Aku dan Hendra menurunin jalanan yang menurun untuk sampai kembali ke mobil. Beberapa orang menatap ke arah kami tidak suka. Tapi kami berusaha untuk bersikap biasa saja. Fauzian sudah mewanti-wanti Hendra untuk tidak bersalaman dengan siapapun dan selalu mengepalkan tangannya hingga sampai ke batas desa. Aku memahami kenapa dia memberi saran demikian. Dia tidak mau ada korban lagi yang jatuh ke tangan mereka. Sesaat sebelum naik mobil aku melihat Ferdi sedang berada di luar posko. Dia terlihat mengacung-ngacungkan handphone-nya, sepertinya dia sedang mencari signal tapi tidak mendapatkannya. Aku berhenti dan lekat menatap dia. Bukan wajahnya yang aku lihat, tapi cara dia berjalan yang aku lihat. Dia masih berjalan normal seperti biasanya, artinya dia masig Ferdi yang asli. "Kenapa ber

