di nakas dekatku. Ternyata panggilan dari Mas Abi. "Ini dari Mas Abi.." "Ya udah angkat aja" celetuk Mas Air kemudian menyamankan posisi semula. Nafasnya mulai teratur lagi. "Halo, Mas Abi.." "..." "Iya, Aira sama Mas Air.. Di apartemen.." "..." "Mas.. Mas Air.. Mas Abi nanya ini.. Aira dianter jam berapa?" Mas Air segera mengambil alih panggilan tersebut. "Ya, Bi.." "..." "Aira nanti gue anter jam delapan or sembilan deh" "..." "Gue balikin kok tenang aja.." "..." "Iyaaa bawel, kalo dibolehin sih gue balikin besok pagi. Hahaha.." Setelah menutup panggilan, Mas Air hanya diam menatapku dan mengulum senyumnya. Terasa aneh. "Kenapa?" Tanyaku. "Gapapa.. Jadi kepikiran pengen ngumpetin kamu disini sampe besok." "Modus!" "Ra.." "Hmm.." "Love you.." . . . Air . Entah sudah berapa lama aku berdiam diri di mobil menunggu Aira selesai kuliah. Akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu bersama. Paling sering sih di apartemen. Melihat ada Aira disana walau hanya merapikan kulkas, memasak, atau bahkan membaca membuat hatiku menghangat. Gadis kecil yang saat itu ku tunggu ada disini bersamaku. Gadis kecil yang mungkin dulu tidak bisa mengartikan semua perhatianku sebentar lagi akan bersanding di sisiku. Aku sangat menghargai Aira, sungguh, Aira yang bertambah dewasa membuatku sulit berpaling. Saat kami menentukan kapan pernikahan dilaksanakan, Aira memikirkan semuanya. Dia mempersiapkan diri karena tahu pasti posisinya sebagai mahasiswa. Aira mengiyakan permintaanku tanpa membantah. Dia bilang hanya ingin lebih cepat hidup bersama. Pejaman mataku terbuka saat mendengar seseorang membuka pintu mobilku dan duduk di sisiku. "Udah sele---, ngapain kamu?" "Aku mau ngomong, kalo ga gini entah kapan kesempatanku bisa ngomong ke kamu." Clarissa ada di dalam mobilku. "Aku udah maafin kamu, Cla. Jadi ga ada yang perlu diomongin, okay?!" Clarissa memandangku diam. Aku memang benar-benar sudah memaafkan, toh sekarang aku punya kehidupan baru. Tapi memaafkan bukan berarti melupakan. Aku memang tidak butuh penjelasan, bukan.. bukan.. Aku butuh tapi itu dulu, untuk sekarang aku sudah tidak membutuhkannya. "Kalau kamu udah maafin aku berarti kita bisa kayak dulu lagi ya, Swa?" "Kayak dulu gimana maksudnya? Temenan? Oke aku coba." "Aku mau perbaiki semua. Masa lalu itu murni salahku yang ga bisa jaga hati. So, please.. Kasih aku kesempatan kedua!" "Ga bisa, Cla.. Aku udah ada Aira. Dan aku sudah melangkah ke jenjang yang serius. Aku minta kamu turun dari mobilku sebelum Aira salah paham sama keberadaan kamu disini!" "Kamu bohong, kan?! Mahasiswi itu cuma nurutin akal-akalan kamu buat jauhin aku, kan?!" "Aku dan Aira serius, Cla.. Ga ada akal-akalan. Sekarang aku minta kamu turun!. Menunggu Clarissa turun sepertinya bukan hal yang mudah. Aku tahu pasti kegigihannya. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dan membuka pintu penumpang. Clarissa memandangku dengan pandangannya yang sulit sekali kuartikan. Kosong. Tak lama setelah itu akhirnya dia memilih untuk turun. "Aku masih harus bicara panjang sama kamu! Jadi persiapkan diri untuk terganggu sampai kamu mau kasih kesempatan kedua itu!" Aku bergeming. Kemudian menghela nafas beratku. Kuputuskan untuk menelpon Aira. Aku tidak mau lama-lama menunggu disini dan beresiko berurusan lagi dengan Clarissa. Dering telpon terdengar nyaring di telingaku. Aku hafal itu adalah nada dering Aira. Aku mencoba membalikkan tubuhku dan menatap mata Aira yang sendu. Aku yakin dia melihat kejadian barusan. Aku memejamkan mataku sejenak dan menghampirinya. Aira hanya diam di tempat seolah menunggu dikuatkan langkahnya. "Udah selesai?" Aku ingin membahas dengan tenang. Aira hanya mengangguk. Kutuntun langkahnya untuk masuk ke dalam mobil. "Ke apartemen dulu, boleh?" "Mau apa?" "Mau ngomong." Aira tersenyum tipis kemudian mengangguk. Ada kelegaan tapi juga bersamaan dengan kecemasan. Perjalanan ke apartemen kami lewati dalam diam. Aku hanya ingin bicara saat kami sudah sampai. Aku hanya tidak mau pertengkaran-pertengkaran kami sering terjadi di dalam mobil. Sesampainya di unit, aku segera memesan pizza untuk teman ngobrol. Aira tampak biasa. Dia langsung menyelusuri dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa potong puding yang bbrp hari lalu dia buat. Ah rasanya! Kenapa lama sekali waktu berjalan. Aku semakin ingin di dekat Aira. Disini. Bersamaku. "Mas Air mau? Aku potongin ya sekalian?" Aku mengangguk tersenyum. Aira berjalan ke arah sofa yang tengah kududuki. Merebahkan dirinya di punggung sofa sembari menikmati tiap potong puding. Akupun melakukan hal yang sama. "Uhm.. Ra..!" "Apa? Mau ngomong soal tadi tiba-tiba ada cewek cantik keluar dari mobil?" Aira terkekeh. Sungguh aku bingung harus bereaksi seperti apa. Bukannya wajarnya dia marah? "Ra.." "Gapapa, Mas.. Aira ngerti kok.. Walaupun tadi sempet shock, tapi pas liat wajahnya cemberut dan merah karena marah gitu, kayaknya habis dibikin kesel sama pacar aku." Aku mau tak mau menyunggingkan senyumku. Entah kenapa aku bahagiaaa! "Penasaran ga sama obrolan di mobil tadi?" "Penasaran lah! Aira cuma mengungkapkan bahwa Aira baik-baik aja, bukan berarti ga butuh penjelasan." Lagi-lagi aku terkekeh. "Cemburu ga?" "Perlu banget di jawab?!" Aku tersenyum. Lagi. "Senyum-senyum terus! Seneng ya diajak ngobrol mantan?!" "Loh? Marahnya tetep ya?" "Iyalah.. Rugi kalo bilang baik-baik aja padahal nyesek liatnya!" Aku tergelak. Ah! Airaku memang terbaik. Disatu sisi dia mengerti dan memahami. Disatu sisi dia kesal dan marah. Aku membawanya ke pelukanku. Aku merasakan Aira menyamankan posisinya. "This is home!" "Uh?" Aku masih tidak paham arah obrolannya. "Your hug! My home! Kalo udah diginiin ga bisa lagi marah-marah. Padahal keselnya minta ampun. Itu cewek keganjenan deh! Udah tau juga si cowok punya pacar masih aja digangguin. Kalo harus berakhir penyesalan kenapa harus dilepas!" Aira menjeda sejenak. "Eh, ya udah bener dia lepas Mas Air. Nggak apa-apa aku jadi pacar setelah dia, yang penting aku aja kan yang bakal di jadiin istri?!" Aku lagi dan lagi dan lagi tergelak. "Katanya kalo udah di peluk ga marah? Lha itu apa tadi?! Aira tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pelukannya. "Dia minta kesempatan kedua." Aku akhirnya menceritakan ke Aira. "Wow! Setiap orang berhak punya kesempatan kedua!" Aku langsung melepas pelukanku dan memandang wajahnya. Apa maksudnya? "Maksudnya apa sih, Ra?!" "Ya bener kan? Tiap orang berhak dapat kesempatan kedua." "Trus maksud kamu Mas Air harus kasih dia kesempatan kedua??? Yang bener aja kamu!!!" Aira tertawa. Untuk tawa yang satu ini tidak ada kecantikan sama sekali di mataku. Tidak ada yang lucu! "Ya nggak lah! Enak aja!" Aira menangkupkan tangannya di pipiku kemudian membelainya dengan ibu jarinya. "Ini tuh calon suami Aira. Ga boleh disenggol-senggol yang lain. Lagian kesempatan kedua itu buat yang berhak aja. Yang ga menyakiti." Pandangan kami terkunci. Duh! Gawat! Moment apa ini?! Aku bisa melihat Aira gugup, kemudian perlahan menurunkan tangannya dari pipiku. Aku masih memandanginya lekat. Ah! Bibir tipis yang sedang bingung itu menyita perhatianku. Manis. Cantik. Kubelai rambutnya yang panjang. Aira masih bergeming. Kuraih tengkuknya mendekat. Dan saat itu aku hanya bisa melihat Aira menutup matanya perlahan. Jarak kami sangat dekat. Hingga aku mengecup bibir lembutnya. Kecupan singkat. "What was that?" Aira tersipu. Wajahnya memerah. "A kiss? Kenapa? Mau lagi?" "Eh?" Aku benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. Lagi-lagi aku merindu bibir mungilnya. Mengecupnya. Membelainya perlahan. Melumatnya dengan ritme yang lembut. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. "Mppphhh.. Maasss Aiiir..." Nafasnya memburu. Mau tak mau ku lepas tautan bibir kami. Ada ketidakrelaan disana. "Hmmm.." Dahi kami bertautan dan masih terengah-engah. Aira memelukku erat. Aku bisa mendengar detak jantungnya yang cepat, sama sepertiku. Dan aku menyukainya. Ting tong. Bel apartemen berbunyi. Aku hampir saja lupa bahwa kami memesan pizza tadi. "Bentar ya, kayaknya pizza nya dateng." Aira hanya mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. Aku berjalan membuka pintu, mengambil pesanan dan kemudian kembali ke ruang tengah. Aira terlihat sedang mengobrak abrik dvd koleksiku. "Mau nonton?" "Hmmm.. Ada film apa aja sih? Ada yang baru ga?" "Liat aja disitu.. Mas Air udah lama ga beli dvd baru." Jawabku seraya membuka kotak pizza yang kupesan. Aira tampak tidak menemukan sesuatu yang diinginkannya. Dia kembali ke sofa dan mengambil satu pizza. "Kenapa? Ga ada yang suka?" "Hmmm.. Udah nonton semua. Nonton Nat Geo aja lah." Aku hanya mengangguk setuju. "Mau pulang jam berapa? Jam delapan aja ya? Pas jam malem." "Kalo udah ditentuin ngapain nanya? Lagian tambah molor kayaknya balikin Aira. Dulu aja paling ga jam lima udah dibalikin. Sekarang pasti jam delapan. Kadang lebih." Aku terkekeh. Benar sekali. Entah kenapa rasanya aku malah tambah malas memulangkan Aira ke rumahnya. 'Sabar, Air! Sebentar lagi!' "Kenapa? Ga suka lama-lamaan disini?" "Ya ga gitu juga.. Ntar juga yang di mintain tanggung jawab itu Mas Air. Ayadhi dan Mas Abi bakal introgasi ke Mas Air." "Udah barusan. Dua-duanya w******p nanyain kamu pulang jam berapa." "Ayadhi sama Mas Abi tau aku disini?" "Ya tau donk, Ra.. Mas Air kalo bawa kamu kesini tuh ijin dulu. Ga main seret anak gadis orang juga!" Tawa Aira tergelak. "Pantes ya, Ayadhi ngrestuinnya cepet. Orang sweet gini calon suami akuuu." Melihat Aira yang gemas dan terus menerus mencubiti pipiku, jujur, aku terlalu bahagia. Saat ini kalau Aira meng-iya-kan pun, aku mungkin bisa kelewat nekad untuk menghubungi Ayadhi minta pernikahan kami dipercepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN