Aku nggak menyangka kalau aku akan menjadi seorang pembunuh dan buronan sekarang. "Apa kabar saudara?" Guntur menoleh dengan pandangan kaget dan takut, pagi ini pagi yang cukup indah. Semalam, aku tidur di rumah Febrian dan sekarang pun aku memakai pakaian Febrian, ponselnya, mobilnya dan juga uangnya. Mayatnya masih tergeletak mengenaskan di lantai ruang tamu rumahnya sendiri, pembantunya masih aman. Setelah aku suruh menyiapkan sarapan pagi untukku dan juga dirinya aku menyekapnya kembali, dan sekarang sekitar pukul sepuluh pagi aku sudah berada di stasiun kereta Gambir. Untuk apa aku disini? Untuk menemui Guntur, yang kemungkinan saat ini akan kabur keluar kota. "Lo ... ngapain?" "Mau kemana, Bang?" "Ahh ini, gue mau ke rumah temen gue, Vin." "Buat sembunyi?" "Sembunyi dari siapa

