13. Moody

2173 Kata
Aira . Air Daniswara Pagiii.. Aira Barsha . Sapaan pagi Mas Air benar-benar bisa membuat pagiku penuh energi. Setelah kejadian semalam dan sesampainya mas Air di apartemen kami hanya berbicara sebentar lewat telpon hanya untuk saling memastikan bahwa Mas Air sudah sampai dalam keadaan baik. Karena kelelahan batin dan juga raga, kami memutuskan untuk segera istirahat. . -Aira- Pagi juga.. Air Daniswara Hari ini ngapain aja? What about lunch together? . Air Daniswara Can't.. Registrasi di mulai hari ini Pulang bareng aja ya? . -Aira- Okay! Aira pulang sore tapi yaaa.. Yang sabar nunggunya . Air Daniswara Udah teruji!!! . Bibirku jelas tertarik ke atas setelah membaca pesan Mas Air. Iya! Memang kesabaran Mas Air sudah teruji terutama dalam hal menunggu. Semangat kuliahku jelas meningkat. Selain bisa be-la-jar, aku juga punya banyak alasan dan hak untuk sering ketemu Mas Air. Setelah menyiapkan segala keperluan, akupun turun ke bawah. Ada Iburi dan Bi Sumi yang sedang menyiapkan sarapan, Ayadhi, Mas Abi dan kak Keanu terlihat sedang mengobrol di living room. Mana itu si Melky jam segini belum dateng? "Kuliah pagi lagi, Dek?" Tanya Iburi saat melihatku turun kemudian tersenyum. "Iya, hari senin penuh nih, Bu. Melky belum dateng ya?" "Belum, iya tumben jam segini belum dateng. Coba kamu hubungi dulu, dia udah sarapan belum?" Akupun mengangguk sembari mengambil handphone dan segera menghubungi Melky. . -Aira- Mel, udah jalan? Ayok buru sarapan! . "Semalem Air pulang jam berapa, Dek? Ibu udah ga kuat, capek banget, langsung tidur deh." "Uhm, jam delapan kayaknya, ga lama kok disini juga. Langsung pulang." Lalu terdengar bunyi handphone. Balasan dari Melky. . -Melky Sadewo- Gue ga ngampus ya, Ra! Sorry baru ngabari, flu kayaknya gue. Bilang Iburi ya, gue ga sarapan di rumah. Lo ojol aja gpp kan, Ra?! . "Melky kayaknya sakit deh, Bu. Ga biasanya dia skip bareng Aira gini." "Ya udah nanti Ibu suruh Mang Jeki anter makanan buat Melky aja, pulang arisan Ibu mampir ke kos nanti." . -Aira- Ya udah istirahat aja lo! Nanti kata Ibu, Mang Jeki kirim makanan Iburi kesana abis arisan Get well soon, Melky jelek! . Aku segera pamit ke semuanya setelah kutelan habis sarapan pagi ini. Ku pikir lebih baik diantar Mang Jeki, waktu untuk pesan ojol ga cukup. Mas Abi terlihat menyusulku ke depan saat mencari Mang Jeki. "Melky ga jemput, Dek?" "Sakit doi. Mang Jeki mana? Aira mo minta anter aja ah. Udah hampir telat." "Bareng Keanu aja tuh, dia mo cari sesuatu." "Ahhh, mau! Mas Abi ga kerja?" "Nggak, bolos aja. Capek dari balik Aussie belom sempet bener-bener istirahat." Mas Abi memang benar terlihat lelah. "Nanti Keanu dianter ke tempat Air ya, mo pamitan langsung katanya." Kak Keanu yang sudah ada di belakang kami pun mengajakku untuk segera berangkat. Di perjalanan, kami banyak bertukar cerita. Tentang Kak Keanu dan pacarnya, Reina. Tentang Kak Jasmine yang sibuk dengan tugas akhirnya. Dan cerita-cerita lainnya. Ya. Aku jelas mengingat semua. Saat mereka SMA, Kak Keanu sering mengajak Kak Jasmine untuk main ke rumah kami. Selisih usia yang tak terlampau jauh membuatku dan Kak Jasmine cepat akrab. Walaupun saat ini kami bisa dibilang jarang bertukar kabar, tapi aku yakin saat kami bertemu lagi tidak akan memakan waktu banyak untuk kembali akrab. Aku mengarahkan Kak Keanu untuk parkir dekat dengan kantor Mas Air. "Kak, telpon Mas Air aja ya?! Aira ga sempet kalo harus nyusulin." "Kak Keanu ga bawa hape, Ra hehe.." "Oalahhh, kok bisa-bisanya pergi ga bawa hape. Bentar Aira telponin ya." "Abis itu tungguin bentar ya sampai Air nyampe. Soalnya bakal susah kalo ga ada hape, hehe.." "Lagi-lagi nyengir! Iya deh." Akupun segera menelpon Mas Air mengabarkan bahwa Kak Keanu menunggunya di parkiran. Beberapa saat Mas Air terlihat berjalan ke arah kami dan mencari-cari. Akupun langsung pamit kepada Kak Keanu, berjalan ke arah Mas Air serta melambaikan tangan kepadanya. "Wahhh, kayaknya Aira bisa pamer ke Anin hari ini!" "Pamer apa?" Jawab Mas Air kemudian menggenggam tanganku dengan satu tangannya. Akupun segera menepisnya. Ya Tuhan! Ini parkiran kampus! Jika ada orang lain melihat ini, aku jamin gosip akan cepat tersebar. "Ih Mas Air, ini kampusss!!!" "Ya tau, masih sepi ini! Cuma ada Keanu tuh!" Kedua bola matanya melirik ke arah Kak Keanu menunggu. "Pamer apa???" "Pamer bisa waving dosen hits!" Mas Air hanya tersenyum kecil. "Aira ke kelas ya, udah hampir telat. Nanti Aira selesai sekitar jam setengah lima. Kalo Mas Air kelamaan nunggu, pulang aja dulu. Aira bisa pulang sendiri. Oke?!" "Hmmm, udah sana berangkat!" Perintahnya sambil mengacak-acak rambutku. Argh! Segera kulangkahkan kaki menuju kelas. Lorong masih terlihat sepi. Sepertinya hanya kelas Bu Dwi yang ada di jam ini. Masih ada waktu sekitar sepuluh menit untuk sedikit bersantai. Aku langsung menempatkan diri di barisan depan. Ternyata Anin masih belum datang. "Ra, gue duduk sini ya? Kosong kan?" "Eh? Mas Dimas.. Iya duduk aja. Nanti biar Anin yang duduk sebelah kiri." "Kemarin tidur cepet? w******p ga ada balesan." Seketika akupun ingat belum membalas pesan Mas Dimas. "Ya ampun, Mas! Aira lupa. Kemarin tuh abis dari puncak sekeluarga, baca w******p pas udah sampe rumah. Maaf ya!" "Iya gapapa, ntar maksi bareng aja ya!" Akupun mengangguk tanda setuju. Toh hari ini Mas Air tidak bisa menemaniku. Makan siang dengan Mas Dimas tidak ada salahnya, karena kami selalu bergabung dengan yang lain. Jadi ga cuma berdua. Tak lama Anin datang dengan bulir-bulir keringat di dahinya. Aku tau dia pasti lari dari parkiran. "Telat bangun lo?" "Iya, Ra! Sumpah gue capek banget. Bayu juga dibangunin susah banget. Kesel gue!!!." Aku terkekeh dan segera menyodorkan air mineral kepadanya. Ya! Aku tadi sempat membawa satu botol dari mobil Mas Abi yang selalu stock air mineral. "Tadi gue sempet liat Kak Keanu sama Mas Air. Lo ga bareng Melky?" "Melky sakit, kecapekan kayaknya dia. Yang nyetir kemarin siapa?" "Pas pulang full Melky. Lo tau si Bayu kemarin sempet kepleset, tangan rada ga beres." "Kepikiran gue kalo Melky sakit. Brarti udah beneran sakit kalo sampe ga ngampus gini." "Deket banget ya kayaknya lo sama Melky, Ra?" Aku baru ingat ada Mas Dimas di sebelahku. "Ya gitu deh, Mas. Dari orok soalnya. Hehe.." Kelas Bu Dwi tidak pernah membosankan untukku. Di hari ini aku bisa fokus cukup membuktikan kalau sebenarnya jadi pacar Mas Air tidak jadi masalah untuk belajarku. Satu alasan kenapa kelas ini sungguh menyenangkan, karena Bu Dwi tak henti-hentinya menyebutkan nama "Barsha" untuk sekedar memberi kesempatan untukku menjawab dan menjelaskan kepada teman-teman yang lain. Ah ada satu orang lagi yang sering disebut namanya. "Kara". Kami sering sekali menjadi ketua untuk setiap tugas kelompok yang diberikan Bu Dwi. IPK ku dan Kara pun hampir sama setiap semesternya. Paling selisih di koma. Terkadang aku lebih tinggi, kadang Kara yang lebih bagus. Bukan! Kami bukan saingan. Justru aku dan Kara sama-sama suka membantu teman yang lain. Kami bisa dibilang mahasiswa kesayangan