17. Menyelami Hati

1511 Kata
Aira . "Ra.. Mau pesen apa lo? Sekalian.." sapa Anin saat aku baru saja sampai di kantin. "Mau batagor aja deh, Nin.. Kalian udah lama disini?" Tanyaku kemudian ke Melky dan Bayu. Dan sekarang ada Kara juga. "Nggak baru aja.." Bayu menjawab. "Lo kemarin pulang sama Dimas, Ra?!" Tanya Melky kemudian. "Ya iya, sama siapa lagi.. Lo nya pergi sama Bayu!" Protesku ke Melky. "Mas Air telpon gue nyariin! Lo mah ah, cari masalah aja!" Aku hanya terkekeh. "Maap Melky sayooong.. Gue lupa kalo punya pacar sekarang!" "Uhuk.. uhuk.." Kara yang sedang menikmati makannya pun terbatuk-batuk. "Lo kenapa, Karaa.. Pelan-pelan!" Anin menepuk-nepuk punggung Kara dan menyodorkan air minum. "Pacar? Mas Air? Lo jangan bilang kalo.." "Iyaaa, semua yang dipikiran lo bener!" Aku mengiyakan Kara. Tidak sulit membaca pikiran Kara. Aku sudah pernah bilang kan? Kalau aku itu 11-12 sama Kara. Akhirnya semua terkekeh karena melihat ekspresi Kara yang sampai saat ini melongo. Setelah menikmati sepiring batagor, tersisa aku, Anin dan Kara di kantin. Jam-jam segini biasanya kantin agak sepi karena pas jam perkuliahan. Oh ya! Kelas kami kosong karena Mr. Brian tidak hadir. Ini termasuk Senin yang lenggang. Aku sengaja menunda waktu pulang, ya kali aja bisa minta anter Mas Air. "Ra.. Kamis ngumpulin berkas kan?" Aku yang masih mengunyah keripik tempe hanya bisa mengangguk saat Kara mulai membahas tentang Summer Program. "Kalian kalo lolos berangkat kapan?" "Akhir bulan depan kayaknya, Nin.. Jangan kangen, ya! Kangen Kara maksudnya.. awh! Sakiiittt!" "Airaaaaa!!!!" Anin dengan jengkelnya mencubitku dan berteriak, sedangkan Kara hanya tersenyum tipis. "Lo LDR donk sama Mas Air?" "Sebulan doank!" "Tapi kan lagi anget-angetnya, Ra.." "Apaan sih, Nin! Bedanya sekarang tuh cuma di wiken. Gue ga sendirian lagi baca bukunya!" "Kalian kencan baca buku?!" Tanya Kara dengan wajah penuh penasaran. Aku mengangguk. "Asik gitu, Ra?!" Anin ikut nimbrung. "Asik aja.. Kan emang kita hobinya sama.. Ya ga melulu baca buku sih, ngobrol juga.. Kadang jalan, tapi seringnya juga ke toko buku sih, sama makan. Tapi kalo Anin lo ajak kencan ke perpustakaan ya ga bakal betah, Kar! Hahaha.." Anin terlihat salah tingkah saat Kara hanya meliriknya sambil tersenyum. *** "Dek.. Sibuk ga?" Mas Abi sudah berdiri di depan kamarku. "Lagi nugas aja, belum deadline. Kenapa?" "Mas Abi masuk ya.." Aku mengangguk. "Gimana persiapan Summer Programnya?" "Tinggal kumpulin berkas sama seleksi interview gitu lah." "Kok kayaknya ga semangat?" Aku meringis "Exactly! Ga tau kenapa.. Sebenernya kesempatan bagus buat isi CV lamaran kerja. Hahaha.." "Sebatas CV ya, Dek?!" Ejek Mas Abi. "Ya iya.. Pengennya ke luar tuh kalo S2 aja, tapi rejekinya udah dateng sekarang. Mas Abi ga ada kepikiran lanjut S3?" "Ada.. Tp kerjaan kantor sekarang lagi padat.. Masih mau nyesuain waktu." Aku mengiyakan. Memang benar, kerjaan Mas Abi bisa dibilang tuh super sibuk." "Dek.." "Hmm.." "Udah yakin sama Air?" "Kenapa nanya gitu?" "Gapapa" "Ada yg harus ga diyakini?" "Bukan gitu.. Mas Abi cuma ga mau kamu nerima Air karena penantiannya. Mas Abi maunya kamu nerima Air ya karena bener-bener suka. Selama ini kan kamu ga ada deket sama cowok lain, Dek.. Nanti kalo ada yang lain, yang ternyata lebih dari Air, sementara kamu ga yakin sama perasaan kamu kan malah nyakiti semuanya. Disini Mas Abi yang ga enak posisinya." "Uhm.. Pertama, Aira ga tau kenapa yakin sama Mas Air. Mungkin karena ya cuma Mas Air yang bisa masuk circle Aira walopun perannya beda sama Melky and Bayu. Kedua, Aira bukannya ga ada deket sama yang lain, tapi karena ga mau dan ga bisa. Ketiga, kayaknya kalo mau ngomongin yang lain, atau cowok lain, untuk saat ini both terlalu cepat dan udah basi. Terlalu cepat karena Aira baru aja jalanin hubungan ini. Udah basi karena akhirnya Aira nge-iya-in lamaran Mas Air." "Bagus deh kalo kamu udah yakin. Mas Abi percaya Air bisa jaga kamu.. Mas Abi juga percaya kamu bisa jaga hati Air ya, Dek." "Kok kayaknya disini aku dinomor duakan ya?! Daritadi Mas Abi berasa kayak ga percaya sama aku dan lebih mementingkan perasaan Mas Air sih?!" Aku berdecih. Mas Abi hanya terkekeh dan memelukku sesaat. "Nggak lah, perasaan kamu aja! Kalian itu dua-duanya penting buat Mas Abi." "Lebih penting siapa?!" Mas Abi tertawa. "Udah ah, Mas Abi mau tidur. Besok meeting pagi." "Ck.." "Baik-baik ya sama Air! Kalo bisa nikah lebih cepat, ga usah nunggu lulus!" Aku hanya tersenyum. Semenjak lamaran itu, kami sama sekali belum pernah membahas ini lagi. *** Sore ini setelah kuliah, aku sengaja mengunjungi Melky di kosnya. Kos Melky memang campur, walaupun tetap ada jam malam, tapi tidak ada aturan khusus untuk tamu laki-laki atau perempuan. Bangunan kos Melky juga mirip apartemen studio, jadi lumayan luas. Jujur, aku kangen Qtime sama Melky. Akhir-akhir ini kami disibukkan dengan tugas kuliah masing-masing. Bukan karena aku sekarang punya pacat ya! Itu sama sekali tidak merubah kondisiku dan Melky. Ya, kalian tahu sendiri kedekatan keluargaku, bahkan Mas Air, sama Melky. "Ra.. Tumben lo?!" "Dihhh kangen tau, Mel!" "Masuk deh. Minum ambil sendiri." "Lagi ngapain?" "Tugas, Ra.. Agak hectic gue akhir-akhir ini. Maap ya jadi jarang jemput." "Gapapa.. Lo tidur rumah aja sih! Makan ga ke kontrol nih pasti! Kalo Iburi tau otomatis ngomel-ngomel lo makan mie instant gini!" "Jangan donk, Ra.. Ntar Iburi khawatir!" "Ya lo sih.. Ntar Anin nyusul kesini kayaknya sama Bayu." "Beli cemilan kalik ya, Ra.. Ga ada stok gue!" "Nanti gue w******p mereka aja!" Akupun segera mengetik list cemilan yang harus dibeli Anin. Aku menunggu sembari menonton tv, sedangkan Melky masih sibuk didepan laptopnya. "Ra.. Lo serius sama Mas Air?" Tanyanya masih dengan posisi serius di depan laptop. "Lo tau gue kan, Mel?" "Dimas tapi gencar kayaknya, Ra.. Diperjelas aja!" "Gimana gue perjelas, dia aja ga pernah ngomong apa-apa. Gue juga ga mau kege-eran!" "Jelas begitu!" "Prasaan kita doank kali, Mel!" "Ya tapi kalo dia ngomong lo kudu tegas!" "Iyaaa, Melky!!!" "Kasian Mas Air udah nungguin lo yang ga peka!" "Kalian kenapa sih?! Kemarin Mas Abi bilang kasian Mas Air, sekarang lo ngomong gitu juga! Kalian ga mikirin gue ya kayaknya." "Ga gitu, Ra.." Melky lalu membenarkan posisi duduknya. Dia sangat paham aku kurang nyaman dengan pendapat mereka. Emang iya! Di hubunganku dengan Mas Air, terlihat sekali Melky dan Mas Abi lebih mementingkan perasaan Mas Air. Mungkin karena mereka sesama lelaki. Tapi, please.. Aku juga punya perasaan yang harus mereka prioritaskan lah. Aku otomatis merebahkan tubuhku ke sofa dan menutup wajahku dengan bantal. Entah kenapa aku se sensitif ini. "Ra.. Bukan gitu loh! Maaf deh.." "Udahlah, Mel.. Gue males bahas!" "Lo kesini katanya mau Qtime, kok malah bete sih!" "Mel.. Emang ada yang salah ya sama gue? Mas Air aja ga seribet kalian deh mikirnya." Setelah itu kami putuskan menyudahi pembahasan ini. Haruskah berpikir ulang untuk semuanya? . . Air . "Ra.. Kok diem?" Aku menjemput Aira di kos Melky. Kebetulan memang ada yang mau dibicarakan sama Abi. "Gapapa kok.." "Mas Air ada salah?" "Nggak.. Kayaknya malah Aira yang salah." "Kenapa sih? Cerita donk.." Aku mengusap punggung tangannya, berharap bisa menenangkannya walau sedikit. "Mas.. Mas Air yakin ga sama Aira?" Aira menatapku sendu. "Kenapa? Kamu ga yakin sama Mas Air?" Aku mendadak pesimis dengan beberapa waktu yang sudah kami lalui. "Aira yakin. Tapi kayaknya orang lain yang ga yakin sama Aira." "Maksudnya?" "Ya gitu lah.. Aira juga ga ngerti." Aku hanya diam mengamati wajah Aira yang menunduk. Tidak ada senyum. "Hari Minggu, Ayah sama Bunda ke rumah ya? Gimana?" "Hm?" "Ngelamar kamu secara resmi. Oke?" Aira tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Mas Air masih ada waktu untuk yakinin diri sendiri, coba dipikir baik-baik ya, Mas.." "Mas Air ga akan melangkah kalau ga yakin, Ra.." "Okay.. Good then!" Senyum Aira mengisyaratkan keraguan, entah atasku atau dirinya sendiri. Aku tidak mau bertanya lebih jauh. Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat. Memang benar menjalin hubungan bersama Aira yang mungkin baru berjalan dua bulan terlalu singkat untuk memutuskan menikah. Tapi andai saja kalian tahu, Aira benar segalanya. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan waktuku lagi. Kami berada di mobil menuju rumah Aira. Dalam diam. Yang bisa kulakukan hanya tetap menggenggam tangannya penuh keyakinan. Aku yakin memilihnya. Aku yakin ingin bersamanya. Itu sudah terpatri sedari dulu. Bahkan saat hatiku ragu untuk melangkah, aku masih yakin akan keinginanku bersamanya. Mungkin ini terlalu cepat untuk Aira, aku memahaminya. Disaat hatinya memilihku, pasti ada banyak keraguan yang akan muncul. Akupun sempat meragukannya dan juga takut untuk memastikannya. Hari ini aku sengaja menginap di rumah Bunda untuk membahas lanjutan rencana kunjungan kami ke rumah Aira. Beberapa waktu lalu kami pernah membahasnya secara singkat. Ayah dan Bunda terlihat sangat bersemangat. "Ir, udah makan? Bunda bikin perkedel jagung tuh." "Nanti aja, Bunda.. Air masih belom laper." "Gimana, Ir? Minggu jadi?" Ayah mencoba membuka pembicaraan. "Iya jadi, Yah! Air udah telpon Ayadhi dan bilang ke Aira juga kok. Kita makan malam biasa aja. Ngobrol biasa." "Iya gapapa, yang penting ada omongan ke keluarga Aira. Biar kalo kamu ngapel terus itu tujuannya udah jelas!" Bunda ikut berpendapat. "Rencana kamu kapan, Ir?" "Air pengennya ga sampe setahun, Yah.. Tapi nanti dibicarakan lagi sama Aira.. Dia juga pasti banyak pertimbangan." "Oke, jadi besok kita ngobrolin lamaran dulu aja, Yah.. Soal tanggal kita bisa kasih waktu Air diskusi sama Aira." sambung Bunda. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN