Keesokan harinya aku hendak menemui Vannesa di kampus, aku ingat jika hari selasa Vannesa hanya ada satu jam mata kuliah pagi saja. Dan aku, ada dua mata kuliah namun siang dan sore. Kemarin, Setelah benar-benar bisa mengendalikan dirinya untuk berhenti menangis Vannesa langsung mengeluarkan alat make-up dari tasnya dan mulai memoleskan apalah itu aku juga tidak tahu apa namanya pada wajahnya. Namun yang jelas sesudah itu wajahnya kembali terlihat normal, tidak ada tanda-tanda bahwa aku baru saja melakukan kekerasan padanya kemarin. Lalu dia mengajak kami pulang saja setelahnya, dia juga membiarkan aku pergi ke kantor polisi seorang diri. Sepertinya memang dia sedang mengalami sedikit shock denganku. “Ngapain sih pagi-pagi gini kita nyasar dimari?” Kata Fikri lirih, saat aku minta dia men

