12. Yes!!!

1967 Kata
Air Akhirnya short vacation harus berakhir. Para pria bertugas packing barang-barang ke mobil. Sedangkan para wanita sudah lebih dulu menyiapkan semua agar tidak ada yang tertinggal. Susunan tempat duduk mobil tetap sama. Tapi Aira jelas tampak dari wajahnya malas untuk se mobil denganku. Mungkin setelah singgungannya tentang Cla yang tak kunjung habis dan berakhir denganku yang malas menanggapi, kamipun diam. Tidak saling menyapa, mengobrol, bercanda. Sampai saat ini di mobil kami masih diam. Jujur, aku memang tidak suka dengan sikap Aira yang selalu menyinggung masa laluku. Come on! Aku saja lelah dan malas mengingatnya. Butuh waktu lama. Tapi sekarang saat Cla hadir, Aira hampir tiap saat membahas itu. Marah? Tidak, bukan! Aku hanya kesal. Tak bisa kah kami hanya membahas tentang kami? Hubungan yang masih belum jelas ini mau diteruskan atau aku masih harus menunggu? Hanya Aira yang bisa menjawab. Aira yang memegang semua keputusan. --- Perjalanan menuju rumah sangat macet, karena aku sempat berhenti di pom bensin kami terpisah dari rombongan. Aku sudah sangat lelah dengan kemacetan ini. Aku berencana menepi ke sebuah tempat makan, paling tidak untuk merilekskan otot-ototku yang kaku karna menyetir. Mau tak mau akhirnya aku buka suara. "Mampir dulu sebentar ya, Ra! Mas Air butuh istirahat." Aira hanya mengangguk lalu ikut turun dan berjalan di belakangku. Kami menemukan 2 kursi kosong dipinggir pagar yang membatasi sungai dan rumah makan itu. Aku menggandeng Aira ditengah kerumunan orang-orang yang lalu lalang menuju tempat yang aku pilih. Ya! Rumah makan ini penuh! Aira lagi-lagi hanya diam dan menurutiku. Setelah aku dan Aira memesan beberapa cemilan dan minuman, kami menikmati keindahan alam yang rumah makan ini suguhkan. Ya ampun, Air! Apa akan terus-terusan dalam diam sampai nanti? Sungguh, aku ingin sekali mengajaknya berbicara dan bercanda. Tapi sekelebat pertanyaan-pertanyaan tentang Cla yang akan dia tanyakan berulang membuatku urung memulai perbincangan ini. Pesanan sudah datang dan kami masih dalam diam. 'Ra, kamu beneran ga mau memulai obrolan? Yang harusnya kesal kan aku!' Batinku. Aku masih saja menyuapkan kentang goreng ke mulutku sampai akhirnya Aira menghentikan kunyahanku. "Aira minta maaf ya kalo ada salah." Dia menunduk. Matanya memerah dan berkaca-kaca. Ya Tuhan! Aku yakin jika dia tidak menahannya, airmata itu sudah mengalir deras di pipinya. Entah darimana keberanian yang kudapat, aku ulurkan tanganku mengangkat dagunya agar Aira menatapku. Di saat itulah satu tetes bulir air matanya jatuh. Arghhh! Air bodoh! Kenapa malah bikin nangis anak orang sih! Akupun berdesah dan menghapus air mata itu. "Mas Air ga suka kalo kamu ngomongin itu-itu terus, Ra. Kamu ga tau kan, butuh waktu yang ga sebentar untuk lupa sama masa lalu. Dan setelah beberapa tahun Mas Air akhirnya bisa buka hati, bahkan saat wanita itu hadir lagi, Mas Air masih bisa mengatasi. Tapi pas kamu diemin Mas Air, dan ternyata karna wanita itu, Mas Air kesel aja. Saat kita udah baik, komunikasi enak lagi, tapi di akhir obrolan pasti nyinggung masalah yang sama. Wanita itu ga punya power sebesar itu untuk bikin obrolan kita kacau. Kamu ngerti kan, Ra?!" Aira mengangguk. "Ya udah, kita terusin nanti aja ya! Sekarang habisin makanannya, kita lanjut jalan." Dan lagi-lagi Aira hanya mengangguk. Dadaku penuh dengan gemuruh perasaan tidak nyaman saat melihat Aira menangis dalam diam. Permasalahan ini bukanlah permasalahan besar yang bisa membuat hubunganku dan Aira kacau. Tapi entahlah, segala sesuatu yang berhubungan dengan Cla, sebisa mungkin aku menjauh. Bukan karena aku belum move on! Tapi ini semata-mata karena Cla ga pantas untuk mendapatkan atensiku. Setelah menghabiskan semua yang kami pesan, aku dan Aira kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Masih bisa terlihat bulir-bulir air mata yang hampir mengering. Aku memandangnya sesaat dan dia masih menunduk. Kuhela nafasku. Berat! "Ra.. Udah ya nangisnya.." "..." "Kamu maunya Mas Air gimana?" "..." "Kamu terganggu dengan kedatangan Cla atau gimana sih, Ra?" Akhirnya aku menyebut namanya juga di depan Aira. Aku rasa menyelesaikan pembahasan seperti ini diperlukan. "Nggak sih, cuma Aira kayak kesel aja pas tau dia mantan Mas Air. Toh dia juga ga kenal Aira. Ga pernah ganggu juga." "Nah, ya udah. Emang bener dia mantan Mas Air. Dan kenyataan itu ga bisa dihapus. Tapi sekarang dia ke kampus kan juga urusan pekerjaan untuk beberapa bulan ke depan aja. Mempersiapkan kalian yang mau ikutan. Di luar urusan itu, Mas Air sama sekali ga pernah komunikasi." "Iyaaa, Aira ngerti." "Lagian ya, Ra.. Kalo Mas Air emang mau komunikasi di luar kerjaan kan sah-sah aja. Fyi, Mas Air jomblo!!!." Oke, kita mulai mancingnya. Dua mata yang tadi menangis sekarang sedang menatapku tajam. Ah, aku suka ekspresi itu. "Iya! Sah-sah aja! Di sah-in aja sekalian ceweknya!" Gotcha!!! "Hmmm gitu.." aku tersenyum sambil mengangguk-angguk. Aira masih terdiam dan memalingkan wajahnya. "Raa.." "Apa???" Sinis. Itu yang tertangkap dari jawabannya. "Pacaran mau?" "Kan udah dibilang, Aira ga siap pacaran! Ganggu kuliah!" Baiklah dia masih ga ngerti juga. "Uhm... Kalo nikah?" "Apalagiii, lagian ya Mas, ga ada kandidat. Kandidat pacar aja ga ada apalagi suami." Oke fix emang ga mudengan ini anak kecil. "Lha itu si Dimas, yang ngapelin muluk???" Akupun akhirnya menginjak gas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. "Mas Dimas itu cuma temen kuliah, dibilangin ga percaya!!!" "Kalo mas Air liat sih nggak, dia emang pedekate kalo itu sih." "Ya terserah dia mau pedekate or apa lah niat yang lain! Tapi Aira ngganggepnya temen. Kok jadi bahas Mas Dimas sih?!" "Ya kan ngomongin kandidat." "Jadi orang kok ga percayaan." "Bukannya ga percaya, Ra.. Insecure ini namanya!!!" "Kenapa harus insecure?" "Ya kalo si Dimas itu terang-terangan ngapelin dengan berbagai alasan kuliah. Mas Air juga bakal mulai terang-terangan ngapel dengan alasan mau serius sama kamu. Dah, ini konklusi percakapan kita hari ini!" "Mas Air apaan sih?" "Ya udah jelas kan?! Mas Air nunggu ngomong gini ke kamu butuh waktu tahunan loh, Ra!" "Iya, setelah dua tahun ngilang ga ada kabar!!!" "Ada kok kabar ke Abi. Kamu aja yang ga kepo!" "Ya ngapain kepo-in orang ga jelas!" 'Baru aja baikan sekarang udah mau perang lagi kayaknya.' "Udah deh to the point aja, Mas Air suka sama kamu, pengen punya hubungan sama kamu, hubungan yang serius! Kamu gimana?!" 'Kalo ga diginiin omongan kita cuma muter-muter aja, Ra. Ga jelas.' "..." "Gimana?" "..." "Masih disuruh nunggu brapa tahun lagi?" "..." "Or malah disuruh stop nungguin???" Pertanyaan terakhirku akhirnya menyita perhatian Aira. Dia menatapku nanar. Ada ketidakrelaan, kecewa, marah, dan jengkel. Kemudian tanpa waktu lama suaranya terdengar. "Jangan!" "Jangan apa? Jangan nungguin?" Aku sudah siap dengan semua resiko. "Jangan stop nunggu..in." jawab Aira lirih. Akupun mencebik tapi bahagia, "Jadi Mas Air masih suruh nungguin? Berapa tahun lagi? Jangan lama-lama, Ra.." "..." "Raaaa...." "Ssssttt, berisik! Biarin Aira tidur dulu, nanti kalo udah bangun Aira jawab!" Kalau Abi lihat wajahku sekarang, dia bisa saja langsung mentertawakanku. Aku, saat ini, benar-benar ternganga dengan jawaban Aira. Anak kecil yang beberapa menit lalu ngotot soal pacaran dan kuliahnya ini, akan menjawab penantianku bertahun-tahun ini. . . . Aira Aku mencoba memejamkan mataku. Sekejap prinsipku untuk tetap sendiri sampai kuliahku selesai (karena memang belum ada siapapun yang menarik untukku) hilang menguap seiring pernyataan spontan Mas Air, tanpa basa-basi, dan terkesan memaksa agar aku menjawab. Argh! Bohong kalau aku bisa tidur saat ini! Aku hanya memberi waktu untuk jantungku berdetak normal, menghilangkan sesak di dadaku, menghimpit rasa bahagia yang membuncah. Biarlah aku begini sebentar saja. Untuk dua sampai tiga jam kedepan mungkin. Bersabarlah, Mas!. Kehadiran Mas Air setelah dua tahun menghilang bukan hal yang sulit bagiku untuk dekat lagi dengannya. Sedari dulu hanya Mas Airlah laki-laki selain Melky yang dekat padaku. Saat itu aku hanya ingin menerima kasih sayangnya. Aku benar-benar tak peduli masa lalunya, kisah cintanya, atau apapun itu. Tapi sekarang, setelah dia kembali lagi, ditambah kehadiran mantannya yang saaaaanggaaaattt cantik itu didekatnya, aku tidak bisa untuk tidak peduli. Mas Air, saat ini, membuatku harus memperhatikan di setiap detailnya. Dia benar-benar menyita waktu tidurku. Membuatku berpikir lebih atas sikapnya dan perhatiannya. Adakah sesuatu selain kedekatan yang membuatnya harus selalu menjelaskan kesalahpahaman? Akhir-akhir ini pun aku sering uring-uringan tidak jelas. Marah karena hal kecil yang menurutku tidak harus dipermasalahkan. Tapi, Mas Air tetap sabar menjelaskan semuanya. --- "Raaa.. Bangun.. Udah sampe." Aku merasakan tepukan kecil di pipiku. Ah! Sudah sampai rumah rupanya. "Udah sampe ya.." Aku langsung merapikan barang-barangku dan bersiap turun. Saat aku akan keluar dari mobil, tangan Mas Air menahanku. "Jawab dulu.." tatapnya lembut. Aku benar-benar menyukai tatapan itu. "Disuruh nunggu berapa lama lagi, Ra? Mas Air harap ga sampai kamu lulus, kan bentar lagi KKN trus skrip.." "Kan udah nunggu tadi." Aku memotongnya dengan tersenyum. "Hah?" "Udah nungguin Aira tidur kan tadi?" "Raaa, ini udah malem. Udah males berbelit-belit." "Aira ga berbelit-belit kok. Udah Aira jawab!" "..." "Aira cuma minta Mas Air nunggu Aira tidur, jawabannya mah udah ada sebelum tidur." "Jadi???" "Yes!" Jawabku mantap. "Yes untuk?" "Untuk hubungan yang serius.." Mas Air tersenyum lebar. Kebahagiaannya yang membuncah itu tersalur lewat tangan kokohnya yang merengkuhku erat. Aku sulit bernafas, sesak rasanya. Bahkan sampai ia mengurai pelukannya kemudian menatapku dengan senyumnya. Mas Air mengelus lembut pipiku, meraih tengkukku kemudian mendaratkan bibirnya yang lembut dikeningku. Mataku terpejam. Aku bersyukur akan gelapnya malam, entah seperti apa wajahku terlihat jika matahari bersinar terang. "Makasih ya, Raaa.. Aira Barsha.." Nama lengkapku disebutnya lagi. Tapi kali ini berbeda, sorot matanya yang lembut, bibirnya yang tersenyum tulus itu menyebut namaku jelas. "Iya, Aira juga makasih. Makasih buat Mas Air yang sabar nunggu, walaupun Aira ga sadar ditungguin." Tangannya masih membelai pipiku yang aku yakin memerah. "Ya udah masuk yuk, Mas Air mau pamitan." "Ayok!" Kamipun keluar dari mobil menuju rumah. Saat masuk kulihat Mas Abi dan Ayadhi masih menonton TV, Iburi mungkin sudah berada di kamar untuk beristirahat. "Ayahhhh.." "Eh lama banget." "Iya tadi sama Mas Air mampir makan, hehe.." "Yah, Bi, langsung pulang ya.. Besok ke kampus pagi." "Rapat lagi?" Tanya Mas Abi "Iya, programnya udah di presentasiin ke mahasiswa. Jadi besok registrasi." Ahhh tentang student exchange. "Kamu ga ikut, Ra.. Lumayan loh pengalaman bagus." Saran Mas Abi. "Ikut apa? Program apa?" Ayah yang sedari tadi fokus menyimak berita akhirnya penasaran. "Itu program student exchange, Yah." Jelas Mas Abi "Iya ikut aja, Ra.. Siapa tau pulang-pulang jadi ga manja" ledek Ayah. "Ihhh, Ayah apa sih!" "Ya udah pamit dulu ya semua." "Aira ga anter ke depan ya?! Mau ngecek tugas buat besok." Mas Air mengangguk. Setelah Mas Air keluar dari rumah, akupun menuju kamar. Merebahkan tubuhku. Ahhh lelah rasanya. Short vacation ke puncak tidak cukup menyenangkan, tapi perjalanan pulang ini cukup berkesan. Sampai saat ini jantungku masih berdebar, sesak, rasanya aku ingin teriak. Bantal yang masih rapi ditempatnya jadi sasaranku. Aku telungkupkan wajahku dan berteriak kencang. Semoga saja Mas Abi masih di bawah. Ya! Aku kegirangan. Prinsip 'no love before graduation' buyar seketika. Dan itu karna dia. Air Daniswara Sudah cukup mengeluarkan isi hatiku. Aku cek hape-ku, ada beberapa pesan belum terbaca. Aku terlalu fokus dengan Mas Air di perjalanan tadi. Ada Anin, Melky, Mas Dimas, dan grup-grup yang biasanya hanya k****a dan kubalas jika penting. -Anindya Safira- Lo lama amat sih? Ra.. Sampe mana? Ra.. Mobil ga keliatan Ra.. Udah mo nyampe nih kita Ra.. Gue sama Bayu balik langsung ya! -Aira- Baru sampe rumah, Nin! Tadi mampir makan dulu.. Besok gue mo cerita sesuatu ke lo -Melky Sadewo- Woyyy Dimana lo? Masih idup kan, Ra? Lo aman kan? Lo ga macem-macemin Mas Air kan? Gue balik, lama nunggu lo! -Aira- Baru sampe Melky sayong See u tomorrow Jemput pagi ya!!! -Mas Dimas- Ra.. Ada acara ga? Jalan yuk Fiuh.. Kesekian kalinya Mas Dimas ngajak jalan. Akan lebih baik aku tidak membalasnya hari ini. -Anindya Safira- Ah gue kepooo, Raaa.. Clueee.. Cepet!!! -Aira- Ga asik tau, Nin kalo sekarang -Anindya Safira- Cepetan!!! Kalo ga gue teror telpon nih! -Aira- Clue nyaaa.. Air Daniswara -Anindya Safira- Raaa.. Sumpah lo?! Raaa.. Itu apaan deh lope lope di belakang nama Mas Air??? Beneran??? Serius lo??? Hahahaha.. Anin dan ketidaksabarannya. Lebih baik aku tidur, menunggu esok menyambutku dengan senyumnya. Aira hari ini.. Bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN