14. Adaptasi

2087 Kata
Air Sudah beberapa hari ini Aira masih dengan sikap yang sama. Percakapan telpon atau whatsappku pun serasa searah. Aku maklum karena mungkin dia sibuk dengan persiapan seleksi, tapi mungkin juga karena beberapa hari ini dia secara tidak sengaja melihatku intens berkomunikasi dengan Clarissa. Meski hanya di kampus. Mungkin Aira butuh waktu sendiri. Belasan tahun dia bisa fokus belajar, tapi sekarang kehadiranku di hidupnya pasti membawa perubahan. Entah dia harus membagi waktunya, fokusnya, dan yang pasti kehidupan pribadinya denganku. Hari Sabtu ini aku memutuskan untuk mengunjungi rumah Aira. Mungkin dengan obrolan santai di rumah bisa membuat keadaan kembali seperti biasa. Aku menghubungi Abi untuk memastikan bahwa Aira di rumah. Dan benar saja, saat aku datang dia sedang asik menyirami tanaman di halaman depan rumah. Pandangan kami bertemu sebentar, tak lama dia kembali asik dengan kegiatannya. "Ra.." "Mas Abi ada tuh di dalem." Jawabnya tanpa sama sekali menatapku. "Mas Air ga mau ketemu Abi, mau ketemu kamu!" "Oh.." "Pergi yuk!" "Kemana?" "Kemana aja yang penting berdua." "Males. Capek." "Please! Cari tempat yang asik gimana?" "..." "Ya, Ra?!" "Aira mandi dulu." "Oke, Mas Air cari Abi dulu ya?" "Hmmm" Selanjutnya aku masuk dan langsung mengetuk kamar Abi. Dia masih dengan muka bantalnya mempersilakanku masuk. Tak lama kurebahkan badanku ke kasur. "Kenapa lo? Kusut bener!" "Capek." "Kalo capek ngapain kesini? Aira di depan tuh." "Capek ati sama adek lo!" "Kenapa? Aira nolak?" Aku menggeleng. "Trus." "Dia bilang iya pekan lalu." Abi masih dengan wajah kagetnya. "Trus.. trus." "Ga tau, Bi. Dia belom siap kali ya. Dari senin sampe sekarang gue dicuekin." "Lo bikin salah kali!" "Nah itu, pas gue tanya dia diem." "Ya diomongin, Ir! Lo tau sendiri Aira 11-12 sama gue. Malesan anaknya ngurus beginian." "Iya gue ngerti banget, makanya ini gue ijin bawa adek lo jalan ya?" "Gue nitip Aira aja deh ya, Ir! Ayadhi sama Iburi ke Magelang sama Melky, gue lagi siap-siap sore ke Bandung. Balikin jam 8, ya!" "Hmmm. Ya lo bilang juga ke Aira, dianya mau ga?" "Iya ntar gue bilang." Sejam kemudian aku dan Aira sudah berada di dalam mobil. Masih dalam keheningan. Kuputuskan untuk berbicara secara private. Entah kenapa aku ingin meluruskan semua. Membuat semua menjadi jelas, untukku dan Aira. "Loh, kok kesini? Ini dimana?" Protes Aira saat aku memarkir mobilku di basement apartemen. "Turun! Mas Air butuh tempat tenang buat ngomong sama kamu!" Terlihat jelas raut kaget di wajah Aira. Aku sedang benar-benar serius, tidak ingin berbelit-belit. Akupun berjalan ke arah lift, Aira mengikutiku di belakang. Masih dalam diam sampai akhirnya kami sampai di unit tempat tinggalku. "Duduk, Ra. Mau nunggu disini juga gapapa." Ujarku seraya membuka pintu ruang kerjaku. Penuh dengan buku yang tak diragukan menarik bibir Aira untuk menyunggingkan senyumnya. "Aira tunggu disini aja." "Oke, Mas Air siapin minum dulu." Aira mengangguk. Tak lama setelah itu aku sudah bergabung di sofa. Aira masih terlihat memilih-milih buku yang akan dibaca. Aku hanya memperhatikannya. Bisa-bisanya dia berniat membaca disituasi seperti ini. Setelah mendudukkan diri ke sofa, Aira langsung membenarkan posisi dan mulai membaca dengan nyaman. Tanpa suara. Tanpa bicara. 30 menit berlalu.. Masih dengan aku yang memandangi Aira dengan tenang. Masih dengan Aira yang tidak terusik denganku di depannya. "Ihhh, Mas Air apaan sih?!" Aku merebut buku yang sedang dibacanya. "Bacanya nanti lagi. Sekarang kita ngomong!" "Ngomong apa?!" "Ngomongin kita! Apalagi?!" "Kok keras gitu sih ngomongnya!" Aku menghela nafasku. "Mas Air ada salah? Hm?" Aira menggeleng. "Trus kenapa kok Mas Air ngrasa dicuekin ya beberapa hari ini?!" "..." "Bener kan brarti?!" "..." "Nyesel nge-iya-in Mas Air?" Aku meneguk ludahku. Sungguh sebenarnya aku malas melontarkan pertanyaan ini. Jujur, aku takut Aira meng-iya-kan pertanyaanku yang ini. "Kok ngomong gitu sih, Mas?!" "Ya trus apa donk, Ra?! Mas Air kepikiran loh!" "Maaf.." "Butuh alasan, bukan maaf!" "..." "Masih butuh waktu buat mikir? Mas Air tidur dulu di kamar sebelah. Kalo udah mau ngomong bangunin." Aku yang akan beranjak tertahan setelah mendengar omongan Aira. "Aira tuh ga suka aja liatin si cewek parkiran itu sama Mas Air muluk. Nempel terus! Kesel!" Masih dengan wajahnya yang menunduk, merah menahan kesal, marah, malu. Aku menjatuhkan badanku ke sofa sambil menatap Aira. Mau tidak mau senyumku terbit. "Kok malah senyum-senyum sih?!" "Suka aja liat kamu marah-marah gini." "Ya udah kalo gitu bikin Aira marah aja terus!!!" Pelan kuraih tangan Aira dan kugenggam. "Maaf ya, untuk yang satu itu Mas Air ga bisa berbuat banyak. Tapi Mas Air selalu berusaha untuk seprofesional mungkin setiap berurusan sama dia. Semoga cepet selesai program ini, biar ga berurusan lagi." Aira masih diam dan menunduk. Kemudian mengangguk. "Tapi tetep aja loh, Ra.. Itu bukan alasan kamu mau dianter pulang sama Dimas!" Aira hanya mengerjap. "Selama cuekin Mas Air pulangnya gimana?" "Ojol. Cuma senin kok dianter Mas Dimas." "Mas Air juga ga suka liat kamu sama Dimas." "Eh?" "..." "Tapi kan Aira udah jelasin kemarin-kemarin soal Mas Dimas!" "Sama donk! Mas Air juga udah jelasin kemarin-kemarin soal Clarissa!" "Ya beda donk! Clarissa itu mantan Mas Air! Mas Dimas ga ada hubungan apa-apa sama Aira!" "Tapi dia suka sama kamu!" "Trus Aira harus larang-larang orang suka sama Aira?! Mas Air mau ngajak baikan apa ribut sih?!" Kamipun menghela nafas bersama-sama. Niatku mengajaknya kesini untuk meluruskan kesalahpahaman bukan untuk berdebat lagi. Aku merengkuhnya ke pelukanku. Sesekali mengecup kepalanya. Aku bisa merasakan tubuh Aira menegang, lama kelamaan Aira membalas pelukanku. Menyamankan kepalanya di dadaku. "Maafin Mas Air yaaa.. Tapi Mas Air ga mau di cuekin, Ra! Apalagi setelah kepulangan kita dari puncak kemarin, tambah ga suka dicuekin!" "Iya, maafin Aira juga ya. Aira akhir-akhir ini capek. Udah capek ditambah liatin dia sliweran di kampus terus sama Mas Air!" "Udah ga usah bahas itu lagi lah! Mau quality time aja sama pacar!" "Eh?" "Kenapa? Ga mau dibilang pacar? Maunya apa? Calon istri?" "Hah?" . . . Aira "Hah?" Aku hanya melongo mendengar Mas Air dengan mudahnya mengucapkan kata-kata itu. Calon istri? Yang benar saja! Pacaran belum genap seminggu udah mau ngajak nikah aja! Eh? Nikah?! Aduhhhh! Deg! Apalagi ini?! Mas Air merebahkan kepalanya di pangkuanku. Please, jangan bikin bunyi genderang donk, Jantung! "Kalo Mas Air ngajak nikah sebelum kamu lulus gimana, Ra?" "Eh? Mas Air apaan sih?" Tatapannya tak lepas dariku. Menatapku dengan penuh kesungguhan. "Kayaknya kalo nunggu kamu lulus kelamaan, Ra..." "Jadi ga mau nunggu?" "Bukan gitu.." "Truuusss?" "Nikah aja, yuk!" "Mas!" "Apa?" "Jangan bercanda ah!" "Ga ada bercanda kok, serius!" Aku masih menatap mata Mas Air. Ya ampun, ini dia beneran serius??? "Kenapa yakin banget mau nikah sama Aira?" Mas Air bangun dari posisi semula. Lega! Kemudian duduk menghadapku. "Kenapa harus ga yakin?" "Jangan balik-balikin pertanyaan donk! Jawab dulu pertanyaan Aira!" "Nunggu kamu tuh udah lama, Ra.. Nunggu dalam diam yang akhirnya Mas Air berani trus sekarang masih suruh nunggu lagi.. Kayaknya Mas Air yang ga bisa jauh dari kamu." "Perasaan sementara itu! Kita baru pacaran, lagi seneng-senengnya makanya ga bisa jauh." "Gitu ya?" "Iya, buktinya dulu dua tahun ga ada kabar juga biasa aja kan?" "Siapa yang biasa? Kamu kali!" "Emang Mas Air ga biasa?" Dia menggeleng "Makanya nikah aja, yuk!" "Aira laper! Makan apa nih? Apa delivery order aja?" Aku segera melangkahkan kaki ke dapur, membuka kulkas untuk segera mengalihkan obrolan ini. Mas Air mengikutiku dari belakang. Masih dalam diamnya, sekilas aku lihat dia tersenyum. "Pesen pizza aja, mau?" Aku mengangguk. --- Disinilah kami, di depan tv berencana menonton beberapa film bertemankan pizza. Hidupku berubah? Jelas! Mana ada di kamusku kegiatan seperti ini. Menghabiskan waktu dengan pacar yang menurutku, dulu, tidak ada manfaatnya. Menyandarkan diri ke sofa, dengan Mas Air yang kini menunjukkan sisi manjanya. Lengannya bergelayut ke lenganku dengan kepala yang dia sandarkan di bahuku. Sosok seperti ini belum pernah terlihat selama aku mengenal Mas Air. Dia yang selalu dewasa, berwibawa, sabar, hampir sama sekali tidak pernah menunjukkan sifat seperti ini. Aku tersenyum. Entah aku yang punya prinsip pacaran itu menghabiskan waktu percuma, atau, memang aku menunggu sosok seperti Mas Air. Segala pemikiran rumitku menjadi simple seketika berhadapan dengan Mas Air. Segala hal yang menurutku sulit menjadi mudah dijalani. Seperti saat ini, dan aku berharap dalam jangka waktu yang sangat lama, aku bisa mengisi wikenku bersamanya. "Besok ngapain?" "Ga tau, kenapa?" "Ke rumah Bunda mau?" "Hah?" "Kata Bunda kangen mantu." "Eh?" "Tolong dipikirin ya, Ra.." "Tentang?" "Tentang kita. Nikah!" Hening. Hal seperti ini memang bukan main-main. Tapi sekarang disini, ada seorang pria yang dengan mudahnya mengucapkan itu. Dia dengan segala keyakinannya padaku, yang belum genap satu minggu meng-iya-kan hubungan ini. Mas Air merubah posisinya berhadapan denganku, seakan menunggu jawaban. "Hmm. Aira akan pikirkan." "Nginep di rumah Bunda aja mau? Daripada di rumah sama Mang Jeki dan Bi Sumi. Nanti Mas Air ijin Ayadhi." "Eh?" "Mas Air telpon Ayadhi sama Abi dulu, ya?!" --- Setelah seharian menghabiskan waktu hanya dengan menonton film dan membaca buku, akhirnya sekitar jam lima sore kami memutuskan untuk berangkat ke rumah Bunda. Mas Air sudah menghubungi Ayadhi dan Mas Abi. Dan dengan mudahnya mereka memberikan ijin kepada Mas Air. "Ayah percaya sama Air. Kamu baik-baik ya, besok lusa masmu pulang." Itu kata Ayadhi saat kami bercakap lewat telpon lagi. Dan aku hanya menurut kata Ayadhi, sedangkan Iburi juga meng-iya-kan. Dan disinilah kami, di rumah Bunda yang menjadi favoritku. Bangunan modern tapi tetap terasa homey. Sebelum kami dalam perjalanan ke rumah Bunda. Kami menyempatkan ke rumah untuk mengambil beberapa baju dan juga beberapa buku kuliah. Aku akan menginap sekitar dua malam disini, karena Mas Abi akan pulang di hari Senin siang. Masuk ke rumah, Bunda menyambutku dengan sangat bahagia. "Aduhhh mantu, Bunda kangen." Seru Bunda seraya memelukku erat. Panggilan 'mantu' memang masih terasa asing buatku. Tetapi entah kenapa terasa hangat. "Maaf, Bunda. Aira akhir-akhir ini agak sibuk dengan tugas-tugas kampus." "Ga cuma akhir-akhir ini, Bunda. Tiap hari. Buktinya Air juga dicuekin kok. Awhhh.. Sakit, Ra!" Aku mencubit lengan Mas Air dengan kesal. "Air! Udah sana anter barang-barang Aira ke kamar atas. Yuk, Ra! Kita ngobrol di belakang aja. Mau teh atau kopi?" "Kopi boleh, Bunda." "Biii, bikinin kopi tiga ya! Antar ke belakang nanti. Sama gorengan yang tadi baru aja digoreng." Kami akhirnya duduk santai di belakang rumah. Diawali dengan pembicaraan ringan, masa kecil Mas Air yang menurutku penuh dengan kehangatan. Dibesarkan sebagai anak tunggal, Mas Air mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari Ayah dan Bundanya. Terlihat dari cara Bunda menceritakan masa kecil hingga dewasa Mas Air, yang akhirnya Bunda sempat merasa sedih karena Mas Air memilih tinggal di apartemen. "Jadi gimana? Air udah bilang?" Tanya Bunda penasaran. "Bilang apa, Bunda?" "Air kemarin bilang sama Bunda pengen nikah." "Prrrtttttt.." Tak sengaja aku menyemburkan kopi yang akan ku teguk. "Ihhh, mantu. Ga usah kaget gitu. Jadi kotor semua ini baju kamu." Bunda membersihkan mulut dan bajuku dengan tissue. "Maaf, Bunda.." "Air cuma mau ngomong nikah, tapi ga bilang siapa. Yang dipikiran Bunda cuma kamu. Karna cuma kamu yang dibawa ke rumah." "I-iya Bunda.." "Iya apa? Udah ngomong?" Akupun mengangguk. "Trus gimana?" Duh Mas Air kemana sih! "Aira belom jawab, Bunda.." "Jadi beneran dia udah ngomong? Wah ga nyangka, akhirnya berani ngomong juga. Dari kemarin-kemarin Bunda bilang jangan lama-lama. Mantu cantik begini ga boleh dibiarin lama-lama. Bunda itu sering deg-degan soal Air ga pernah cerita apapun tentang perempuan. Pas abis bawa kamu ke rumah itu akhirnya Air cerita kalo nungguin dari jaman kamu SMA." "Mas Air bilang gitu, Bunda?" "Iya, trus Air juga cerita kalo pas lagi nerusin S2 trus lanjut S3 itu ga pernah ketemu kamu. Tapi sering nanya kabar kamu ke Abi, sama stalking medsos katanya. Karena waktu itu Air ngrasa kamu belum siap buat hubungan. Air juga belum yakin, mantu Bunda ini punya rasa yang sama ga?! Setelah ketemu kamu lagi, Air memastikan semua. Kamu punya orang yang di suka ga? Punya pacar ga? Ternyata kamu masih sendiri. Pacarmu buku kalo kata Air." Cerita Bunda sambil tersenyum. "Mas Air kalo ada apa-apa cerita semua ya ke Bunda?" "Iya, tapi kalo soal cewek baru ini cerita semua ke Bunda." "Ga ada cewek lain, Bunda?" Aku sungguh penasaran soal Clarissa. "Ga ada. Bunda baru tau Air serius tentang cewek ya sekarang ini. Mana itu anak kok ga keluar-keluar. Ini kopinya udah dingin. Mantu kalo mau istirahat ayok Bunda anterin. Ayah nanti pulang agak malem jadi kita makan malam bertiga aja." Aku menuruti Bunda. Ternyata Mas Air tertidur di living room. Terlihat lelah. "Kamu bangunin Air ya.. Bunda mau mandi dulu." "Ya, Bunda.." --- "Mas, bangun.." "Hmmm.." "Bangun ih, Aira sendirian ini." Akhirnya sukses juga membangunkan Mas Air. "Bunda mana? Itu kenapa baju kotor?" "Bunda mandi.. Ini gara-gara Mas Air!" "Loh kok? Aku kan tidur dari tadi!" "Iya tapi tetep aja baju Aira kotor gara-gara Mas Air!!!" "Gara-gara apa???" "Gegara ngajak nikah!" "Hah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN