Bab 47

1097 Kata

Fauzian Alfiansyah adalah sosok pria yang sangat manis dan baik. Dia adalah mahasiswa kampusku yang hilang sepuluh tahun lalu saat sedang KKN. Dia juga merupakan putra bungsu dari dosen pembimbingku, Bu Nur. Kini dia duduk di hadapanku, matanya menatap jauh entah kemana. Dia menyimpan banyak kepedihan dan rasa sakit seorang diri.  Jika boleh jujur, aku tidak percaya jika dia masih hidup. Dia masih sehat dan segar bugar seperti sekarang. Wajah kusamnya masih tetap menyisakan bekas-bekas keceriaan di masa lalu. "Kak Fauzian," kataku membuyarkan semua lamunannya. "Aku tidak bisa bertemu dengan Ibu, Di," katanya. "Kenapa?" tanyaku. "Aku tidak mau Ibu kenapa-napa," jawabnya. Dia tertunduk, perlahan air matanya jatuh membasahi tanah yang ada dihadapannya. Aku tidak paham apa yang dia tangi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN