“Gue kira lo tidur, Vin," Putra tertawa, menghampiriku yang masih duduk di kursi ruangan ini. “Mana tuh anak buah gue? Lagi lo suruh?” Putra duduk di hadapanku, dia menyalakan rokoknya dengan masih terus tersenyum. Aku tak tahu apa yang sedang dia rasakan, apakah dia sedang merasakan puas atau senang saja? Aku rasa di dalam sana pun Tinje belum mati, Putra masih mengulur waktu. Entah untuk apa aku juga tidak paham, yang aku paham saat ini adalah dia sedang mengekspresikan kegembiraannya saja. Karena rasa kesal yang sudah lama dia pendam akhirnya bisa dia luapkan juga hari, seperti sebuah beban yang sudah lama dia tanggung terlepas begitu saja. Apa rasanya sungguh semenyegakan itu? Kalau iya, aku pun ingin segera merasakan beban itu segera terangkat dari punggungku. "Enggak, gue suruh dia

