16. Yes!!! (2)

2389 Kata
Aira . "Dek.. Bangun!" Suara Mas Abi pagi ini menjadi alarm yang menyebalkan. "Apa sih, Mas! Masih ngantuk nih!" "Ini udah jam sepuluh, Airaaa Barshaaa!!! Lagian tuh ada Dias apa Dimas apa siapalah itu di depan nyariin kamu!" "Hah? Mas Dimas?" "Iya kali, lupa! Itu yang dicemburuin Air bukan sih?!" "Sssttt, Mas Abi ga usah ember ke Mas Air ya!" "Hahahaha.. Besok kosongin jadwal ya, kita jalan berdua! Rindu Q-time bersamamuuu." "Idih, makanya punya pacar! Biar wiken tuh ga garing!" "Makasih udah diingetin! Buru turun!" Butuh waktu sekitar setengah jam untuk membersihkan diri dan akhirnya aku turun untuk menemui Mas Dimas. Mau tak mau, hari Sabtu yang ingin kuhabiskan dengan tidur hancur seketika. Semalaman aku menyempatkan diri untuk menyelesaikan tugas essay ku agar hari ini bisa lebih santai. Mas Air juga sedang ada acara ke Bogor bersama orang tuanya dari hari Jumat. Acara keluarga. Tadinya sih aku diajak, tapi melihat kondisiku yang butuh istirahat, akhirnya Bunda mengijinkanku untuk absen kali ini. "Mas, tumben ga ngabarin dulu! Ada apa?" "Udah ngabarin, Ra! Tapi centang satu, akhirnya nekat aja kesini." "Duh sorry, Mas! Aku baru inget hapeku mati. Gimana, Mas?" "Ga ada yang penting kok. Cuma mau ngajak ke toko buku cari referensi baru. Sibuk ga?" "Uhm, nggak sih. Ya udah tunggu bentar aku ambil tas sama hape dulu." Setelah pamit, aku dan Mas Dimas segera meluncur ke mall terdekat. Tak lupa aku menghubungi Melky dan juga Anin untuk bergabung. Walaupun terlihat berat hati, Mas Dimas menyetujui. Aku hanya tidak mau ada kesalahpahaman disini. Sesampainya di tempat tujuan, kami segera menuju tempat makan dimana Melky, Anin dan Bayu menunggu. Ahhh! Ada Kara! Entah kenapa senyumku tambah mengembang. Melihat Kara ada diantara mereka berarti hubungan Anin dan Kara ada kemajuan. "Waw! Ada Kara! Tumben lo?!" Kara hanya tersenyum sedangkan Anin terlihat salah tingkah. Oh Gosh! Apa-apaan sih Anin bisa begini! "Mas Dimas, maap ya kita gabung. Mumpung Aira bisa ngumpul! Hehe.." celotehan Anin diiyakan Melky dan juga Bayu. "Iya, gapapa. Cuma cari buku referensi, pas banget ada Kara juga. Jadi sumber terpercaya nambah." Syukurlah pengertian dan ga ada curiga kenapa aku ngajak mereka. "Kalian bukannya sering ngumpul di kampus sm Aira?" "Ya di kampus Mas, kalo wiken gini dia susah." Mas Dimas hanya mengangguk. Makan siang kami cukup seru. Menghabiskan waktu sekitar dua jam dengan obrolan yang ringan. Mas Dimas orangnya juga ga kikuk. Walaupun aku yakin dia pengennya pergi berdua saja. Tapi karena aku masih waras dan juga sadar seratus persen sama statusku sekarang, makanya aku harus melibatkan sobat-sobat keceku ini. Setelah dirasa cukup makan siang, aku, Mas Dimas, Kara dan Anin memutuskan ke toko buku. Sedangkan Bayu dan Melky mereka ingin mencari boys' things. Adanya Kara memudahkan aku untuk tidak berinteraksi sering-sering dengan Mas Dimas. "Ra, yang ini cocok ga buat pemula? Ada murid les butuh buku grammar gitu." Mas Dimas menunjukkan buku Understanding Grammar-nya mba Betty Azar kepadaku. "Itu oke kok, Mas. Menurutku simpel. Dulu aku juga pake buat ngelesin anak SMK." "Betty Azar yang ini juga bagus." Sambung Kara yang akhirnya menjelaskan perbandingan kedua buku itu. Tak terasa sudah pukul lima sore. Aku mengajak Mas Dimas untuk pulang. Walaupun jam malamku sampai jam delapan, tapi aku rasa tidak perlu berlama-lama lagi. Toh yang kami butuhkan sudah dapat. Akupun sudah mengantongi dua buku baru. Akhirnya kami berpisah, Melky dan Bayu sepertinya akan menghabiskan waktu sampai malam karena ada pertemuan rutin dengan anak-anak pecinta alam. Sedangkan Anin otomatis ikut pulang diantar oleh Kara. "Thanks ya, Ra.. Udah nemenin!" "Sama-sama, Mas! Lagi ga sibuk juga akunya." Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai rumah. Deg! Aku hafal diluar kepala mobil siapa yang terparkir di depan. Secara refleks, aku mengecek hapeku yang memang sedari tadi di tas. Kalian tahu pasti kondisi mall yang ramai membuat kita tidak sadar ada panggilan atau pesan masuk. Aku terlalu asyik ngobrol sampai harus mengabaikan 15 pesan w******p dari Mas Air dan 10 panggilan tak terjawab. Setelah Mas Dimas pamit, aku berjalan menuju rumah dengan cepat. Disana sudah kulihat Mas Air dan Mas Abi sedang main PS. "Aira pulang!" Tak ada jawaban. Menolehpun tidak. "Aira pulang!!!" Teriakku lagi, lebih kencang dari sebelumnya. "Iyaaa udah tau!" Hanya Mas Abi yang menjawab. "Ayadhi sama Iburi mana?" Aku masih menatap Mas Air dari belakang. Bisa-bisanya nyuekin aku. "Jadwal arisan mantan PERSIT dek!" "Oh.." "Arghhhh! Kalah lagi! Ulang, Ir!!!" Mas Abi menantang Mas Air untuk main lagi. "Ya udah ayok!" Akhirnya kedengeran juga suaranya. Woyyy!!! Pacar disini woyyy!!! "Bentar kayaknya telpon gue bunyi. Bentar keatas dulu!" Hening. Sambil menunggu Mas Abi yang tak kunjung turun, Mas Air sibuk bermain dengan ponselnya masih dengan posisi membelakangiku. "Ra.. Siniin hapenya.." Aku segera kembali ke sofa setelah merebut paksa ponsel Mas Air. Akhirnya dia menoleh. "Aira pulang, Mas!" "Iya udah denger dan udah lihat! Sekarang balikin hapenya.." "Kok pulang cepet? Kirain nginep lagi di Bogor." "Kenapa emangnya? Ga boleh pulang cepet?" "Ya nggak gitu, nanya aja.." "Oh.." "Maaf ya tadi ga denger ada telpon." "Hmmm.." Aku akhirnya bergabung duduk lesehan di depan Mas Air. "Kok hmmm doank, maafin ya?" "Iya paham kok lagi asik." "Ya tau sendiri kan Mas.. di mall tuh berisik, Aira ga denger ada telpon atau pesan masuk." "Kan bisa ngecek, Ra.. Ga usah nunggu bunyi.. Lagian aku dari pagi juga belum kasih kabar. Emang ga pengen tau? Oh iya, lupa.. Orang kalo lagi asik sama sesuatu emang suka lupa.. Atau sama seseorang?!" "Kok gitu sih.. Maaf yaa.. Yaaa?!" "Ga tau deh, Ra.. Siniin hapenya.." "Kalo Mas Air bilang pulang hari ini kan Aira ga bakal kemana-mana." "Jadi kalo ga pulang hari ini kamu tetep kemana-mana kan? Karena pulang hari ini jadi ketauan, iya?" "Mas Air apaan sih?" "Kesempatan pergi sama Dimas? Iya?!" "Mas, aku pergi tuh ba.." "Ah udah lah, Ra.. Capek.. Mas Air pulang aja.." Omonganku terpotong begitu saja. "Biii.. Gue balik ya? Lanjut besok aja di apartemen gue ya!" Tanpa ragu Mas Air segera menyambar kunci mobilnya dan langsung keluar dari rumah. Aku menyusulnya dengan setengah lari menyeimbangkan langkah lebar Mas Air. Sebelum membuka pintu mobilnya, kutahan lengan Mas Air. Aku ga mau ada kesalahpahaman. "Mas Air... Dengerin Aira dulu donk!" Dia menepis tanganku kemudian masuk ke dalam mobil. Mau tak mau aku ikut masuk dan duduk di kursi penumpang. "Ra.. Please.. Mas Air capek. Besok aja kita ngomongnya." "Ga mau! Aira mau masalah selesai hari ini juga. Ga mau numpuk-numpuk." "Raaa...!!!" "Dengerin Aira! Ga boleh dipotong!" "..." "Iya tadi Aira pergi sama Mas Dimas, dia minta dianterin beli buku untuk referens.." "Alesan!" "Aira bilang jangan dipotong!!! Mau dengerin ga? Kalo ga mau Aira turun sekarang dan silakan pulang! Kalo Mas Air masalah gini aja ga mau dengerin Aira mending ga usah bilang mau nikahin Aira segala deh!" "Kok kesana sih?!" "Mas Air juga apa susahnya dengerin Aira?! Kalo ga percaya ngapain coba!" Hening. Kesal? Jelas! Tapi aku sadar kalau aku juga salah. Siapa sih yang ga kesel ceweknya pergi sama cowok lain tanpa pemberitahuan. Tapi kan ga berduaan juga perginya! "Jadi mau dengerin ga?!" Masih dengan tatapan kesal Mas Air. "Ya udah kalo ga mau dengerin. Aira turun!" Tanganku dicekal. "Cepet jelasin!" Aku tersenyum menang. "Ga boleh dipotong!" Mas Air mengangguk. "Oke! Aira minta maaf ga ngabari Mas Air kalo pergi sama Mas Dimas, Aira beneran lupa. Tapi Aira ga pergi berdua aja, dijalan Aira telpon Anin, Bayu sama Melky untuk ikutan jalan bareng. Aira udah sadar betul kalo jalan berdua sama Mas Dimas itu salah. Pas sampai disana bahkan ada Kara juga. Kenapa Aira pulang sama Mas Dimas? Karna Melky ada acara, otomatis Melky ga bisa anter Aira." "..." "Aira minta maaf.. Karena belum biasa untuk ngabari siapapun kecuali orang rumah. Aira baru pertama kali punya pacar. Aira pikir juga Mas Air sibuk jadi ga mau ganggu." Tatapan Mas Air akhirnya melunak walaupun masih mencebik. "Udah di maafin belum?" "Dimaafin! Jangan diulangin!" "Iyaaa.. Trus jadi pulang? Ga malem mingguan?" Mas Air pun terkekeh dan mengacak-acak rambutku. "Uhm.. Iya tetep pulang." Aku mencebik. "Kenapa cemberut?" "Kangen!" . . . Air . "Kangen!" Satu kata yang mampu membuat kekesalanku menguap. Tadi aku sempat kesal. Bisa-bisanya Aira pergi dengan si Dimas-dimas itu tanpa pemberitahuan. Walaupun Aira sudah menjelaskan bahwa mereka tidak hanya pergi berdua, tapi tetap saja mereka pulang dan pergi bersama. "Me too! Makanya langsung kesini, ehhh malah mergokin pacar malem mingguan sama yang lain!" "Tuh kannn, bahas lagi! Lagian apasih mergokin?! Berasa Aira selingkuh beneran!!!" "Hahaha.. Maaf yaaa.." . Toktok. . "Woy, pacaran di dalem rumah aja biar gampang gue ngawasinnya!" Abi yang sedari tadi ada di dalam rumah tiba-tiba mengetuk jendela mobilku. "Adek lo masih aman kok. Lagian gue mau balik sekarang. Udah malem." "Inget ya, Ir. Itu yang lo pacarin adek gue! Aira.. Turun!" Aura kakaknya keluar. Aku hanya terkekeh melihat sikap Abi. "Iya, kakak ipar. Gue balik ya, Bi! Pulang dulu ya, Pacar!" Saat aku berniat untuk pulang, mobil Ayadhi dan Iburi masuk ke pekarangan rumah. Akhirnya aku berinisiatif turun untuk menyapa keduanya. Semenjak aku dan Aira memutuskan bersama, memang belum ada obrolan lagi antara aku dan Ayadhi. "Ayadhi sama Iburi tumben arisan sampai malam?" Sapaku sambil menjabat tangan keduanya. "Eh, Air! Udah mau pulang apa baru sampai? Ibu bawa martabak nih." "Masuk dulu, Ir! Ayok!" Kata Ayadhi sambil mengajakku masuk ke rumah. "Besok aja, Yah! Air udah dari jam dua disini. Udah malam." "Hah? Jam dua?" Aira terkejut mendengar pengakuanku. "Iya, udah dari jam dua kamu bikin galau, Dek! Mas Abi yang kena omel!" Protes Abi ke Aira. Iya, memang daritadi aku menyalahkan Abi yang mengijinkan Aira pergi. "Apakah kami melewatkan sesuatu?" Ayadhi menatap aku dan Aira bergantian. "Abi ga ikutan ya, Yah! Kalo Ayah penasaran sidang aja anak dua nih!" Aku dan Aira hanya terpaku mendengar pertanyaan Ayadhi. Aku melirik jam di tanganku menunjukkan pukul delapan malam. Masih belum malem-malem banget. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara dengan Ayadhi. "Ayadhi kalo ga capek Air mau bicara sebentar, boleh?" Aira melotot ke arahku diiringi dengan kekehan Abi. Aku hanya tersenyum miring menanggapi ekspresi Aira. Emang dipikir aku main-main apa?!. "Ya udah ayok masuk lagi aja, sambil nyemil martabak sama ngopi ya Bu nanti. Bikinin." "Iya, Yah! Nanti dibikinin." Tak lama kami sudah duduk di ruang tengah. Semua akhirnya berkumpul saat Iburi membawakan tiga cangkir kopi untuk kami. Aira dan Iburi memilih untuk tidak minum kopi karena sering kesulitan tidur setelahnya. "Mau ngomong apa, Ir? Serius kayaknya!" "Iya, Yah. Memang Air udah rencana membicarakan ini tapi waktunya kurang mendukung. Sekarang walaupun sudah agak malam sebenarnya, tapi Air rasa waktunya pas." Hening. Mereka masih menunggu kelanjutan pembicaraanku. "Jadi gini, Yah!" Aku bisa melihat Aira menutup matanya dan mendudukkan kepala. "Kalau dibolehkan sama Ayadhi dan Iburi, Air mau melamar Aira." Aku memandangi Ayadhi dan Iburi secara bergantian. Sangat terlihat dari wajah mereka ekspresi kaget, kosong, atau apalah itu. Sangat tak terbaca. Degupan jantungku semakin tidak karuan karena keduanya belum juga merespon omonganku. Saat melirik ke arah Abi, dia terlihat santai dan menahan tawanya. Aira? Aku rasa dia sedang komat-kamit mantra. Bibirnya tak henti-hentinya bergerak. "Ehem." Terdengar Ayadhi menetralisir suaranya. "Sejak kapan, Ir?" "Hah?" Aku masih blank. "Sejak kapan suka sama Aira?" "Oh.. Itu, Yah.. Ehm.. Sejak Aira kelas dua SMA." "Apa? Kelas dua SMA? Udah lama???" Wajar jika mereka kaget. Aku saja masih tidak percaya kalau sanggup menunggu Aira selama itu. "Iya, Yah.. Bu.." "Abi udah tau?" Abi pun kena selidik Ayadhi saat ini. "Udah tahu dari dulu, Yah!" "Uhm.. Oke.. Oke.. Sebenarnya Ayadhi sama Iburi juga udah feeling dari dulu. Tapi pas liat kamunya masih santai dan Aira yang masih ntah polos atau oon itu, ya akhirnya kami kira cuma perasaan kami aja. Tapi kalau liat sekarang tiba-tiba mau ngelamar gini ya.. Brarti feeling kami benar. Tapi tetep ga nyangka sih kalo ternyata sudah selama itu" Kemudian hening kembali. "Aira gimana? Kalo Ayadhi sama Iburi dari dulu setuju aja Air sama Aira. Cuma kan ini Aira masih kuliah, dia mau ga nikah sekarang? Kalo kami sih lebih cepat lebih baik!" Entah air es darimana ini yang membuat hatiku tetiba dingin. Sejuk. Bener kata Abi, bicara ke Ayadhi akan lebih mudah daripada ke anaknya. "Hah?" Aira masih dengan bibirnya yang terbuka membentuk huruf O yang mungkin masih shock atas keputusan Ayadhi. "Untuk jawaban dari Aira nanti gapapa, Yah.. Biar Aira ada waktu berpikir dulu. Yang penting Air udah kantongin restu dari Ayadhi sama Iburi dulu." "Ayah sama Bunda kamu gimana, Ir?" Iburi akhirnya nimbrung, daritadi Iburi hanya menganggukkan kepala seakan pasrah atau mungkin memang setuju dengan keputusan Ayadhi. "Ayah sama Bunda sangat mendukung. Bahkan mereka pengennya ga menunda terlalu lama." "Oh ya sudah, brarti tinggal Aira ya.." "Kalau gitu Air langsung pulang dulu, sudah malam. Terimakasih Ayadhi sama Iburi sudah percaya sama Air selama ini." Ujarku sambil berdiri, siap-siap pulang. "Iya, Ir. Kamu itu udah kayak anak sendiri. Makanya pengennya ya jadi anak beneran." Ayadhi memelukku erat. "Bi.. Si Air udah berani ngelamar. Kamu kapan mau nglamar?!" Aku terkekeh mendengar Iburi menyindir Abi. "Nah kan, ujung-ujungnya Abi yang kena! Daritadi yang ngelamar Air tapi yang deg-degan Abi.. Soalnya bakal berakhir seperti ini!" "Alah lebay kamu, Bi.." "Loh beneran, Bu.." Setelah dirasa cukup aku segera berjalan ke arah mobil ditemani Aira yang sedari tadi diam. Satu kata pun tidak keluar dari bibir mungilnya. Bahkan saat sudah sampai di depan mobilku, pikirannya masih entah kemana. "Raaa.." "..." "Raaa!!!" Aku setengah teriak. "Eh? Huh? Apa, Mas? Udah mau pulang ya? Iya.. iya.. Ati-ati ya.." "Ngelamunin apa sih? Mikirin yang tadi di bawa santai aja. Kalo kamu ga mau cepet-cepet Mas Air tetep nunggu kamu siap, okay?!" Aira hanya mengangguk lemas. "Ya udah aku pulang, ya..!" Aku sebenarnya ingin memeluknya saat ini. Aku tahu Aira masih shock dengan lamaran dadakanku tadi. Aku usap kepalanya pelan, kemudian turun ke pipinya. Aku lalu beranjak membuka pintu mobil dan akan segera masuk, sebelum akhirnya.. "Aira mau!" Kata-katanya membuatku urung masuk ke dalam mobil. "Mau apa?" "Ni.....kah!" ucapnya lirih meski masih terdengar. Aku reflek menyunggingkan bibirku ke atas. "Jangan terburu-buru. Dipikirin lagi baik-baik, ya!" "Udah bulat keputusannya. Aira ga pengen Mas Air nunggu lagi. Nunggu bilang suka, nunggu jadi pacar, nunggu nikah, bahkan nungguin Aira pergi sama cowok lain. Mas Air udah cukup sabar nungguin Aira. Jadi sekarang, Aira mau!" "Yakin?" Aira mengangguk. "Beneran? Ini nikah loh!" Aira mengangguk lagi. "Nikah itu seumur hidup loh janjinya." Aira mengangguk lagi. Yang ini lebih keras. Aku tidak bisa untuk tidak tersenyum selebar ini. Kutangkupkan tanganku kedua pipi Aira. "So.. Will you marry me?" "YES I WILL!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN