Aira
.
Sudah hampir tiga pekan ini aku disibukkan dengan tugas-tugas dan juga memenuhi kelengkapan berkas untuk pertukaran pelajar. Sebenarnya aku tidak terlalu semangat dalam program ini. Atau kalau memungkinkan, aku ingin mengundurkan diri. Entahlah, rasanya ini bukan waktu yang tepat. Aku hanya ingin fokus pada kuliahku dan cepat selesai.
"Kara.. Lo udah lengkap semua berkas?" Aku dan Kara sedang mengobrol di kantin fakultas.
"Beberapa sih, deadline seminggu lagi kan? Lo kenapa kok kayaknya lesu gitu?"
"Ga tau, walopun cuma summer program tp gue kayak males gitu. Pengen fokus aja disini. Ga yakin."
"Udah sih ikut aja! Cuma sebulan, Ra.."
"Gitu ya? Jadi menurut lo gue mending ikut?"
Kara mengangguk.
"Eh ada Kara.." Anin datang dengan wajah sumringah. Jelas karena dia menemukan Kara bersamaku sekarang.
Fyi, Kara 11-12 sama aku. Dia menganggap belajar itu nomor satu. Di saat ada cewek secantik Anin mendekat, dia hanya menanggapi dengan senyum gugup. Dari jauh akupun tau Kara menyukai Anin. Aku hanya bisa tersenyum dengan sikap mereka.
Kegigihan Anin.
Perlindungan diri Kara.
"Ra, ntar pulang kuliah Melky sama Bayu ngajak nonton. Soalnya lo tiap wiken ilang terus kata Melky!" Aku hanya terkekeh. Wikenku akhir-akhir ini penuh dengan kegiatan membaca. Tentu saja membaca bersama Mas Air. Setelah kekesalan pada awal jadian, sampai hari ini kami hanya berusaha untuk saling mengerti.
Aku berusaha mengerti kedekatan Mas Air dan Clarissa hanya sebatas pekerjaan.
Dan untuk Mas Dimas, aku beberapa minggu ini tidak berhubungan dengannya kecuali saat di kampus.
"Jam brapa?"
"Kelar kita kuliah aja, jam 4. Kara mau ikutan ga?" Tanya Anin yang seketika membuat Kara tersedak.
"Eh? Kara hati-hati donk!" Anin mengelap mulut Kara dan juga bajunya yang basah. Tak ayal itu membuat wajah Kara tambah merah.
"Iya, ikutan aja! Ada Melky sama Bayu kok!"
Kara akhirnya pasrah mengangguk. Anin tersenyum menang. Apa ini hanya kelakuan Anin agar bisa pergi bareng Kara? Ah apapun itu! Aku hanya rindu hangout bersama mereka.
Jam kuliah selesai. Aku, Anin dan Kara sudah berada di parkiran menunggu Melky dan Bayu. Ditengah obrolan kami, lagi-lagi aku melihat si cewek parkiran itu sedang berusaha mengejar Mas Air untuk mengajaknya bicara. Aku hanya mengamati dari jauh. Kesal? Tentu. Tapi untuk kali ini aku tidak akan uring-uringan ga jelas seperti kemarin.
Saat mata kami bertemu, aku hanya tersenyum ke arahnya. Ya, aku merindukan Mas Air! Padahal tiap wiken kami usahakan untuk selalu bertemu. Tak lama, aku melihat Mas Air berhenti di depan mobilnya dan melambaikan tangannya padaku. Mengisyaratkan aku untuk mendekat.
"Ra, lo di panggil Mas Air tuh!"
"Hmm, gue kesana sebentar ya?!"
Aku memenuhi panggilan Mas Air, masih dengan Clarissa yang memandangku bingung.
"Udah selesai kuliah?" Sapa Mas Air. Aku tersenyum mengangguk.
"Mau pulang?" Aku bertanya seolah-olah si cewek parkiran ini tidak ada disana. Sampai akhirnya deheman kecil terdengar.
"Oh iya, Cla.. Kenalin ini Aira. Aira ini Clarissa!" Aku mencoba untuk tersenyum tulus. Walopun aku tau pasti wajahku tidak biasa.
Kami berjabat tangan. Aku yakin tidak ada yang tulus disini. Aku hanya melirik Mas Air yang sedang terkekeh dengan sikapku.
"Oh, yang dipilih dari kampus untuk ikut program ya? Mahasiswi kesayangan Pak Air nih kayaknya?"
"Iya, emang kesayangan, Cla! Tapi dia bukan mahasiswiku. Aku ga ngajar di kelas dia."
"Tetep aja kalo sekampus mah mahasiswi ya!" Dia tersenyum dan sungguh aku tidak suka.
"Dia calon istriku, Cla!"
What??? Ini orang gila apa? Bisa-bisanya ngomong begitu di kampus!
"Hah? Ga lucu ah, Swa! Ga usah bawa-bawa orang lain disini. Kasian Aira bingung tuh!" Clarissa masih shock dengan penjelasan Mas Air. Eh apa tadi? Swa? Hello! Bisa-bisanya manggil Swara depan aku.
"Eh?"
"Aku cuma mau ngenalin Aira sama kamu, biar dia ga salah paham kalo kedekatan kita sebatas pekerjaan sampai program ini selesai." Mas Air masih dengan muka lempengnya yang ngeselin itu menjelaskan semuanya. Menegaskan bahwa setelah program ini mereka tidak akan berkomunikasi lagi.
"Maaf ya kalo ngenalin kalian di kampus gini. Tapi karna kita ketemunya di kampus jadi gapapa ya, Cla!" Sambung Mas Air, aku masih dengan diamku.
"Kayaknya kita perlu bicara Air!" Seru Clarissa masih dengan kebingungannya
Kulihat Bayu dan Melky sudah bergabung dengan Anin dan Kara.
"Mas Air udah mau pulang? Aku mau nonton sama anak-anak. Mau ikutan ga?"
"Sorry, Cla! Mungkin lain kali ya. Aku mau pulang dulu bareng Aira." Jawaban Mas Air tegas mengatakan bahwa dia memilihku disini. Senang? Tentu sajaaa. Masa lalunya yang aku bahkan tidak tahu apa-apa. Kebersamaan aku dan Mas Air yang bisa dibilang baru sesaat, meskipun kami sudah lama kenal. Tapi dia pilih aku! Dia pilih Aira!
Aku segera pamit ke Clarissa dan minta ijin Mas Air untuk menemui teman-temanku. Setelah itu entah apa yang mereka obrolkan. Aku hanya melihat Clarissa segera pergi ke arah mobilnya dan melesat begitu saja.
"Nin, gue bareng Mas Air ya. Gue ajak dia gapapa kan?" Anin mengacungkan jempolnya.
"Ra, lo ada apa sama Pak Air?" Kara menanyaiku dengan wajah melongonya. Aku hanya terkekeh.
"Tanya aja mereka nanti di mobil, ya!"
---
"Aw. Aw. Aw. Ra, apaan sih ? Sakit nih! Setelah beberapa hari ga ketemu pacar tuh di sayang bukan dipukulin." Tepat setelah masuk ke dalam mobil, aku menghujani Mas Air dengan pukulan di lengannya.
"Ya kalo ngomong itu di filter, ngomong calon istri di kampus gini!"
"Trus suruh dimana? Suruh ketemu di luar sama Cla?"
"Awas aja kalo berani!!!"
"Jadi nonton ga nih?" Tanya Mas Air masih dengan mengelus-elus lengannya.
"Ya jadi lah!"
Akhirnya mobil kami berjalan mengikuti Melky, Bayu dan Kara. Ah aku lihat Anin masuk ke mobil Kara. Aku tersenyum
"Kenapa senyum-senyum?"
"Itu si Anin semobil sama Kara. Pedekate berhasil."
"Anin suka sama Kara?"
"Saling suka sebenernya, tapi Kara 11-12 kayak aku. Hehe.."
"Ohhh, ga mau pacaran? Yang katanya pacaran ganggu kuliah? Tapi kamu kan ga pacaran, Ra?"
"..."
"Kan mau nikah!"
"Ihhhhh.. Itu gimana kalo si Cla sebarin ke antero kampus?"
"Ya kalik anak kecil, Ra.. Udah ih jangan cemberut gitu! Jelek tau ga?"
"Trus kalo jelek kenapa? Ga jadi suka?!"
Mas Air mengangguk.
"Jadinya cintaaa.."
"Ihhh geli tau dengernya!"
"Mas Air aja geli ngomongnya.. Haha.."
.
.
.
Air
.
Berkas-berkas tertumpuk di meja kantorku. Seleksi peserta sebentar lagi selesai. Dan setelah itu secara otomatis lepas juga ikatan kerja dengan Clarissa.
Mengenalkan Aira dan Clarissa awalnya kupikir langkah yang bagus untuk menghentikan kegigihan Clarissa. Tapi ternyata tidak. Bahkan aku lihat justru tambah gigih.
Untuk hubunganku dengan Aira secara keseluruhan membaik. Tentang lamaranku yang mendadak dan mungkin terkesan main-main, belum juga mendapat jawaban dari Aira.
Aku ingin menikah secepatnya? Benar. Dan aku ingin itu kulalui bersama Aira. Jika Aira belum siap, maka aku harus siap menunggu lagi. Tapi sejujurnya, aku hanya ingin bersama dengan Aira dalam satu ikatan.
Entah kenapa, rasa yang mungkin sudah kusimpan lama ini serasa akan meledak jika tidak kubentengi dengan pernikahan. Aku bukan mau terburu-buru, tapi juga tidak mau berlama-lama. Aku harap Aira segera mengerti itu.
Aku hanya ingin lebih cepat hidup bersama.
Telponku berdering.
.
-Aria Abinaya's calling-
.
"Hmmm"
"Ir, gue ke apartemen lo ya pulang kerja!"
"Gue ajak Aira pulang ke apartemen ya brarti? Ntar kan bisa balik bareng lo?!" Kesempatan!
"Lo tuh ngebet bener ya, Ir! Heran gue! Serah deh!"
---
"Mas, ini cemilan-cemilan ditaruh mana?"
Aku masih mengamati Aira sedang menata belanjaan yang baru saja kami beli. Aku beralasan harus melengkapi isi kulkas dan juga persediaan chips karena akhir-akhir ini Aira sering mampir kemari meski hanya membaca buku.
Lah trus mau ngapain lagi, Ir?!
Aku menggelengkan kepalaku, mengusir pikiran-pikiran bodoh.
"Di pintu kedua atas itu."
"Mas Abi kesini jam berapa, Mas? Aira ngantuk."
Aku menggandeng tangan Aira dan membawanya ke sofa.
"Mau istirahat di sofa atau kamar? Nanti Mas Air bangunin kalo Abi udah dateng."
"Disini dulu deh, gini aja!" Aira merebahkan dirinya diatas dadaku, memelukku dengan erat.
"Ehem.. Mas Air ga bakal bisa buka pintu kalo kamu gini."
"Hehe.. Sebentar aja! Sepuluh menit ya.. Aku kangen Mas Air.."
"Eh? Apa? Ulangin?"
"Ga ada siaran ulang!"
"Ulangin!!!"
"A-ku ka-ngen!!! Puas?!"
"Bangettt!!!" Akupun mengeratkan pelukanku.
Di kampus kami jarang sekali berinteraksi. Bahkan hanya untuk bertemu saat makan siang saja sulit. Aku paham kalau manjanya Aira kambuh. Karena akupun merasakan hal yang sama.
Setelah kemudian Aira tertidur di sampingku, aku merebahkannya ke sofa. Kuamati wajahnya dari dekat. Cantik! Dan bertambah dewasa.
Kalau dipikir-pikir, Aira punya peran penting menyembuhkan rasa kecewaku. Secara tidak langsung. Sering mengunjungi rumah Abi, berdalih tugas atau skripsi, membuatku sering mengamati Aira. Bagaimana dia bermanja, merajuk, marah, dan sifat-sifat lainnya. Perhatianku secara otomatis beralih ke Aira. Sakit hati? Entah kenapa dengan mudahnya hilang hanya dengan membayangkan tingkahnya.
Aira paling tahu bagaimana mengendalikan emosiku, meski secara tidak sadar. Saat itu aku hanyalah kakak untuknya.
Memperhatikannya seperti ini membuatku semakin tidak bisa untuk menahan diri. Oh Tuhan! Aku benar-benar harus menanyainya lagi.
.
Tingtong
.
"Masuk!" Abi datang dengan wajah lelahnya.
"Aira mana?"
"Tuh, tidur." Abi merebahkan diri di sofa.
"Jangan dibangunin, baru aja tidurnya!"
"Iya, ih, jadi posesif banget sih lo, Ir!"
Aku hanya tersenyum.
Setelah beberapa menit kami mengobrol, Aira pun bangun. Kami memesan fast food untuk makan malam. Ditengah makan malam, kami menonton film dan mengobrol santai. Aira duduk diantara kami sembari mengunyah popcorn-nya.
"Bi..." masih dengan mata kami fokus ke film.
"Hmmm.."
"Gue boleh nikah dalam waktu dekat ga sama Aira?"
Seketika hening.
Mata dua bersaudara ini menatapku.
Dan aku yang masih santai menyandarkan punggungku di sofa hanya diam.
"Kok pada ngliatin gitu sih? Gue tuh nanya, Bi.. Dijawab! Awhhh.. Sakit, Ra!"
"Ih, Mas Air kalo ngomong tuh yang bener lah!!! Kesel!!!" Wajahnya memerah malu atau marah aku tidak tahu.
"Duh, sakit Raaa..! Sakit!" Aku masih mengaduh dengan segala serangan Aira.
"Lo serius, Ir?" Tanya Abi heran.
"Ya serius! Ga pernah lebih serius dari ini! Ahhh.. " Kutangkap tangan Aira yang masih saja memukul dan mencubitku.
"Adek lo ga jawab-jawab! Mungkin kalo kakaknya ikut andil dia bener-bener mau mikirin omongan gue!" Kata-kataku untuk Abi, tapi pandanganku lurus menatap Aira.
"Dek.." seketika Aira menoleh ke Abi.
"Itu dijawab! Ada orang nglamar, walopun ga elite sama sekali nglamarnya!" Cibir Abi.
"Ga usah dipeduliin! Mas Air nih suka seenaknya, ngomongnya gampang banget kayak ga ada beban! Aira ga mau bahas ginian ah, mending nonton film. Kalo mau bahas mending pulang aja ayok!" Masih dengan tatapan sinisnya. Aku hanya menghela nafas. Abi terkekeh melihatku tidak bisa berkutik.
"Lo mending ngomong ke Ayadhi langsung, Ir! Aira pasti mau jawab!"
"Mas Abiiiiiiii....!!!!!!"
Kamipun tertawa melihat Aira yang merah padam.
Oke!
Ke Ayadhi sepertinya lebih mudah!
***