Pemakai dan pengedar, itulah pasal yang akan dijatuhi kepada Fikri. Polisi resmi menetapkan Fikri sebagai pemakai juga pengedar dan dalam untuk hukumanya aku belum mengetahui itu, ketika kakiku sampai diruang pemeriksaan. Aku, sudah disuguhi pemandangan yang mengharukan. Ibu Fikri sedang menangis tersedu-sedu didalam pelukan adik ipranya, sementara mungkin dikamar hotel saat ini. Sang Ayah justru sedang main kuda-kudaan dengan perempuan lain. Apakah aku akan merasakan kasihan kepada Fikri? Tentu saja tidak, untuk apa aku mengasihani dirinya sedangkan dia saja tidak ada rasa-rasa menyesalnya sama sekali. Tante Riska menarikku menjauh, dia mengajakku kembali ke tempat semula karena mungkin tidak tega melihat Ibu Fikri yang menangis. “Menurut kamu jahat nggak Tante, Vin?” tanya Tante Riska

