Aku mengajak Wilman masuk ke dalam posko. Dia meminta air es dan handuk kecil kemudian mengompres luka lebamku. Rasanya begitu sangat senang diperhatikan oleh dia. Sudah lama aku tidak dia perhatikan seperti ini sejak ia sibuk dengan skripsi dan pekerjaannya. Di tambah lagi aku harus pergi KKN dan jauh dari dia. "Kamu sudah sarapan?" tanya Wilman sambil mengompres lukaku. Aku hanya menggelengkan kepala. Memang sejak semalam makan bakso aku belum makan apa-apalagi. Rasanya pikiranku mengenai Lia menghilangkan nafsu makanku. "Makan dulu yuk, aku juga lapar belum sarapan," kata Wilman. "Belum kedua kali ya?" tanyaku sambil tertawa. "Hahaha… kamu tau saja," kata Wilman. "Ya sudah aku ambilkan dulu ya?" kataku sambil beranjak. Tapi dia menggenggam tanganku erat. "Kita makan diluar saja,