sastra inggris. Hampir semua dosen tau siapa kami. Sejenak ada ketukan dari pintu kelas. Bu Dwi menghentikan penjelasannya dan kemudian membuka pintu, serta mempersilakan masuk seseorang. . . . Air "Pagi-pagi udah pegangan tangan aja lo! Ga tau tempat lagi!" Sindir Keanu setelah melihat bagaimana aku dan Aira mengobrol tadi. Aku hanya tersenyum menanggapinya. "Lo mau balik hari ini?" Tanyaku kemudian "Iya, pamit ya! Gue kayaknya tiga bulan kedepan ga bisa ke Jakarta. Kalian main lah gantian! Gue mulu!" "Iya ntar gue cari waktu sama Abi." Setelah itu akupun mengobrol sebentar sebelum akhirnya Keanu benar-benar pamit untuk pulang ke Singapore. Aku melirik ke jam tanganku sudah waktunya untuk rapat dengan yang lain. Hari ini registrasi untuk beberapa mahasiswa yang ingin ikut program pertukaran dibuka. Aku kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas yang akan dibahas hari ini sebelum menuju ke ruang rapat. Masih ada waktu sekitar setengah jam. "Pak Air, ini catatan beberapa nama terpilih untuk ikut. Ada sekitar 15 mahasiswa." Bu Levi segera memberikan selembar kertas kepadaku. "Oke, Bu. Ini sudah disampaikan ke yang bersangkutan?" "Pak Seno sedang menyampaikan ke beberapa yang ada jam perkuliahan pagi ini. Selebaran juga sudah ditempel dari beberapa hari yang lalu di information box. Beberapa lewat telpon juga, Pak!" "Registrasi hari ini dimulai jam brapa, Bu? Kalo saya yang nge-brief 15 anak ini gimana? Bu Levi handle registrasi sebentar. Kalo saya sudah selesai nanti saya langsung ke ruangan registrasi." "Iya gitu juga gapapa, Pak Air. Kayaknya lebih efisien juga waktunya. Seleksi untuk registrasi biar tetep Bu Yunda sama Pak Alex saja. Jadi yang sudah registered langsung seleksi berkas dan test gitu aja ya, Pak?" "Iya gitu aja, kayak keputusan rapat kemarin." Setelah sedikit berdiskusi dengan Bu Levi, aku segera ke ruang rapat. Disana sudah duduk Pak Doni dan beberapa mahasiswa. Aku segera duduk di sebelah Pak Doni yang sedang berkutat dengan handphonenya. Menyadari kehadiranku, kamipun kemudian bercakap-cakap sembari menunggu. Ruang rapat pun terlihat semakin ramai, tadi ada sekitar 4 mahasiswa dan sekarang menjadi 9. Segera aku mempersiapkan apa saja yang akan ku sampaikan, mengecek beberapa catatan-catatan, dan juga beberapa nama yang akan ikut bergabung di ruangan ini. Belum selesai membaca, aku merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahku. "Hai, see you again, here!" Suara Clarissa, tepat sesaat aku menoleh ke arahnya, masih dengan tatapan bingung, aku melihat dua mahasiswa baru saja bergabung di ruangan ini. Kara, ya aku tau dia. Dia sering mondar mandir ke ruangan untuk bertemu dengan Bu Yunda. Kebetulan penanggung jawab Language Club. Dan satu orang lagi, Aira! Aku tak menghiraukan Clarissa yang juga menoleh ke arah Aira. Kubuka lagi kertas yang diberikan Bu Levi tadi dan mengecek nama-nama yang ada. Semester 5 : Kara Yunanda Pratama dan Aira Barsha --- Pak Doni sedang menjelaskan beberapa hal mengenai kesiapan untuk program ini. Segala sesuatu mulai dari berkas-berkas TOEFL, IELTS, dan lain-lain untuk persiapan seleksi yang akan di handle oleh Pak Dani dan juga aku. Tatapanku lurus ke depan. Aira terlihat serius mendengarkan tanpa terusik apapun dan aku hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Giliranku untuk menjelaskan kegiatan mereka selama sekitar 2-4 minggu (Summer Program). Selain berkuliah di salah satu universitas disana, mereka juga akan mempelajari dan mengkaji budaya. Mataku sesekali menangkap keberadaan Aira yang terlihat malas mendengarkan penjelasanku. Bahkan aku melihat kepalanya selalu tertunduk. Tentu saja saat penjelasan Pak Doni dia tidak bersikap seperti itu. "Ah iya, mungkin kalian sudah kenal. Beliau akan menemani kita untuk kesuksesan program ini. Silakan Bu Clarissa memperkenalkan diri kembali." cetusku selesai menjelaskan semua yang perlu kujelaskan. Sejenak mataku lagi-lagi tertuju ke arah Aira yang mulai berbisik-bisik dengan Kara. Terlihat sangat jelas benar-benar malas untuk mendengarkan semuanya. Tak terasa sekitar hampir dua jam kami ada di ruangan ini. Setelah menutup kegiatan ini, semua mahasiswa keluar dari ruangan. Bahkan Pak Doni. Aku hendak memanggil Aira yang kemudian wanita di sebelahku bicara. "Ir, makan siang bareng gimana? Hm?" "Sorry ga bisa, abis ini mau ke ruangan registrasi." Jawabku malas. Aku segera menyusul Aira keluar. Saat aku menuruni tangga kulihat seseorang sedang menunggu Aira, menyapanya, dan kemudian pergi berdua. Dimas! Kupelankan langkahku berjalan agak jauh di belakang mereka. Kebetulan ruang registrasi sangat dekat dengan kantin yang mereka tuju. Disana sudah ada Anin dan juga Bayu menunggu. Tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Disitu Aira benar-benar tertawa lepas saat mengobrol bersama. Sangat berbeda dengan sikapnya di ruangan tadi seolah-olah memang kami tidak saling mengenal. --- Hari sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aku sengaja menunggu Aira yang katanya selesai kuliah jam 4. Handphone ku berbunyi dan setelah membaca pesan itu, akupun heran sejadi-jadinya. . -Aira- Mas, Aira ga jadi pulang bareng, ya! Ada perlu sama Anin. . Entahlah. Yang jelas aku mendadak malas. Setelah ku balas chat Aira yang seolah-olah baik-baik saja mengatakan "iya gapapa, kalo gitu Mas Air pulang sekarang", aku segera menuju parkiran dan ingin cepat sampai ke apartemen. Saat sampai di parkiran, aku melihat sosok Aira yang sedang mengobrol bersama Anin dan Bayu. Dan juga Dimas. Aku rasa ini bukan waktu yang pas untuk menghampirinya dan menyapa. Mengingat begitu lelahnya aku yang kemudian harus berhadapan dengan Aira yang kurasa moodnya sedang buruk Oh! Come on! Kalau begini bukan hanya Aira yang buruk moodnya. Moodku pun akan benar-benar buruk jika Dimas selalu menempel seperti itu. Dia ga ngurusin skripsi apa?!. Langsung saja aku masuk ke mobilku dan melajukannya segera. --- Setelah mandi dan menyelesaikan makan malamku, kuputuskan untuk menelpon Aira. Sikapnya yang labil membuatku terus berpikir. Pagi yang dia sambut dan sapa dengan ramah, sekejap menjadi sikap yang berbanding terbalik saat siang. . Tuuuttt . Tuuuttt . Sudah kesekian kalinya nada itu berbunyi tak kunjung ada yg angkat. Kucoba sekali lagi. Tepat di dering ke lima akhirnya telpon dariku diangkat juga. "Halo!" "Halo, Ra?!" Masih belum ada jawaban. "Ra.." "Iya ada apa, Mas?" Akhirnya dia menjawab "Sampai rumah jam brapa tadi?" "Sore jam lima-an." "Oh, jadi naik ojol? Sebenernya kalo harus nunggu sampai jam lima juga tadi Mas Air tungguin, Ra." "Dianter Mas Dimas." "Oh, ga bareng Anin Bayu?" "Ga searah." "Uhm.." Hening. "Ra.. Aku ada salah?" "Nggak." "Trus kenapa gini?" "Kenapa gimana?" "Obrolan kita searah loh, Ra.." "Aira jawab kan dari tadi? Jadi ya ga searah." "Lagi ga mau diganggu?" "..." "Ya udah Mas Air tutup aja ya. Sleep tight!" "..." Aku menunggu dia sejenak, tak kunjung ada jawaban. Dan lima detik kemudian telponku ditutup. 'Kenapa sih, Ra?!' *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN